Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Final Flash back
Hari mulai menggelap, langit jingga berangsur hilang berganti petang. Adzan Magrib berkumandang saling bersaut-sautan, seolah memberi tanda kalau semua sudah berakhir. Semua ketakutan, siksaan, dan hantaman melebur dan berpadu dalan tetesan air mata yang tak pernah kering.
Di sampingnya, masih tergeletak tubuh besar yang selalu menjadi momok menakutkan. Sedangkan Jax berjalan pelan membelakangi Dania sesuai dengan aturan main.
"Kakak? Aku boleh berhenti?" Teriak Jax dengan suara khas anak kecil, tanpa dosa.
"Mm, berhenti disitu! Kakak akan kesana."
Suara kedua anak di tengah jalan sawah yang sepi, menggema namun tak dapat menyaingi suara adzan.
Badan Dania masih sulit digerakkan, tangannya bersimbah darah dari Ibunya dan bercampur dengan darah Sang Iblis.
Jalannya sangat pelan, terseok-seok dengan segala luka yang diderita, bahkan darah dari selangkangannya juga masih mengalir.
"Jax, ayo pulang."
Namun tubuhnya berkata lain, ia langsung terjatuh begitu sampai di samping Jax.
"Kakak? Kamu nggak apa-apa?" Jax ikut bersimpuh di sisi kanan, diam tak berniat beranjak dari Dania.
"Sebentar... Tubuhku, hiks hiks hiks."
Tangisnya tak terbendung, membuat Jax maju memeluk Dania yang kotor karena tanah dan lumpur.
Jax tak mengatakan apa-apa, dia hanya diam memeluk Dania sembari menepuk pelan punggungnya seperti yang biasa Ibunya lakukan saat ia menangis.
"Lain kali, jangan pernah mengikutiku lagi Jax," ucap Dania dengan suara bergetar karena isakan tangisnya.
Hampir sepuluh menit mereka berada di posisi itu, tanpa ada yang datang melewatinya. Sekelilingnya sangat sepi sampai terdengar suara jangkrik yang mengerik. Berulang kali Dania menoleh ke belakang untuk memastikan Si Iblis sudah kalah dan tidak akan datang padanya lagi.
Lalu,
"JAX!!! DARIMANA SAJA KAMU?"
Kekhawatiran tergambar jelas dari raut wajah Ibu Jax. Anak semata wayangnya itu tak kunjung pulang dari menjelang sore sampai petang. Ia sudah mencari di Puskesmas karena biasanya anak itu berkunjung dan bermain bersama Dania. Namun saat ia mengetahui kalau pasien sudah pulang, ketakutan itu mendadak menyeruak, membuatnya mencari ke segala penjuru desa ditemani oleh suaminya.
"Dania?" Panggil Bu Dewi, Ibunya Jax.
Melihat keadaan gadis berumur sebelas tahun itu, Bu Dewi langsung bisa menebak apa yang terjadi.
Beliau langsung membantu Dania berdiri untuk membawanya bersama Jax mengendarai mobil.
"Sayang, boleh kan?" Pinta Bu Dewi pada suaminya yang juga memasang wajah simpati.
"Tentu saja, sayang."
Pak Hendra lansung menggendong Jax menuju kursi penumpang. Disana, Jax dan Dania duduk bersama, tertidur lalu saling menopang kepala satu sama lain, saling menyandar menunjukkan bahwa keduanya hanya anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan dari orang dewasa.
Sementara Bu Dewi dan Pak Hendra saling bertatapan dan tersenyum simpul, akhirnya mereka punya anggota keluarga baru.
.
.
.
Dania mengerjapkan matanya perlahan, merasakan berat yang luar biasa menggelayuti kelopak matanya saat kesadarannya perlahan kembali. Saat pandangannya mulai fokus menatap langit-langit kamar yang asing, serpihan ingatan tentang kejadian mengenaskan beberapa jam lalu mendadak berputar kembali di benaknya seperti film horor. Rasa panik, jeritan yang tertahan, dan kengerian yang mencekam saat peristiwa itu terjadi kembali menghantam dadanya, membuat napasnya seketika memburu. Dia terbangun dengan sisa trauma yang masih basah.
"IBU!!!"
Teriaknya.
