Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Bab 15: Kepompong Darah, Penempaan Dua Jalan, dan Lahirnya Mahakarya
Ibu kota Kerajaan perlahan-lahan melepaskan gaun kelabunya. Asap hitam yang pernah membumbung tinggi di malam tragedi kini telah hilang tersapu angin musim gugur, dan runtuhan bangunan pualam di sepanjang jalan utama telah dibangun kembali oleh para penyihir bumi dan tukang kayu Dwarf. Namun, meski roda kehidupan masyarakat telah berputar kembali ke ritme normalnya, atmosfer di Akademi Sihir Kerajaan tidak pernah sama lagi sejak malam berdarah itu.
Di setiap sudut koridor akademi, di kantin, hingga di bawah naungan pohon-pohon rimbun taman belakang, nama Wiliam Pendragon bergema tanpa henti. Berita mengenai sidang terbuka di Istana Utama telah menyebar luas bagaikan api menyambar jerami kering. Para siswa yang dahulu memandang sebelah mata pada putra bungsu keluarga Pendragon kini hanya bisa terperangah kaku, merasa tak percaya bahwa pemuda pendiam yang selalu duduk di sudut kelas itu adalah sang Hantu Topeng—sosok legendaris yang membantai ribuan iblis dan menyelamatkan ibu kota.
Di sudut kantin akademi, Leo dan Reno duduk berhadapan di meja kayu yang biasanya mereka tempati bertiga bersama Wiliam. Nampan makanan di hadapan mereka hampir tidak tersentuh. Leo hanya memutar-mutar sendoknya dengan raut wajah muram, sementara Reno bersandar lesu pada kursi, menatap kosong ke arah bangku kosong yang biasa diduduki Wiliam.
"Rasanya aneh sekali, ya..." bisik Leo pelan, memecah keheningan di antara mereka. "Sudah sebulan lebih, tapi setiap kali aku berjalan melewati meja ini, aku masih merasa Wiliam akan datang membawa buku tua dan duduk di sini tanpa bersuara sedikit pun."
Reno menghela napas panjang, merapikan kacamata berbingkai tipisnya. "Keberadaannya memberi pengaruh yang sangat besar pada kita, Leo. Dulu kita berpikir dia hanya pemuda malas yang tertekan oleh nama besar keluarganya. Siapa yang menyangka dia menanggung beban sebesar itu di punggungnya?"
Tiba-tiba, beberapa siswi dari kelas tingkat dua menghampiri meja mereka dengan raut wajah ragu dan penasaran. Salah satu siswi berambut pirang melangkah maju, memegang jemarinya kencang-kencang.
"P-Permisi... Leo, Reno..." sapa siswi itu dengan suara gemetaran. "Apakah benar... apakah benar Wiliam Pendragon adalah Hantu Topeng yang asli? Maksudku... dia selalu terlihat sangat biasa di kelas. Bagaimana mungkin dia bertarung melawan iblis tingkat tinggi sendirian?"
Leo mendongak, menatap siswi itu dengan pandangan tajam yang dipenuhi rasa jengkel. "Kenapa? Kau baru percaya sekarang setelah seluruh istana membicarakannya? Dulu kalian semua menertawakannya dan menyebutnya produk gagal Pendragon, bukan?"
"B-Bukan begitu..." siswi itu menunduk malu, wajahnya memerah. "Kami hanya... kami hanya merasa bersalah. Kami tidak tahu kalau dia setergantikan itu. Dan sekarang dia ditahan di Penjara Kehampaan... apakah dia akan baik-baik saja?"
Reno mengibaskan tangannya pelan, menghentikan kekesalan Leo. "Wiliam akan baik-below. Dia bukan seseorang yang akan runtuh hanya karena dikurung di dalam sel. Dia sedang berjuang dengan jalannya sendiri, jadi sebaiknya kalian berhenti berspekulasi yang tidak-tidak dan fokus pada pelajaran kalian."
Para siswi itu membungkuk canggung lalu bergegas pergi dengan bisik-bisik yang belum reda. Leo mengacak rambutnya frustrasi. "Sialan... aku benar-benar ingin pergi ke Penjara Kehampaan dan membawanya keluar!"
"Jangan bodoh," tegur Reno tenang namun tegas. "Penjara Kehampaan dijaga oleh sihir pualam tingkat tinggi. Bahkan jika kita berhasil menerobos masuk, itu hanya akan memperburuk posisi politik Wiliam. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjadi lebih kuat agar saat dia keluar nanti, kita tidak lagi menjadi beban baginya."
Sementara itu, situasi yang jauh lebih kompleks dan penuh tekanan terjadi di gedung kelas tingkat akhir tempat Julius Jr. menuntut ilmu, serta di kelas tingkat tiga tempat Hector berada.
