Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Suasana ruang keluarga kediaman Halvar terasa sedikit berbeda sore itu.
Danendra berdiri di tengah ruangan dengan satu tangan memegang tongkat kayu. Sesekali, ia memukulkan tongkat tersebut pelan ke telapak tangannya sambil berjalan mondar-mandir di depan ketiga anak bungsunya.
Leonard dan Lionel berdiri bersebelahan dengan wajah yang terlihat sedikit tegang.
Sementara Elara justru terlihat santai. Gadis itu hanya berdiri diam tanpa menunjukkan sedikit pun rasa takut.
Danendra akhirnya berhenti melangkah.
“Sekarang jelaskan pada Papa,” ucapnya dengan nada tenang, tetapi justru terdengar lebih mengintimidasi. “Kenapa kalian bolos lagi?”
Leonard langsung melirik Lionel.
Lionel yang merasa diperhatikan buru-buru mengalihkan pandangan.
“Kenapa lihat aku?” bisiknya.
“Kamu yang punya ide,” balas Leonard pelan.
“Tapi kamu ikut.”
“Aku ikut karena terpaksa.”
“Bohong.”
Keduanya kembali saling pandang, seolah sedang menunggu siapa yang akan lebih dulu mengaku.
Elara yang berdiri di tengah-tengah mereka akhirnya menghela napas pelan.
“Sudah.”
Suara gadis itu membuat Leonard dan Lionel langsung diam.
Elara kemudian melangkah sedikit ke depan.
“Kita ke rumah sakit, Pa.”
Danendra mengangkat alis. “Rumah sakit?”
“Iya.” Elara menatap ayah angkatnya dengan tenang. “Kak Lucas ada masalah di sana.”
Livia yang sejak tadi memperhatikan mereka langsung ikut bertanya.
“Lucas?”
Elara mengangguk.
“Iya. Kalau tidak percaya, Papa dan Mama bisa tanya Kak Lucas atau Kak Faresta. Kak Faresta juga sudah tahu masalah ini.”
Danendra terdiam. Tongkat kayu yang sejak tadi diketukkan ke telapak tangannya pun berhenti bergerak.
Tatapannya beralih kepada Leonard dan Lionel.
“Kalian juga ikut ke rumah sakit?”
Kedua pemuda itu kembali saling pandang.
“Bukan aku yang ngajak,” ucap Leonard cepat.
“Lho, kok aku lagi?” Lionel langsung protes.
Elara hanya memandang keduanya tanpa berkata apa-apa.
Sepertinya, urusan bolos mereka masih belum benar-benar selesai.
Pasangan suami istri itu saling menatap.
Mereka masih tidak habis pikir. Kedua putra mereka yang sudah dewasa ternyata sama sekali tidak menceritakan masalah yang sedang terjadi pada mereka.
Danendra akhirnya menghela napas pelan sebelum kembali menatap Elara.
“Kalau begitu, sebenarnya masalah Lucas itu apa, Elara?”
“Masih masalah yang sama,” jawab Elara tenang. “Yang berhubungan dengan anak pejabat.”
“Terus sekarang bagaimana?”
“Sudah selesai, Ma.”
Elara berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Kak Faresta sudah mengurusnya. Dia juga sudah meminta bantuan penegak hukum.”
Danendra dan Livia langsung mengembuskan napas lega hampir bersamaan.
Setidaknya masalah Lucas sudah terselesaikan.
Danendra bahkan sempat memandang Elara beberapa saat. Entah kenapa, sejak gadis itu datang ke keluarga mereka, selalu ada saja hal yang berakhir dengan baik.
“Pa, Ma...” Lionel mulai angkat bicara.
Danendra menoleh.
“Sekarang kalian sudah tahu alasannya, kan?” Lionel tersenyum kecil. “Jadi... kita boleh pergi?”
Danendra langsung menyipitkan mata.
“Pergi ke mana?”
Lionel yang tadinya sudah hendak melangkah langsung berhenti.