"Kamu sudah sadar, Nak?" Suara itu sangat lembut dan hangat mirip dengan suara Ibunya yang kini sudah tidak ada. Fakta itu bagai palu yang menghantam kepalanya. Tangis yang tertahan karena tubuh yang lelah luar biasa, kini tumpah ruah seperti air mancur yang tak ada hentinya.
"Ibuku... Tolong ibuku, aku mohon."
Dania menautkan kedua tangannya melambangkan dirinya yang sudah putus asa meminta pertolongan.
Bu Dewi menarik panjang napasnya, " Maaf nak, Bu Rani sudah tiada."
"Apa?" Sebenarnya itu bukan berita yang terlalu mengejutkan, karena ia tahu dengan mata kepala sendiri apa yang dialami oleh Ibunya. Namun ia menolak tahu, baginya Ibunya harus selamat.
"Ini semua salahku.... Kalau saja aku tidak meninggalkan Ibu sendirian."
Bu Dewi mendekat dan memeluk tubuh kecil Dania.
"Shhh... Jangan bilang seperti itu. Itu semua bukan salah kamu Dania. Sungguh bukan salah kamu."
"Tapi..."
"Kamu dilarang mengatakan hal semacam itu sekarang, atau Bu Rani akan bersedih. Beliau sudah tenang di surga, sekarang tugas Dania hanya harus tetap bahagia, oke?"
Dania mengangguk.
"Dimana Ibu?"
"Beliau ada di Masjid, sedang disholatkan. Kalau kamu ingin menemuinya, lebih baik kamu mandi dulu."
Dania menganggguk lagi dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Mari, Ibu bantu."
Bu Dewi memapah Dania yang masih belum kuat untuk berjalan menuju kamar mandi. Ia memakaikan baju dan menyisir lembut rambut Dania seperti anaknya sendiri.
"Dan..." Panggilnya ketika mencoba merapikan rambut Dania.
"Setelah ini, maukah kamu tinggal di Panti Asuhan Ibu? Aku ingin tetap bersamamu dan kayaknya Jax juga menyukai kakak barunya."
Mata Dania berkaca-kaca. Pantaskah anak sepertinya bisa tertawa dan bahagia bersama anak-anak lain? Bisa selamat dari kejadian maut saja sudah membuatnya bersyukur,mendapat keluarga baru itu terasa sangat berlebihan.
"Tapi Bu, sebenarnya saat di rumah... Mmm... Ayah telah --"
Suaranya tercekat, cerita yang ingin ia ungkapkan seperti terjebak tak bisa keluar.
"Aku tahu Dania, aku tahu," Ucap Bu Dewi. "Dan kamu tidak usah khawatir, Dania tetap Dania yang dulu. Dania anak yang pintar, ceria, dan murni. Lupakan semuanya... Lalu hiduplah bersama kami, Dania."
.
.
.
Bu Rani, Ibu Dania akhirnya dikebumikan keesokan harinya. Banyak masyarakat sekitar yag datang memberikan penghormatan terakhirnya, tak terkecuali keluarga Liam. Semua upacara terasa haru meskipun Dania sudah berusaha untuk menahan air matanya.
Lalu ketika semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing, ada selentingan bisik-bisik yang terdengan dari belakang punggung Dania.
"Jadi dia... Kasihan ya dia harus kehilangan kedua orang tuanya."
"Ck, tau deh, aku curiga malah dia yang ngebunbun keduanya. Hiiii!!!"
Suara miring itu tak membuat Dania terbawa emosi. Baginya lebih baik dikata pembunuh karena pada kenyataannya dia lah penyebab semuanya. Namun yang terpenting, fakta tentang kesucian yang terenggut darinya karena ulah ayah kandungnya sendiri itu tetap tersembunyi.
Terkunci rapat sampai Jax di masa depan tak tahu menahu dan dibuat kaget saat kenyataan itu terlontar dari mulut Dania sendiri.
Flash back off.
"Jax?" Lirih Dania. Separuh napasnya terhenti menunggu respon dari Jax. Perlahan Dania menata hatinya untuk menerima kalau Jax akan merasa jijik padanya.
Jax menggertakkan giginya, otot rahangnya terlihat sangat jelas. Lalu mata indahnya berubah kemerahan dengan kilatan amarah.
"Siapa? Siapa si brengsek itu? Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!"