Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Janji yang Tak Bisa Dibatalkan
Pintu rumah Jayadi sudah lebih dulu terbuka, sebelum Wicaksono sempat mengangkat tangan untuk mengetuk atau menekan bel.
Jayadi berdiri di ambang pintu dengan senyum ramah. "Eh, Pak Wicaksono. Mari, Pak. Silakan masuk."
"Terima kasih." Wicaksono melangkah masuk dengan tenang. Tongkat kayu yang berada di tangan kanannya sesekali mengetuk lantai, menghasilkan bunyi pelan yang justru membuat kehadirannya terasa semakin berwibawa.
Jayadi mempersilakannya duduk di ruang tamu. Setelah keduanya duduk berhadapan, Jayadi membuka percakapan. "Bagaimana kabarnya, Pak? Sudah lama sekali kita tidak bertemu."
"Seperti yang kamu lihat," ujar Wicaksono. "Saya baik-baik saja."
"Syukurlah." Jayadi tersenyum. "Kalau boleh tahu, ada apa kiranya Bapak yang super sibuk ini datang ke gubuk saya?"
Wicaksono belum sempat menjawab ketika Cepi muncul dari arah dapur sambil membawa nampan.
"Permisi, Pak." Cepi meletakkan secangkir teh manis dan sepiring pisang goreng yang masih hangat di atas meja.
Namun, mata Cepi sempat mengamati pria tua di hadapannya. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Wicaksono tampak sederhana, tetapi desain dan materialnya terlihat bukan sesuatu yang biasa ia lihat.
Lalu matanya beralih pada cincin akik besar yang menghiasi salah satu jari pria itu. Batunya tampak jernih dengan serat alami yang indah, terpasang pada rangka yang kokoh dan berkelas. Cepi memang tidak tahu berapa harganya, tetapi dari tampilannya saja ia yakin cincin itu bukan barang sembarangan.
Belum lagi tongkat kayu di tangannya yang terlihat dibuat dengan sangat baik serta mobil hitam mengilap yang terparkir di depan rumah.
Dari penampilannya saja, Cepi sudah bisa menyimpulkan satu hal. Orang kaya.
Cepi tersenyum ramah. "Silakan diminum, Pak. Saya tidak tahu Bapak suka apa, jadi saya buatkan teh manis."
"Terima kasih," ucap Wicaksono singkat.
Cepi kemudian memilih duduk di sebelah Jayadi. Nampan yang tadi dibawanya diletakkan di pangkuan. "Kalau boleh tahu, Pak Wicaksono datang ke gubuk kami ada urusan apa ya?" tanyanya, berpura-pura santai.
Jayadi melirik istrinya. "Bu..."
Cepi tersenyum. "Kan Ibu juga pengen tahu, Yah. Jarang-jarang ada tamu kayak Pak Wicaksono datang ke rumah kita."
Wicaksono menatap Cepi sekilas, tidak lebih dari beberapa detik. Namun dalam waktu sesingkat itu, ia sudah menangkap sesuatu dari sorot mata wanita tersebut.
Terlalu banyak rasa ingin tahu, terlalu cepat menunjukkan keramahan. Dan tatapannya beberapa kali berpindah dari dirinya ke mobil yang terparkir di luar.
Wicaksono tidak mengatakan apa-apa, ia hanya mengalihkan pandangan kepada Jayadi. "Saya datang untuk membicarakan sebuah janji."
"Janji?" ulang Jayadi.
"Janji yang dibuat ayah mertuamu," jelas Wicaksono.
Jayadi mengernyit. "Ayah mertua saya?"
Wicaksono mengangguk. "Beberapa tahun lalu, beliau dan saya membuat sebuah kesepakatan." Ia mengangkat map yang sejak tadi dipegangnya. "Saya rasa sudah waktunya kesepakatan itu dilaksanakan." Wicaksono meletakkan map itu di atas meja.
Jayadi menatap map itu. "Apa ini?"