“Ke... kamar?”
“Duduk.”
Satu kata itu membuat Lionel buru-buru kembali ke tempatnya.
Leonard yang melihatnya hanya menahan senyum.
“Kenapa senyum?” Lionel melirik kesal.
“Tidak apa-apa.”
“Bohong.”
“Sudah,” tegur Danendra.
Keduanya langsung diam.
Leonard dan Lionel akhirnya duduk di sofa, begitu juga Elara yang memilih duduk di antara mereka.
Danendra ikut duduk di hadapan ketiga anaknya. Tongkat kayu yang sejak tadi berada di tangannya ia letakkan di samping kursi.
“Papa memang mengerti alasan kalian pergi ke rumah sakit.”
Lionel langsung mengangguk cepat. “Nah, kan?”
Danendra meliriknya. “Tapi bukan berarti Papa selesai bertanya.”
Senyum Lionel seketika menghilang.
Danendra menyandarkan tubuhnya pada kursi.
“Yang Papa tidak mengerti, kenapa kalian tidak memberi kabar sedikit pun? Kalian pergi dari sekolah, pergi ke rumah sakit, lalu pulang begitu saja.”
Tatapannya kemudian beralih kepada kedua putranya.
“Bahkan Lucas juga tidak mengatakan apa-apa pada Papa.”
Lionel kembali menutup mulutnya.
Leonard hanya melirik saudara kembarnya itu, lalu menghela napas pelan.
Sepertinya, urusan mereka memang belum selesai sampai di sini.
“Sepertinya Kak Lucas memilih memberi tahu kita karena Elara,” ujar Leonard setelah beberapa saat.
Danendra dan Livia langsung mengalihkan pandangan kepada Elara.
Keduanya mengangguk kecil. Mereka bisa memahami alasan Lucas melakukan itu.
“Sebenarnya, tanpa diberi tahu pun aku sudah tahu,” sahut Elara dengan tenang.
Ucapan itu membuat Danendra, Livia, Leonard, dan Lionel kembali saling pandang.
Elara memang sering kali mengetahui sesuatu sebelum mereka menyadarinya sendiri. Meskipun sudah beberapa kali melihat kemampuan gadis itu, tetap saja mereka belum sepenuhnya terbiasa.
Bukan karena takut.
Hanya saja, kemampuan Elara masih menjadi sesuatu yang sulit mereka pahami.
Belum sempat ada yang kembali berbicara, suara pintu utama yang terbuka tiba-tiba terdengar dari arah depan rumah.
Semua kepala langsung menoleh.
Beberapa saat kemudian, Lucas dan Faresta muncul dari balik pintu. Keduanya baru saja pulang setelah seharian mengurus berbagai masalah. Wajah mereka terlihat lelah.
“Kak Lucas!”
Suara Lionel langsung terdengar begitu melihat keduanya.
Lucas yang baru saja melepas jasnya menoleh. “Apa?”
Lionel langsung bangkit dari sofa.
“Gara-gara Kakak, kami dihukum berdiri di tengah lapangan selama satu jam penuh!”
Lucas hanya mengangkat sebelah alisnya.
“Bagus lah.”
Lionel sampai terdiam beberapa detik.
“Bagus dari mana?”
“Supaya lain kali kalian tidak ikut kabur dari sekolah.”
“Lho?” Lionel menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tidak percaya. “Bukankah Kakak yang menelepon kami?”
Lucas berjalan mendekat sambil menghela napas.
“Aku menelepon kalian karena ingin kalian memberi tahu Elara.”
“Iya, lalu kami datang.”
“Tapi qku tidak menyuruh kalian meninggalkan sekolah.”
Lionel langsung memasang wajah kesal.
“Tapi kami datang untuk membantu Kakak!”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa malah dimarahin?”
“Karena kalian tetap bolos.”
Lionel membuka mulut, tetapi tidak langsung menemukan jawaban.
