Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman. Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Restoran itu cukup tenang menjelang malam. Indri memilih meja di sudut ruangan yang jauh dari keramaian. Ia sengaja meminta Riko datang ke sana karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya secara langsung.
Sejak menerima tawaran Riko, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia tahu Riko tulus. Justru itulah yang membuatnya merasa semakin tidak enak.
Beberapa menit kemudian, Riko datang.
“Maaf membuat Bu Indri menunggu.”
“Tidak apa-apa.”
Riko duduk di hadapannya. Ia memperhatikan wajah Indri yang tampak lebih serius dari biasanya.
“Ada yang ingin Bu Indri bicarakan?”
Indri mengangguk. “Aku ingin membicarakan tawaranmu waktu itu.”
Riko terdiam. Ia sudah menduga pembicaraan tersebut akan datang.
Indri menarik napas panjang. “Aku sudah memikirkannya.”
“Dan?”
“Aku ingin menolaknya.”
Riko tidak langsung menjawab.
Indri melanjutkan. “Bukan karena aku tidak menghargai kebaikanmu. Aku hanya merasa kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik.”
Riko menggeleng. “Jangan mengatakan itu.”
“Aku serius.” Indri menatap meja. “Kehidupanku terlalu rumit. Aku punya masa lalu yang tidak bisa dihapus. Aku sedang mengandung dan aku juga tidak tahu bagaimana masa depanku nanti.”
Ia tersenyum getir.“Kalau kamu bersamaku, kamu akan mendapatkan terlalu banyak masalah.”
Riko menatapnya tenang. “Sudah selesai?”
Indri mengangkat wajah. “Maksudmu?”
“Saya ingin mendengar semuanya sebelum menjawab.”
Indri terdiam.
Riko menarik napas. “Bu Indri, saya tidak pernah mengatakan bahwa hidup bersama Ibu akan mudah.” Ia menatapnya dengan sungguh-sungguh. “Saya tahu Bu Indri punya masa lalu. Saya juga tahu Ibu sedang menghadapi banyak hal yang tidak bisa diceritakan.”
Indri menunduk.
“Tapi saya tetap membuat tawaran itu.”
“Kenapa?”
Riko diam beberapa detik. “Karena saya tahu rasanya hidup tanpa orang tua.”
Indri mengangkat wajah.
“Saya yatim piatu.” Suaranya terdengar lebih pelan. “Sejak kecil saya tahu bagaimana rasanya pulang tanpa ada ayah atau ibu yang menunggu.” Riko tersenyum tipis. “Orang mungkin mengira seorang anak hanya membutuhkan makanan, pendidikan, dan tempat tinggal. Tapi sebenarnya tidak. Seorang anak membutuhkan seseorang yang bisa ia panggil ketika takut. Seseorang yang datang ketika ia sakit. Seseorang yang berdiri di sampingnya ketika ia berhasil melakukan sesuatu.”
Indri menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Saya hanya tidak ingin itu juga dirasakan...” Riko tak melanjutkan, ia menatap perut Indri.
“Tapi kamu tidak harus menjadi ayahnya.”
Riko mengangguk. “Namun kalau saya bisa memberikan itu, kenapa tidak?”
Indri tidak mampu menjawab.
Riko melanjutkan. “Saya tidak meminta Bu Indri melupakan ayah kandungnya. Dan saya tidak akan pernah mencoba menghapus masa lalu anak itu. Saya hanya ingin menjadi seseorang yang hadir.”
Indri menundukkan kepala. “Bagaimana dengan perasaanmu?”
Riko tersenyum. “Cinta tidak selalu muncul sebelum sebuah kehidupan dimulai.” Ia memandang Indri. “Kadang perasaan tumbuh karena kebersamaan. Karena saling memahami. Karena saling menjaga. Dan saya percaya, kalau memang kita ditakdirkan bersama, perasaan itu akan tumbuh seiring waktu.”
Indri terdiam lama. Ia tidak pernah mendapatkan tawaran seperti itu. Tidak ada paksaan. Tidak ada tuntutan. Riko seolah menawarkan sebuah kehidupan baru tanpa meminta Indri menghapus kehidupan lamanya. Namun justru karena itu, keputusan tersebut terasa semakin berat.
“Kalau suatu hari kamu menyesal?”
“Saya akan menanggung keputusan saya sendiri.”
“Kalau kamu mengetahui seluruh masa laluku?”
Riko menatapnya. “Kalau Bu Indri sudah siap menceritakannya, saya akan mendengarkan.”
“Dan kalau ternyata masa laluku jauh lebih buruk dari yang kamu bayangkan?”
Riko tersenyum tipis. “Berarti saya harus mengenal ibu lebih dalam sebelum membuat penilaian.”
Indri terdiam. Air mata menetes di pipinya. Ia segera menghapusnya.
Riko tidak menyentuhnya. Ia hanya memberikan waktu. Beberapa menit berlalu. Kemudian Riko berkata, “Saya bahkan sudah memikirkan sesuatu.”
“Apa?”
“Saya ingin menemui Pak Haris.”
