Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Udara di Wibowo Park
Gemuruh suara baling-baling tiga helikopter tempur tanpa tanda pengenal meraung-raung di atas udara lokasi proyek Wibowo Park. Angin kencang yang dihasilkan oleh putaran baling-baling menghempaskan debu dan material bangunan di tanah, menciptakan suasana kacau dan mencekam. Ratusan pekerja proyek berlarian menyelamatkan diri menuju tempat berlindung.
Di lantai dua bangunan kantor pengawas, Arka mengetatkan dekapan tangannya di bahu Maya. Pria itu menarik tubuh istrinya menjauh dari jendela kaca, membawanya bersandar di sudut tembok beton yang paling aman.
Maya menempelkan tubuhnya rapat-rapat di dada Arka. Dadanya naik turun dipenuhi rasa takut yang luar biasa. Suara tembakan laras panjang dari atas helikopter mulai terdengar menyengat udara.
Tak tak tak tak!
Rentetan peluru menghantam bagian atap seng dan permukaan tanah di sekitar area lokasi proyek. Serbuan brutal ini dirancang khusus untuk menciptakan kepanikan massal sekaligus melumpuhkan sistem keamanan tempat tersebut.
"Arka..." bisik Maya dengan suara gemetar hebat. "Mereka... mereka menembak secara acak! Apa yang harus kita lakukan?!"
Arka menunduk, menatap iris mata Maya dengan pancaran kehangatan yang amat dalam. Ia mengusap pipi istrinya dengan jemari tangannya yang tenang dan tanpa getaran sedikit pun.
"Tetap di posisi ini dan jangan pernah menundukkan kepala keluar dari sudut tembok ini, Maya," ajur Arka dengan suara pelan namun sarat akan ketegasan yang mutlak. "Aku akan memastikan tidak ada satu peluru pun yang bisa menyentuhmu."
Arka merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah alat komunikasi kecil berbentuk earphone transparan berukuran micro, lalu memasangnya di telinga kanan.
"Pasukan Bayangan," panggil Arka dengan nada suara sangat dingin yang sanggup membekukan darah. "Aktifkan Protokol Pembersihan Tingkat Satu. Lenyapkan seluruh ancaman di udara dalam waktu dua menit."
Dari dalam peranti komunikasi mikro tersebut, suara tegas kepala Pasukan Bayangan dari ibu kota terdengar begitu patuh.
"Petunjuk diterima, Yang Mulia Dewa Perang! Eksekusi dimulai sekarang!"
Tepat saat lima orang tentara bayaran bertubuh kekar meluncur turun menggunakan tali dari pintu helikopter pertama menuju atap kantor pengawas, suara gemuruh yang jauh lebih dahsyat mendadak menggelegar dari balik awan.
Empat buah jet tempur taktis siluman berwarna hitam kelam meluncur dengan kecepatan luar biasa membelah angkasa!
Wroooar!
Kehadiran empat jet tempur canggih tersebut membuat para tentara bayaran di dalam tiga helikopter tersentak kaget. Sebelum mereka sempat mengarahkan moncong senjata laras panjang mereka ke atas, sistem pengunci gelombang elektro magnetik dari jet siluman telah melumpuhkan seluruh navigasi helikopter musuh.
Brak! Bshhh!
Tiga buah tembakan roket jarak pendek tanpa suara dilepaskan secara presisi oleh jet tempur tersebut. Roket roket perusak itu menghantam bagian baling-baling belakang ketiga helikopter tentara bayaran dengan akurasi seratus persen.
Tiga ledakan api membumbung tinggi di udara!
Tiga helikopter tanpa tanda pengenal itu kehilangan kendali secara total, terhempas jatuh meluncur menuju area rawa kosong yang jauh dari lokasi pekerja proyek, lalu meledak menjadi bola api raksasa.
Bum! Bum! Bum!
Getaran ledakan hebat terasa hingga ke dinding kantor pengawas. Maya membelalakkan matanya dengan napas tertahan. Ia memeluk pinggang Arka makin erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Sementara itu, lima tentara bayaran musuh yang sudah terlanjur mendarat di atas atap seng bangunan kantor pengawas mengokang senjata mereka dengan panik. Pimpinan regu tentara bayaran—seorang pria asing berkulit gelap dengan ukiran tato serigala di lehernya—memaki keras seraya mengarahkan senjatanya ke tangga menuju lantai dua.
