Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Sebulan Persiapan
Minggu pertama dari sebulan yang mereka miliki dihabiskan untuk kembali mendaki pegunungan barat, menuju lembah tersembunyi Pastor Elric. Kali ini perjalanan terasa lebih ringan—mereka sudah tahu jalannya, dan Elaina, yang sudah lebih terbiasa dengan udara dingin pegunungan, bersenandung riang sepanjang jalan alih-alih mengeluh kedinginan seperti kunjungan pertama mereka.
Pastor Elric menyambut mereka dengan kehangatan yang sama seperti sebelumnya, meski wajahnya menampakkan kekhawatiran begitu mendengar tentang pertemuan mendatang dengan Uskup Agung.
"Kau benar-benar akan menemuinya secara langsung," Pastor Elric bergumam, menggelengkan kepala pelan sambil menyeduh teh untuk mereka. "Aku tidak tahu apakah harus mengagumi keberanianmu atau mengkhawatirkan kenekatanmu, Anak Muda."
"Mungkin keduanya," Sasuke menjawab, sedikit tersenyum meski situasinya serius.
Pastor Elric menghabiskan dua hari berikutnya membagikan segala yang ia ingat tentang protokol dan tata cara Katedral Agung—jalur masuk, kebiasaan para pendeta senior, bahkan detail-detail kecil tentang bagaimana Uskup Agung biasa menerima tamu, semuanya berdasarkan ingatannya dari masa-masa ia masih menjadi bagian dari struktur Gereja.
"Satu hal yang perlu kau ingat," Pastor Elric berkata di hari terakhir kunjungan mereka, "Uskup Agung yang sekarang sangat pandai menyembunyikan niat sebenarnya di balik kata-kata yang terdengar bijaksana. Jangan biarkan retorikanya membutakanmu dari apa yang sebenarnya sedang terjadi."
"Aku akan mengingatnya," Sasuke berjanji, menghargai setiap kepingan informasi yang diberikan pria tua itu dengan sepenuh hati.
---
Kembali ke dataran rendah, mereka menghabiskan sisa minggu-minggu berikutnya dengan jadwal latihan yang ketat namun seimbang dengan momen-momen keluarga yang tetap mereka jaga.
Setiap pagi, Sasuke dan Saviera berlatih bersama di dungeon-dungeon kecil sekitar kota-kota yang mereka singgahi, Saviera semakin mahir mengombinasikan kekuatan ofensif dan defensifnya, sementara Sasuke membantu mengasah nalurinya membaca pola pertarungan lawan yang lebih kuat.
"Cobalah rasakan aliran chakra lawan sebelum mereka menyerang," Sasuke mengarahkan suatu pagi, ketika mereka berlatih melawan sekelompok golem elemental di sebuah dungeon menengah. "Bukan hanya melihat gerakan fisiknya, tapi merasakan niat di baliknya."
Saviera memejamkan mata sejenak, mencoba menerapkan arahan itu, dan ketika golem elemental berikutnya menyerang, ia berhasil menghindar dengan presisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya, membalas dengan serangan cahaya yang tepat sasaran.
"Bagus sekali!" Sasuke memuji, senyum bangga menghiasi wajahnya.
Level Saviera terus meningkat sepanjang minggu-minggu itu, dari sembilan puluh lima menjadi sembilan puluh delapan, mendekati batas seratus yang selama ini menjadi penghalang bagi kebanyakan orang di dunia Astral.
---
Sore hari biasanya dihabiskan untuk mengajari Elaina—bukan hanya aksara dan berhitung dasar, tapi juga pertahanan diri sederhana yang sesuai untuk anak seusianya, teknik-teknik dasar mengendalikan kekuatan sayap kecilnya yang mulai menunjukkan tanda-tanda perkembangan.
"Coba kepakkan sayapmu perlahan," Saviera mengarahkan suatu sore, di taman belakang penginapan tempat mereka menginap minggu itu. "Rasakan anginnya, jangan dipaksa."
