Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIA SULIT DI TEBAK!
30 MENIT SEBELUMNYA...
Kael, Darren, dan Dante berdiri cukup jauh dari kerumunan para tahanan. Ketiganya sama sekali tidak ikut dalam pemeriksaan.
Bukan karena mereka tidak diperintah, Melainkan karena tidak ada satu pun sipir yang cukup berani untuk memaksa mereka.
Kael berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana tahanannya. Tatapannya lurus ke depan, memperhatikan situasi tanpa menunjukkan sedikit pun ketertarikan.
Namun setelah beberapa saat, suaranya terdengar pelan.
“Jadi... kau sudah mengetahuinya?”
Darren yang berdiri di sampingnya hanya mengangguk.
“Dia dituduh membunuh sahabatnya,” jawab Darren sekenanya.
"Ibu tiri dan kakak tirinya adalah dalang di balik semua itu”
Kael tidak langsung menjawab.
“Family problem,” Dante tiba-tiba ikut nimbrung.
Darren meliriknya sekilas.
Dante memang seperti itu, Kalau berbicara, tidak pernah ada penyaring. Apa pun yang muncul di kepalanya, langsung keluar melalui mulutnya.
Kael tetap diam.
Tatapannya masih lurus ke depan, tetapi pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan.
Darren bukan orang sembarangan.
Di dalam kelompok mafia yang dipimpin Kael, pria itu bertugas mengumpulkan informasi. Ia mampu mendapatkan sesuatu yang bahkan orang lain tidak tahu kebenarannya.
Jika Darren mengatakan informasi itu benar, kemungkinan besar memang demikian. Dante menyandarkan tubuhnya dengan santai.
“Jadi sampai kapan masih mau main petak umpet?”
Kalimat itu jelas ditujukan kepada Kael.
Kael hanya meliriknya sekilas.
Tidak menjawab.
Dante mengangkat bahu.
“Yaaa... kalau dia tahu sendiri tanpa dikasih tahu...”
Ia berhenti sebentar, kemudian menyeringai.
“Emm... mampus.”
Plak!
Tangan Darren langsung mendarat di kepala Dante.
“Mulutmu...” Darren menghela napas, benar-benar kehabisan kata menghadapi tingkah rekannya.
Dante mengusap kepalanya.
“Isi otakku.” Jawabannya kesel di pukul oleh Darren.
Kael kembali menatap lurus ke depan.
Namun beberapa detik kemudian, tangannya mengepal kuat.
Rahangnya mengeras.
Bukan karena Dante.
Melainkan karena sesuatu yang baru saja terjadi di kejauhan.
Seorang sipir berjalan menuju ke arah Alesya, tatapan Kael langsung mengikuti. Dari kejauhan, ia memperhatikan bagaimana Alesya berbalik mengikuti perintah sipir tersebut.
Kael tidak bergerak.
Tidak memanggil.
Tidak melakukan apa pun.
Hanya matanya yang terus mengikuti perempuan itu.
Sampai akhirnya sosok Alesya menghilang dari pandangannya.
Darren memperhatikan perubahan kecil itu.
Ia kemudian melangkah sedikit mendekat.
“Aku bisa mengikuti nya jika anda mau"
Kael menggeleng.
“Tidak perlu.”
Darren terdiam.
Kael masih menatap tempat terakhir Alesya terlihat.
“Aku sendiri.”
Dua kata.
Singkat.
Tegas.
Darren tidak bertanya lagi.
Namun Dante justru menatap Kael dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
Kael mengabaikannya.
Entah kenapa, sejak beberapa menit terakhir, ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.
Perkataan Dante tadi.
Kalau dia tahu sendiri tanpa dikasih tahu... mampus.
Mungkin hanya kalimat bodoh.
Mungkin juga tidak.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kael merasa ingin memastikan sesuatu dengan matanya sendiri.
Ia ingin bertemu Alesya.
Ingin menatapnya dari dekat.
Ingin tahu apakah perempuan itu benar-benar seperti yang terlihat.
