Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Permintaan Gu Ran melayang di udara pelataran, menyusup ke telinga ratusan murid dalam yang masih menahan napas.
Keheningan di sekeliling tiang kayu hitam terasa begitu pekat. Gesekan jubah sutra dari ratusan murid dalam pun seolah membeku di tempat. Di dekat pilar batu yang retak seribu, tubuh Song Ming tergeletak tak bergerak, dikelilingi ceceran serpihan giok mahkotanya yang pecah.
Mandor Wu menelan ludah dengan tenggorokan yang tercekat kering. Kedua tangannya gemetar di sisi pinggang, bingung apakah harus memungut cambuk tembaganya atau ikut menjatuhkan diri ke tanah kapur.
Mendengar kata “tali terikat kencang”, pupil mata Song Pojun seketika menyusut seukuran ujung jarum.
Leluhur tua itu terlonjak kaget. Tangannya yang berlumuran darah ditarik cepat dari pergelangan kaki Gu Ran, seolah ia baru saja menyentuh bara api yang menyengat kulit.
“Tali… benar, tali keparat ini!” Suara Song Pojun parau dan serak, bergetar menahan kepanikan yang nyaris meremukkan akal sehatnya.
Leluhur agung itu tidak berani mencabut pedang pusaka. Ia bahkan tidak berani mengibaskan angin tajam dari sela jarinya. Setiap desing senjata terasa seperti ancaman mati bagi lehernya sendiri.
Dengan sangat hati-hati, Song Pojun menempelkan telapak tangannya ke simpul tali rami di belakang tiang kayu.
Hawa hangat yang sangat lembut merayap keluar dari pori-pori kulit sang Leluhur. Serat rami tebal yang mengikat dada dan lengan Gu Ran mendadak hancur menjadi serbuk abu kelabu, runtuh ke tanah tanpa sempat menggores seujung kuku pun daging pemuda itu.
Begitu jeratan tali lenyap, kedua lutut Gu Ran langsung lemas.
Lima tahun terpapar uap belerang dan semalam suntuk berdiri di bawah dinginnya angin tebing membuat otot-otot kakinya kaku. Tubuh ramping pemuda berambut putih itu terhuyung condong ke depan.
“Awas—!”
Song Pojun menjerit histeris. Seluruh bulu kuduk di punggung lelaki tua itu meremang kencang.
Sebelum lutut Gu Ran sempat menyentuh kerikil kapur yang tajam, Song Pojun sudah meluncur ke bawah. Dua tangan rentanya yang terbiasa membelah gunung batu kini menyangga ketiak Gu Ran dengan gerakan canggung, menahan tubuh kurus itu seolah sedang menangkap lentera kaca tertipis di kolong langit.
“Pelan-pelan… pelan-pelan, Adik kecil,” bisik Song Pojun terbata-bata. Napas sang Leluhur memburu panas di pelipis Gu Ran. “Jangan buru-buru melangkah. Lantai batu ini kasar, banyak kerikil tajam…”
Gu Ran bersandar malas di pundak jubah abu-abu sang Leluhur. Aroma amis darah dan anyir luka bakar tercium pekat dari tubuh orang tua itu, berbaur dengan debu kapur yang menyesakkan hidung.
Tepat saat itu, deru angin kencang melolong dari arah tangga batu pualam.
Sesosok pria paruh baya berjubah ungu gelap melesat turun dengan wajah pias. Di dadanya, sulaman benang emas bergambar pedang melengkung menandai kedudukannya sebagai penguasa administratif tertinggi di gunung ini: Patriark Song Tianhe.
“Kakek Leluhur!” seru Song Tianhe dengan suara bergetar.
Langkah pria paruh baya itu mendadak terhenti kaku lima langkah dari tiang kayu hitam.
Matanya beralih ke dasar pilar arena. Di sana, putra kandungnya—Tuan Muda yang digadang-gadang menjadi penerus sekte—terkapar bersimbah darah dengan dada cekung ke dalam.
Lalu pandangannya bergeser ke tengah pelataran.
Kakek buyutnya sendiri, figur terkuat yang disembah sepuluh ribu murid sebagai pelindung agung sekte, sedang duduk bertumpu lutut di tanah berdebu, merangkul seorang budak penempa berpakaian compang-camping dengan ekspresi ketakutan luar biasa.
Logika Song Tianhe seketika macet.
“Ehem…” Song Tianhe berdeham kaku, berusaha menekan kepanikan di dadanya. Tangannya mengepal di balik lengan jubah lebar. “Kakek Leluhur… apa yang sebenarnya terjadi? Ming’er terluka sangat parah hingga tulang dadanya remuk, dan Anda… kenapa Anda memeluk budak kotor berambut putih ini?”
Mandor Wu yang berdiri di tepi pelataran buru-buru menyahut dengan suara melengking.
“B-benar, Patriark!” jerit Mandor Wu, berharap mendapat perlindungan. “Budak nomor tujuh ini memberontak saat uji coba pedang! Dia pasti menggunakan sihir sesat hingga membuat Kakek Leluhur terganggu pikirannya—”
“Tutup mulut busukmu, anjing bodoh!”
Song Pojun tidak menoleh. Satu kibasan telapak kirinya melepaskan gelombang tekanan udara yang menghantam wajah Mandor Wu.
PLAK!
Tubuh gempal Mandor Wu terpental sejauh sepuluh meter, membentur lantai batu hingga menggelinding bagai karung beras basah. Empat gigi depannya tanggal berhamburan bersama ludah merah.
