Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-bayang Rahasia

Keheningan yang dingin tertinggal di sudut meja kami setelah Joan melangkah pergi menuju bangkunya di barisan depan. Kata-kata cowok itu serasa menancapkan duri halus di dalam dadaku. Aku bergeming, menatap kosong ke arah punggung Joan dengan seribu pertanyaan yang mendadak berkecamuk di dalam kepala.

Kania memajukan posisinya, menghela napas panjang seraya menyandarkan kedua tangannya di atas meja. Wajah cantiknya memancarkan raut prihatin yang teramat tulus saat menatapku.

"Tuh kan, Ser..." panggil Kania pelan dengan nada suara khasnya yang lembut. "Sebenarnya Nia kan sebelumnya juga pernah bilang sama kamu... Mas Iyan itu memang ceweknya banyak. Dari dulu ceweknya ada di mana-mana. Makanya Nia itu sebenarnya salut banget sama Kak Sabrina. Kok bisa ya Kak Sabrina sesabar itu ngadepin Mas Iyan bertahun-tahun."

Dea yang duduk di sebelah Celine ikut menyilangkan tangan di dada, memutar kedua matanya dengan hembusan napas gusar. "Emang cowok cakep tuh biasanya enggak tahu diri."

"Tapi ya..." potong Celine seraya menepuk pelan bahu Dea dan menatapku lekat-lekat. "Lagian yang penting kan Sera enggak pacaran sama Adrian. Kenapa harus dipikirin banget sih omongan Joan tadi? "

Ucapan Celine yang berusaha menenangkanku justru menghantam sudut terdalam dadaku. Mereka semua, termasuk Kania, tidak ada yang tahu bahwa baru kemarin sore di kafe milik Bram, aku resmi menerima ajakan Adrian untuk menjadi kekasihnya. Di mata mereka, aku hanyalah teman biasa yang sedang dekat oleh  Adrian. Lidahku terasa kaku, tak sanggup mengutarakan kenyataan bahwa status kami sudah berubah, yang membuat peringatan Joan terasa sepuluh kali lipat lebih menyakitkan.

Teng... Teng... Teng...

Bel tanda masuk pelajaran memutus keriuhan di dalam kelas. Bu Maya, guru Bahasa Inggris kami melangkah masuk ke dalam ruangan seraya membawa tumpukan buku paket.

"Yuk, balik ke bangku masing-masing," bisik Celine merapikan alat tulisnya.

Kami bertiga mengangguk. Kania memberikan usapan lembut di lenganku sebelum ia berbalik menuju bangkunya. Aku menarik napas panjang, mencoba memfokuskan pikiranku pada papan tulis di depan, meski di sepanjang pelajaran, penjelasan Bu Maya tentang passive voice hanya terdengar bagai dengung halus yang lewat begitu saja di telingaku.

Jam pelajaran sekolah akhirnya usai saat bel pulang berbunyi panjang. Aku merapikan tas sekolahku seraya melangkah keluar dari ruang kelas berdampingan dengan Celine. Langkah kaki kami menyusuri koridor sekolah yang mulai dipadati oleh siswa-siswi yang berhamburan keluar.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari belakang. Kania menyusul kami dengan napas sedikit tersengal pelan.

"Sera! Celine! Tungguin Nia!" panggil Kania seraya merangkul lengan kiri Sera.

Aku menoleh menatap sahabatku itu, memaksakan sebuah senyum tipis untuk menyembunyikan rasa ganjil di dada. Sebuah pertanyaan yang sejak tadi menggantung di tenggorokanku akhirnya kuberanikan untuk diucapkan.

"Nia..." panggilku pelan. "Hari ini kamu dijemput Mas Adrian?"

Kania menggelengkan kepalanya seraya menyunggingkan senyum tipis. "Enggak, Ser. Nia dijemput Ayah hari ini. Soalnya tadi pas sarapan Mas Iyan bilang nanti siang dia ada acara."

"Acara?" alisku bertaut pelan. "Acara apa, Nia?"

Kania mengibaskan tangannya polos. "Enggak tahu juga deh. Mas Iyan enggak cerita detail, cuma bilang ada urusan penting gitu."

Jawaban polos Kania seketika membuat kepalaku dipenuhi oleh rentetan pertanyaan yang kian pekat. Acara apa? Sama siapa?

Perasaan asing mendadak menyusup ke dalam relung hatiku. Ternyata, kurun waktu hampir satu tahun dekat dengannya sama sekali belum cukup untuk benar-benar mengenal sosok Adrian. Pria itu selalu memiliki celah ruang pribadi yang tak tersentuh olehku. Aku menyadari bahwa masih teramat banyak hal tentang dirinya yang belum kuketahui, tentang dunianya, teman-temannya, dan rahasia apa yang ia sembunyikan di balik senyum hangatnya.

Dan benar saja, begitu kami tiba di dekat gerbang utama sekolah, sebuah motor besar klasik berwarna hitam tampak terparkir di bawah naungan pohon rindang. Ayah Kania berdiri di samping motor tersebut.

"Tuh kan, Ayah udah jemput," ucap Kania ceria. "Nia duluan ya, Sera, Celine! Hati-hati di jalan!"

"Iya, Nia. Hati-hati juga ya," sahutku dan Celine serempak.

Kami bertiga pun berpisah di depan gerbang. Aku dan Celine melangkah menyusuri trotoar menuju tempat penitipan motor di samping sekolah. Setelah saling melambaikan tangan di depan tempat parkir, Celine memajukan sepeda motornya lebih dulu membelah jalanan.

