Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Mujahid Al Fattih

Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.

Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.

Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!

Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!

Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!

Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Hampir Aja...!

Cekrek!

^^^>Ilustrasi dari AI.^^^

Alamaaak! IMUT KALIIIII...! Gak nyangka aku! Makasih banyak, Author!

"Wih! Fotonya bagus!" seru salah satu pelanggan yang melihat hasil foto setelah diedit dan dicetak. Senyumannya terlihat cerah.

"Benar! Kita semua keliatan imut!" balas yang satunya dengan gembira. Pipinya jelas tampak mengembang.

Mereka tiba-tiba menghadap ke arah Moiro bersamaan, dn membuatnya tersentak halus.

Kedua pelanggan tadi sedikit membungkuk padanya lalu kembali tegak.

"Terima kasih banyak!" ucap keduanya bersamaan sambil tersenyum manis.

Moiro sedikit menunduk, lalu mengangguk pelan dengan bibir mengerucut karena malu.

Setelah dua pelanggan itu pulang, Sarasara menghampirinya.

Kepala Moiro kemudian diusap pelan olehnya, lalu berkata lembut, "Kerja bagus, Dik Moiro~"

Moiro tak menghiraukan usapan di kepalanya, dan hanya berbisik pelan, "Ternyata benar..."

Sarasara bingung, sontak menghentikan usapan lembutnya saat menatapnya.

"Aku gak terbiasa sama beginian...!" lanjut Moiro sedikit lebih cepat. Matanya berputar karena pusing dan malu, seperti obat nyamuk.

Melihat Moiro yang seperti itu, Sarasara menahan tawanya dan memutuskan untuk menenangkannya. Bukan dengan pelukan, melainkan memberitahukan hal yang setidaknya bisa membuatnya lebih tenang.

Pundak Moiro dipegang lembut olehnya—Moiro menoleh cepat—lalu Sarasara berkata sambil tersenyum, "Dik Moiro~ Kalau kamu kelelahan, kamu boleh pulang sekarang kok. Lagipula, dua hari lagi natal, dan kalau kamu bicara baik-baik dengan Bos, pasti dibolehin."

Moiro tak langsung membalas. Ia hanya menoleh ke depan sedikit menunduk, merenungkan sejenak sesuatu dalam pikirannya.

"T-Tidak apa-apa..." balas Moiro pelan kemudian. Senyuman tipis terlihat samar di wajahnya yang masih memerah. Ia tak menoleh pada Sarasara, tapi ucapannya tulus padanya.

"Aku," lanjutnya sambil mengangkat wajah, lalu menoleh pada Sarasara sambil terus tersenyum, "akan tetap bekerja selagi aku bisa. Lagipula, Bos bilang kalau besok kafe diliburkan, jadi aku harus bekerja hari ini agar tak membuang kesempatan."

Mendengar itu, Sarasara tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengelus kepala Moiro.

"Kalau memang itu maumu, jangan sampai memaksakan diri, oke~?" balas Sarasara yang kembali mengusap kepala Moiro sambil tersenyum lembut.

Moiro hanya diam saat kepalanya diusap lagi, masih merasa malu dan aneh dimanjakan seperti itu. Ia pun mengangguk pelan, lalu bersiap untuk kembali ke pekerjaannya.

.........

Setelah bekerja hampir seharian, sore itu waktu istirahat pun tiba. Dari semua maid yang mendapat ajakan berfoto dengan pelanggan, Moiro-lah yang paling banyak diajak mereka. Bahkan ia sendiri tidak menyangka akan seperti itu.

Aku juga mau foto bareng deh. Akwiakskm.

Saat berfoto, dirinya selalu panik dan merasa sangat malu karen takut identitasnya ketahuan. Belum lagi rasa cemas yang menghampiri saat ia kembali terpikirkan bagaimana kalau dirinya diketahui oleh teman sekelasnya nanti.

...---...

Di ruang istirahat, Moiro jatuh tersungkur di atas sofa—hampir tertidur karena kelelahan saat sendirian waktu itu.

