Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Kegagalan aksi Revan menggunakan unta itu akhirnya menimbulkan keributan yang cukup besar.
Pada akhirnya, si pencuri, Revan dan Nina, pemilik tas Jeni, pemilik unta, bahkan unta yang terlihat sangat bangga dengan dirinya sendiri itu, semuanya dibawa ke kantor polisi.
Saat memberikan keterangan, suasana kantor polisi nyaris seperti pasar.
Para pemilik toko di sepanjang gang yang tokonya rusak terus berdatangan. Mereka ramai-ramai mengajukan keluhan dan menuntut ganti rugi atas kerusakan yang terjadi.
Petugas yang berjaga sampai kewalahan menghadapi mereka.
Nina sendiri mulai khawatir Revan bakal dipaksa menanggung seluruh biaya kerusakan. Karena itu, dia berusaha menjelaskan situasinya kepada para petugas.
Namun, Revan sama sekali tidak memikirkan hal tersebut.
Begitu masuk ke kantor polisi, pandangannya langsung tertuju pada satu orang.
Jeni.
Saat seorang petugas menghampirinya untuk meminta keterangan, Revan bahkan tidak langsung menjawab. Dia malah meletakkan kartu identitas penyidiknya di atas meja.
Petugas itu langsung mengerutkan kening.
Dalam hati, dia mengira Revan sedang memanfaatkan statusnya sebagai penyidik kasus besar untuk bersikap seenaknya.
Tapi Revan tidak peduli.
Jantungnya berdegup kencang.
Akhirnya...
Dia bertemu lagi dengan mantan kekasihnya.
Jeni.
"Ya Tuhan..."
Revan menatap gadis itu tanpa berkedip.
Apakah Tuhan akhirnya merasa kasihan kepadanya dan memberinya kesempatan kedua?
Wajah itu...
Kulit putih, paras cantik, tatapan yang dulu begitu dikenalnya.
Semuanya sama.
Persis seperti Jeni yang ada dalam ingatannya.
Untuk sesaat, Revan benar-benar ingin berlari menghampirinya, memeluknya erat, lalu menceritakan semua penderitaan yang sudah dia lalui.
Dia ingin mengatakan...
"Jen..Jenita... Kamu tahu nggak? Aku sudah merindukanmu seumur hidupku. Kamu baik-baik saja? Bagaimana keadaanmu? Apa kamu masih mengingatku?"
Namun, akal sehatnya masih bekerja.
Revan menahan dirinya.
Dia tahu ini bukan dunia yang sama.
Jeni yang berdiri di hadapannya memang terlihat persis seperti wanita yang pernah dicintainya, tetapi belum tentu dia adalah orang yang sama.
Revan yang dulu juga sudah bukan Revan yang sekarang.
"Mungkin dia bahkan tidak mengenalku."
Pikiran itu membuat dada Revan terasa sesak.
"Perbedaan terbesar antara dua dunia ini mungkin sederhana. Aku masih mengenalmu... tapi kamu sama sekali tidak mengenalku."
Revan terus memperhatikan Jeni saat perempuan itu memberikan keterangannya.
Namanya masih sama.
Jenita.
Namun kehidupannya ternyata sangat berbeda.
Di dunia ini, Jeni bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Pusat Jakarta.
Bukan hanya perawat biasa.
Dia bahkan sudah menjadi kepala perawat.
Revan hampir tidak percaya.
Jeni yang dulu bahkan bisa pucat hanya karena melihat darah.
Bagaimana mungkin sekarang dia bekerja di rumah sakit dan menjadi kepala perawat?
Tatapan Revan yang terus mengarah kepadanya akhirnya menarik perhatian orang-orang di sekitar.
Jeni juga mulai menyadarinya.
Wajahnya perlahan memerah karena merasa tatapan pria itu terlalu intens.
Setelah selesai memberikan keterangan, Jeni mengambil kembali tasnya yang tadi sempat diselamatkan Revan.
Dia kemudian berjalan menghampiri Revan dengan sedikit canggung.
"Terima kasih banyak."
Suaranya...
Suara yang begitu familiar.
"Aku benar-benar nggak menyangka kamu seorang polisi. Kalau bukan karena kamu..." Jeni melirik ke arah luar, tempat unta tadi masih berada. "Aku mungkin sudah mengalami kerugian besar."
"Ah..."
Revan merasa kepalanya sedikit melayang.
"Puji Tuhan..."
Dia bahkan mulai bergoyang-goyang sendiri seperti orang mabuk.
Jeni langsung bingung melihat tingkahnya.
Dia hanya bisa mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum berbalik dan hendak pergi.
"Tunggu!"
Revan buru-buru menghentikannya.
Masih ada sedikit harapan dalam hatinya.
"Jenita... Jenita."
Jeni berhenti dan menoleh.
"Coba kamu ingat baik-baik. Apa kamu benar-benar nggak ingat aku?"
"Hah?"
Jeni tampak terkejut.
Dia memperhatikan Revan dari atas sampai bawah.
Beberapa detik kemudian, dia menggelengkan kepala.
"Maaf... Apa kita pernah bertemu?"
Hati Revan langsung tenggelam.
Ternyata benar.
Dia memang tidak mengenalnya.
Revan menghela napas dalam-dalam.
Namun, dia masih belum mau menyerah.
Dia langsung melambaikan tangan kepada Nina yang berdiri tidak jauh darinya.
