Indonesia
NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Tiga Belas

...#...

...Tali tambat dilepas dengan bunyi kasar, seperti orang menarik karung goni dari lantai semen. Lalu air di antara kapal dan dermaga pecah jadi busa putih....

...Bima sudah berlari sebelum sadar kakinya bergerak....

..."Bima!"...

...Suara perempuan itu di belakangnya terdengar seperti perintah yang dilempar, tapi Bima tidak berhenti. Dermaga Tiga masih dua puluh meter lagi. Aspal basah berubah jadi papan kayu yang licin, lalu jadi besi pelat yang berdentang setiap kali sepatunya menginjak. Lengan kirinya menghentak tiap kali kakinya mendarat, dan perihnya naik sampai ke rahang....

..."Mas Bima, jangan!" Pak Darto tertatih di belakang, entah dari mana ia dapat tenaga untuk berteriak....

...Kapal kecil itu sudah bergerak. Cat putihnya kusam, lambungnya penuh bekas gesekan, dan di sisi buritan ada tulisan hitam yang sedikit pudar....

...TIGA BELAS....

...Bima tidak sempat membacanya lagi. Ia melihat ada orang di geladak, dua, mungkin tiga, dan salah satunya menggendong sesuatu di bahu. Sesuatu yang kurus, sepatunya terseret, tangannya diikat di depan....

..."Dimas!"...

...Ia melompat ke celah antara dermaga dan lambung kapal. Kakinya mendarat di tepi pelat, licin oleh lumut, dan ia terpeleset. Tangan kanannya menghantam pagar besi. Lengan kirinya menyentuh sesuatu yang dingin, lalu ia tidak merasakan apa-apa lagi selain air....

... ...

...Dingin menutup seluruh tubuh dalam satu tarikan napas. Bima membuka mulut dan langsung tersedak asin dan minyak. Ia menggerakkan kaki, menendang ke mana pun, dan kepalanya terbentur lambung kapal sampai telinganya berdenging....

...Gelap. Hanya cahaya merah dari buritan yang memantul di permukaan air, berkedip-kedip seperti lampu yang tidak pernah diurus....

...Ia nyaris tenggelam, tapi tangannya menemukan tali jaring yang menggantung dari sisi kapal. Ia memeganginya dengan tangan kanan, dan tangan kirinya terkulai tak mau menuruti perintah....

...Di atas, seseorang berteriak. Lalu terdengar suara tembakan. Satu kali, kering, lebih pendek dari yang ia bayangkan....

...Air di sekelilingnya bergetar....

..."Jangan tembak, bodoh! Dia anak Hadi!"...

...Suara itu berat, dan Bima merasa pernah mendengarnya di suatu tempat. Mungkin di warung, mungkin dari seberang telepon. Ia tidak sempat memikirkannya. Tali jaring itu mulai bergerak, ditarik dari atas dengan tenaga kasar....

... ...

...Bima jatuh di geladak seperti karung basah. Pelat besi itu dingin dan berminyak, dan ia berbaring telentang sambil terbatuk-batuk. Langit di atasnya kelabu, tapi di sisi lain, cahaya lampu kapal menyilaukan....

..."Berdiri."...

...Ia tidak bisa. Sebuah sepatu menekan dadanya, tidak keras, hanya cukup untuk membuatnya diam....

..."Berdiri, Mas Ardhana," kata suara yang sama. Kali ini lebih pelan. "Kamu tidak mau membuat adikmu lihat kamu seperti ini, kan?"...

...Bima membuka mata. Di atasnya berdiri laki-laki berkaus hitam basah, rambutnya tipis, wajahnya kasar, bekas luka memanjang dari pelipis sampai rahang. Di belakangnya dua anak buah memegang senapan pendek, dan keduanya tampak lebih gugup daripada laki-laki itu....

..."Siapa kamu?"...

..."Yang tadi nolong kamu."...

..."Saya nggak minta ditolong."...

...Laki-laki itu tertawa pendek. "Kamu sama persis seperti bapakmu."...

...Bima merasakan sesuatu mengencang di perutnya. Ia bangkit dengan tangan kanan, terhuyung, dan berpegangan pada pagar....

..."Dimas mana?"...

...Laki-laki itu tidak menjawab. Ia menunjuk dengan dagu ke arah tiang kapal, di dekat pintu ruang kemudi....

...Dimas duduk di lantai geladak dengan tangan terikat di depan, bahu terangkat karena menahan dingin. Pipi kirinya memar, dan bibirnya pecah. Ia mengangkat kepala ketika melihat Bima, dan selama beberapa detik ia hanya menatap, seolah tidak yakin itu benar-benar kakaknya....

