Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asing
Pagi perlahan datang membawa cahaya hangat yang menyelinap masuk melalui tirai putih besar.
Di atas kasur super empuk seukuran kapal pesiar, seseorang menggeliat malas dalam tidurnya. Piyama merah muda bermotif stroberi yang ia kenakan tampak kusut akibat posisi tidur yang sudah tidak manusiawi lagi.
"Ugh..." Evelyn menguap lebar sambil memeluk guling. Beberapa detik pertama, otaknya masih loading.
Lalu-
matanya terbuka sempurna. "...MAMPUS TELAT NGANTOR -!!"
Refleks seperti budak korporat sejati, Evelyn langsung bangkit dan berlari setengah sadar dengan rambut acak-acakan. Namun-
BRAKKK!!
"AAAAK-!"
Ia menabrak jam dinding besar hingga benda itu hampir roboh. Evelyn terduduk sambil memegangi jidatnya yang langsung benjol.
"Aduh sakit..." Gadis itu mendelik kesal ke arah jam.
"Perasaan gue belum ganti tata letak kamar deh..." ucapnya masih mengelus jidatnya.
Hening.
Keningnya perlahan mengernyit. "...eh."
Tatapannya mulai menyapu sekitar. Langit-langit tinggi. Lampu kristal. Dinding berwarna putih elegan. Lemari kayu besar, dan karpet lembut yang mungkin lebih mahal dari gajinya sebulan.
Evelyn membeku. "...lah?" Ia berdiri perlahan sambil melihat sekitar lebih teliti. "Ini bukan kamar gue ih." Seketika rasa kantuknya hilang total.
"Bentar bentar bentar-" Ia berjalan mondar-mandir kecil dengan panik.
"Lah.. Ini kamar siapa?!"
Kepalanya langsung memunculkan satu nama.
"Raya?"
Namun beberapa detik kemudian ia menggeleng cepat. "Enggak mungkin."
Kamar Raya dipenuhi koleksi robot Godzilla, poster anime absurd, dan kardus mie instan bekas yang entah kenapa dijadikan dekorasi.
Sedangkan kamar ini... lebih mirip kamar anak konglomerat yang tiap bangun tidur langsung diwarisin saham perusahaan.
Evelyn menelan ludah.
Perlahan ia melangkah menuju cermin besar di sudut ruangan. Dan tepat saat melihat pantulannya-
hening.
"...hah?" Seorang gadis asing menatap balik ke arahnya.
Cantik. Terlalu cantik.
Rambut panjang hitam bergelombang. Kulit putih bersih. Wajah lembut elegan seperti pemeran utama drama mahal. Evelyn membeku selama tiga detik.
Lalu-
"WHAT THE PAK?! ITU SIAPA WOI?!" Ia mundur panik sampai hampir tersandung karpet. Tangannya langsung memegang wajah sendiri.
"INI HIDUNG SIAPA?!"
"ΚΕΝΑΡΑ BULU MATANYA LENTIK BANGET?!"
"YA TUHAN GUE OPERASI PAS MABOK APA GIMANA?!"
Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Bangun Evelyn... hidup lo emang susah tapi nggak sampe ganti muka juga..."
Namun rasa sakit di pipinya terlalu nyata.
Setengah jam kemudian...
Evelyn terduduk lemas di lantai sambil memeluk lutut.
Tatapannya kosong. Jiwanya seperti baru saja keluar sebentar lalu males balik. Dan di saat itulah-
"Ah...!" Kepalanya tiba-tiba nyut-nyutan.
Potongan ingatan asing
mulai memenuhi otaknya.
Nama. Wajah. Keluarga.
Tempat. Universitas. Dan
semuanya terasa... tidak asing.
Evelyn perlahan mengangkat kepala.
"Target of the Hidden
Butcher..." Katanya pelan, Novel thriller psikologis viral yang ia baca beberapa malam lalu sebelum tidur.
