Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Di Restui Oleh Mahendra
Malam kian merambat larut, jarum jam di tangan menunjuk pukul 21:30. Kerlap-kerlip lampu pasar malam perlahan meredup di belakang mereka saat Juvan dan Yena melaju meninggalkan keramaian. Di atas motor, lengan Yena melingkar erat di pinggang Juvan, tubuhnya meringkuk nyaman menyandarkan kepala di punggung kekasihnya. Getaran mesin, hembusan angin malam, dan kehangatan tubuh Juvan menyatu menjadi rasa damai yang begitu menenangkan — seolah seluruh dunia tertutup oleh rasa aman yang ia berikan.
Beberapa menit kemudian, motor itu berhenti tepat di halaman rumah Yena yang tampak megah dan tenang. Yena turun perlahan, melepaskan helm dan menyerahkannya kepada Juvan yang sudah mematikan mesin.
"Kak... makasih ya udah nyempetin waktu Kakak malam ini buat jalan sama aku," ucap Juvan sambil tersenyum tulus, matanya berbinar lembut memandang wajah gadis di hadapannya. "Aku happy banget malam ini."
Yena membalas senyum itu dengan sama hangatnya, jemarinya mengelus lembut boneka kura-kura kecil yang sejak tadi ia genggam erat.
"Iya, sama-sama. Aku juga happy banget," jawabnya lembut, menatap boneka itu penuh kasih sayang. "Makasih ya bonekanya. Aku akan simpan baik-baik. Setiap kali aku kangen kamu, aku tinggal peluk boneka ini — dan rasanya seolah kamu ada di sini, menemani aku."
Hening sejenak, namun kehangatan masih menyelimuti mereka. Yena tiba-tiba memanggil pelan, "Juvan..."
"Iya, Kak? Kenapa?" jawab Juvan lembut.
Tanpa ragu sedikit pun, Yena melangkah mendekat dan langsung memeluk tubuh Juvan erat-erat. Juvan sontak terkejut — meskipun akhir-akhir ini Yena memang sering tiba-tiba memeluknya, setiap sentuhan dan pelukan itu selalu membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan. Namun kali ini, ia segera membalas pelukan itu dengan sama kuatnya, membiarkan aroma dan kehangatan satu sama lain menyatu dalam keheningan malam yang manis.
"Makasih udah hadir di hidup aku, Juvan," bisik Yena di sela pelukannya. "Aku benar-benar bahagia banget kalau lagi sama kamu."
Juvan mengusap punggung Yena dengan lembut, suaranya terdengar sungguh-sungguh dan penuh janji: "Aku akan usahakan semuanya buat Kakak. Aku janji akan bikin Kakak bahagia terus, selamanya."
Yena melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap wajah Juvan dengan senyum menggoda namun penuh kasih sayang. "Ih, Juvan... kok masih manggil Kakak sih?" godanya. "Coba panggil Sayang, jangan Kakak terus dong."
Wajah Juvan langsung memerah merona, garuk-garuk kepala yang tak gatal lagi-lagi menjadi kebiasaannya saat gugup. "E-eh... iya, maaf Kak. Eh, maksudku... Sayang," ucapnya terbata, namun kata itu akhirnya meluncur dari bibirnya dengan manis.
Yena terkekeh pelan, gemas melihat tingkah polos kekasihnya. "Emm Kalau gitu, aku pulang ya. Habis ini kamu langsung bersih-bersih terus tidur, jangan begadang, ya?" pesannya lembut namun tegas.
"Siap, Sayang!" jawab yena ceria, memberi hormat kecil "Aku pulang dulu. Hati-hati di rumah ya."
Motor Juvan pun melaju menjauh, menghilang di tikungan jalan yang gelap. Yena berdiri sejenak memandang kepergiannya, hatinya masih dipenuhi kebahagiaan yang meluap-luap. Namun, saat ia berbalik hendak masuk ke dalam rumah, ia tak menyadari — di balik tirai jendela ruang tamu, sepasang mata tajam sedang mengawasi setiap gerak-geriknya sejak tadi. Mata itu memancarkan amarah yang berkobar hebat saat menyaksikan putri kesayangannya memeluk seorang pemuda asing di depan pintu rumahnya sendiri.
Yena memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Belum sempat ia meletakkan tas dan melepas sepatunya, langkah kakinya terhenti seketika. Di sana, di sofa besar ruang tamu yang remang-remang, duduk seorang pria paruh baya dengan wajah yang kaku dan tatapan yang sedingin es — Mahendra, papanya yang berbulan-bulan tak pulang ke rumah.
"Papa..." desis Yena lirih, terkejut tak terkira. Jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak.
Tanpa basa-basi, tanpa sapaan hangat, Mahendra langsung melontarkan pertanyaannya dengan suara berat dan penuh tekanan: "Siapa laki-laki itu?"
Wajah Mahendra memerah menahan amarah. "Kenapa kamu memeluknya? Papa tahu dia itu bukan Arga! Siapa dia sebenarnya, Yena? Jawab Papa!"
Suara Mahendra tiba-tiba meninggi, menggema di seluruh ruangan besar itu. Nada ancaman dan kemarahan yang begitu jelas membuat bulu kuduk Yena meremang seketika. Namun di balik ketakutannya, ada rasa kesal yang perlahan merayap naik.
"Dia... dia teman aku, Pa," jawab Yena pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski tangannya gemetar halus.
"Teman?!" Mahendra tertawa sinis, tatapannya semakin tajam menusuk. "Teman mana yang sedekat itu? Pulang malam begini dan berpelukan mesra seperti itu?!"