Ia akhirnya menoleh kepada Livia dengan wajah memelas.
“Lihat, Ma. Kak Lucas benar-benar tidak menghargai pengorbanan adiknya sendiri.”
Livia hanya menggeleng pelan.
“Pengorbanan apanya? Kalian memang sengaja bolos.”
Lionel langsung terdiam.
Leonard yang sejak tadi duduk di sofa akhirnya terkekeh kecil.
“Makanya, jangan banyak alasan.”
Lionel menoleh tajam.
“Diam, Leon. Kamu juga sama saja."
Sementara itu, Faresta berjalan mendekat lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa yang masih kosong.
Danendra langsung menoleh kepadanya.
“Masalahnya sudah selesai?”
“Untuk sementara, iya.”
Faresta mengusap wajahnya pelan. Wajahnya masih terlihat lelah setelah seharian mengurus kasus tersebut.
“Polisi sudah mulai menangani semuanya. Rekaman CCTV dan barang bukti juga sudah diamankan. Bahkan Dokter Tirta sudah ditemukan.”
Mendengar itu, Danendra dan Livia akhirnya bisa mengembuskan napas lega.
“Lalu bagaimana dengan Lucas?” tanya Livia.
“Namanya sudah dibersihkan,” jawab Faresta. “Keluarga pasien juga sudah tahu kalau ada seseorang yang sengaja mencelakai anak mereka.”
Lucas yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Faresta mengangguk pelan.
“Kalau bukan karena Elara, masalahnya mungkin akan jauh lebih rumit.”
Ucapan itu membuat semua orang otomatis menoleh kepada gadis yang dimaksud.
Elara sendiri hanya berkedip pelan.
“Memangnya rumit?”
Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang menjawab.
Lionel akhirnya mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Kadang aku lupa kalau cara berpikirmu memang beda dari manusia normal.”
“Memang bukan,” jawab Elara santai.
Lionel langsung terdiam.
“Lio,” tegur Leonard cepat.
“Aku cuma bilang fakta.”
Lionel menggaruk tengkuknya dengan sedikit canggung ketika menyadari semua orang menatapnya.
Danendra hanya menghela napas pelan.
“Sudahlah. Papa tidak akan mempermasalahkan kenapa kalian tidak memberi kabar soal ini.”
Tatapannya beralih kepada Leonard, Lionel, Elara, Lucas, dan Faresta secara bergantian.
“Tapi lain kali, apa pun yang terjadi, sekecil apa pun masalahnya, beri tahu Papa dan Mama. Jangan membuat kami mengetahui semuanya setelah masalahnya selEsai.”
Faresta dan Lucas saling pandang sebelum akhirnya mengangguk.
“Maaf, Pa,” ucap keduanya hampir bersamaan.
Livia yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya angkat bicara.
“Terus siapa sebenarnya pelakunya?”
Pertanyaan itu membuat Lucas dan Faresta kembali saling menatap.
Lucas kemudian menghela napas pelan.
“Dia anak dari direktur rumah sakit.”
Ekspresi Danendra dan Livia seketika berubah.
“Anaknya?” Livia memastikan.
Lucas mengangguk.
“Lalu sekarang bagaimana? Sudah ditangkap?” tanyanya lagi.
Faresta menggeleng pelan.
“Semua bukti memang mengarah kepadanya.”
Ia berhenti sejenak.
“Masalahnya... dia sudah menghilang sebelum polisi datang.”
Ruangan kembali hening.
Tidak ada yang langsung menyahut.
Danendra menatap Faresta dengan kening sedikit berkerut.
“Kabur?”
Faresta mengangguk.
“Sepertinya dia sudah tahu kalau polisi akan datang.”
Lucas menatap lantai beberapa saat. Entah kenapa, firasat buruk tiba-tiba muncul di dalam pikirannya.
Jika perempuan itu sudah mengetahui semuanya... Lalu sebenarnya, ke mana dia pergi?
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