Novel yang isinya: pembunuhan sadis, psikopat
gila, perdagangan organ, dan cowok tampan bermasalah mental yang bikin kolom komentar pembaca penuh terapi massal.
Altair varellion
Mahasiswa jenius yang katanya tampan, tenang. Tapi di balik itu semua dia adalah... pembunuh berantai paling mengerikan di novel itu.
Evelyn langsung menunjuk
dirinya sendiri dengan gemetar. "Jangan bilang..." Matanya membelalak horror.
"GUE MASUK KE NOVEL PSIKOPAT ITU?!" Ia langsung berdiri lalu mengacak rambut frustasi. "Tunggu! Gue jadi siapa dulu?!" Tapi sepertinya dia bukan Tokoh utama perempuan deh..
Sedangkan nama tubuh yang kini ia tempati adalah-Evelyn Adreena Danesha. Putri keluarga Danesha. Usia 17 tahun. Calon mahasiswi baru di Aetherion International University dua minggu lagi.
Evelyn langsung membeku. "...kok mirip nama gue sih." Ia menatap langit-langit dengan tatapan kosong. "Ya Tuhan... transmigrasi aja sistemnya copy paste."
Namun beberapa detik kemudian wajahnya perlahan pucat. "... bentar... Danesha."
Nama itu... seperti pernah ia baca. Dan perasaannya mulai tidak enak. Sangat tidak enak. Evelyn memegangi kepalanya frustasi.
"Aduh... lanjutannya apa sih?!" Ia mencoba mengingat keras-keras. "Keluarga Danesha itu... ngapain ya?"
Hening.
Lalu perlahan matanya melebar. "...jangan-jangan..."
Deg.
"KELUARGA YANG IKUT DIBANTAI ITU BUKAN SIH?!"
teriaknya tiba-tiba.
BRUK
Tubuhnya langsung ambruk ke atas kasur. Kasur empuk itu memantul pelan, sementara Evelyn hanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar dengan ekspresi orang yang baru sadar hidupnya tamat.
"Ya Tuhan..." Kedua tangannya menutupi wajah.
"Andai semalam gue nggak mabuk..."
"...mungkin hidup gue nggak bakal se-nggak masuk akal ini." Ia menggeliat frustasi sambil menendang selimut tanpa arah. Baru kemarin malam ia nangis di depan klub karena kucingnya hilang.
Sekarang?
Sekarang ia malah bangun di dunia novel thriller psikologis yang isinya orang-orang sakit jiwa. "Ini escalation hidup kenapa lompatnya jauh banget sih ah..."
Evelyn memeluk bantal erat seperti itu satu-satunya dukungan emosional yang tersisa. Kepalanya mulai terasa berat lagi.
Namun kali ini bukan karena alkohol. Melainkan kenyataan kalau dirinya mungkin sedang berada di dunia yang dipenuhi pembunuhan berantai.
Dan lebih sialnya lagi... ia tahu persis siapa pembunuhnya.
Altair Varellion.
Nama itu saja sudah cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Karena yang paling mengerikan dari Altair bukan cara dia membunuh. Melainkan bagaimana dia terlihat begitu normal. Di novel, lelaki itu digambarkan seperti mahasiswa sempurna.
Pintar.
Tenang.
Berwajah tampan.
Punya sopan santun.
Disukai dosen.
Disukai mahasiswa.
Disukai masyarakat.
Bahkan beberapa pembaca sempat lupa kalau dia sebenarnya psikopat. Sampai author tiba-tiba menulis adegan dia memotong tubuh korban dengan santai sambil mendengarkan musik klasik.
"Stress..."
Evelyn langsung menutup wajahnya lagi pakai bantal. "Kenapa gue baca novel
beginian sih..."
Ia mulai kangen Raya.
Kangen omelan galaknya.
Kangen ditarik rambut. Kangen dihina. Kangen dilempar bantal.
Apa pun itu.
