Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34.Introgasi
Dion terduduk kaku di atas kursi kulit di dalam sebuah ruangan privat yang berada di lantai teratas gedung Danuartha Tower. Pria berusia 22 tahun itu mengepalkan jemarinya yang dingin dan bergetar di atas paha. Suasana ruangan berpendingin udara itu terasa begitu mencekam, hampa, dan dipenuhi aura intimidasi mutlak.
Di depan meja kerja bernuansa kayu gelap yang sangat megah, Arka Danuartha duduk bersandar dengan santai. Pria berusia 39 tahun itu mengenakan kemeja hitam yang lengan kancingnya digulung hingga siku, menampilkan lengan kokohnya yang berurat.
Arka tidak mengatakan apa-apa selama lima menit terakhir. Ia hanya menyesap kopi hitamnya lambat-lambat seraya menatap Dion dengan mata hitamnya yang tajam bagaikan elang membidik mangsa.
Di samping meja Arka, Raymond berdiri tegak dengan map tebal di tangannya.
"P-Pak Arka... saya salah apa?" cicit Dion akhirnya, tak mampu lagi menahan tekanan mental yang menghimpit dadanya.
"Kenapa anak buah Anda membawa saya ke sini secara paksa?"
Arka meletakkan cangkir kopinya ke tatakan porselen tanpa suara.
Pria dewasa itu menyilangkan jemari tangannya di atas meja, lalu menyunggingkan senyum miring yang terkesan sangat dingin dan beracun.
"Kamu tidak salah apa-apa, Dion," jawab Arka dengan suara rendahnya yang berat dan berbobot. "Kamu hanya terlalu polos dan bodoh karena mau dijadikan alat oleh Dania."
Deg!
Wajah Dion seketika memucat pasrah. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. Bagaimana bisa Arka tahu dalam waktu singkat tentang pertemuannya dengan Dania kemarin?
Raymond melangkah satu tindak ke depan, melayangkan seberkas foto-foto hasil rekaman intelijen ke atas meja di depan Dion.
Foto-foto itu memperlihatkan dengan sangat jelas momen ketika Dion menerima amplop cokelat tebal dari Dania di ruangan privat kafe kemarin malam.
"Dania memanfaatkamu, Dion," lanjut Arka dingin, matanya memancarkan ketajaman analisis bisnis dan hukum yang tak terbantahkan.
"Dia memanfaatkan perasaan masa lalumu pada Aira untuk memprovokasi rumah tanggaku. Apakah kamu pikir jika Aira hancur dan berpisah dariku, Dania akan membiarkanmu bahagia bersama Aira?"
Dion menatap foto-foto tersebut dengan mata terbelalak. Keberaniannya yang sempat tersulut oleh bujukan rayu Dania seketika hancur berkeping-keping menjadi rasa malu dan penyesalan yang mendalam.
"Aku bisa saja menghancurkan masa depanmu hari ini juga, Dion," desis Arka serak, aura dominasinya makin menekan hingga membuat Dion sulit bernapas.
"Aku bisa membuat ijazah sarjanamu tak berguna, menutup seluruh akses kerjamu di ibu kota, atau melaporkanmu atas tuduhan konspirasi kejahatan korporasi bersama Dania."
"Jangan, Pak! Tolong... saya mohon jangan!" seru Dion panik, memotong kalimat Arka seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Saya mengaku salah, Pak Arka! Saya memang buta karena iri dan penyesalan masa lalu... Dania yang menghubungi saya duluan dan mempengaruhi saya! Saya tidak tahu kalau masalahnya bakal sejelas ini!"
Arka menatap pemuda di depannya beberapa detik. Kecemburuan pria dewasa itu memang sempat tersulut, namun melihat betapa kerdil dan ketakutannya Dion sekarang, Arka tahu pemuda ini hanya pion kecil yang tidak tahu apa-apa.
"Aku akan memberimu satu kesempatan," tegas Arka tanpa kompromi. "Serahkan seluruh berkas dari Dania kepada Raymond. Putuskan seluruh kontak dengan Dania, dan angkat kaki dari Jakarta. Jangan pernah berani menampakkan wajahmu di depan Aira lagi walau hanya sejengkal. Paham?"