Di koridor gedung kelas akhir, Julius Jr. berjalan dengan kepala tertunduk. Setiap kali ia melintas, bisik-bisik dari para siswa senior mendengung di kanan dan kirinya. Pandangan orang-orang di sekitarnya terbagi menjadi dua kutub yang sangat ekstrem: pujian yang berlebihan dan celaan yang menusuk tulang.
"Lihat, itu Julius Jr.! Adiknya adalah sang Hantu Topeng!"
"Luar biasa, keluarga Pendragon benar-benar melahirkan pahlawan agung!"
"Pahlawan apa? Kau tidak tahu ceritanya?" sela seorang siswa senior dari klan bangsawan tinggi dengan nada mengejek yang keras. "Dulu Julius Jr. dan Hector selalu menindas Wiliam! Mereka memperlakukannya seperti sampah hanya karena Wiliam menyembunyikan bakatnya! Sekarang setelah adiknya terbukti sebagai penyelamat benua, baru mereka bertindak sok peduli!"
Julius Jr. menghentikan langkah kakinya. Tangannya mengepal kencang di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Ucapan itu merobek dadanya karena ia tahu setiap kata dari celaan tersebut adalah kebenaran yang tidak bisa ia bantah.
"Hei, Julius!" seorang ksatria muda berlevel 13 menghampirinya dengan senyuman miring. "Bagaimana rasanya menjadi kakak dari seorang pahlawan yang pernah kau hina? Apakah kau merasa bangga, atau kau justru merasa malu karena kekuatanmu tidak ada seujung kuku dibanding adik bungsumu?"
Julius Jr. mendongak, menatap siswa itu dengan mata yang dipenuhi rasa penyesalan mendalam. "Kau benar," ucap Julius Jr. dengan suara serak yang membuat siswa di sekitarnya tertegun. "Aku adalah kakak yang buruk. Aku iri padanya, aku merendahkannya, dan aku gagal melindunginya. Tapi jika kau ingin menghina keluargaku atau memaki diriku, lakukan padaku secara langsung! Jangan pernah membawa-bawa nama Wiliam lagi!"
Siswa itu tertegun melihat ketegasan tanpa emosi mentah dari Julius Jr., lalu melangkah mundur tanpa mengeluarkannya sepatah kata pun.
Hal serupa dialami oleh Hector di gedung kelas tiga. Hector yang dahulu terkenal arogan dan suka memamerkan kekuatan pedang apinya kini berubah menjadi sosok yang jauh lebih pendiam dan disiplin. Ketika beberapa teman sekelasnya mencoba memuji keberadaan Wiliam untuk mencari muka dengannya, Hector hanya menanggapi dengan dingin.
"Tidak usah berpura-pura memuji adikku," ujar Hector datar pada sekelompok siswa yang mengelilingi mejanya. "Kalian memujinya sekarang karena dia kuat. Jika besok dia dinyatakan sebagai ancaman oleh kerajaan, kalian akan menjadi orang pertama yang melemparkan batu padanya. Aku tahu betapa busuknya pemikiran seperti itu... karena aku pernah menjadi bagian dari orang-orang busuk seperti kalian."
Hector berdiri dari kursinya, meraih pedangnya, dan melangkah keluar menuju ruang latihan. Ia bersumpah di dalam hatinya bahwa ia tidak akan lagi membiarkan adiknya berjuang sendirian di masa depan.
Jauh di bawah tanah ibu kota, terisolasi dari bisingnya dunia luar dan dinamika politik kerajaan, berdiri Penjara Kehampaan.
Di dalam salah satu sel batu berukuran lima kali lima meter, Wiliam duduk bersila di atas lantai granit yang dingin. Dinding-dinding sel itu terbuat dari batu penyerap mana purba yang memancarkan pendar redup berwarna kehitaman. Wiliam menyandarkan punggung telanjang badannya pada tembok bata yang dingin, membiarkan rambut hitam bergaris peraknya terurai tak teratur.
Awalnya, tempat ini dirancang untuk mengisolasi dan melemahkan para tahanan sihir tingkat tinggi. Namun saat Wiliam memejamkan matanya dan memindai atmosfer sel dengan Eye of the Void, ia menyadari sebuah fenomena yang sangat unik.
Mana di dalam Penjara Kehampaan tidak hilang; mana di sini disaring, dipadatkan, dan dikompresi oleh formasi sihir batu purba hingga menjadi sangat kental dan berat.
Sebuah senyuman tipis terukir di bibir pucat Wiliam.
"Raja..." batin Wiliam pelan. "Keputusan politikmu mengurungku di sini ternyata bukan sekadar untuk memuaskan para bangsawan penakut itu. Kau sengaja menempatkanku di titik ini... agar aku memiliki ruang terisolasi penuh untuk menempa jiwaku dan membuktikan bahwa aku bukanlah wadah yang bisa dikendalikan oleh iblis."