Elaina, dengan wajah serius penuh konsentrasi, mengepakkan sayap putih kecilnya, dan untuk pertama kalinya, kedua kakinya terangkat beberapa senti dari tanah sebelum ia terkikik gembira dan kehilangan konsentrasi, jatuh terduduk dengan lembut ke rerumputan.
"Elaina terbang! Biar cuma bentar, tapi Elaina terbang!" serunya bangga, matanya berbinar penuh semangat.
"Itu luar biasa, Sayang," Sasuke berkata, mengangkatnya dan memutar tubuhnya di udara sejenak, membuat Elaina tertawa riang. "Beberapa minggu lagi, kau mungkin sudah bisa terbang sungguhan."
Momen-momen kecil seperti ini menjadi pengingat penting di tengah persiapan yang semakin intensif—bahwa apa pun yang menanti mereka di Katedral Agung, kehidupan sederhana yang mereka bangun bersama tetaplah hal yang paling berharga untuk dilindungi.
---
Minggu ketiga, mereka kembali ke Guild untuk mengambil beberapa misi peringkat lebih tinggi dari biasanya—bukan untuk menyembunyikan kekuatan lagi, melainkan untuk menguji sejauh mana kemampuan mereka berdua telah berkembang sebagai tim.
Sebuah misi membasmi sarang manticore yang mengganggu desa-desa sekitar memberi mereka kesempatan untuk benar-benar menguji koordinasi mereka dalam pertarungan nyata melawan monster berbahaya, jauh dari sekadar latihan terkendali di dungeon.
"Kiri!" Sasuke berseru ketika seekor manticore menukik dari sisi berlawanan, dan Saviera, tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, langsung membalikkan badan dan melepaskan tombak cahaya yang menembus sayap makhluk itu dengan presisi sempurna, menjatuhkannya sebelum sempat mendekati mereka.
Mereka berhasil menuntaskan misi itu dalam waktu yang jauh lebih singkat dari perkiraan Guild, kembali dengan reputasi yang mulai menyebar—meski Sasuke tetap mempertahankan Kartu Guild peringkat rendahnya, penduduk lokal mulai membicarakan "keluarga petualang misterius" yang selalu berhasil menuntaskan misi sulit dengan mudah.
---
Minggu terakhir sebelum jadwal pertemuan, mereka kembali ke Aurelian, menghabiskan hari-hari terakhir dengan persiapan logistik dan mental, sambil tetap menyempatkan waktu untuk momen-momen keluarga sederhana yang telah menjadi jangkar mereka selama ini.
Malam sebelum keberangkatan menuju Katedral Agung, mereka duduk bersama di kamar penginapan, suasana campuran antara ketegangan dan tekad yang tenang.
"Kau siap?" Saviera bertanya, menggenggam tangan Sasuke erat.
"Sejujurnya, tidak sepenuhnya," Sasuke mengakui jujur. "Tapi aku siap menghadapi apa pun yang datang, bersama kalian berdua di sampingku."
Elaina, yang duduk di antara mereka, menggenggam tangan mereka masing-masing dengan tekad kecil di wajahnya. "Elaina juga siap! Kita akan hadapi bersama-sama, kan? Seperti biasa!"
Sasuke tersenyum, mengusap kepalanya lembut. "Seperti biasa," ia mengonfirmasi, meski di dalam hatinya, ia tahu apa yang menanti mereka di Katedral Agung mungkin akan menjadi ujian terbesar yang pernah mereka hadapi bersama sejak awal perjalanan panjang ini.
Di luar jendela, bulan-bulan Astral bersinar terang, menyaksikan malam terakhir ketenangan sebelum babak baru yang penuh ketidakpastian dimulai keesokan harinya.
---
*Bersambung ke Bab 32: Menuju Katedral Agung*
jangan lupa mampir ya ke novel saya judulnya : di bawah nama yang di pilih Takdir 💪💪