"P-paham, Pak Arka! Paham sekali! Terima kasih, Pak!" jawab Dion terbata-bata, siap melakukan apa saja asal terbebas dari ancaman sang penguasa Danuartha Group.
"Raymond, urus pemuda ini dan pastikan dia keluar dari kota ini malam ini juga," perintah Arka dingin seraya berdiri dari kursinya.
"Baik, Pak Arka."
Sore harinya di penthouse Arka.
Aira sedang sibuk merapikan beberapa camilan di atas meja ruang tengah ketika Arka baru saja melangkah masuk setelah kembali dari kantor.
Namun, keheningan rumah tiba-tiba pecah oleh suara langkah kaki mungil yang berlari kencang dari arah lorong kamar mandi.
"Papaaa! Tolongin Elano! Ada naga terbang di kamar mandi!" jerit Elano melengking.
Bocah lima tahun itu berlari hanya mengenakan celana dalam bergambar dinosaurus dan handuk kecil yang dililitkan asal-asalan di lehernya bagaikan jubah pahlawan super.
Wajah gembulnya belepotan busa sabun mandi yang masih memutih di sekitar telinga dan dahinya.
Arka yang baru saja melangkah masuk dengan raut wajah tegasnya seketika terperanjat pelan.
Pria berusia 39 tahun itu refleks berlutut merentangkan tangan untuk menahan tubuh mungil putranya yang hampir menabrak meja.
"Elano! Kenapa lari-lari tanpa baju begini?" tegur Arka terkejut.
Bruk!
Elano malah langsung memeluk leher Arka erat-erat. Busa sabun yang menempel di pipi gembulnya seketika berpindah telak memoles kemeja hitam mahal yang dikenakan Arka.
"Ada naga terbang, Papa! Besar banget warna hitam!" aduh Elano panik seraya menunjuk-nunjuk arah kamar mandi dengan jarinya yang penuh busa.
Tidak lama kemudian, Bi Inah keluar dari kamar mandi dengan napas terengah-engah, memegang gagang sapu kecoa.
"Aduh, Den Elano... itu bukan naga! Itu cuma kecoa terbang!"
Aira tak sanggup lagi menahan tawa. Suara tawa renyahnya seketika memenuhi ruang tengah penthouse.
Ia menutup mulutnya melihat pemandangan ajaib di depannya: seorang presiden direktur berkuasa berumur 39 tahun kini pasrah kemeja mahalnya ketempelan busa sabun mandi, sementara dipangkuannya ada seorang bocah kecil berpelukan ketakutan hanya karena seekor kecoa.
Arka menoleh menatap Aira, lalu menatap kemejanya yang basah dan berbusa. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala seraya mendesah pasrah, walau senyuman tipis tak dapat disembunyikan dari bibir tegapnya.
"Elano... kecoa itu cuma serangga kecil, bukan naga," sahut Arka seraya mengusap busa di pipi Elano dengan ujung tangannya.
"Tapi naganya terbang ke muka Elano! Elano kan takut dimakan!" tolak Elano tak mau kalah, memanyunkan bibirnya dengan gaya sok pemberani walau tangannya masih mencengkeram kemeja Arka erat-erat. "Papa kan jagoan, Papa buruan tembak naganya!"
"Iya, iya... Nanti Papa minta Pak Pengawal yang tembak kecoanya," kekeh Arka rendah, lalu menoleh pada Aira dengan tatapan minta tolong yang sangat menggemaskan.
"Sayang... tolong bantu urus anakmu ini. Baju Mas sudah basah kuyup kena busa."
Aira mendekat seraya memegang perutnya yang agak sakit karena terlalu banyak tertawa. Gadis muda itu berlutut di samping Arka, mengusap busa sabun di dahi Elano. "Ayo anak jagoan Mama Aira, kita mandi lagi sama Mama biar naganya kabur. Nanti kalau sudah bersih, Mama kasih es krim cokelat."