"Sialan! Kita dijebak!" teriak pimpinan tentara bayaran itu dalam bahasa asing. "Cari wanita bernama Maya Wibowo dan bunuh dia sekarang juga!"
Namun, sebelum mereka sempat melangkah turun dari tangga atap, pintu akses kayu mendadak terhempas jebol.
Arka melangkah keluar ke area atap terbuka. Kemeja putihnya yang bergulung di siku melambai tertiup angin kencang. Wajahnya begitu datar, namun aura pembunuh yang meluap dari sosoknya membuat kelima tentara bayaran elit itu mendadak menghentikan langkah mereka secara refleks.
Pimpinan tentara bayaran membelalakkan mata tatkala mengenali postur dan cara berdiri Arka.
"Ka... kamu..." pimpinan tentara bayaran itu gemetar hebat, senjatanya mendadak terasa begitu berat di tangannya. "Postur ini... aura ini... kamu adalah sang Dewa Perang dari Konsorsium Pusat?!"
"Kamu datang terlalu jauh hanya untuk mengantarkan nyawamu, musang kotor," kata Arka dengan suara yang sangat dingin.
Arka bergerak.
Pergerakannya tidak lagi mampu ditangkap oleh mata telanjang manusia. Dalam fraksi detik, Arka sudah berada di depan pimpinan tentara bayaran. Tangan kanannya menyambar moncong senjata laras panjang musuh, membengkokkan besi baja senjata tersebut hanya dengan remasan jari telanjangnya!
Kraak!
Sebelum pimpinan tentara bayaran sempat menjerit syok, pukulan jarak pendek Arka menghantam ulu hatinya dengan kekuatan dahsyat. Pria asing itu memuntahkan darah segar dari mulutnya, tersungkur tak sadarkan diri di atas atap.
Empat tentara bayaran sisanya mencoba menembak secara kalap. Namun, dari balik bayangan atap, delapan orang personel Pasukan Bayangan bertopeng perak melompat turun secara bersamaan. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, seluruh tentara bayaran musuh telah dilumpuhkan total, tergeletak tanpa daya di atas lantai atap.
Kepala Pasukan Bayangan berlutut di hadapan Arka dengan rasa hormat yang teramat mendalam.
"Laporan Yang Mulia," kata kepala pasukan tegas. "Seluruh perimeter telah diamankan secara total. Tidak ada satu pun pekerja atau warga lokal yang terluka."
Arka merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut. "Bawa mereka semua dan interogasi secara mendalam. Cari tahu siapa petinggi di ibu kota yang mendanai aksi nekat Keluarga Wijaya ini."
"Siap, laksanakan Yang Mulia!"
Arka memutar tubuhnya, melangkah kembali turun menyusuri tangga menuju ruangan kantor tempat Maya menunggu.
Saat Arka membuka pintu kayu ruangan, Maya langsung berlari menghampirinya, menghambur ke dalam pelukan Arka dengan linangan air mata haru dan lega.
"Arka! Kamu tidak apa apa?!" jerit Maya panik seraya memeriksa seluruh tubuh suaminya. "Tadi ada suara ledakan keras di atas atap! Aku sangat takut kamu terluka!"
Arka menyunggingkan senyum tipisnya yang sangat hangat. Ia merengkuh tubuh Maya, mengusap lembut air mata di pipi cantik istrinya.
"Aku baik baik saja, Maya," jawab Arka lembut. "Pasukan pengaman udara Nusantara Group kebetulan sedang melintas di atas kota ini dan langsung menetralkan ancaman helikopter tadi. Musuh sudah dilumpuhkan sepenuhnya."
Maya menatap mata Arka dengan lekat. Di balik rasa haru dan syok yang dialaminya, rasa kagum dan keterikatan emosionalnya pada Arka kini telah mencapai titik tertinggi. Pria di hadapannya ini bukan lagi sekadar pelindung, melainkan sosok pahlawan sejati yang selalu menjaga nyawanya dari setiap bahaya mengerikan.
Maya menjinjitkan kakinya pelan, lalu menyandarkan bibirnya di pipi Arka, menyalurkan rasa terima kasih dan kecintaan yang teramat dalam.
"Terima kasih... terima kasih karena selalu ada untuk melindungiku, Arka," bisik Maya lembut.
Arka terpana sejenak merasakan sentuhan hangat bibir istrinya. Senyum bahagia mengulas di wajah tampannya, merapatkan dekapannya di tubuh Maya.
"Selama aku bernapas, Maya," kata Arka tulus, "dunia tidak akan pernah bisa menyentuhmu."
itu.