BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.
👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 taktik pertempuran yefan
Yulin Zou melangkah perlahan menuju Yefan dengan tatapan penuh kebencian dan keangkuhan.
“Aku tak peduli dari mana asal rakyat jelata sepertimu. Namun yang pasti, hari ini aku akan mencincang tubuhmu menjadi beberapa bagian—sebagai bentuk penebusan dosa atas penghinaan kalian terhadap Keluarga Yujin!”
“Humph, Keluarga Yujin, ya... Memangnya sehebat itu?” cibir Yefan dingin.
“Kurang ajar! Beraninya kau merendahkan nama besar Keluarga Yujin! Perhatikan baik-baik, aku akan menunjukkan Teknik Pedang Bayangan milik keluargaku! Aku ingin melihat seberapa lama kesombonganmu itu bertahan!”
WUS!
Yulin Zou menerjang.
Pedangnya melesat amat cepat, menyasar leher Yefan.
Mata Yefan menyipit tajam saat mendapati gerakan yang begitu janggal sekaligus cepat. Bilah pedang Yulin Zou seolah membelah diri menjadi tiga bayangan, lalu mendadak menyatu kembali menjadi satu tebasan mematikan yang diiringi dengungan tajam hingga memekakkan telinga.
Yefan buru-buru mengangkat tanduk hitamnya untuk menangkis.
BOOM!
Ledakan terdengar amat nyaring, membuat telinga Yefan berdenging hebat dan tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah.
Namun, sebelum Yefan sempat menstabilkan pijakannya, bayangan pedang lawan kembali meluncur, mengincar bahunya.
Sial, aku terlalu meremehkan teknik beladiri Keluarga Yujin! batin Yefan meringis.
DANG!
Yefan kembali terpental.
DANG! DANG! DANG! BOOM!
Yefan benar-benar dibuat kewalahan oleh pola serangan bayangan yang tak terduga itu. Sebuah tendangan keras dari Yulin Zou akhirnya telak menghantam perutnya, mengempaskan tubuh Yefan hingga menghantam batang pohon besar di belakangnya sampai pohon itu nyaris roboh.
“Teknik beladiri macam apa ini? Luar biasa aneh...” pikir Yefan seraya meringis.
Yefan buru-buru bangkit.
Punggungnya terasa panas dan kesemutan akibat benturan keras tadi, sementara setitik darah segar menyelinap keluar dari sudut bibirnya.
Di sisi lain, Yulin Zou terkejut mendapati Yefan sanggup menahan gempuran teknik Pedang Bayangan miliknya hanya dengan mengandalkan refleks dan kekuatan fisik murni.
Melihat Yefan masih mampu berdiri tegak setelah dihantam sedemikian rupa, Yulin Zou mulai bertanya-tanya.
Pria bertampang lusuh ini mungkin saja sengaja menyamar untuk menyembunyikan identitas dan latar belakangnya demi suatu misi rahasia.
karena tidak mungkin orang tanpa latar belakang mampu menghadapi teknik pedang bayangan milik nya semudah itu
Namun, Yulin Zou dengan cepat menepis prasangka itu.
Bagaimanapun juga, Keluarga Yujin bukan sekadar keluarga besar tingkat enam di Kota Kekaisaran, melainkan keluarga dengan koneksi yang sangat luas. Mana mungkin rakyat jelata yang berdiri di hadapannya ini memiliki latar belakang yang sanggup menandingi keluarganya?
Melihat Yefan terdesak oleh jurus musuh, Yunlan, Xifeng, dan Fanyun sempat berniat membantu.
Namun, Yefan dengan cepat memberikan kode isyarat agar mereka tetap fokus pada pertarungan masing-masing.
Xifeng, Fanyun, dan Yunlan sadar betul bahwa musuh mereka kali ini teramat tangguh. Meski mereka telah menerapkan taktik formasi dari yefan, serangan Lei Ting dan para pelayan semakin lama semakin sulit ditebak.
Itu jelas merupakan teknik beladiri Keluarga Yujin.
Walaupun teknik beladiri mereka tak sehebat milik Yulin Zou, hal itu sudah cukup membuat ketiganya kewalahan—terlebih lagi, stamina mereka telah terkuras hampir separuh akibat pertempuran melawan Gorila Bercakar Besi sebelumnya.
“Hmm, kemampuanmu boleh juga hingga mampu menahan teknik beladiri Keluarga Yujin-ku,” puji Yulin Zou dengan nada dingin dan meremehkan.
Yefan tak membalas ucapan itu.
