Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.
Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.
Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.
Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.
Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?
Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penuh Dusta
Malam itu, Syahrul pulang agak awal. Di garasi sudah ada mobil istrinya, sehingga ia cepat-cepat masuk ke dalam rumah.
Pintu utama tidak terkunci. Lampu ruang tamu hingga belakang dibiarkan menyala. Syahrul menoleh ke kanan dan ke kiri, biasanya Anjani selalu mematikan lampu di beberapa titik, tetapi kali ini justru menyala semua.
Syahrul mengerutkan kening heran. Namun, sesaat kemudian ia menghirup aroma masakan gurih dari dapur, segera ia berjalan ke sana sambil melepas jas kerjanya dan ia taruh di sofa ruang televisi dengan sembarangan.
Semakin masuk mendekati dapur, senyum Syahrul kian melebar. Dengan sengaja ia memelankan langkah supaya Anjani tak mendengar suara kakinya.
Syahrul berhasil berdiri di ambang pintu, tatapannya tidak bisa lepas dari punggung Anjani. Perempuan itu sedang memasak, bergerak ke mana-mana menggunakan dress mini berbahan tipis, rambutnya digerai menutupi punggungnya yang sebagian terbuka.
Anjani mempunyai warna kulit seperti mutiara, putih bersih, terkadang terlihat kemerahan tatkala emosinya tidak stabil atau terkena sinar matahari. Matanya sangat lebar dengan bulu mata yang lentik. Dia memang sangat menawan meski tanpa riasan sekalipun.
Beberapa hari terakhir ini penampilan Anjani berbeda dari biasanya, bahkan komunikasinya pun sedikit berubah arah dari bisnis menjadi lebih personal, seperti awal mereka kenal dulu.
Syahrul tersenyum tipis ketika Anjani terkena cipratan minyak, atau terkadang terus mencuci tangannya di wastafel setiap kali menyentuh sesuatu. Ia sangat menikmati tingkah polah istrinya yang baru saja diketahuinya setelah sekian lama menikah.
Mungkin selama ini Syahrul terlalu abai, ia selalu pulang lebih malam dari Anjani, ketika di rumah suda ada makanan dan minuman. Selama ini ia selalu disiapkan, tetapi dirinya tidak mengetahui bagaimana prosesnya. Ternyata semenggemaskan itu cara Anjani memasak.
"Apa dia masak untukku, ya?" batin Syahrul sambil senyam-senyum sendiri.
Syahrul makin diam tatkala Anjani bergerak makin ke depan hingga bagian belakang tubuh perempuan itu menonjol ke belakang, mata jelalatnya tentu mengawasi bagian yang begitu sensitif itu dan bersiul di dalam hati.
Tidak berhenti di sana, Anjani juga menarik rambut panjangnya ke depan, mempertontonkan leher bagian belakangnya yang sedikit berkeringat. Syahrul harus menelan air liurnya kuat-kuat.
"Dia memang menggodaku!" pekik Syahrul tidak terima di dalam hati.
"Masak apa?" Akhirnya Syahrul tidak tahan hanya diam di belakang Anjani, ia tidak ingin terus menerus menjadi penonton kepanasan sendirian.
Anjani tampak terkejut, dia langsung memutar badan, dan menatap Syahrul dengan tatapan yang agak menyipit.
"Sudah pulang?" ucap Anjani pelan sambil tersenyum tipis.
Pertahanan Syahrul rontok ketika melihat dua tonjolan mungil di bagian dada istrinya. Ia segera memalingkan wajah dan mengusap ujung hidungnya. "Apa dia emang sering nggak pakai bra?"
Anjani memperhatikan wajah Syahrul yang merona, lalu segera memutar badannya menghadap kompor dengan cepat, wajahnya pun seketika ikut merah padam hingga menjalar ke belakang telinga dan leher.
"Eve sialan!" jerit Anjani di dalam hati.
Tadi sepulangnya dari kantor, tiba-tiba Eve melakukan panggilan vidio, lalu menjelaskan semua rencana besarnya dalam sekali tarikan napas. Anjani sudah menolak, tetapi Eve mengancam akan datang ke rumah untuk merias dirinya.