..."Mas..." suaranya serak. "Mas kenapa basah?"...

..."Kamu nggak apa-apa?"...

..."Aku..." Dimas menelan ludah, lalu menoleh ke laki-laki berkaus hitam. "Dia bilang mereka cuma mau nukar aku sama buku itu."...

..."Dimas, diam."...

..."Aku cuma bilang!"...

...Laki-laki berkaus hitam menendang pelan kaki Dimas, tidak keras, seperti sedang mengingatkan. "Anak pintar. Diam."...

...Bima melangkah ke arah adiknya, tapi salah satu anak buah langsung mengangkat senapan. Bima berhenti. Tangannya terbuka di udara, dan ia baru sadar telapaknya masih menggenggam gelang perak yang tadi ia temukan di gudang. Gelangnya tidak lepas meski ia sudah tenggelam....

...Dimas melihat benda itu. Matanya membesar sedikit....

...Bima tidak tahu harus berpikir apa. Tapi ia ingat sesuatu yang kecil dan tidak penting. Dimas selalu membuka gelang itu setiap kali bertengkar dengan Bima, lalu memakainya lagi diam-diam keesokan paginya. Ia tidak pernah melepaskannya kecuali kalau sedang marah sekali....

...Dan Dimas tidak akan meninggalkan gelang itu di gudang tanpa alasan....

...Bima menatap adiknya lagi. Dimas menatap balik, lalu pelan-pelan, sangat pelan, ia menggeser kakinya ke arah sisi kapal yang menghadap dermaga....

...Seolah ada yang ingin ia tunjukkan....

... ...

...Dari arah dermaga, suara mesin mobil terdengar lagi. Lalu suara pintu. Lalu langkah cepat di atas papan kayu, dua pasang sepatu, dan di tengah-tengahnya satu suara yang tidak terburu-buru sama sekali....

..."Berhenti di situ," kata perempuan itu....

...Bima tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang bicara. Laki-laki berkaus hitam menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak tadi ia tampak tidak nyaman....

...Perempuan itu berdiri di ujung dermaga, dengan Rico di sisi kirinya dan Om Gio di belakangnya. Om Gio masih memegang gelas kopi, dan ia tersenyum seperti sedang menonton pertandingan yang hasilnya sudah ia tebak....

..."Kamu tidak perlu sampai begini, Nona," katanya. "Kita bisa bicara soal harga."...

..."Harga anak kecil?"...

..."Harga buku."...

..."Buku itu sudah kamu ambil tiga hari lalu."...

..."Tiga buku. Bukan semuanya."...

...Perempuan itu melangkah ke tepi dermaga. Air di bawahnya bergerak pelan, memantulkan lampu merah dari buritan kapal. Ia tidak melirik Bima, tidak melirik Dimas, tidak melirik siapa pun selain laki-laki berkaus hitam....

..."Lepaskan adiknya," katanya....

..."Kamu yang lepaskan kapal ini dulu."...

..."Aku tidak lepas apa pun sebelum dia lepas."...

...Laki-laki berkaus hitam menatap Bima, lalu ke perempuan itu, lalu ke Om Gio. Bima melihat keringat mengalir dari pelipisnya meski udara sangat dingin....

..."Dia cuma tukang sate," kata laki-laki itu. "Kenapa kamu sampai segininya?"...

..."Karena dia anaknya Hadi."...

..."Hadi sudah mati."...

..."Iya. Dan kamu tahu siapa yang membunuhnya."...

...Laki-laki itu terdiam. Di belakangnya, salah satu anak buah mengalihkan pandangan ke Om Gio, seperti mencari persetujuan....

...Om Gio menyeruput kopinya perlahan. "Jangan lihat aku. Aku cuma pengantar."...

..."Kamu yang kasih tahu jadwal kapal ke mereka," kata perempuan itu....

..."Aku kasih tahu jadwal ke semua orang yang bayar."...

...Bima tidak mengerti semua ini, tapi ia mengerti satu hal: orang tua itu tidak takut....

... ...

...Dimas tiba-tiba bergerak. Ia menjatuhkan bahunya ke sisi, menabrak kaki anak buah yang berdiri di dekatnya. Anak buah itu terhuyung, dan senapannya bergeser sedikit ke arah geladak....

...Bima tidak berpikir lagi....

...Ia menerjang ke depan, menabrak laki-laki berkaus hitam dari samping. Tangan kirinya meledak oleh rasa sakit yang putih, tapi ia menggunakan tangan kanannya untuk menarik kerah orang itu, dan mereka berdua jatuh bersamaan ke lantai geladak. Kepala Bima membentur pelat besi. Dunia berputar....

