Indonesia
NovelToon NovelToon
MONTIR PRIBADI HATI TUAN MUDA

MONTIR PRIBADI HATI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.

Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.

Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.

Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.

Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.

"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUJIAN DI ANTRA SUKU CADANG DAN MAKAN BERSAMA

Aroma kopi instan yang diseduh pagi ini terasa sedikit lebih nikmat di sudut stall kelistrikan utama PT Purna Jaya. Suasana workshop yang biasanya dipenuhi aura tegang akibat kasak-kusuk sinis Senti kini mendadak terasa jauh lebih lega dan bersih. Lembaran baru setelah kejadian sabotase kemarin membuat fokus kerjaku kembali seratus persen.

Saat aku sedang sibuk menata multitester dan beberapa soket sekring ke dalam laci meja kerja beroda, sebuah tepukan pelan mendarat di bahu seragam abu-abuku.

"Selamat pagi, Karyawan Tetap kesayangan divisi elektro," sapa sebuah suara renyah yang sangat akrab.

Aku menoleh dan mendapati Revan sudah berdiri di sana, menenteng kotak perkakas besarnya dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Pria itu langsung mengambil posisi bersandar di samping kap mobil yang sedang kutangani.

"Pagi, Van. Jangan mulai deh, panggil nama aja kayak biasa," sahutku sambil terkekeh pelan, menyembunyikan rasa segan.

Revan meletakkan kotak perkakasnya, lalu menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi rasa kagum yang teramat dalam.

"Gue serius, Jem. Kejadian kemarin di ruang CCTV... sumpah, lu beneran bikin gue angkat topi tinggi-tinggi. Gue gak nyangka lu bakal seberani dan selapang dada itu."

"Keren apanya sih, Van? Kan ujung-ujungnya sanksi dari Pak Samuel tetep mutlak. Senti tetep dipecat hari itu juga," ujarku pelan, mengingat kembali wajah dingin sang Direktur Utama yang tak tersentuh negosiasi moral.

"Bukan masalah keputusannya, Jema Juvita," potong Revan cepat, nadanya berubah bersungguh-sungguh. Dia melangkah maju satu tindakan, menatapku lurus-lurus.

"Tapi mental lu itu loh. Senti udah jelas-jelas jahatin lu, sabotase mobil proyek lu, bahkan fitnah harga diri lu di depan anak-anak bengkel. Tapi lu malah berdiri di depan bos besar berpakaian jas mahal itu cuma buat mintain dia kesempatan kedua? Gila, kalau gue jadi lu, udah gue sorakin si Senti pas diseret keluar."

Aku tersenyum tipis, merapikan letak tang potong di dalam laci.

"Gue cuma mikirin keluarganya, Van. Di bengkel lama, Gue udah kenyang liat orang yang kalap karena masalah ekonomi. Kehilangan pekerjaan secara tidak hormat itu bisa mutus jalan rezeki seseorang untuk waktu yang lama. Tapi ya sudahlah, semuanya udah lewat."

Revan menggeleng-gelengkan kepalanya takjub, senyum manisnya kembali terukir.

"Ternyata dibalik muka lu yang kaku kayak kanebo kering dan galak kalau lagi megang kunci pas, hati lu itu seluas samudra ya, Jem. Bikin orang makin... ah, sudahlah."

"Makin apa?" tanyaku bingung, menaikkan sebelah alis.

"Makin salut maksudnya! Hahaha," sahut Revan cepat, sedikit salah tingkah sembari mengusap tengkuk lehernya, gestur andalannya kalau sedang gugup. Dia melirik jam dinding workshop yang perlahan merangkak ke angka dua belas siang. Suara sirine tanda istirahat pun berbunyi nyaring memecah keheningan.

Revan langsung menjentikkan jarinya dengan bersemangat.

"Nah! Pas banget bel istirahat bunyi, Karena pengganggu di workshop kita udah bersih, dan lu resmi jadi karyawan tetap... gimana kalau kita rayakan siang ini?"

"Rayakan? Pakai apa?"

"Makan siang berdua di kantin depan kompleks gedung, gue yang traktir!" ajak Revan penuh semangat, matanya berbinar penuh harapan.