Namun, tepat saat ia hendak mengambil inisiatif untuk melancarkan serangan balasan, tubuh Yefan mendadak tertegun di tempat.
Ini... apakah ada yang salah denganku? gumamnya dalam hati seraya meraba bagian dada.
Barulah saat itu ia menyadari sebuah kenyataan yang ganjil.
Ia tak lagi bisa merasakan detak jantungnya sendiri.
Seiring melambatnya detak tersebut, ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan menguap dan memudar. Di saat yang bersamaan, Yefan merasakan suatu kekuatan misterius merayap perlahan dari pangkal jantungnya, menyebar sedikit demi sedikit seolah-olah hendak membungkus seluruh organ tersebut.
Apa yang sebenarnya terjadi pada jantungku? batin Yefan dipenuhi tanda tanya.
Namun, ia segera memaksa pikirannya kembali tenang.
Hal terpenting saat ini adalah menyelesaikan pertempuran hidup dan mati melawan Yulin Zou terlebih dahulu.
“Sekali lagi!” teriak Yefan memecah kesunyian.
WUS!
Yefan melesat menyerang terlebih dahulu.
Meski almarhum ayahnya tak sempat mewariskan teknik beladiri khusus kepadanya, Yefan tak pernah gentar sedikit pun walau musuh menguasai seribu teknik.
Inilah hal yang belakangan terasa semakin aneh baginya—mengapa ia semakin sulit merasakan rasa takut?
SYUUTT!
Tanduk hitam Yefan meluncur bagaikan tombak mematikan, menyasar langsung ke arah kepala Yulin Zou.
“Humph, terlalu melebih-lebihkan kemampuanmu sendiri!” cibir Yulin Zou.
Tepat saat ujung tanduk Yefan nyaris menyentuh sasaran—
DANG!
Bilah pedang Yulin Zou dengan sigap memblokir lontaran Yefan.
DANG! DANG! DANG!
Tanpa henti, Yefan menghujani lawannya dengan kombinasi tebasan dan tusukan dari berbagai sudut.
Akan tetapi, Yulin Zou kembali menggunakan teknik lain yaitu teknik pemblokir khas keluarganya untuk membelokkannya dengan mudah.
Tak terasa, puluhan bentrokan telah terjadi hingga Yefan mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Yulin Zou mendengus dingin.
Dengan pergerakan yang teramat lincah, ia menetralisir seluruh gempuran Yefan. Wajahnya amat tenang, menatap Yefan tak ubahnya seorang penonton yang sedang menikmati pertunjukan badut.
“Hanya segini batas kemampuanmu?” gelak Yulin Zou kejam begitu menyadari ritme serangan Yefan mulai melambat.
“Kalau begitu, saatnya menjadikan nyawamu sebagai persembahan untuk Keluarga Yujin!”
Namun, Yulin Zou tak menyadari kilatan cahaya aneh yang mendadak muncul di kedalaman mata Yefan.
SRET!
Dentingan pedang berdering amat nyaring, disusul dengungan tajam saat bilah pedang Yulin Zou melesat mengincar leher Yefan demi mengakhiri segalanya.
Melihat hal itu, Xifeng, Fanyun, dan Yunlan panik setengah mati.
Ketiganya spontan hendak menerobos untuk menyelamatkan Yefan. Namun, mereka terpaksa menahan diri. Jika salah satu dari mereka merusak formasi dan taktik yang dirancang Yefan, musuh akan langsung menghabisi mereka satu per satu.
Namun, tepat di detik-detik ketika pedang Yulin Zou nyaris memenggal lehernya, Yefan bergeser mundur satu langkah dengan gerakan yang amat halus.
Lalu—
SYUT!
Tanduk hitam di tangan Yefan melesat memotong udara dengan pola yang sangat asing!
Senjata itu mendadak tampak terbelah menjadi tiga bayangan, lalu menyatu kembali diiringi dengungan udara yang amat keras, secara presisi mengunci sekaligus memblokir pedang Yulin Zou!
BOOM!
Benturan kedua senjata itu meledakkan gelombang angin kencang yang menerbangkan awan debu di sekeliling mereka.
BUG! BUG! BUG!
Suara tiga langkah kaki yang terseret terdengar jelas dari balik kepulan debu.
Begitu debu perlahan memudar, tampak dua sosok berdiri saling berhadapan, terpisah jarak enam langkah.
“Ini... bisa setara?!” gumam Lei Ting terperanjat.
Ia yang semula yakin Yefan akan tewas terpenggal kini menatap pemandangan itu dengan pupil mata berkilat dingin.
Sudah kuduga, orang ini memiliki kemampuan yang sangat berbahaya...