***
Kael berhenti di depan sebuah pintu besi tua, Pintu itu sudah tertutup rapat. Dari baliknya terdengar suara gaduh yang samar. Namun beberapa detik kemudian...
Langkah Kael terhenti. Matanya berubah seketika Amarah yang sejak tadi ia tahan perlahan naik ke permukaan.
Tanpa berpikir panjang, Kael mengangkat kakinya.
BRAK!
Tendangan keras menghantam pintu besi itu, Pintu yang sudah tua tersebut terlepas dari engselnya dan terhempas ke dalam.
Kael langsung menerobos masuk, Matanya bergerak cepat menyapu seluruh ruangan. Mencari satu orang.
Alesya.
Namun yang pertama kali menarik perhatiannya justru seorang sipir yang tergeletak di lantai. Bahunya tertusuk, darah mengalir membasahi seragamnya.
Di sisi lain, seorang sipir lain masih berdiri, Tangannya yang masih mengarahkannya kejut listrik ke arah alesya, langsung ia arahkan ke arah kael. Namun belum sempat menembakannya...
Klik!
kael menepis senjata tersebut hingga terlempar.
Dalam hitungan detik, tubuhnya sudah berada di depan sipir itu.
Pukulan pertama.
Kemudian kedua.
Ketiga.
Kael tidak berhenti.
Seolah seluruh amarah yang selama ini terkunci di dalam dirinya tumpah begitu saja. Sipir itu akhirnya terjatuh dan tewas seketika.
Kael berbalik.
Tatapannya jatuh kepada sipir yang terletak di lantai, Pria itu mencoba bergerak. Namun Kael yang sudah kehilangan kesabarannya. langsung menerjang nya, Otot-otot lengannya menegang, Rahangnya mengeras.
Tanpa sadar kedua sipir itu telah mati dengan mengenaskan.
Ia melangkah mendekat dengan tatapan yang begitu dingin hingga udara di ruangan terasa berubah. Beberapa saat kemudian, semuanya hening.
Dua tubuh manyat tergeletak di lantai dengan naas. Kael berdiri di tengah ruangan dengan napas berat. Baru setelah itu, matanya kembali menatap alesya.
Tatapan gadis itu terlihat lemah, Rapuh.
Berbeda dari Alesya yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan, Untuk beberapa detik, Kael hanya diam. Begitu pula Alesya, Seolah seluruh suara di sekitar mereka menghilang.
Kemudian Alesya berlari. Tanpa ragu, gadis itu langsung berhambur ke dalam pelukan Kael.
Tubuh Kael seketika menegang, Tangannya yang semula berada di sisi tubuh perlahan mengepal. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Namun wajahnya tetap datar.
Bahkan saat alesya mengerutu dirinya takut, Kael tidak menjawabnya. sampai akhirnya alesya mendonggak menatap nya. kael menuduk, menatap Wajah Alesya yang terlihat lebih dewasa daripada yang ia ingat.
Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Dan ternyata waktu benar-benar mengubah banyak hal. Kael menatapnya beberapa saat terlalu lama.
Kemudian tangannya bergerak sendiri, Perlahan, Jari-jarinya terangkat dan menyelipkan sehelai rambut Alesya yang jatuh ke sisi wajahnya ke belakang telinga. Gerakannya begitu lembut hingga bahkan Kael sendiri seperti tidak menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
Alesya terdiam.
Kael pun terdiam.
Kael tersadar, saat alesya mencubit perut nya.
Kemudian kembali kepada wajah gadis itu yang memelas
Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan tersebut, ketegangan di wajah Kael sedikit mengendur.
Sudut bibirnya terangkat tipis, Sebuah kekehan kecil lolos dari bibirnya. Alesya masih berada dalam pelukannya, Dan baru saat itulah Kael menyadari satu hal.
Ia sudah terlalu jauh.
jatuh terlalu dalam
Bukan karena ia datang ke tempat ini.
Bukan karena ia menghajar dua sipir.
