Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Leonardo masuk ke kamar mandi dengan langkah kaku, buku-buku jarinya memutih karena terlalu keras mengepalkan tangan. Udara di dalam masih hangat, sarat aroma kulit dan hasrat. Tapi di dadanya tak ada ketenangan, hanya tekanan tajam yang mencekiknya, seakan sebuah tangan tak kasatmata meremas paru-parunya.
Ia bernapas dengan susah payah, seakan menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata: sebuah luka lama, rasa bersalah yang mengeras jadi bisul.
Zaira tak berkata apa pun. Ia memperhatikan lelaki itu dari ranjang, matanya hanya diterangi cahaya samar yang menyusup dari jendela.
Ia ingin mendekat, memeluknya, mengatakan bahwa itu tak jadi soal. Tapi sesuatu pada punggungnya yang kaku, pada cara ia menunduk, berteriak bahwa ini bukan saatnya. Bahwa jika ia menyentuhnya, lelaki itu akan hancur.
Perlahan, ia merebahkan diri kembali di antara seprai, memeluk dirinya sendiri seakan ingin menahan gejolaknya. Kehangatan yang tadi memenuhi ranjang kini seolah pergi bersama lelaki itu, meninggalkan lubang dingin di tempat tubuhnya biasa berbaring. Keheningan menjadi pekat, nyaris padat. Hanya suara samar air yang mulai mengucur dari pancuran.
Zaira terus menatap pintu kamar mandi, bibirnya terkatup separuh, seakan menanti penjelasan yang tak akan datang. Kelopak matanya mulai terpejam, kalah oleh lelah dan kebingungan. Ia tertidur dalam penantian itu, dengan hati yang goyah.
Di dalam kamar mandi, air menghantam punggung Leonardo dengan kekuatan brutal, seakan pancuran itu ingin mengelupas kulitnya. Uap naik berpilin, mengabutkan cermin, dinding, juga pikirannya.
Ia menyandarkan kepalan tangan pada ubin yang dingin, kening tertunduk, bahu bergetar. Tiap tetes yang menyusuri kulitnya membawa serpihan masa lalu. Ia tak mengundangnya, tapi bayangan itu tetap kembali. Tanpa ampun.
Sepuluh tahun lalu.
Raungan mesin. Decit rem. Sebuah jeritan yang tercekik. Dentam logam saat benturan. Kaca-kaca meledak. Rasa darah di mulut. Dunia berputar dalam gerak lambat.
Lalu, keheningan.
"Leonardo... selamatkan dia..."
Suara Amalia yang bergetar masih menghantuinya. Istrinya. Seluruh hidupnya. Ia melihatnya terperangkap di antara besi-besi, matanya membelalak, putus asa, memburu mata Leonardo.
Dan Mateo...
Tubuh mungil anaknya yang lemas dalam pelukannya. Tak bergerak. Tanpa tangis. Tanpa napas.
"Tidak, tidak, tidak! Anakku, ya Tuhan!" Jeritan itu masih menggetarkan dadanya bagai gelombang tumpul yang tak kunjung padam.
Leonardo jatuh berlutut di bawah guyuran air. Lantai yang membeku membentur kulitnya bagai hukuman. Ia memeluk dirinya sendiri, gigi menggeretak, mulut menganga dalam raut nyeri yang bisu.
Rumah sakit. Lampu-lampu putih. Kedinginan dalam tatapan orang-orang asing. Dan sebuah vonis:
"Maaf, Tuan Santos. Kami tak berhasil menyelamatkan mereka."
Ia memakamkan keduanya di hari yang sama. Amalia dalam peti sederhana, penuh bunga bakung putih. Mateo dalam peti yang lebih kecil lagi, putih juga, seakan kesucian bisa dikurung dalam kayu.
Sejak saat itu, dunia kehilangan warnanya. Ia berubah menjadi bayangan. Ia bersumpah takkan pernah lagi mencintai sedalam itu. Takkan pernah lagi mengambil risiko. Takkan pernah lagi punya anak.