"Hey! Cepat ke sini!"
Nina menunjuk dirinya sendiri.
"Aku?"
"Iya, kamu! Cepat!"
Nina akhirnya berjalan mendekat.
"Kenapa, Kak?"
"Telepon aku."
"Hah?"
Nina semakin bingung.
Jeni yang berada di samping mereka juga tidak kalah bingung.
"Aku bilang telepon aku! Cepat!"
Tanpa memedulikan ponselnya yang sudah terlihat menyedihkan, Revan meletakkannya di atas meja tepat di depan Jeni.
Karena terus didesak, Nina akhirnya mengambil ponselnya dan menelepon Revan.
Tak lama kemudian...
Ponsel Revan berdering.
Namun, nada deringnya langsung membuat seluruh lobi kantor polisi terdiam.
Bukan lagu modern.
Bukan nada dering biasa.
Melainkan lagu lawas Indonesia dari era 1980-an yang memiliki nuansa pop romantis khas masa itu.
“Biar seribu bintang
Kan datang memuja diriku
Hatiku tak kan mudah goyah
Tergoda dengan rayuan yang lain
Hanya padamu...
Hanya padamu...
Pilihanku padamu...
Pilihanku padamu...”
Seluruh kantor polisi mendadak sunyi.
Semua orang menoleh ke arah Revan.
Tatapan mereka seolah sedang melihat orang aneh.
Revan sama sekali tidak peduli.
Dia justru menatap Jeni dengan penuh harap.
"Bagaimana?"
Dia menunjuk ponselnya.
"Jenita, kamu ingat sesuatu?"
Jeni membelalakkan mata.
Ekspresinya berubah menjadi aneh.
"Ini..."
Dia menatap ponsel Revan.
Lalu menatap Revan.
"Ini apaan sih?!"
"Astaga..."
Revan hampir ingin membenturkan kepalanya ke meja.
Lagu itu sudah sangat tua.
Tapi dulu, lagu tersebut merupakan salah satu lagu favorit Jeni.
Itulah alasan Revan menjadikannya sebagai nada dering.
Dia yakin kalau Jeni yang sama masih ada di dalam tubuh ini, lagu tersebut seharusnya bisa membangkitkan sedikit kenangan.
Namun ternyata...
Tidak ada reaksi sama sekali.
Saat itulah Revan akhirnya memahami kenyataan.
Jeni di dunia ini benar-benar berbeda.
Kesukaan, kepribadian, pengalaman hidup...
Semuanya berbeda.
Dia memang memiliki wajah yang sama dan nama yang sama.
Tetapi dia bukan Jeni yang dulu.
"Ah..."
Revan akhirnya menyerah.
Dia berdiri tegak dan menarik napas dalam-dalam.
Ekspresinya kembali normal.
Sikapnya juga menjadi jauh lebih sopan.
"Mbak Jeni."
Revan tersenyum.
"Kalau kamu tidak keberatan, boleh kita bertukar kontak?"
Jeni terlihat sedikit ragu.
"Untuk apa?"
"Kalau suatu hari nanti aku perlu datang ke rumah sakit tempat kamu bekerja, mungkin aku bisa menghubungimu."
"Oh..."
Jeni berpikir sejenak.
Akhirnya dia mengangguk.
"Ya sudah."
Dia mengeluarkan ponselnya.
"Kalau begitu pakai WhatsApp saja. Ini QR-ku, tinggal scan."
"Baik!"
Revan langsung mengambil ponselnya.
Namun sesaat kemudian dia teringat sesuatu.
Ponselnya belum memiliki koneksi internet.
Tanpa panik, Revan segera membuka kamera dan memotret QR code milik Jeni.
Nanti dia bisa menyimpannya dan menambahkannya ketika sudah mendapatkan jaringan.
"Mas Revan."
Jeni tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"Terima kasih banyak untuk hari ini."
Revan menjabat tangannya.
"Kalau suatu saat kamu kebetulan datang dan butuh bantuan, jangan sungkan menghubungiku."
Jeni tersenyum.
"Tapi semoga saya tidak perlu bertemu kamu di rumah sakit sebagai pasien, ya."
Dia terkekeh kecil.
Revan ikut tersenyum.
"Semoga begitu."
Jeni kemudian berbalik dan meninggalkan kantor polisi.
Revan berdiri di tempatnya, memperhatikan punggung perempuan itu sampai menghilang dari pandangan.
Sensasi hangat yang masih tertinggal di telapak tangannya membuat hatinya berdebar.
Pada saat itu, sebuah keputusan muncul di dalam pikirannya.
Tidak peduli apakah Jeni di dunia ini berbeda dari Jeni yang pernah dia kenal.
Tidak peduli apakah perempuan itu sudah memiliki pacar, bahkan sudah menikah sekalipun.
Revan tetap akan mengejarnya.
Dia tidak tahu apakah ini kesempatan kedua yang diberikan kepadanya.
Tapi jika memang begitu...
Dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Dia akan menggunakan segala cara yang dia punya untuk mendapatkan kembali wanita yang pernah menjadi cinta dalam hidupnya.
Tatapan Revan terhadap Jeni tadi terlalu jelas.
Semua orang bisa melihatnya.
Termasuk Nina.
Gadis itu sudah lama menyukai Revan.
Melihat bagaimana Revan menatap Jeni, wajah Nina langsung berubah masam.
Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu mendongakkan kepala dengan kesal.
"Hmph!"