Melainkan karena ketika Alesya berlari ke arahnya, tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya.
Dan ketika gadis itu berada dalam pelukannya...
Kael ternyata tidak ingin melepaskannya.
***
Alesya berjalan menyusuri koridor yang kosong. Langkahnya terdengar pelan di antara dinding-dinding beton yang dingin. Tidak jauh di belakangnya, Kael berjalan mengikuti.
Alesya sama sekali tidak melirik ke belakang. Bahkan sedikit pun tidak.
Sepertinya gadis itu sedang marah kepada pria tersebut karena sudah mempermainkannya sejak pertama kali dia masuk ke sini, Namun, Kael tidak mengatakan apa-apa.
Awalnya, Kael tidak berpikir Alesya akan bersikap seperti ini. Beberapa saat yang lalu, gadis itu bahkan masih mau memeluknya. Tapi sekarang, suasana hatinya berubah begitu saja.
Kael menghela napas kecil, Pikiran wanita memang sulit ditembus
“Alesya!”
Suara Reana terdengar dari depan.
Gadis itu tampak sedikit berlari menghampiri Alesya. Begitu sampai, Reana langsung memeluknya erat, seolah baru saja memastikan sahabatnya benar-benar masih baik-baik saja.
“Kamu baik-baik aja, kan? Ada yang luka? Aku khawatir banget.”
Alesya hanya tersenyum tipis.
“Aku baik-baik aja.”
“Benarkah?” Reana memeriksa tubuh Alesya sekilas
“Terus... siapa yang menyelamatkanmu?”
Alesya tidak langsung menjawab,Ia hanya menggerakkan matanya ke arah belakang. Reana mengikuti arah pandangan itu, Dan seketika ekspresinya berubah.
“Kael...” gumam reana lirih
Pria itu masih berdiri beberapa meter di belakang mereka.
Wajahnya datar. Tidak ada ekspresi yang terlihat dari raut wajahnya,Kael hanya menatap mereka sesaat.
“Aku pergi.”
Suaranya dingin.
Kael kemudian berbalik dan mulai berjalan meninggalkan mereka. Alesya yang mendengarnya langsung mendengus pelan.
“Aku juga tidak butuh bantuanmu!”
Kael tetap berjalan, mengabaikan teriakan Alesya
“Aku tidak mengenalmu!”
lanjut Alesya, suaranya menggema di sepanjang koridor.
Sudut bibir kael perlahan terangkat membentuk sebuah senyuman kecil, Senyuman yang hampir tidak terlihat.
Namun hanya bertahan beberapa detik sebelum kembali menghilang dari wajahnya, hingga sosoknya hilang dari pandangan.
Reana masih menatap ke arah Kael pergi.
Kemudian ia perlahan menoleh kepada Alesya.
“Kamu kenal dia?”
Alesya menghela napas, Mereka kembali berjalan menuju tempat makan.
“Dia temanku waktu aku masih kecil.”
Reana langsung menoleh.
“Teman?”
“Iya.” Alesya terdiam sebentar.
“Awalnya aku sudah menduga saat pertama kali bertemu dengannya, Tapi dia terus mengelak.”
“Benarkah?” Reana masih terlihat tidak percaya.
Alesya hanya mengangguk kecil.
“Sebuah kebetulan yang tidak berdasar"
Reana terdiam, Ia masih mencoba mencerna semuanya. Lima tahun berpisah. Dan sekarang mereka justru dipertemukan kembali di tempat seperti ini.
ADX Florence.
Tempat yang seharusnya tidak mempertemukan siapa pun dengan masa lalunya.
Namun, bagi Alesya...
Masa lalu itu baru saja berjalan melewatinya dalam wujud seorang pria bernama Kael.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di tempat makan.
Suara para narapidana yang sedang berbicara langsung memenuhi ruangan.
Alesya dan Reana masuk bersama, sementara di kejauhan...
Seseorang masih memperhatikan mereka dari balik lorong.
Kael.
***