Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Menyusup di Siang Bolong
Pukul sebelas siang, Raka dan Bara memasuki area teknis bawah tanah Andratama Tower mengenakan seragam kontraktor pendingin gedung, identitas darurat yang disiapkan Wulan semalam. Berbeda dari operasi malam yang biasa mereka lakukan, siang bolong membawa risiko tersendiri — lebih banyak orang, lebih sedikit bayangan untuk bersembunyi.
"Zona teknis relatif sepi jam segini," lapor Wulan lewat earpiece dari van yang terparkir tak jauh dari gedung, Cinta duduk tegang di kursi sebelahnya. "Tapi aku melihat penambahan personel keamanan di beberapa titik yang biasanya kosong. Sepertinya mereka memang meningkatkan kewaspadaan."
"Wirawan mengantisipasi kita," gumam Raka, tidak terkejut. "Dia bukan orang yang meremehkan kemungkinan, bahkan setelah bertahun-tahun jauh dari lapangan."
Mereka bergerak melewati lorong utilitas menuju tangga darurat yang menghubungkan langsung ke lantai-lantai atas — jalur yang seharusnya jarang diawasi karena hanya digunakan untuk keadaan darurat, bukan akses rutin.
Tapi begitu mereka membuka pintu tangga darurat di lantai lima, dua pria berseragam keamanan berdiri menghadang, tangan sudah bergerak ke arah senjata di pinggang mereka — bukan penjagaan rutin, tapi penempatan khusus yang jelas menunggu kedatangan mereka.
"Mereka tahu jalur ini," bisik Bara, sudah bersiap.
Tidak ada waktu untuk berbicara. Raka bergerak lebih dulu, melumpuhkan pria pertama dengan cepat sebelum sempat mengeluarkan suara, sementara Bara menangani yang kedua dengan gerakan yang sama efisiennya — pertarungan senyap yang selesai dalam hitungan detik, jauh dari mata siapa pun di lorong utama gedung.
"Dua penjaga di lantai lima berhasil dilumpuhkan," lapor Raka singkat lewat earpiece, menyeret tubuh kedua pria itu ke ruang penyimpanan terdekat. "Tapi ini konfirmasi — mereka memang menunggu kami."
"Hati-hati," balas Wulan tegang. "Kalau mereka menempatkan penjagaan di jalur darurat, kemungkinan ada lebih banyak titik yang sudah diperkuat dari yang aku petakan sebelumnya."
Mereka melanjutkan pendakian lebih hati-hati, memeriksa setiap lantai sebelum melangkah lebih jauh. Di lantai dua puluh, mereka menemukan satu lagi penjaga tambahan — kali ini berhasil dilumpuhkan tanpa insiden berarti, meski waktu yang terbuang membuat Raka semakin gelisah menghitung jam yang tersisa sebelum pertemuan dimulai.
Di lobi utama gedung, jauh dari kekacauan tersembunyi yang terjadi di tangga darurat, Handoko dan Ridwan melangkah keluar dari mobil, disambut oleh asisten pribadi Setiawan yang mengantar mereka menuju lift eksekutif.
"Bapak Ridwan Ananta," sambut asisten itu formal, meski matanya sedikit menyipit menilai kehadiran tak terduga itu. "Kami tidak menerima informasi soal kehadiran penasihat tambahan untuk pertemuan hari ini."
"Setiap pihak berhak membawa penasihat hukum independen dalam transaksi bisnis sebesar ini," jawab Ridwan tenang, nadanya tegas seperti seorang perwira yang tak pernah terbiasa mundur dari haknya yang sah. "Saya yakin Kolonel Setiawan akan memahami hal itu."
Asisten itu ragu sejenak, sebelum akhirnya mempersilakan mereka masuk lift, tak punya alasan sah untuk menolak permintaan yang sepenuhnya berada dalam koridor hukum.
Di dalam lift yang bergerak naik perlahan menuju lantai dua puluh delapan, Handoko menatap Ridwan dengan campuran gugup dan tekad yang baru. "Apa yang harus saya lakukan begitu kita di dalam, Pak?"
"Ikuti alur percakapan seperti biasa," jawab Ridwan tenang. "Tapi kalau ada kesempatan, tanyakan langsung soal detail klausul di halaman empat puluh tujuh — pertanyaan wajar dari pihak yang berhati-hati sebelum menandatangani kontrak sebesar ini. Biarkan mereka yang menjelaskan sendiri, dan biarkan rekaman kita menangkap setiap kata yang mereka ucapkan."
Handoko mengangguk, tangannya sedikit bergetar menyentuh kancing jasnya sendiri, merasakan berat tanggung jawab dari perangkat kecil yang tersembunyi di sana — bukan hanya menyelamatkan bisnisnya, tapi mungkin, menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan terlibat di dalamnya.
Pintu lift terbuka di lantai dua puluh delapan, menampilkan lorong elegan menuju ruang rapat pribadi yang sudah menunggu di ujungnya — pintu kayu besar berukir, dijaga dua pria berjas hitam yang menatap mereka dengan kewaspadaan penuh.
Di lorong tangga darurat yang sama, hanya beberapa lantai di bawah, Raka dan Bara terus bergerak naik, mendengar lewat earpiece bahwa Handoko dan Ridwan baru saja tiba di depan pintu ruang rapat — detik-detik terakhir sebelum semua rencana yang mereka susun berhari-hari, akhirnya diuji secara langsung.
"Kita hampir sampai," bisik Bara, memeriksa jam tangannya. "Tapi kita masih empat lantai dari posisi target."
Raka menatap ke atas tangga yang masih panjang, merasakan detak jantungnya sendiri berpacu bukan karena kelelahan fisik, tapi karena kesadaran bahwa untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, mereka mungkin tidak akan tiba tepat waktu untuk melindungi orang-orang yang mereka coba lindungi.