"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"
"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"
"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."
"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"
"Itu hakmu untuk menyimpulkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. RUTINITAS
BAB 33: Kembali ke Rutinitas
Dua petugas keamanan mendorong troli kecil berisi beberapa kardus buah hingga berhenti tepat di depan meja Haris.
"Taruh di sini saja, Bu?" tanya salah seorang petugas sambil menurunkan kardus pertama.
"Iya, Pak. Terima kasih."
Setelah kedua petugas berlalu menuju lift, Haris bangkit. Pandangannya bergantian menatap tumpukan kardus dan Hagia.
"Ini semua apa, Bu?"
"Jeruk sama stroberi." Hagia membuka salah satu kardus. Seketika, aroma buah segar menyerbak di udara lantai eksekutif. "Pak Kalandra beli lumayan banyak. Katanya dibagikan saja."
Haris tersenyum kecil. "Wah, berarti teman-teman hari ini dapat rezeki."
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara deham pelan terdengar dari arah ruang CEO. Kalandra berdiri di ambang pintu. Tatapannya singkat, namun cukup untuk menyenggol kesadaran Haris akan tugas-tugasnya.
"Agenda pagi sudah siap, Pak," potong Haris cepat.
"Sepuluh menit."
"Baik, Pak."
Kalandra mengangguk tipis ke arah Hagia. "Masuk."
"Baik."
Pintu ruang CEO kembali rapat.
Sementara itu, Haris mulai membongkar kardus satu per satu. Beberapa sekretaris yang baru tiba langsung menghentikan langkah begitu melihat 'pemandangan' tak biasa di meja depan.
"Wah, banyak sekali!"
"Buah dari mana, Pak Haris?"
"Silakan ambil," Haris mendorong salah satu kardus ke tengah ruangan. "Oleh-oleh."
"Dari siapa?"
"Bu Hagia."
Tak butuh waktu lama hingga riuh antusiasme memecah kecanggungan lantai eksekutif. Ada yang sibuk memilah buah paling merah, ada pula yang berinisiatif membawanya ke pantry agar lebih mudah dicuci dan dibagi.
"Pak Haris, jeruknya manis banget!"
"Stroberinya juga segar, Pak!"
Haris tertawa kecil melihat kehebohan mendadak itu. "Masih banyak, jangan berebut."
Lantai eksekutif yang biasanya didominasi derap langkah tergesa dan denting telepon, pagi itu terasa lebih hangat. Tawa-tawa renyah sesekali terdengar dari arah pantry. Bahkan, beberapa karyawan sempat melayangkan ucapan terima kasih saat berpapasan dengan Hagia di koridor.
Di balik pintu ruang CEO, Hagia yang baru menyerahkan setumpuk dokumen sempat menangkap sayup-sayup keramaian di luar.
"Sepertinya mereka suka buahnya."
Kalandra tak beralih dari berkasnya. "Bagus."
Jawaban itu singkat, disusul goresan penanya yang mantap di atas kertas. Dua hari cuti memang menyisakan tumpukan pekerjaan. Map demi map memenuhi meja Kalandra. Panggilan konferensi yang sempat tertunda kini dipadat-padatkan dalam satu hari yang sama. Hagia pun kembali terserap dalam ritme yang familier. Menyusun jadwal, mencatat perubahan agenda, dan memastikan tak ada satu pun detail yang luput.
Menjelang sore, tumpukan dokumen di meja akhirnya menipis. Kalandra menutup map terakhir, lalu berdiri.
"Kita ke rumah sakit."
Hagia refleks menutup laptopnya. "Iya, Tuan."
Tanpa instruksi tambahan, mereka melangkah keluar. Di area sekretariat, beberapa karyawan masih tampak menikmati sisa oleh-oleh tadi pagi.
"Terima kasih oleh-olehnya ya, Bu Hagia," bisik seorang staf ramah.
Hagia mengangguk dengan senyum tipis, menyamakan langkah di belakang Kalandra menuju lift eksekutif.
Kesibukan kantor memang telah menarik mereka kembali ke dalam rutinitas. Namun, di antara jeda langkah dan tatapan serba singkat hari ini, ada ritme tak kasatmata yang tersisa. Sebuah jarak yang kini terasa jauh lebih dekat dibanding sebelum perjalanan mereka dimulai.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Kalandra memasuki area parkir rumah sakit. Jam besuk sore masih berlangsung, membuat koridor menuju ruang VIP terasa sedikit lebih ramai. Beberapa keluarga pasien melintas sambil membawa kantong buah dan rangkaian bunga segar. Begitu pintu ruang perawatan terdorong, Kakek Arshaka yang tengah menekuni koran langsung menurunkan kacamatanya. Pria tua itu melipat korannya perlahan.
"Sudah sampai?" Kakek Arshaka menyambut mereka dengan senyum tipis.
Hagia mendekat lebih dulu, meraih jemari sang kakek lalu mencium punggung tangannya penuh hormat. "Wajah Kakek makin segar hari ini. Keluhan sesaknya sudah hilang?"
"Jauh lebih mendingan," sahut Kakek Arshaka terkekeh. Dokter memang sudah mengizinkannya lebih banyak duduk daripada terus-terusan berbaring.
Beliau lalu beralih menatap Hagia dan Kalandra bergantian. "Kalian sendiri bagaimana? Perjalanan dari luar kota lancar?"
"Lancar, Kek," jawab Hagia lembut.
"Pekerjaan di kantor?"
"Masih aman terkendali," potong Kalandra seraya menarik kursi di samping ranjang. "Walau ada beberapa dokumen menumpuk karena dua hari ditinggal."
Kakek Arshaka tertawa pelan. "Bagus. Sesekali perusahaan memang harus sadar kalau CEO-nya juga manusia."