Mahendra berdiri tegak, menatap putrinya dengan pandangan penuh penghakiman yang menyakitkan. "Yena, Papa nggak mau tahu. Kamu jauhi dia. Tolong fokus saja sama Arga. Pilih yang pasti-pasti saja seperti Arga — sudah mapan, dewasa, dan siap bertanggung jawab untuk masa depanmu."
Kata-kata itu bagaikan minyak yang disiram ke dalam api yang sudah lama terpendam di hati Yena. Rasa kesal, kecewa, dan amarah bercampur menjadi satu. Ia menatap balik papanya dengan mata yang menyala tegas.
"Papa tahu apa soal kebahagiaan aku, Pa?!" seru Yena lantang, suaranya bergetar namun penuh ketegasan. "Papa jangan sok tahu tentang hidup aku. Aku sudah dewasa, dan aku berhak memilih jalan hidupku sendiri — termasuk memilih siapa yang aku cintai dan siapa yang akan membuat aku bahagia. Papa jangan ikut campur urusan pribadiku. Lebih baik Papa urusi saja pekerjaan Papa yang segudang itu. Bukannya Papa memang gila kerja sampai lupa kalau Papa punya dua anak yang selalu menunggu Papa pulang?!"
Hening seketika menyelimuti ruang tamu setelah kalimat terakhir itu meluncur dari bibir Yena. Kata-kata itu terasa begitu tajam, menembus tepat ke titik terdalam hati Mahendra. Yena tak menunggu reaksi atau jawaban apa pun dari papanya. Dengan langkah mantap namun bergetar menahan emosi yang meluap, ia berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya di lantai atas. Pintu kamarnya ditutup pelan namun tegas, dan suara kunci diputar menandakan akhir perbincangan malam itu.
Mahendra tertinggal sendirian di ruang tamu yang besar dan sunyi. Tubuhnya kaku terpaku, kata-kata putrinya terus berputar di kepalanya bagaikan gema yang tak henti-hentinya. Wajahnya masih menyiratkan kemarahan, namun di dasar matanya, perlahan mulai muncul bayangan rasa bersalah yang samar namun menusuk.
Di dalam kamar yang kini menjadi satu-satunya tempat perlindungannya, Yena duduk bersandar di pintu yang terkunci rapat. Tubuhnya terasa lemas, jantungnya masih berdegup kencang sisa pertengkaran pedih barusan dengan papanya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, membasahi pipi yang terasa panas.
"Papa tu kenapa sih akhir-akhir ini suka ngeselin banget..." gumamnya lirih, suaranya bergetar penuh kecewa. "Bisa-bisanya dia lebih membela Arga daripada anak kandungnya sendiri..."
Yena menyeka kasar air matanya dengan punggung tangan, pandangannya jatuh ke foto keluarga di meja samping tempat tidur — foto lama di mana mereka berempat tersenyum bahagia, lengkap dengan mamanya yang masih ada di tengah mereka. Hatinya terasa perih teriris melihat pemandangan itu.
"Jujur aku rindu Papa yang dulu... Papa yang penuh kehangatan, yang selalu menyayangi aku dan Kenzo, yang selalu menyempatkan waktu buat kita berkumpul bersama," batinnya merintih pedih. "Tapi setelah kepergian Mama... Papa benar-benar berubah jadi begini. Dingin, keras kepala, dan seolah pekerjaan adalah satu-satunya hal yang tersisa di hidupnya."
Air mata kembali mengalir lebih deras. "Ma... Yena kangen Mama," isaknya pelan, memeluk lututnya erat, mencoba mencari kenyamanan yang dulu selalu ia dapatkan dalam pelukan ibunya.
Kesedihan itu sempat menyelimuti seluruh ruang hatinya, namun tiba-tiba suara notifikasi pesan masuk dari ponselnya memecah keheningan kamar. Yena segera meraih ponsel itu, dan saat melihat nama pengirimnya, seketika rasa sedihnya terangkat sedikit — pesan itu dari Juvan.
"Kakak inget ya, jangan begadang. Besok kan Kakak mau kuliah. Istirahat yang cukup ya. Selamat tidur, Kak."
Yena membaca pesan itu berulang kali, namun alih-alih tersenyum, ia justru mendengus kasar sambil menepuk jidatnya pelan.
"Kok masih manggil Kakak sih..." keluhnya kesal namun sebenarnya terselip rasa gemas yang hangat di dadanya. "Hadeh... ginilah kalau pacaran sama anak-anak. Udah dikasih tahu tadi buat panggil Sayang, tetap saja kembali ke panggilan lama."
Namun di balik keluhannya itu, pesan sederhana Juvan seolah menjadi obat penenang yang ampuh. Kehangatan perhatian remaja itu perlahan mengusir sisa-sisa dingin dan kesedihan yang ditinggalkan papanya. Yena menyeka sisa air matanya, menarik napas panjang, lalu mengetik balasan dengan senyum kecil yang mulai kembali terukir di bibirnya:
"Iya, Sayang. Aku udah mau tidur kok. Makasih ya udah ngingetin. Kamu juga istirahat yang nyenyak. Mimpi indah, Sayangku. "
Saat mengirim pesan itu, Yena menyadari satu hal — tak peduli seberapa keras dunia di luar sana menekannya, seberapa besar penolakan yang datang dari keluarganya, selama ada Juvan yang berdiri di sisinya dengan cinta yang tulus, ia akan selalu memiliki kekuatan untuk bertahan.