Di sisi lain, Yulin Zou terhenyak hebat menyaksikan teknik pemblokir yang baru saja diperagakan Yefan.
Setelah tertegun beberapa saat, kesadarannya kembali dihantam gelombang syok yang jauh lebih besar.
“Kau... kau... dari mana kau mencuri dan mempelajari teknik pedang milik Keluarga Yujin-ku?!” jerit Yulin Zou murka.
Yefan hanya mengulas senyum dingin.
“Coba tebak,” ejek Yefan singkat.
Jawaban itu bagaikan petir di siang bolong bagi Yulin Zou.
Tentu saja ia paham apa arti di balik senyuman dan kalimat Yefan!
Tidak, tidak mungkin!
Mana mungkin ada orang yang mampu memahami dan menguasai Teknik Pedang Bayangan milik Keluarga Yujin hanya dengan sekali melihat?!
Ia sendiri membutuhkan waktu tiga tahun penuh latihan keras untuk bisa menguasai teknik pedang dan teknik pemblokir tersebut secara sempurna.
Namun, pria lusuh di hadapannya ini hanya berhadapan dengannya selama beberapa menit mengamati setiap teknik yang ia gunakan dan langsung di peragakan hingga menyamai tingkat penguasaannya!
“Kau pasti berbohong! Kau pasti telah menyusup dan mencuri teknik ini dari perbendaharaan rahasia Keluarga Yujin-ku lalu mempelajarinya secara diam-diam! Benar, kan?!” teriak Yulin Zou histeris.
Ia menolak mentah-mentah kenyataan yang terpampang jelas di depan matanya.
Sebagai calon pewaris tunggal, gengsi Yulin Zou tak sanggup menerima keberadaan seorang rakyat jelata yang memiliki kejeniusan yang jauh melampaui dirinya.
Menyaksikan Yulin Zou yang kehilangan akal sehat bak orang idiot, rasa jijik semakin membayang di wajah Yefan.
Tentu saja, semua ini merupakan bagian dari rencana perjudian Yefan yang tak diketahui oleh siapa pun—termasuk rekan-rekannya.
Sejak awal melihat penampilan Yulin Zou yang bergaya bak cendekiawan berpendidikan, Yefan sadar bahwa dari segi pengalaman tempur murni, ia sanggup mengimbanginya.
Namun, begitu mengetahui musuhnya berasal dari keluarga terpandang di Kota Kekaisaran yang dibekali warisan teknik beladiri turun-temurun, Yefan tahu ia tak akan menang jika bertarung secara konvensional tanpa menggunakan dua harta pusakanya: busur tulang atau kuas bertinta hitam.
Namun, pusaka-pusaka itu adalah kartu truf yang menuntut bayaran darah, sehingga tak akan ia gunakan kecuali dalam situasi hidup dan mati.
Sebab itulah, ketimbang melarikan diri, Yefan nekat mengambil risiko paling berbahaya: mempertaruhkan nyawa untuk meniru dan memahami teknik beladiri milik Keluarga Yujin secara langsung di tengah pertempuran.
Jika ia terlambat sedetik saja dalam meraba pola gerakan teknik tersebut, dipastikan lehernya sudah melayang.
“Semua ini tidak mungkin! Kau harus mati! KAU HARUS MATI!” raung Yulin Zou.
Benak Yulin Zou kini sepenuhnya dikuasai oleh hasrat membunuh yang gila.
Ia tak sanggup membiarkan seseorang dengan kejeniusan semacam ini tetap bernapas.
“Mati kau di tanganku!”
SRET!
Tusukan Pedang Bayangan meluncur deras menargetkan dada Yefan.
Yulin Zou mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghabisi Yefan secepat mungkin.
“Bodoh,” cibir Yefan pelan.
BOOMM!
senjata Tanduk hitam Yefan berayun bagaikan bayangan, berbenturan langsung dengan Pedang Bayangan milik Yulin Zou hingga memercikkan bunga api ke segala arah.
BOM! BOM! SRET!
Dentingan logam dan gesekan senjata bergaung memekakkan telinga tanpa henti.
Keduanya terus saling menyerang tanpa memberikan celah sedikit pun.
Kini, dengan menguasai teknik beladiri yang sama, Yefan tak sekadar mampu bertarung setara.
Semakin lama pertempuran berlangsung, semakin dalam dan sempurna pemahaman Yefan terhadap teknik tersebut—hingga perlahan dan pasti, dominasi pertempuran mulai sepenuhnya beralih ke dalam genggaman Yefan.
(Bersambung)
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