Moiro menenggelamkan wajahnya di bantalan sofa dan bergumam tak jelas.

Wajahnya diangkat—tanpa mengubah posisi—lalu mengeluh pelan dengan wajah kesal, "Aeh...! Aku gak bisa denger suaraku."

Ya iya lah. Gimana sih?

Suara pintu yang terbuka tiba-tiba terdengar, dan itu membuat Moiro langsung menoleh ke sana dengan gerakan santai.

Dari sana, terlihat para seniornya masuk bersamaan setelah melakukan beberapa hal terkait kafe.

Genki yang melihat Moiro tersungkur di atas sofa seketika berlari menghampirinya. Wajahnya masih tampak berseri dan penuh semangat meski sudah bekerja hampir seharian.

Ia menjongkok, wajahnya yang tersenyum girang begitu dekat dengan Moiro, "Moiroo! Kerja bagus!"

"Ya... Kerja bagus," balas Moiro dengan malas. Ia merasa kelelahan pada jiwa dan raganya, salah satu alasannya karena selalu diajak berfoto.

Genki terkejut bingung, sedikit khawatir, "Loh, eh? Kamu keliatan lelah. Mau pulang duluan?"

Sarasara datang, ikut menghampiri. Dia duduk di sebelah Genki lalu berkata, "Yang Genki ucapkan benar, Dik Moiro~ Hari ini kamu pasti kelelahan."

Senyuman lembut terulas di wajahnya, berkilauan, "Mau dipeluk dulu sebelum pulang?"

"G-Gak dulu..." tolak Moiro dengan wajah suram, masih tidak enak jika diperlakukan seperti itu.

Kok gitu sama Mamih?!

Genki terkejut. Ia menatap Sarasara cepat setelah mendengar ucapannya.

Sigap, dia memeluk Moiro yang masih tersungkur lebih dulu sambil berseru, "Aku yang meluk dia lebih dulu!"

Moiro merasa tercekik karena dipeluk tiba-tiba dalam posisi tengkurap. Satu tangannya melakukan tapping out, tanda menyerah.

Mmps!

Sarasara jadi cemburu pada Genki yang memeluk lebih dulu, dan segera ingin melepaskan paksa pelukan Genki dari Moiro. Tapi, Genki makin bersikeras tak mau melepaskannya. Moiro makin tercekik karenanya.

Moiro jadi lemas seketika.

Keduanya langsung tersadar kalau Moiro tidak memberontak dan sontak menatap ke arahnya.

Keduanya terkejut dan panik karena melihat Moiro pingsan dengan wajah yang mulai pucat dan membiru.

"Dik Moiro... Kamu kenapa?" seru Sarasara cemas. Wajahnya terlihat khawatir disertai panik karena rasa bersalah.

Genki mengangkat tubuh Moiro hingga duduk, lalu mendorong-dorong bahunya dengan panik sampai kepalanya terombang-ambing, "Moirooo! Apa ini salahku? Jangan pergi duluu...!"

"Genki, jangan bilang begitu. Saya jadi panik..."

Mereka mencoba membangunkan Moiro dengan berbagai cara, tapi tidak berhasil.

Moiro masih pingsan.

"B-Bagaimana ini...?!" seru Genki makin panik. Kepalanya ikut membiru karena takut dan cemas.

Hikari tiba-tiba menyahut sambil berjalan dengan tangan terlipat di depan dada, "Kalian ini, terlalu panikan."

Padahal dia sendiri yang biasanya panikan.

Hikari sedikit membungkuk—dua tangannya bertumpu di lutut—menatap pada Moiro yang masih tak bergerak dalam posisi telentang, kemudian menyimpulkan cepat sambil memejamkan mata enggan, "Ini tidak parah. Dia hanya pingsan setelah tercekik oleh kalia..."

Matanya terbuka cepat, tersadar, "Eh...?"

Para maid yang lain bingung melihat ekspresi Hikari yang berubah tiba-tiba.