...Tembakan pecah di atas mereka. Peluru menghantam dinding ruang kemudi dengan bunyi seperti palu....

..."Dimas, lompat!" teriak Bima....

...Dimas sudah berdiri. Ia tidak lompat ke laut. Ia berlari ke arah tangga kecil yang menuju dermaga, dengan tangan masih terikat. Bima melihat sepatunya tergelincir di tangga, dan adiknya hampir jatuh....

...Di ujung dermaga, perempuan itu menembak. Hanya sekali. Anak buah yang tadi memegang senapan jatuh ke belakang sambil memegang bahu....

...Rico sudah bergerak ke samping kapal, memegang tali tambat yang masih tergantung. Ia menariknya dengan satu tangan, dan kapal itu berhenti miring sejenak, seperti kehilangan napas....

...Laki-laki berkaus hitam bangkit dengan wajah merah. Ia menarik pistol dari pinggang dan mengarahkannya ke Bima....

...Bima tidak bisa bergerak. Lengannya tidak mau menuruti, kepalanya masih berdenging, dan ia hanya bisa menatap lubang kecil di ujung laras itu....

...Lalu terdengar suara kecil di belakang laki-laki itu. Sebuah kaleng penuh es yang diletakkan di tepi geladak jatuh terguling, dan semua orang menoleh sepersekian detik....

...Bima mengambil kesempatan itu. Ia menendang kaki laki-laki berkaus hitam sekuat yang ia bisa....

...Pistol menyalak. Peluru melewati kepala Bima dan menghantam tiang....

... ...

...Setelah itu semuanya bergerak terlalu cepat untuk diingat dengan urut....

...Dimas sudah sampai di dermaga dan berlari ke arah Om Gio, lalu berhenti karena perempuan itu berdiri di depannya. Dimas menabrak lengan perempuan itu dan menangis begitu saja, seperti anak kecil, tapi perempuan itu tidak mendorongnya pergi....

...Kapal bergerak lagi. Tali tambat yang ditarik Rico tadi putus, dan kapal terdorong mundur ke tengah laut....

...Bima melihat jarak dermaga semakin jauh. Ia berlari ke sisi kapal dan melihat air hitam di bawahnya, lalu ke dermaga, dan lagi ke perempuan yang berdiri di sana, tidak melihat ke arahnya....

...Ia tidak tahu apakah perempuan itu sengaja tidak menoleh....

...Lalu sesuatu menghantam punggungnya....

...Bima terdorong ke pagar. Pagar itu patah. Ia jatuh ke air untuk kedua kalinya....

...Kali ini dingin itu lebih tajam. Ia membuka mulut untuk berteriak, tapi yang keluar hanya gelembung. Di atas kepala, lampu merah buritan berkedip, dan ia melihat bayangan tubuh besar melompat ke air di dekatnya. Seseorang menarik kerah jaketnya....

..."Diam! Jangan melawan!"...

...Suara perempuan itu. Tidak keras. Tapi tegas....

...Bima tidak melawan. Ia membiarkan tubuhnya ditarik ke atas, ke tangga tali yang diikatkan di dermaga. Begitu kepalanya keluar dari air, ia terbatuk sampai muntah. Rico sudah berada di sampingnya, menarik lengannya dengan kasar....

..."Kamu bodoh," kata Rico....

..."Saya tahu."...

..."Kamu hampir mati dua kali hari ini."...

..."Saya tahu."...

...Bima mengangkat kepala. Kapal kecil itu sudah jauh di tengah laut, lampu merah buritannya mengecil. Di dek depan, ada sosok laki-laki berkaus hitam yang berdiri di pagar, menatap dermaga. Dan di dekat kemudi, seorang laki-laki tua berambut putih berdiri di balik kaca, tidak bergerak....

...Bima menyipitkan mata. Di kaca itu, ia melihat wajahnya sendiri, basah dan pucat, dan ia melihat laki-laki di balik kaca memandangnya balik, lama, seperti sedang mengenali sesuatu....

...Laki-laki itu mengangkat tangan dan menyentuh kaca, tepat di tempat wajah Bima tercermin....

...Lalu ia berbalik dan masuk ke dalam ruang kemudi....

...Bima berdiri dengan kaki gemetar. Ia menatap ke laut, dan dari kejauhan, di atas dek kapal yang menjauh, lampu sorot kecil menyala dan menyorot ke arah dermaga, tepat ke wajahnya....

...Di bawahnya, di sisi lambung yang dicat putih kusam, tulisan TIGA BELAS masih terlihat jelas....

...Dan di bawah tulisan itu, dalam huruf yang jauh lebih kecil, ada nama yang sudah ia kenal sejak kecil....

...*H. ARDHANA.*...

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!