Di luar sel, jatah makanan dan minuman yang diantarkan oleh penjaga setiap harinya menumpuk di dekat pintu besi tanpa tersentuh sedikit pun. Wiliam tidak membutuhkan makanan mortal. Ia sepenuhnya memasuki mode meditasi mendalam, menggantungkan kelangsungan fisiknya pada penyerapan mana kental yang mengalir di dalam sel.
Fokus utamanya saat ini adalah menyeimbangkan dua entitas kekuatan yang saling bergejolak di dalam intinya: Jalur Penempaan Tubuh Demigod dan Kehendak Kaisar Iblis.
Di dalam ruang spiritual dadanya, Inti Cadangan Sekunder memancarkan dua pendar cahaya yang saling bertolak belakang. Pendar cahaya keemasan purba mewakili fondasi Demigod, sementara pendar api merah kehitaman mewakili manifestasi Hati Iblis.
Wiliam mencoba mendekatkan kedua lahar kekuatan tersebut, berencana untuk meleburnya menjadi satu kesatuan energi baru yang belum pernah ada sepanjang sejarah. Namun, usaha itu terbukti sangat mematikan.
CRACKLE-BOOM!
Setiap kali lahar keemasan Demigod menyentuh api merah Hati Iblis, kedua kekuatan tersebut tidak menyatu—mereka justru saling bertarung dengan sangat buas! Lahar keemasan berusaha menyucikan dan menghancurkan energi iblis, sementara api merah iblis berusaha mencerna dan memangsa fondasi keemasan Demigod. Reaksi benturan itu meledak di dalam organ dalam Wiliam, membuat tubuh fisiknya bergetar hebat dan memuntahkan lahar darah secara bertubi-tubi.
Satu minggu berlalu... Wiliam tetap dalam posisi bersilanya, menahan benturan internal yang merobek pembuluh darahnya.
Dua minggu berlalu... Kulit Wiliam mulai retak-retak, mengeluarkan pendar emas dan merah yang saling beradu di bawah pori-porinya.
Satu bulan... Dua bulan... Tiga bulan berlalu dalam keheningan absolut Penjara Kehampaan.
Rambut hitam bergaris perak milik Wiliam telah memanjang hingga menyentuh pinggangnya. Di bulan ketiga meditasinya yang tanpa henti, sebuah guncangan mana yang sangat pekat meletus dari dalam intinya!
THUD-BOOM!
Aliran mana kental Penjara Kehampaan tersedot secara masif ke dalam tubuh Wiliam. Fondasi intinya yang terus-menerus dihancurkan dan dibangun kembali oleh benturan dua kekuatan akhirnya melampaui batasan lama.
Wiliam menerobos batasan Level 13 menuju Level 15 hanya dalam kurun waktu tiga bulan meditasi! Sebuah kecepatan kultivasi yang benar-benar tidak masuk akal bagi seorang manusia mortal.
Namun Wiliam tidak berhenti atau merayakan keberhasilannya menerobos level. Ia tahu bahwa fondasi jalurnya masih jauh dari kata sempurna.
"Fondasi Demigod-ku saat ini baru mencapai satu pertiga dari potensi puncaknya..." batin Wiliam seraya menatap retakan keemasan di dalam tulang-tulangnya. "Masih butuh dua pertiga bagian lagi untuk mencapai Kesempurnaan Tubuh Demigod Sejati. Jika aku ingin menyatukan Jalur Iblis tanpa hancur, fisiku harus ditempa ke tingkat yang jauh lebih ekstrem!"
Wiliam mengambil keputusan yang sangat gila dan menyiksa.
Ia secara sengaja mengarahkan lahar petir purba dari jalur Demigod-nya untuk menghancurkan dan meremukkan seluruh jaringan otot, serat saraf, dan susunan tulangnya sendiri! Ia menghancurkan fisiknya hingga ke level molekuler, lalu membiarkan energi kental Penjara Kehampaan merekonstruksi kembali jaringan tubuhnya dari awal dengan kerapatan sel yang ribuan kali lebih padat!
Tidak hanya tubuh Demigod-nya, Wiliam juga menerapkan metode penempaan ekstrem yang sama pada tubuh iblisnya! Ia membiarkan api pembusuk jiwa menggerogoti dan menempa ulang serat Hati Iblis di dalam dadanya.
CRACK! KRRRACK!
Rasa sakit yang ditimbulkannya tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Itu adalah sensasi seperti dikuliti hidup-hidup, ditusuk oleh jutaan jarum beracun, dan dibakar oleh api neraka secara bersamaan dalam setiap detik tanpa henti. Namun, Wiliam menggertakkan giginya rapat-rapat, menahan siksaan ribuan kali lipat itu tanpa mengeluarkan satu pun jeritan. Wajah tampannya yang pucat tetap mengeras dalam ketabahan absolut. Keinginan untuk melindungi Anya, kerinduan pada kenangan ibunya, dan tekad untuk berdiri di puncak benua menjadi jangkar jiwanya agar tidak hancur dalam kegilaan penempaan.