Sebuah janji temu. Sebuah klinik. Sebuah vasektomi. Dingin. Tanpa emosi. Bagai amputasi yang tak kasatmata.
"Kalau aku tak punya anak... tak ada yang bisa hilang," ia mengulanginya seribu kali. Bagai mantra.
Tapi Zaira datang ke dalam hidupnya tanpa meminta izin. Tawanya mengaduk jiwanya. Kehadirannya bagai embusan hangat di rumah yang telah ditinggalkan. Ia bukan Amalia, ia tak datang untuk menggantikan. Ia datang untuk menyembuhkan.
Dan itu justru lebih menyakitinya.
Karena kini, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia menginginkan sesuatu. Dan ia tak bisa menawarkan apa pun.
Air berhenti.
Ia bangkit dengan gerakan lambat. Ia mengeringkan tubuh tanpa memandang cermin, bagai robot. Cermin yang berkabut memantulkan siluet yang buram, seperti pantulan batinnya. Ketika ia menyekanya dengan telapak tangan, wajahnya muncul, kuyu, dengan mata cekung dan raut yang bergoyang antara ketakutan dan kepasrahan.
Ia berpakaian dalam diam: kemeja putih, setelan gelap, dasi terikat rapi. Ia menyisir rambut dengan jemari. Ia keluar dari kamar mandi tanpa bersuara.
Zaira tidur dengan satu tangan di bawah pipi. Napasnya lembut, kulitnya berkilau samar di bawah cahaya bulan.
Leonardo mendekat. Ia berdiri di sana, terpaku. Bibirnya bergetar, seakan sepatah kata lolos dari jiwanya.
Ia ingin membelainya. Membangunkannya. Mengatakan yang sebenarnya. Tapi gumpalan di tenggorokannya tak mengizinkan.
"Cantik..." gumamnya nyaris tanpa suara.
Lalu ia pergi.
Pintu apartemen tertutup dengan klik pelan.
Rumah besar itu tenggelam dalam kesunyian bagai kuburan. Udara berbau perabot tua dan keterlantaran. Lampu-lampu taman hanya menyinari samar jalan setapak, melemparkan bayangan panjang bagai hantu.
Leonardo melangkahi ambang pintu dengan langkah berat. Derit pintu bergema seperti gaung di dalam dirinya.
Potret itu masih di sana. Amalia dan Mateo. Bahagia. Abadi. Berselimut debu.
Ia menaiki tangga sambil menyentuh pegangan dengan ujung jari, seakan perlu menambatkan diri pada sesuatu yang nyata.
Di kamar utama, semuanya tetap seperti saat ia tinggalkan. Gaun biru tergantung di balik pintu. Ranjang bayi putih di sudut ruangan. Boneka kelinci milik Mateo.
Leonardo mengambilnya dengan tangan yang bergetar.
Ia duduk di ranjang dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya mengalir tanpa peringatan, hangat, purba.
"Amalia... Mateo..." bisiknya dengan suara patah. "Aku sudah berusaha. Berusaha untuk tak pernah jatuh cinta lagi. Tapi ia datang... walau ia layak mendapat lebih dari ini."
Ia merebahkan diri perlahan. Kasur berderit di bawah beratnya. Ia memejamkan mata.
Tawa anaknya masih bergema di lorong-lorong ingatannya. Suara lembut Amalia, menyenandungkan sebuah nina bobo. Janji sebuah keluarga yang hancur dalam sekejap.
Dan di pusat segalanya, bayangan Zaira. Cahayanya.
Untuk pertama kalinya, ia tak menangisi masa lalu. Ia menangisi masa kini. Menangisi apa yang tak bisa ia berikan. Menangisi apa yang hampir hilang darinya tanpa gadis itu sedikit pun menyadarinya.
Karena mencintai, kadang, juga berarti merelakan.
Tapi siapkah ia merelakan gadis itu saat sesuatu baru saja bermula?
Atau justru itu keegoisan yang sempurna?