Aku menaiki Scoopy merahku, mengenakan helm, lalu menyalakan mesin. Kupacu kendaraanku menyusuri jalanan kota yang disiram teriknya matahari siang. Pikiranku masih melayang membayangkan kata-kata Joan, tatapan hangat Adrian kemarin sore, hingga ucapan Kania tentang "Acara" yang dijalani pria itu siang ini.

Begitu tiba di rumah, suasana teras terasa begitu lengang. Aku memarkirkan motor di garasi lalu melangkah memasuki pintu depan yang tak terkunci.

"Assalamu’alaikum," sapaku pelan.

"Wa’alaikumsalam. Eh, Sera sudah pulang," sahut suara Ayah dari arah ruang tamu.

Ayah tampak sedang duduk santai di sofa seraya menonton acara televisi. Aku menghampiri Ayah, mencium punggung tangannya dengan penuh hormat. Mataku sempat melirik ke arah dapur yang sepi.

"Ibu mana, Yah?" tanyaku.

"Ibu sudah berangkat ke toko tadi pagi, Nak, tak lama setelah kamu berangkat sekolah," jelas Ayah lembut. "Tapi Ibu sempat masak makanan buat makan siang kamu kok. Ada ayam goreng sama sayur bening di meja makan. Kamu makan ya, Ayah ambilin?"

Aku mengoles senyum tipis, menggeleng pelan.

"Enggak usah, Yah. Nanti aja Sera makan. Sera mau ke kamar dulu sebentar ya, mau ganti baju," pamitku pelan.

"Ya sudah, jangan lupa istirahat ya, Nak," tutur Ayah penuh kasih.

Aku melangkah menuju kamar tidurku, menutup pintu rapat-rapat, lalu merebahkan tubuhku yang terasa teramat lelah di atas kasur empuk. Kupeluk bantal gulingku erat-erat. Dengan jemari yang sedikit gemetar, aku meraih ponsel yang tergeletak di dalam tas sekolah.

Kusapu layar ponsel itu dengan harapan menemukan barisan kata darinya. Namun, layar itu tampak bersih tanpa ada satu pun notifikasi masuk dari Adrian sejak pagi tadi.

Aku memandangi nama kontaknya di layar dengan dada yang berdenyut pelan. Sebuah gumaman lirih meluncur dari bibirku. "Biasanya kalau dia begini... Mas Adrian memang lagi ada kesibukan. Tapi kesibukan apa...?"

Dengan helaan napas berat, kutaruh kembali ponsel itu di atas kasur. Aku bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju kaar mandi untuk cuci muka kemudian berganti pakaian.

Aku keluar dari kamar, melangkah menuju dapur, dan meraih sebuah piring keramik. Kuambil secentong nasi hangat, sepotong ayam goreng, serta sedikit kuah sayur bening buatan Ibu.

Aku membawa piring itu menuju ruang tamu untuk menghampiri Ayah yang sedang menyaksikan tayangan berita di televisi. Aku mendudukkan diri di sofa samping Ayah.

"Nonton apa, Yah?" tanyaku memulai perbincangan, mencoba menetralkan suasana hatiku sendiri.

Ayah menoleh seraya tersenyum renyah. "Ini loh, nonton berita seputar perkembangan proyek infrastruktur di Jawa Barat. Menarik sekali."

Aku manggut-manggut paham, lalu mulai menyuap makananku perlahan. Kami pun bercengkrama layaknya seorang ayah dan anak gadisnya. Aku mengimbangi percakapan

Ayah, mendengarkan pandangan-pandangannya tentang dunia teknik dan pembangunan, sesekali menyelipkan pertanyaan ringan yang disambut Ayah dengan penjelasan yang begitu hangat dan penuh antusias. Momen sederhana bersama Ayah siang itu berhasil memberi sedikit penghiburan di tengah pekatnya keraguan yang mengurungku.

Setelah suapan terakhir tuntas, aku membawa piring kotor ke dapur. Aku kembali ke ruang tamu sebentar untuk berpamitan pada Ayah.

"Ayah... Sera pamit mau tidur siang dulu ya di kamar," ucapku pelan.

Ayah mendongak dari televisinya seraya tersenyum hangat. "Iya, Nak."

Aku kembali melangkah memasuki kamar tidurku yang sejuk. Sebelum melangkah menuju kasur, kusepatkan diri meraih ponsel di atas meja belajar sekali lagi. Kumasukkan kata sandi dan membukanya dengan binar harapan yang tersisa.

Nihil. Tetap tidak ada notifikasi, pesan singkat, atau panggilan tak terjawab dari Adrian.

Aku menghela napas panjang, mematikan layar ponsel itu lalu meletakkannya kembali di nakas. Kurebahkan tubuhku di atas kasur empuk, merapatkan selimut tipis hingga menutupi dada.

Tangan kiriku terangkat pelan di udara. Mataku tertuju lurus pada gelang tali hitam berinisial SL yang terlingkar manis di pergelangan tanganku. Aku memandangi gelang pemberian Adrian itu dengan perasaan yang teramat campur aduk. Kata-kata Joan pagi tadi kembali bergema di telingaku, beradu dengan ucapan manis Adrian kemarin sore yang memintaku menjadi kekasihnya.

"Aku merasa bahwa kamu penuh rahasia, Mas..." bisikku lirih pada hampa udara kamar, mengelus pelat perak gelang itu dengan ibu jariku.

Rasa lelah fisik akhirnya merayap naik membalut seluruh tubuhku. Sebuah uapan halus lolos dari bibirku. Perlahan, kedua kelopak mataku terasa teramat berat hingga akhirnya tertutup rapat, membawaku terlelap tenggelam dalam tidur siang yang sunyi.

1
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!