Mendengar kata 'es krim cokelat', mata bulat Elano seketika berbinar-binar. Bocah itu melepaskan dekapannya dari leher Arka tanpa keraguan sedikit pun. "Asyik! Es krim! Ayo Mama Aira cepat!"
Elano langsung menarik-narik tangan Aira menuju kamar mandi, sama sekali mengabaikan Papanya yang baru saja ia jadikan tameng perlindungan.
Arka berdiri seraya melihat kemeja hitamnya yang penuh bercak busa putih. Pria itu terkekeh pelan, rasa lelah dan ketegangan urusan pekerjaan serta intrik Dania seketika sirna begitu saja terbalikkan oleh kehangatan konyol keluarga kecilnya ini.
Malam harinya, setelah Elano tertidur lelap di kamarnya setelah puas memakan es krim dan dipukpuk oleh Aira, suasana penthouse kembali tenang dan romantis.
Malam itu, bulan penuh terpancar terang di atas langit malam Jakarta. Angin malam meniup lembut tirai transparan balkon utama penthouse.
Aira berdiri di dekat pagar pembatas balkon, menikmati pemandangan gemerlap lampu kota yang membentang indah di bawah sana. Gadis itu mengenakan gaun tidur satin berwarna merah muda lembut yang melapisi tubuh moleknya dengan sangat anggun.
Perlahan, sepasang lengan kekar melingkar hangat di pinggangnya dari arah belakang. Arka membenamkan wajah tegapnya di ceruk leher Aira, menghirup aroma wangi melati yang selalu berhasil membuat dadanya berdesir hangat.
"Mas Arka... sudah mandi?" bisik Aira halus seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Arka yang dilapisi kaos santai berwarna abu-abu.
"Sudah, Sayang," gumam Arka serak di dekat telinga Aira. Bibirnya mendaratkan kecupan-kecupan halus di sepanjang garis leher Aira, membuat gadis itu meremang pelan.
"Urusan Dion sudah Mas selesaikan sore tadi."
Aira menoleh sedikit, menatap wajah tampan suaminya dari samping.
"Mas Arka nggak apa-apakan Dion, kan?"
Arka menyunggingkan senyum tipis, membalikkan tubuh Aira di dalam dekapannya hingga mereka saling berhadapan.
Jemari besar Arka merengkuh pinggang Aira rapat, sementara tangan satunya mengusap lembut helai rambut panjang istrinya.
"Mas hanya memberinya pelajaran dan memintanya pergi dari Jakarta," jawab Arka tulus dan jujur.
"Dia sudah menyerahkan semua berkas yang diberikan Dania pada kita. Pemuda itu hanya dimanfaatkan oleh Dania."
Aira menatap mata hitam Arka yang memancarkan pendar cinta, kejujuran, dan kehangatan yang melimpah. Aira berjinjit sedikit, menyentuh rahang tegas suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih ya, Mas... Terima kasih karena Mas Arka selalu percaya sama Aira dan selalu melindungi Aira," tutur Aira dengan suara yang jernih dan sarat akan keharuan.
Arka menggeleng pelan. Mata hitamnya menatap iris mata cokelat Aira dengan pendar posesif yang begitu pekat namun amat lembut.
"Jangan berterima kasih, Aira. Kamu adalah takdir terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk Mas dan Elano. Mas yang harus berterima kasih karena kamu sudah mau hadir dan melengkapi hidup Mas yang dulunya dingin ini."
Arka menundukkan kepalanya, mengikis habis jarak di antara mereka hingga bibir tegasnya menyatu dengan bibir lembut Aira.
Ciuman di bawah temaram sinar rembulan itu terasa begitu hangat, penuh kelembutan, dan sarat akan gelora cinta suami istri yang sah. Aira melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh Arka, membalas ciuman suaminya dengan kepasrahan penuh dan kasih sayang yang membara.
Arka mengangkat tubuh ramping Aira dengan mudah ke dalam dekapannya. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, pria berusia 39 tahun itu melangkah membawa istri tercintanya masuk ke dalam kamar utama, menutup pintu balkon rapat-rahat untuk kembali menyatukan kerinduan dan keintiman jiwa raga mereka di sepanjang malam yang indah itu.
_Bersambung