Indri langsung menatapnya. “Untuk apa?”
“Meminta restu.”
Wajah Indri seketika berubah. “Riko, jangan terburu-buru.”
“Saya tidak terburu-buru.”
“Ini keputusan yang terlalu besar.”
“Saya tahu.” Riko tersenyum. “Karena itu saya ingin membicarakannya dengan Pah Haris.”
Indri menunduk. Di dalam hatinya terjadi pergulatan hebat. Ada bagian dirinya yang ingin menolak. Namun ada bagian lain yang mulai melihat kemungkinan kehidupan baru. Sebuah keluarga. Seorang pria yang bersedia menerima dirinya. Dan sosok ayah untuk bayinya.
Tetapi apakah itu benar-benar ketulusan?
Indri belum tahu. Dan mungkin itulah yang paling menakutkan.
Malam semakin larut ketika Indri pulang.
Cinta sedang duduk di ruang tengah bersama Laura kecil. Begitu melihat Indri, Cinta berdiri.
“Kamu dari mana?”
“Bertemu Riko.”
Cinta langsung memahami. “Dia membicarakan tawarannya?”
Indri mengangguk. “Kak...”
“Ya?”
“Aku masih belum tahu harus bagaimana.”
Cinta mendekat. “Tidak apa-apa.”
“Dia ingin menemui Papa. Meminta restu.”
“Serius?”
“Iya.”
Cinta menggenggam tangan Indri. “Kalau kamu belum yakin, jangan memberikan jawaban hanya karena dia terlihat baik.”
“Aku tahu.”
“Pastikan kamu menerimanya karena kamu benar-benar siap.”
Indri mengangguk. Kemudian matanya jatuh pada Laura kecil yang sedang tertidur di sofa.
Anak itu tampak damai. Indri menyentuh perutnya.
“Dia bilang ingin menjadi ayah untuk bayiku.”
Cinta menatapnya. “Dan kamu?”
Indri menarik napas panjang. “Aku mulai mempertimbangkannya.”
Cinta tidak menjawab. Ia hanya memeluk adiknya. Karena ia tahu keputusan itu bukan keputusan sederhana. Jika Indri menerima Riko, sebuah kehidupan baru akan dimulai. Namun jika ia menolak, Indri harus menghadapi masa depan sebagai ibu seorang diri.
...
Di sisi lain dunia, Evan masih menjalani pemulihan. Luka akibat kecelakaan mulai membaik, meskipun tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
Ia masih harus menjalani beberapa pemeriksaan dan terapi sebelum dokter mengizinkannya kembali beraktivitas seperti biasa. Namun ada satu hal yang tidak pernah berhenti memenuhi pikirannya.
Siapa yang sebenarnya menyabotase mobilnya?
Malam itu, Evan duduk sendirian di dekat jendela kamar tempatnya menjalani pemulihan. Pemandangan kota asing terbentang di balik kaca, tetapi pikirannya justru berada ribuan kilometer jauhnya.
Ponselnya berdering. Nama Rio muncul di layar.
Evan segera mengangkatnya. “Bagaimana hasil penyelidikannya?”
Suara Rio terdengar dari seberang. “Belum ada titik terang, Pak.”
Evan menarik napas panjang. “Periksa semua orang yang pernah memiliki akses terhadap kendaraan itu.”
“Sudah kami lakukan.”
“Periksa lagi.” Nada suara Evan tegas. “Saya ingin tahu siapa yang melakukan ini.”
“Baik, Pak.” Rio kemudian terdiam beberapa detik.
Evan menyadari perubahan itu. “Ada apa?”
“Tidak ada.”
“Rio.”
“Ya, Pak?”
“Kalau ada sesuatu, katakan.”
Rio menghela napas.n“Saya hanya ingin memastikan Bapak fokus pada pemulihan terlebih dahulu.”
Evan tersenyum tipis. “Sulit untuk fokus kalau aku tidak tahu siapa yang mencoba membunuhku.”
Rio tidak menjawab.
Evan kemudian berkata, “Jangan biarkan siapa pun mengetahui bahwa aku masih hidup.”
“Saya mengerti.”
“Dan jangan hentikan penyelidikan.”
“Baik.”
“Cari sampai ketemu.”
“Pasti, Pak.”
Sambungan telepon berakhir.
Evan menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kembali mengarah ke jendela. Ia masih memiliki terlalu banyak pertanyaan.
Siapa yang menyabotase mobilnya?
Apa tujuannya?
Dan apakah orang tersebut akan mencoba melakukan sesuatu lagi jika tahu ia masih hidup?
Evan sudah saatnya kamu keluar dari persembunyian hadapi dengan jentel ..jgn jadi banci kau ..,, selesai masalah mu dgn Indri jgn buat kesalahan lagi kasihan calon anakmu Van nanti tumbuh tanpa sosok mu , jgn sampai kamu menyesal Indri jadi milik Royco...
Belum pernah di bahas deh thor hubungan Cinta dan Indri 🩵
jujur ajah masih teka teki sama Riko dia itu emang cinta sama Indri atau ada maksud lain 🤔