Seiring berjalannya waktu, darah keemasan dan darah merah kehitaman yang keluar dari pori-pori kulit Wiliam tidak lagi menetes ke tanah. Darah tersebut mulai membeku, mengental, dan membungkus seluruh tubuh duduk bersila Wiliam secara perlahan.
Bulan demi bulan berlalu... hingga akhirnya, sebuah Kepompong Darah (Blood Cocon) raksasa berwarna merah keemasan bertatahkan simbol-simbol runik purba terbentuk sempurna di tengah sel Penjara Kehampaan, menelan tubuh Wiliam secara mutlak di dalamnya.
Di dalam kepompong darah itu, detak jantung Wiliam berdenyut lambat namun sangat bertenaga—sebuah mahakarya kehidupan baru sedang ditempa dan disempurnakan.
Namun, Wiliam tidak sepenuhnya sendirian selama proses metamorfsisnya yang mengerikan.
Jauh di atas sel Penjara Kehampaan, sebuah riakan sihir transparansi terwujud secara berkala. Alistair, Penyihir Manusia Terkuat di dunia, secara rutin datang melayang di luar sel tanpa memicu peringatan penjaga istana. Dengan sepasang mata astrologinya yang sanggup menembus materi batu, Alistair memperhatikan perkembangan Wiliam dari hari ke hari, minggu ke minggu, hingga berbulan-bulan.
Alistair menyaksikan bagaimana pemuda itu secara sengaja menghancurkan dirinya sendiri dan membentuk Kepompong Darah. Rasa takjub dan ngeri berbaur di dalam dada sang penyihir tua.
Setiap kali ia selesai mengamati Wiliam, Alistair akan memproyeksikan cermin sihir jarak jauh menuju Menara Alam Semesta untuk membagikan temuannya kepada tiga pilar terkuat lainnya: Trigger, Solaria, dan Anastasia (Anya).
Di dalam ruang proyeksi Menara Alam Semesta, gambaran Kepompong Darah Wiliam berpendip di udara.
"Luar biasa..." gumam Trigger, Manusia Harimau Terkuat, menatap pendar simbol runik pada kepompong darah itu dengan mata melotot takjub. "Anak itu benar-benar gila! Dia menghancurkan susunan tulangnya sendiri secara berulang-ulang untuk memadatkan sel fisiknya! Ketahanan mental macam apa yang dimiliki oleh seorang pemuda seusianya?!"
Solaria, Sang Mother of Dragon, memandangi pendar merah keemasan pada kepompong dengan gairah pertempuran yang menyala di mata emasnya. "Suhu di dalam kepompong itu telah melampaui panas lahar gunung berapi. Dia tidak hanya menahan benturan dua kekuatan, dia sedang memaksa dua hukum alam yang bertolak belakang untuk tunduk di bawah kehendaknya. Jika dia berhasil keluar dari kepompong itu... struktur fisiknya akan setara dengan keturunan Naga Murni."
Anastasia berdiri paling dekat dengan proyeksi cermin sihir. Tangannya terulur halus, seolah ingin menyentuh permukaan kepompong darah tempat kekasihnya berada. Matanya dipenuhi oleh campuran rasa cemas yang mendalam, kerinduan yang membakar, dan rasa bangga yang tak terukur.
"Bagaimana dengan jiwanya, Alistair?" tanyai Anya dengan suara lembut namun tegas, menatap Alistair. "Apakah kehendak Kaisar Iblis menunjukkan tanda-tanda menguasai kesadarannya?"
Alistair mengelus janggut putih panjangnya, tersenyum hangat pada Anastasia. "Tidak, Nona Anastasia. Jiwa pemuda itu sangat kukuh. Kehendak iblis di dalam tubuhnya tidak mampu menyentuh inti kesadarannya sedikit pun. Sebaliknya... dia sedang menjinakkan kehendak iblis itu dan menjadikannya bahan bakar untuk membentuk Jalan Demigod Sejati."
Alistair berpaling menatap ketiga pilar lainnya dengan raut wajah serius. "Hampir satu tahun telah berlalu sejak dia mengurung diri di dalam kepompong itu. Waktu kelahirannya kembali sudah sangat dekat. Dan ketika kepompong itu pecah... dunia ini akan menyambut lahirnya sebuah Mahakarya Puncak yang belum pernah ada sebelumnya."
Anya memejamkan matanya rapat-rapat, mengumandangkan doa kehangatan di dalam jiwanya, menantikan detik-detik di mana sang Hantu Topeng—pahlawannya—akan kembali mengepakkan sayapnya membelah langit benua.