Indonesia
NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Ketenangan yang diimpikan Alesia Fiore ternyata hanyalah ilusi sesaat. Siang itu, Kepala Divisi Pemasaran kembali dari lantai teratas dengan wajah yang sulit diartikan. Beliau langsung menghampiri kubikel Alesia dan meletakkan sebuah map tebal berwarna emas dengan logo timbul Aetheris Games.

"Fiore, Pak Dante baru saja menunjuk divisi kita untuk memegang proyek eksklusif peluncuran game rahasia terbaru perusahaan," ujar Kepala Divisi dengan nada serius.

"Dan beliau secara spesifik meminta kamu untuk menjadi penanggung jawab utama. Artinya, semua dokumen, revisi, dan laporan perkembangan harian harus kamu antarkan langsung ke mejanya setiap hari."

Alesia rasanya ingin pingsan saat itu juga. Baru saja ia merasa bebas dari hukuman satu persen, kini ia justru dijerat oleh proyek baru yang lebih menyiksa.

Benar saja, sejak hari itu, hari-hari Alesia berubah menjadi olahraga fisik dan mental yang luar biasa melelahkan. Ia harus bolak-balik naik-turun dari lantai 35 ke lantai teratas hingga berkali-kali dalam sehari.

Hal yang paling membuat Alesia naik darah adalah tugas-tugas dari Dante yang sering kali sama sekali tidak masuk akal.

"Nona Fiore, margin pada laporan ini kurang melebar dua milimeter. Tolong perbaiki dan bawa ke atas lagi dalam sepuluh menit."

"Nona Fiore, warna grafik analisis ini terlalu mencolok. Saya lebih suka gradasi biru laut yang menenangkan. Tolong ganti."

"Nona Fiore, saya butuh kopi. Tolong buatkan es kopi dengan takaran susu persis seperti yang kamu minum di depan toserba malam itu."

Hingga pada suatu sore, setelah dipanggil untuk kelima kalinya hanya karena masalah dokumen yang tidak sengaja terlipat sedikit di ujungnya, benteng kesabaran Alesia akhirnya runtuh total. Ia sudah benar-benar muak.

Di dalam ruangan kerja Dante yang luas, Alesia berdiri di depan meja marmer hitam dengan napas yang memburu karena kesal.

Di sana ada Dante yang duduk dengan wajah tanpa dosa, serta Rey yang berdiri di sudut ruangan sambil memegang berkas.

Alih-alih berbicara langsung kepada Dante yang ia tahu hanya akan membalasnya dengan kalimat dingin Alesia justru membalikkan tubuhnya menghadap Rey.

Ia sengaja mengeraskan suaranya agar sang CEO singa mendengar setiap kata yang keluar dari bibirnya.

"Pak Rey!" panggil Alesia dengan nada kesal yang tidak lagi disembunyikan.

"Tolong sampaikan ke Pak Dante, sebenarnya apa sih yang dia mau dari saya? Dan tolong sampaikan juga ke beliau... jangan ganggu saya lagi kalau memang tidak ada urusan yang benar-benar penting! Waktu saya habis cuma buat naik-turun lift!"

Rey yang mendengarnya langsung tertegun, matanya melebar sebelum akhirnya bibirnya menahan tawa yang luar biasa geli.

"Baik, nanti saya sampaikan pesan Nona Alesia kepada Anda, Pak Dante," ucap Rey sambil tersenyum geli.

Tanpa menunggu respons dari sang bos, Alesia langsung berbalik menghadap Dante, memberikan penghormatan membungkuk sekilas dengan kaku, lalu berbalik dan melangkah lebar-lebar keluar dari ruangan dengan menghentakkan kakinya kesal.

Setelah pintu kaca buram tertutup rapat, Rey tidak bisa menahan tawa renyahnya lagi. Ia menoleh ke arah Dante yang masih duduk di kursinya.

Rey mengira Dante akan murka atau setidaknya tersinggung karena diprotes secara tidak langsung oleh karyawan tingkat bawah.

Namun, saat Rey memperhatikan wajah bosnya, ia justru terkejut. Bukannya marah atau mengeluarkan aura hitam yang menakutkan, Dante Luca Alessio justru sedang menopang dagunya dengan satu tangan, menatap ke arah pintu luar dengan tatapan mata yang melembut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

Bagi Dante, ekspresi kesal Alesia dengan pipi yang menggembung menahan amarah dan matanya yang bulat berapi-api tadi justru terlihat sangat imut dan menggemaskan.

Keberanian gadis itu untuk memprotesnya secara terbuka alih-alih ketakutan seperti karyawan lain membuat ketertarikan di dada Dante semakin tidak bisa dikendalikan.

"Dia punya banyak energi untuk marah-marah," gumam Dante pelan, hampir tak terdengar. "Artinya fisiknya sudah membaik."

...----------------...

Sore harinya, tepat pukul 17.00. Di lantai 35, pemandangan langka terjadi di kubikel pemasaran. Alesia Fiore tampak sudah rapi menyampirkan tas kerjanya ke bahu dan mematikan komputernya tepat waktu.

Hana dan Min-ji yang melihat hal itu langsung menghentikan aktivitas mereka dan menatap Alesia dengan pandangan bingung sekaligus heran.

"Loh, Fiore? Tumben sekali kamu sudah siap-siap pulang? Biasanya jam segini kamu baru memesan kopi cup keempat untuk persiapan lembur sampai malam," tanya Hana dengan alis bertautan.

Min-ji ikut mencondongkan badannya dari kubikel sebelah.

"Iya, Al. Kamu tidak salah lihat jam, kan? Proyek eksklusif dari Pak Dante itu bagaimana?"

Alesia mengibaskan tangannya di udara sambil mengembuskan napas panjang, mengingat keputusannya untuk mematuhi larangan lembur dari Dante semalam dan juga aksi protesnya tadi siang.

"Pak Singa itu melarangku lembur mulai hari ini. Dan lagipula, aku butuh waras! Jadi, karena malam ini aku bebas..."

Alesia menjeda kalimatnya, lalu menatap kedua sahabatnya dengan binar mata ceria yang sudah lama hilang.

"Bagaimana kalau kita bertiga makan malam bersama? Aku yang traktir sebagai perayaan target satu persen kita yang tembus!"

Mendengar kata 'makan malam bersama' dan 'traktir', wajah Hana dan Min-ji langsung berubah cerah. Mereka berdua kompak bersorak gembira.

"Wah, serius nih?! Asyik! Sudah lama sekali kita tidak makan malam bertiga di luar!" seru Min-ji heboh, langsung menyambar tasnya dari atas meja.

"Ayo cepat kita pergi sebelum Pak Dante mendadak berubah pikiran dan memanggilmu ke atas lagi, Al!" desak Hana bersemangat.

Mereka bertiga berjalan beriringan menuju lift dengan tawa yang mulai terdengar renyah. Alesia merasa sangat lega karena akhirnya bisa menikmati malam yang normal bersama sahabat-sahabatnya, tanpa tahu bahwa di luar sana, rencana Dante untuk "menuntut cara pelunasan utang yang lain" sudah mulai berjalan di balik layar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!