Namun sebelum kemarahan Song Pojun mereda, pemuda di pelukannya mendadak bergetar pelan.
Gu Ran memiringkan kepalanya sedikit. Rambut putihnya yang kotor menutupi separuh wajah pucatnya. Ia meletakkan telapak tangan kanannya yang dekil ke atas dada kirinya sendiri, tepat di dekat luka sobekan pedang yang masih meneteskan darah segar ke kain jubah compang-campingnya.
Uhuk… uhuk…
Dua kali batuk kering lolos dari tenggorokan Gu Ran. Suaranya terdengar parau dan tersengal lemah.
“Senior…” bisik Gu Ran dengan mata kelabu yang sayu tanpa sinar kehidupan. “Bahu hamba… perih sekali… Udara di sini terlalu dingin… dada hamba sesak… pandangan hamba mulai gelap…”
Di kalimat terakhir, kelopak mata Gu Ran berkedip lemah, lalu perlahan-lahan menutup seolah hendak pingsan kehabisan darah.
Di dalam rongga dada Song Pojun, sebuah dentuman tak kasat mata meledak liar.
KRAK!
Rasa ngilu yang seratus kali lebih mengerikan daripada disayat pisau tumpul seketika merobek dinding dantian sang Leluhur. Esensi Qi di dalam tubuhnya bergolak kacau bagai ombak lahar yang kehilangan kendali.
“Aaaargh!”
Song Pojun menjerit tertahan. Pembuluh darah di pelipis dan lehernya menggembung biru kehitaman.
CRAAAK!
Cairan merah pekat menyembur dari sela bibir sang Leluhur, tumpah mengotori janggut putih dan membasahi ubin kapur pelataran. Tubuh tua itu gemetar hebat menahan rasa sakit internal yang meremukkan sumsum tulang.
Setiap tetes darah yang menetes dari bahu Gu Ran terasa bagai lubang menganga di inti kultivasinya sendiri!
“Kakek Leluhur!” Song Tianhe berseru panik, hendak melangkah maju menyalurkan tenaga dalam.
“Bajingan keparat!” raung Song Pojun dengan mata merah menyala penuh kengerian. “Siapa yang mengizinkanmu berdiri tegak di depan Tuan Muda Gu?!”
Kaki kanan Song Pojun menyapu tanah kapur, melepaskan hantaman angin kencang yang menghantam persendian lutut Song Tianhe tanpa ampun.
BRUK!
Patriark Sekte Pedang Langit itu jatuh berlutut dengan keras di atas pecahan kerikil tajam. Rasa sakit menghantam tempurung lututnya, namun Song Tianhe tidak berani mengeluarkan rintihan sedikit pun.
“Minta maaf!” teriak Song Pojun dengan suara serak yang tercekat darah. Jari telunjuknya yang gemetar menunjuk hidung sang Patriark. “Cepat bersujud dan minta maaf pada Tuan Muda Gu! Kalau sehelai rambutnya tanggal karena ulah anak terkutukmu itu, kulepaskan kulit kepalamu hari ini juga!”
Song Tianhe membelalak tak percaya. Napasnya tersendat di kerongkongan.
Seorang Patriark penguasa ranah Inti Emas Puncak, pemimpin sepuluh ribu murid pedang… dipaksa bersujud di hadapan seorang budak penempa yang bahkan tidak memiliki meridian utuh?
Namun melihat darah hitam yang terus mengucur deras dari dagu sang Leluhur dan aura membunuh yang kian pekat, seluruh harga diri Song Tianhe lenyap tak bersisa.
Pria paruh baya berjubah ungu itu menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya membentur lantai batu kapur yang dingin.
“Saudara Cilik Gu…” Suara Song Tianhe bergetar kaku menahan kehinaan yang membakar batinnya. “Mohon… mohon lapangkan dada Anda. Sekte Pedang Langit telah bersalah besar… Anak hamba yang bodoh layak mati seribu kali…”
Di belakang pelataran, langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat.
Seorang lelaki tua berjubah putih dengan kotak obat kayu giok di punggungnya berlari terengah-engah menembus barisan murid dalam. Alkemis Bai, kepala tabib farmasi sekte, mendarat dengan napas tersengal dan wajah panik.
“Leluhur! Hamba membawa Pil Penenang Jiwa sembilan rasa—”
Ucapan sang tabib terhenti di udara saat melihat sang Patriark bersujud di tanah, sementara sang Leluhur mendekap erat seorang budak kurus sambil menyeka darah di dagunya sendiri dengan panik.
Di tengah kegaduhan dan horor yang melanda pelataran batu putih, Gu Ran membuka sedikit sudut matanya yang kelabu.
Ia melirik ke bawah, menatap punggung gemetar Patriark Song Tianhe yang masih mencium debu kapur. Rasa perih di bahunya memang nyata, tetapi sandiwara batuk kecilnya ternyata membuahkan hasil yang jauh melebihi perkiraan.
Di sudut pandangannya yang kabur, sebuah antarmuka transparan kelabu mendadak menyala terang, memunculkan deretan tulisan berpendar keemasan:
[Song Pojun mengalami kepanikan eksistensial akut.]
[Poin Penebusan Karma bertambah: +500 Poin.]
[Hadiah Tambahan Pencapaian Sandera Pertama: Pil Pemurni Meridian Tingkat Satu telah dikirimkan ke ruang inventaris sistem.]
Gu Ran menghela napas pelan. Ia menyandarkan kepalanya lebih nyaman di bahu empuk jubah sang Leluhur, lalu memejamkan mata kembali.