Karena dibanding diburu pembunuh berantai, dijambak Raya terasa jauh lebih aman dan penuh kasih sayang.
"Ray..."
Suaranya melemah. "Gue pengen pulang..." Namun kamar itu tetap sunyi. Tidak ada suara Raya. Tidak ada suara kota. Tidak ada bunyi notifikasi HP. Yang ada hanya suara detak jam dan hawa asing yang membuat dadanya semakin sesak.
Evelyn perlahan membalik tubuhnya menghadap jendela besar. Cahaya pagi masuk dengan indah. Ironis sekali.
Dunia ini terlihat damai... padahal di baliknya ada seorang psikopat yang bisa membantai satu keluarga tanpa berkedip.
"Oke... tenang dulu."
Ia menarik napas dalam-dalam sambil duduk bersila di atas kasur.
"Cari solusi." Otaknya mulai bekerja keras memikirkan kemungkinan.
"Lapor polisi?" Beberapa detik kemudian wajahnya langsung datar.
"...nggak guna." Polisi di novel itu benar-benar tidak berguna. Mereka selalu selangkah terlambat. Selalu kehilangan bukti. Selalu gagal menemukan pelaku. Altair terlalu pintar. Dia tidak pernah meninggalkan jejak. Tidak pernah panik.
Bahkan di salah satu chapter, ada adegan di mana dia duduk santai minum kopi bersama detektif yang sedang membahas kasus pembunuhan terbaru.
Padahal... pelaku pembunuhannya ya dia sendiri.
Evelyn langsung memegangi kepalanya. "Authornya stres apa gimana sih..."
"Si psikopat di kasih buff kebal hukum segala..." Ia kembali rebahan dengan frustasi.
"Oke... kalau polisi nggak bisa..." Tatapannya kosong ke langit-langit. "...apa gue harus ngikut alur cerita transmigrasi biasanya?"
Mendekati pemeran utama laki-laki.
Bikin dia jatuh cinta.
Lalu hidup bahagia.
Hening.
Sangat hening.
Lalu Evelyn perlahan duduk tegak. "OGAH WOI.” Ia menunjuk dirinya sendiri dramatis.
"Cewek yang dia suka aja dibunbun!"
"DIBUNBUN!"
"PAKAI SADIS PULA!"
Evelyn mulai mondar-mandir di atas kasur sambil memegangi rambutnya sendiri. "Di novel tuh si cewek udah nurut, cantik, lembut, bahkan cinta mati sama dia!"
"TERUS APA HASILNYA?!"
"M*ti!"
"Dibunuh karena ketahuan ngobrol sama cowok lain doang!" Ia berhenti mendadak.
Napasnya mulai memburu.
"Apalagi gue?"
"GUE?"
"Mulut gue aja udah cukup bikin psikopat naik darah!" Evelyn langsung menunjuk dirinya sendiri lagi dengan ekspresi putus asa. "Tokoh seupil kayak Evelyn Adreena ini mah paling cuma numpang mati buat nambah trauma pembaca!"
Kalimat itu membuat ruangan mendadak terasa dingin. Dan perlahan... wajah Evelyn mulai pucat.
"...eh."
Ia membeku. Pikiran mengerikan tiba-tiba muncul di kepalanya. "Jangan-jangan...”
Matanya melebar perlahan.
Ingatan samar tentang sebuah chapter berdarah mulai muncul sedikit demi sedikit. Sebuah keluarga kaya. Kasus pembantaian. Seorang gadis muda. Dan mayat yang ditemukan... Evelyn langsung berdiri panik.
"WAIT WAIT WAIT—"
Tangannya gemetar. "Gue tuh karakter yang mati di awal buat nunjukkin si Altair sekejam apa?!"
Hening.
Sunyi.
Lalu-
"ANJIR GUE NPC TUMBAL DONG?!" Evelyn makin frustasi mengusap wajahnya kasar.
curang tauuu😒😒