"T-Tercekik...?" bisik Hikari pelan, lalu menegakkan tubuhnya. Matanya kembali melirik Moiro dengan cepat, mendapati wajahnya masih membiru dan makin pucat.

Hikari jadi panik seketika dengan mata membelalak sempurna, "Tercekik?! Itu berarti...! Eh—?!"

Nah kan, panik sendiri.

"Ada apa...?" tanya Sarasara khawatir. Di sampingnya, Genki juga tak kalah cemas.

"S-Sepertinya..." Hikari menatap mereka lalu berseru histeris, "Moiro gak bisa napas!"

"Apa?!"

Semua maid terkejut.

Eh?! Yang bener aja?!

"Apa yang harus kita lakukan?!" tanya Genki yang makin panik, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Hikari menundukkan kepalanya rendah, suaranya dan tubuhnya bergetar, "Salah satu cara adalah memberikan napas buatan..."

"Napas buatan?!" seru Genki terkejut, sontak menoleh padanya.

Sarasara dan Shizuka menutup mulut mereka begitu mendengar itu.

Shizuka mengepalkan tangannya cemas, "Si... Siapa yang akan melakukannya...?"

"Saya akan melakukannya."

Semuanya menoleh serentak.

Dari asal suara, Sora terlihat percaya diri mengangkat rendah tangannya dengan ekspresi wajah yang tetap datar.

"Sora?!"

Yang lain terkejut seketika.

"Kamu yakin?" tanya Sarasara pelan, terlihat khawatir, "Mungkin masih mencari cara lain..."

Sora berjalan mendekat ke arah Moiro sambil berkata datar dan tenang, "Ini mendesak."

Sora menjongkok, menatap Moiro yang masih membiru sudah berbaring telentang dengan mulut sedikit terbuka.

Perempuan dingin itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, ekspresinya tetap datar, lalu mulai mendekatkan wajahnya pada Moiro sambil memejamkan matanya. Bibir keduanya mulai berdekatan.

Maid yang lain terlihat gelisah dan malu melihatnya.

Hikari menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu, tapi matanya mengintip di sela-sela jari yang terbuka.

Dia berbisik nyaring, "Apa aku akan melihat mereka berciuman...?!"

Moiro membelalak dan langsung duduk cepat setelah tak sengaja mendengar ucapan itu. Kepala keduanya hampir bertabrakan keras, namun Sora sigap mengindar dengan gerakan yang efisien.

"AKU SUDAH BANGUN!" seru Moiro panik. Wajahnya mulai kembali normal, perlahan menghangat—meski terlihat panik saat itu. Napasnya tersengal karena baru sadar.

Sora yang melihat itu hanya diam sejenak, lalu menegakkan tubuhnya kembali.

"Syukurlah," ucap Sora pelan yang kemudian kembali berdiri setelah merapikan rambut putih lurusnya.

Maid yang lain terkejut, masih terdiam seribu bahasa. Perasaan mereka bercampur aduk dihantam kejadian yang terus berubah dengan cepat itu.

Sora duduk di atas sofa—tepat di sebelah Moiro, lalu berucap tanpa menoleh, "Hari ini kamu bekerja lebih lama. Apa tidak mengganggu?"

"T-Tidak kok," balas Moiro yang menoleh cepat padanya. pelipisnya basah oleh keringat dingin.

Ia kembali memalingkan wajahnya, lalu menutup mulutnya sendiri, "Hampir aja...! Untung aku sempet kembali sadar!"

...***...

Setelah kejadian itu, Moiro pulang di sore hari dengan perasaan yang gelisah. Ia masih terbayang dirinya yang hampir diberi napas buatan oleh seniornya.

Karena hal itu terus memenuhi pikirannya, ia sendiri sampai lupa kecemasan pada event foto di kafe maid, yang sebagian sudah diunggah di media sosial oleh pelanggan yang berfoto dengannya.

Dan di sebuah rumah, seseorang yang merupakan teman sekelas Moiro menemukan salah satu postingan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!