Indonesia
NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Pedang

Reinkarnasi Dewa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Pengungkapan di Bawah Bukit

"Menyeleksi," Lin Mu mengulang kata itu dengan nada dingin, matanya menyala menahan amarah yang jarang ia perlihatkan sejak kebangkitannya. "Kata yang menyenangkan untuk sesuatu yang jelas-jelas adalah perbudakan dan penyiksaan."

Sosok bertopeng itu mengangkat bahu santai, tak menunjukkan penyesalan sedikit pun. "Semantik tidak pernah menjadi urusanku. Aku hanya menjalankan tugas—mengumpulkan bakat-bakat terbaik untuk dilatih ulang sesuai kebutuhan Tuan Bayangan. Sebagian akan menjadi alat yang berguna. Sebagian lain... yah, tidak semua orang cukup kuat untuk bertahan dalam proses seleksi lanjutan."

Kata-kata itu membuat gadis yang masih terborgol di belakang Lin Mu terisak ketakutan, sementara dua rekannya yang lain hanya bisa menatap dengan mata kosong, jelas sudah kehilangan harapan sejak lama sebelum malam ini.

"Kau tidak akan membawa mereka ke mana pun malam ini," Lin Mu berkata, melangkah maju, tubuhnya perlahan bersiap mengalirkan qi ke seluruh meridiannya.

"Berani sekali kau berasumsi begitu," sosok bertopeng itu tertawa pendek, mengeluarkan sepasang rantai logam tipis dari balik jubahnya, ujungnya berkilau tajam seperti mata pisau kecil. "Aku memang bukan Mo Yin, tapi jangan meremehkan siapa pun yang dipercaya menjaga fasilitas seleksi seperti ini."

Ia menyerang tanpa aba-aba lebih lanjut, rantai logamnya melesat dengan kecepatan mengejutkan, melilit ke arah pergelangan tangan Lin Mu dalam upaya melumpuhkan sebelum pertarungan sungguhan dimulai.

Lin Mu menghindar dengan memutar tubuhnya, menebas rantai itu dengan pecahan Penakluk Fajar, memutuskan salah satu matanya namun tidak seluruh rangkaiannya. Sosok bertopeng itu menarik kembali rantainya dengan gerakan cepat, mencoba serangan kedua dari sudut berbeda.

Pertarungan berlangsung ketat di ruang gua yang sempit, jauh berbeda dari arena terbuka yang biasa Lin Mu gunakan. Setiap gerakan harus dihitung dengan cermat agar tak sampai membahayakan ketiga tawanan yang masih terkurung di sudut ruangan.

Pada pertukaran ketujuh, Lin Mu akhirnya menemukan celah yang ia butuhkan—rantai lawan yang meleset sedikit terlalu jauh ke kanan, memberinya ruang untuk melangkah masuk dan menyodok titik vital di pergelangan tangan yang menggenggam rantai itu, teknik akupuntur yang sama seperti yang pernah ia gunakan pada Zhao Feng dan Mo Yin sebelumnya.

Sosok bertopeng itu menjerit tertahan, rantainya jatuh berdenting ke tanah gua, lengannya mendadak lemas tak bertenaga.

"Kau—" ia mundur beberapa langkah, suaranya kini kehilangan nada santai sebelumnya.

"Sekarang," Lin Mu berkata dingin, "kau akan menjawab pertanyaanku, atau aku akan memastikan lenganmu yang satu itu juga tidak berfungsi lagi untuk waktu yang sangat lama."

Namun sosok bertopeng itu, alih-alih menjawab, justru menggigit sesuatu yang tersembunyi di balik topengnya—sebuah kapsul kecil yang segera meletus menjadi asap tebal berwarna keunguan, memenuhi seluruh ruangan gua dalam sekejap.

Lin Mu segera menutup pernapasannya, mengalirkan qi pelindung ke seluruh permukaan kulitnya, namun ketika asap itu akhirnya menghilang beberapa detik kemudian, sosok bertopeng itu sudah lenyap tanpa jejak, meninggalkan rantai logamnya yang patah tergeletak di tanah.

Lin Mu mengumpat pelan, kesal karena kehilangan kesempatan mendapatkan informasi lebih lanjut, namun segera memfokuskan perhatiannya pada tugas yang lebih mendesak—membebaskan ketiga tawanan yang masih terikat di sudut gua.