"Silakan buka," ucap Wicaksono.
Dengan sedikit ragu, Jayadi mengambil map tersebut, lalu membuka dan mulai membaca halaman pertama. Semakin lama membaca, wajahnya semakin berubah.
Cepi ikut mendekat. "Ada apa, Yah?"
Jayadi tidak menjawab, matanya bergerak cepat membaca isi dokumen. Tentang sebuah perjanjian perjodohan, tentang cucu mereka. Dan tentang pernikahan yang harus dilaksanakan setelah kedua pihak mencapai usia yang telah ditentukan.
Dan pada bagian akhir terdapat sebuah klausul yang membuat tenggorokan Jayadi mendadak terasa kering.
Pihak keluarga yang membatalkan kesepakatan secara sepihak diwajibkan membayar denda sebesar lima miliar rupiah.
Jayadi menelan ludah. "Lima miliar?"
Wicaksono mengangguk. "Itu kesepakatan yang dibuat ayah mertuamu."
Jayadi menatap dokumen itu sekali lagi. "Tapi saya tidak pernah tahu soal ini."
"Saya tahu," sahut Wicaksono tenang.
"Kalau begitu..." Jayadi mengusap wajahnya. "Kenapa baru sekarang?"
"Karena sebelumnya saya menunggu waktu yang tepat." Wicaksono menyandarkan punggungnya. "Dan sekarang waktunya sudah tiba."
Cepi yang sejak tadi membaca dokumen itu tiba-tiba mengangkat wajah. "Kalau begitu sebenarnya masalahnya mudah, Yah."
Jayadi menoleh. "Maksudmu?"
Cepi tersenyum. "Kalau yang dijodohkan itu cucu Bapak dengan anak dari keluarga kami, berarti tidak harus Aynara, 'kan?"
Ruangan seketika hening.
Jayadi langsung menatap istrinya. "Bu..."
"Apa?" Cepi mengangkat bahu. "Aynara memang anak Ayah dari istri pertama. Tapi Caca juga anak Ayah."
Wicaksono tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Ia mengambil cangkir tehnya dengan gerakan terukur.
Cepi semakin bersemangat. "Kalau memang harus menikah dengan keluarga Bapak, bukankah Caca bisa menggantikannya?"
"Jangan bicara sembarangan," ujar Jayadi pelan.
Namun Cepi tidak berhenti. "Aku hanya ngasih solusi." Ia menatap Wicaksono dengan senyum penuh harap. "Caca itu anak baik, Pak. Penurut, tidak banyak tingkah. Dia juga lebih cocok menjadi istri dari keluarga besar seperti keluarga Bapak."
Jayadi terdiam, sedangkan Wicaksono menyeruput tehnya perlahan.
Cepi mulai menjual putrinya sendiri. "Kalau Aynara..." Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata-kata. "Dia agak keras kepala, sering membantah, kadang juga malas kalau disuruh. Saya khawatir kalau nanti masuk keluarga besar malah membuat masalah."
Jayadi melirik istrinya. "Bu, cukup."
Cepi mengabaikannya. "Berbeda dengan Caca. Anak saya itu tahu bagaimana menghormati orang tua. Dia juga pandai membawa diri."
Wicaksono akhirnya meletakkan cangkir tehnya.
Tak.
Suara kecil itu membuat Cepi otomatis berhenti berbicara.
Wicaksono menatap wanita itu. "Saya datang untuk menagih janji." Nada suaranya tenang. "Tidak untuk menawar."
Senyum Cepi perlahan menghilang. "Tapi, Pak..."
Pandangan Wicaksono beralih pada Jayadi. "Perjanjian itu dibuat oleh saya dan ayah mertuamu." Ia menunjuk dokumen di atas meja. "Yang dimaksud dalam perjanjian adalah cucunya. Dan saya tahu siapa cucu yang dimaksud."
Jayadi menundukkan kepala. "Aynara."
"Benar," sahut Wicaksono.