Semua yang ia pakai, riasan yang ada di wajahnya, ataupun hal-hal yang ia lakukan selama di dapur adalah dramanya dengan Eve untuk menggoda Syahrul. Yap, Anjani sudah tahu sejak tadi suaminya ada di belakang tubuhnya, menatapnya seperti singa yang hendak berburu.
"Tumben jam segini sudah pulang?" tanya Anjani untuk berbasa-basi.
"Senggang sih," jawab Syahrul seadanya. Ia langsung duduk di kursi paling ujung. "Aromanya enak," pujinya kemudian.
Anjani terkekeh pelan. Mematikan kompor lalu berucap, "Hanya spageti biasa."
Syahrul mengerutkan kening, "Biasanya nggak suka makanan seperti itu?"
Tangan Anjani menarik sebuah piring, lalu meletakkan spageti ke atasnya. Ia memang tidak suka makanan ini, karena sedang menggoda Syahrul, hanya makanan ini yang terpikirkan olehnya.
Syahrul langsung mendekati Anjani, menghirup aroma mawar segar dari ceruk leher istrinya, seketika ia seperti dibius hingga hampir tak sadarkan diri.
"Kamu sengaja pakai pakaian ini, ya?" Syahrul dengan sengaja mencium bahu terbuka Anjani, matanya mengintip di celah baju bagian atas istrinya untuk menonton dua benjolan yang menggantung bebas tanpa hambatan.
Tubuh Anjani merinding seketika. Napas hangat Syahrul membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan, untung tangan kekar Syahrul langsung meraih pinggulnya sehingga ia tak jadi jatuh.
"Emang nggak boleh?" ujar Anjani sambil berusaha melepas tangan suaminya, tetapi kekuatan mereka mempunyai perbandingan yang cukup jauh, sehingga ia tak bisa memindah satu senti saja tangan pria itu.
Syahrul tersenyum geli. Tangan yang tadi berada di pinggul sang istri kini bergerak naik hingga memegang sesuatu yang sejak tadi menghibur matanya sehingga Anjani tidak berkutik di depannya.
"Lain kali, suruh Hann dan Bibi Dyah libur. Kita bermain sepuasnya," bisik Syahrul.
Anjani seketika menegang. Kedua tangannya langsung menumpu pada pinggiran kompor, sedangkan kakinya berusaha untuk mempertahankan diri.
Syahrul menyeringai. Menarik tubuh ramping Anjani ke dalam gendongannya. Ia membawa perempuan itu ke atas meja makan, menaruhnya di sana seperti santapan makan malam, lalu membuka dress Anjani hingga sebatas panggul.
Anjani duduk dengan kondisi seperti itu hanya bisa menatap suaminya pasrah. Ia melakukan ini bukan untuk mengambil alih hati suaminya lagi, bukan pula menginginkan suaminya tetap di sampingnya, melainkan mempersiapkan akhir yang paling tidak terlupakan oleh pria itu.
Anjani mendekatkan wajah, bibir mereka saling bertemu, lalu ia berbisik, "Malam ini--"
Suara Anjani berhenti tatkala notifikasi ponsel Syahrul terdengar. Pria itu melihat layar ponsel, mengetikkan sesuatu di sana, dan Anjani mengintipnya. Itu dari Yeshika.
Syahrul melempar ponselnya begitu saja ke kursi, lalu mendorong tubuh Anjani supaya berbaring di atas meja, "Ya, malam ini milik kita."
Malam ini, dapur yang biasanya Anjani gunakan memasak, menjadi tempat di mana dirinya yang menjadi hidangan untuk suaminya. Dimakan di atas meja makan, bergaul di hadapan kompor dan menemani beberapa kursi yang kesepian.
"Sebentar lagi, semua akan berakhir, Syahrul." Anjani membatin, matanya menutup dan kedua tangannya tak bisa digerakkan karena ditahan suaminya di atas kepala.