Ia memeriksa borgol penekan qi mereka dengan seksama, menemukan mekanisme kuncinya cukup mirip dengan desain kuno yang pernah ia pelajari berabad-abad lalu. Dengan menyalurkan qi secara presisi ke titik-titik tertentu pada borgol itu, satu per satu terlepas dari pergelangan tangan ketiga tawanan itu.

"Terima kasih," gadis yang pertama kali memohon pertolongan itu berbisik lemah, air mata mengalir di wajahnya yang pucat. "Kami pikir tidak akan ada yang menemukan kami di sini."

"Kalian aman sekarang," Lin Mu berkata lembut, membantu mereka berdiri satu per satu. "Aku akan membawa kalian kembali ke area acara. Sekte kalian pasti sudah mencari kalian."

Malam itu, Lin Mu membawa ketiga korban penculikan itu langsung ke tenda darurat yang didirikan panitia netral, memicu kehebohan besar begitu identitas mereka terungkap—ketiganya berasal dari sekte-sekte kecil yang tidak berpartisipasi dalam Pertemuan Tiga Sekte tahun ini, namun sengaja diculik dari wilayah sekitar beberapa hari sebelum acara dimulai, jelas sebagai bagian dari operasi yang lebih besar dan terencana.

Kabar itu memaksa diadakannya pertemuan darurat tengah malam antara para tetua senior dari ketiga sekte besar, panitia penyelenggara, dan beberapa perwakilan Aliansi Kota yang hadir. Lin Mu diminta memberikan kesaksian langsung tentang apa yang ia temukan dan lihat di dalam gua tersembunyi itu.

"Aula Bayangan beroperasi tepat di bawah hidung kita," seorang tetua senior dari Sekte Puncak Kilat berkata dengan wajah geram, setelah mendengar seluruh laporan Lin Mu. "Ini bukan sekadar pelanggaran biasa—ini penghinaan langsung terhadap keamanan acara sebesar ini."

"Kita harus meningkatkan pengamanan segera," tetua lain dari Sekte Lembah Naga menambahkan. "Dan menyelidiki lebih jauh, apakah masih ada tawanan lain yang belum ditemukan di sekitar wilayah acara."

Xuan Bo, yang duduk di samping Lin Mu selama pertemuan itu, menepuk pundaknya sekali dengan bangga yang tak disembunyikan. "Keputusanmu untuk menyelidiki sendiri malam ini mungkin baru saja menyelamatkan lebih banyak nyawa dari yang kita sadari, Lin Mu."

Namun di balik rasa syukur karena berhasil menyelamatkan tiga nyawa malam itu, pikiran Lin Mu tetap dipenuhi kegelisahan yang lebih dalam. Sosok bertopeng yang berhasil melarikan diri itu pasti akan melaporkan kegagalannya pada Tuan Bayangan—dan jika benar organisasi itu benar-benar beroperasi seluas ini, seberapa banyak lagi operasi serupa yang masih berjalan tanpa terdeteksi di seluruh wilayah?

Tujuh Bayangan, pikirnya, mengingat kembali istilah yang pernah ia dengar dari Jiang Ling di sepanjang perjalanan mereka dulu.

1
Ilham Yono
mulai ada titik terang
semngat thor/Determined/
Ilham Yono
hem ...cukup menegangkan/Determined/
Ilham Yono
👍👍👍👍👍 good
Ilham Yono
langkah cerdik🤯
Ilham Yono
alur cerita bagus ..laut cerita yang runtut, tidaknyerlalu cepat dan tidak lambat juga..nice story
Ilham Yono
nice ude, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Aisyah Suyuti
seru
Ilham Yono
di tunggu Thor lanjutannya
Ilham Yono
ada ancaman tersembunyi
Ilham Yono
fightings
Ilham Yono
good battle
Ilham Yono
finely
Ilham Yono
musuh yang bergerak dibalik bayangan/Grimace//Joyful/
Ilham Yono
hem...aula bayangan... Shadow recruit
Ilham Yono
aula bayangan muncull assassin's mo yin
Ilham Yono
feeling good
Ilham Yono
bahaya mengintai
Ilham Yono
good feeling
Ilham Yono
hem/Facepalm//Determined/
Ilham Yono
hem.....musuh bergerak dalam bayangn/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!