Kalandra hanya menggeleng kecil, memilih tidak membalas. Obrolan mengalir santai. Kakek Arshaka mengulik banyak hal. Mulai dari udara pegunungan, kuliner lokal yang mereka cicipi, hingga buah-buahan yang dibawa pulang. Hagia menjadi pencerita utama, sementara Kalandra sesekali menimpali dengan satu dua kalimat singkat.
Kakek melirik kantong buah yang tadi dibawa Hagia.
"Jeruknya manis?"
Hagia tersenyum. "Harusnya, Kek. Tadi semua orang bilang manis, kok."
"Kalau gitu, kakek mau coba satu. Stroberinya juga."
"Bentar ya, Kek." Hagia langsung berdiri. "Saya ambil piring dulu ke Bu Hesti. Sekalian saya cuci buahnya."
Sang Kakek tersenyum sambil mengangguk.
Hagia membawa kantong buah itu keluar dari ruang VIP. Tidak jauh dari kamar perawatan, Bu Hesti memang sedang berbincang dengan salah seorang perawat. Hagia menghampirinya.
Perempuan paruh baya itu langsung menoleh. "Iya, Nyonya?"
"Kakek mau coba jeruk sama stroberi. Boleh pinjam piring sebentar?"
"Tentu, Nyonya."
Bu Hesti langsung mengambil sebuah piring kecil dari pantry keluarga yang berada di samping ruang tunggu. Hagia mencuci beberapa buah di bawah air mengalir, lalu menyusunnya rapi di atas piring. Tidak sampai sepuluh menit, semuanya sudah siap.
Hagia kembali menuju ruang VIP.
Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, suara tawa kecil terdengar dari dalam ruangan. Ia sedikit mengernyit. Pelan-pelan pintu didorong. Pemandangan di hadapannya membuat langkahnya terhenti. Kakek Arshaka sedang duduk bersandar di ranjang sambil memegang ponsel milik Kalandra. Senyum lebar yang jarang terlihat menghiasi wajah pria tua itu. Sementara Kalandra berdiri di samping ranjang dengan ekspresi yang jauh lebih santai daripada biasanya.
"Senang banget." Suara Hagia membuat keduanya serempak menoleh. "Pada ngetawain apa, sih?"
Dalam hitungan detik, Kalandra mengambil kembali ponselnya dari tangan sang kakek. Jemarinya bergerak cepat mengunci layar sebelum memasukkannya ke dalam saku celana.
"Bukan apa-apa." Jawabannya terdengar terlalu tenang.
Hagia justru semakin curiga.
"Tapi... kayak nyembunyiin sesuatu."
"Apa? Nggak ada."
Kakek Arshaka berdeham pelan, berusaha menyembunyikan senyum yang masih tertinggal di wajahnya. "Iya, cuma perasaan kamu saja."
Hagia bergantian memandang keduanya.
"Perasaan waktu saya keluar masih serius." Hagia bergumam pelan. Namun, terdengar jelas di telinga mereka.
"Itu buah buat kakek?" Kakek menunjuk piring di tangan Hagia.
"Ayo bawa sini."
Hagia masih belum sepenuhnya percaya. Namun, melihat Kalandra sudah berbalik menuangkan air minum ke dalam gelas, ia akhirnya memilih meletakkan piring di atas meja kecil.
"Ini, Kek."
Kakek mengambil sepotong jeruk, lalu mencicipinya perlahan.
"Iya, bener." Beliau mengangguk puas. "Manis."
"Kan aku sendiri yang petik, Kek, makanya manis?"
Kakek tertawa sembari mengambil satu buah lagi sebelum kembali melirik Kalandra sekilas. Tatapan singkat itu membuat sudut bibirnya kembali bergerak, nyaris membentuk senyum.
Hagia menangkapnya. Tatapannya langsung berpindah kepada Kalandra. Baru saja ia ingin bertanya lagi, Kalandra lebih dulu mengangkat gelas dan menyerahkannya.
Hagia menerima gelas itu sambil terus memandang Kalandra penuh curiga.
"Minum."
"Tapi--"
"Kebanyakan mikir emang bikin haus."
Kalandra kembali duduk seolah percakapan itu sudah selesai. Hagia akhirnya menurut. Namun, sampai jeruk terakhir habis dimakan sang kakek, rasa penasaran pun hilang.
Ketukan pelan terdengar dari luar pintu. Seorang dokter bersama dua perawat masuk membawa hasil pemeriksaan pagi itu.
"Selamat sore, Pak Arshaka. Bagaimana kabarnya hari ini?"
Setelah memeriksa tekanan darah dan beberapa hasil laboratorium, dokter menutup map di tangannya.
"Perkembangannya sangat baik. Kalau kondisinya tetap stabil dua atau tiga hari ke depan, kami sudah bisa mengizinkan Bapak pulang."
Kakek Arshaka tersenyum puas.
"Akhirnya."
Dokter ikut tersenyum sebelum berpamitan meninggalkan ruangan. Baru setelah suasana kembali tenang, Kakek Arshaka memandang Hagia dan Kalandra bergantian.
"Nanti kalau Kakek pulang ke rumah..." Beliau berhenti sejenak. Lalu meraih tangan Hagia. "Kalian harus ikut pulang ke rumah juga."
Ruangan mendadak hening. Kalandra tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap sang kakek beberapa saat.
"Nanti saya pikirkan."
Bukan menolak, bukan pula menerima.
Next--->
perhatian" kecil kapada pasangan dan saling pengertian dari kedua nya membuat mereka nyaman menjalani bahtera rumah tangga..
d tunggu bab selanjut nya mbu' na 🤩🤩