Cepi mencoba tersenyum lagi. "Tapi Caca juga putri Jayadi."
Wicaksono mengalihkan pandangan kepadanya. "Saya tidak pernah mengatakan putri Jayadi tidak cukup baik."
Cepi menggenggam erat nampan di pangkuannya.
"Tetapi saya tidak datang mencari putri Jayadi." Sorot mata Wicaksono berubah semakin tajam. "Saya datang untuk memenuhi janji kepada sahabat saya."
Tidak ada nada tinggi dalam suaranya. Namun kalimat itu cukup untuk membuat Cepi tidak berani melanjutkan.
Fokus Wicaksono kemudian kembali kepada Jayadi. "Besok saya akan membawa keluarga saya. Pernikahan mereka akan dilaksanakan."
Jayadi membulatkan mata. "Besok?"
"Ya," jawab Wicaksono tanpa ragu.
"Secepat itu?" tanya Jayadi sedikit panik.
"Kesepakatan ini sudah menunggu bertahun-tahun." Wicaksono berdiri. "Menurut saya, justru sudah terlalu lama."
"Tapi, Pak..." Jayadi menghela napas. "Pernikahan tidak bisa disiapkan dalam semalam."
Wicaksono memandangnya dengan sorot mata tenang. "Saya sudah menyiapkan semuanya."
Jayadi terdiam.
Wicaksono melanjutkan dengan nada datar, seolah semua yang dikatakannya adalah hal biasa. "Penghulu sudah siap. Administrasi pencatatan pernikahan juga sudah diurus. Tempat akad sudah disiapkan."
Tok.
Tongkat Wicaksono mengetuk lantai sekali. "Besok mereka menikah. Tidak ada alasan untuk menundanya lagi."
Cepi hanya bisa diam, wanita itu kehilangan kata-kata. Harapannya untuk memasukkan Caca ke dalam keluarga kaya tersebut runtuh hanya dalam beberapa menit.
Sementara Jayadi masih menatap dokumen di tangannya. Lima miliar rupiah. Ia tidak mungkin membayar denda sebesar itu.
Artinya...
Suka atau tidak suka, Aynara harus menikah dengan cucu Wicaksono.
...🔸🔸🔸...
..."Jangan menjadikan orang lain sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan, sebab manusia bukan barang yang bisa ditukar sesuka hati."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Perawat terus berlari, bayi dalam gendongannya menangis kencang.
Perawat gila ngga ada takut-takutnya lari menuju jalan raya.
Tahu yang pada mengejar semakin dekat, perawat nekat menyeberang jalan raya yang padat kendaraan.
Duuuuh gila benar si perawat melempar bayi ke arah jalan raya.
Dokter yang menunggu di depan lift, begitu pintu lift terbuka mendengar tangisan bayi dari dalam.
Perawat membawa salah satu bayi melompat keluar dari lift. Dia berlari tak peduli ada dokter yang bertanya dia mau ke mana.
Dokter mengambil bayi yang satunya terbaring di lantai.
Gila tuh perawat.
Ternyata itu awal dari hilangnya Arsa.
Wicaksono dan Gunadi saat itu baru mengunjungi Asti yang baru melahirkan.
Asti memaksa ingin melihat bayi kembar yang baru dilahirkan di ruang bayi, walaupun sudah dilarang oleh Gunadi.
Mereka bertiga menuju ruang bayi. Langkah Asti mendadak berhenti ketika melihat seorang perawat keluar dari ruang bayi sambil menggendong dua bayi.
Perawat membawa kedua bayi dengan langkah cepat dan masuk ke dalam lift, tidak peduli dengan teriakan mereka.
Regan kemungkinsn besar adalah Arsa. Wajah mirip.
Regan si kembar yang lebih baik kepribadiannya daripada si kembar satunya. Aksa si sombong.
Kalau Regan benar adalah Arsa yang telah dinyatakan meninggal, kini malah yang benar-benar meninggal Aksa.
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?