"Gak ada penolakan ya, Jem. Anggap aja ini selebrasi kecil-kecilan sesama partner kerja kelistrikan yang solid. Gimana? Deal?"

Aku menatap wajah ramah senior mudaku ini sejenak. Pikiranku mendadak melayang mengingat wejangan Ibu saat sarapan kemarin tentang

“carilah yang seumuran atau yang usianya lebih dewasa”. Revan berusia dua puluh lima tahun lebih matang dibanding Maikel yang masih anak SMA. Dia sudah terbilang mapan, profesional, seprofesi denganku, dan selalu pasang badan melindungiku di sini. Logikaku berkata ini adalah bentuk pertemanan yang sehat.

"Ya sudah, karena ditawarin gratisan, masa gue tolak," sahutku riang sambil melepas sarung tanganku.

"Tapi beneran ya lu yang bayar, Van?"

"Aman! Dompet senior lu ini lagi tebal hari ini. Ayo, jalan!" seru Revan kegirangan, langsung berjalan mendahuluiku menuju pintu geser otomatis dengan langkah kaki yang terlihat sangat ringan.

Suasana kantin depan kompleks PT Purna Jaya siang itu cukup ramai oleh lalu lalang karyawan berjas dan berseragam teknisi. Kami beruntung mendapatkan meja kosong di sudut dekat jendela kaca besar, yang menghadap langsung ke arah halaman parkir depan gedung pencakar langit keluarga Bach.

Di atas meja, dua porsi bakso urat hangat dan es teh manis sudah tersaji.

"Selamat makan, Jema. Jangan sungkan, habisin semuanya," ujar Revan manis, menyodorkan mangkuk sambal ke arahku.

"Makasih, Kapten Revan," balasku bercanda, mulai mencicipi kuah baksonya yang gurih.

Percakapan di meja makan itu berlangsung dengan sangat hangat dan mengalir tanpa beban. Revan terbukti menjadi teman bicara yang sangat menyenangkan, dia membagikan banyak pengalaman lucunya selama lima tahun menjadi teknisi kelistrikan di bawah didikan keras Pak Yusuf.

"Lu tahu gak, Jem? Dulu pas tahun pertama gue kerja di sini, gue pernah salah pasang polaritas kabel aki pada mobil prototipe diler," cerocos Revan sembari memperagakan dengan tangannya.

"Mesinnya langsung keluar asap tebal. Pak Yusuf ngamuknya sampai kedengeran ke lantai atas. Gue dikasih hukuman bersihin kolong stall pakai sikat gigi selama seminggu!"

"Hahaha! Serius, Van? Pakai sikat gigi?!" tawaku pecah seketika di sudut kantin. Aku tertawa terbahak-bahak sampai mataku menyipit, membayangkan Revan yang bertubuh tegap meringkuk menyikat lantai semen dengan sikat gigi kecil.

"Iya, serius. Makanya pas liat lu kemarin dengan tenang ngejelasin data OBD di depan Pak Samuel, gue langsung mikir... wah, anak baru ini otaknya beneran level dewa, gak kayak gue dulu yang modal nekat," puji Revan lagi, menatap wajah tawaku dengan binar mata yang mendadak melembut dan penuh arti.

Aku menghentikan tawaku perlahan, mendadak merasa sedikit kikuk karena intensitas tatapannya yang terasa berbeda dari solidaritas rekan kerja biasa.

"Ah, lu bisa aja memujinya, Van. Itu kan karena kebetulan materinya sering kubaca pas kuliah dulu," ujarku merendah, buru-buru menyedot es teh manisku untuk menutupi rasa canggung yang tiba-tiba merayap.

Revan tersenyum tipis, menopang dagunya dengan tangan kiri sembari menatapku melewati meja.

"Tapi serius, Jem. Gue seneng banget lu bisa gabung di divisi kelistrikan ini. Kerja bareng lu bikin hari-hari di bengkel yang ngebosenin jadi terasa jauh lebih... berwarna."

Deg.

Kalimat Revan yang melunak itu mendadak membuat dadaku berdesir, namun anehnya, desiran ini tidak sama dengan getaran hebat yang biasa kurasakan jika digoda oleh Maikel. Jantungku berdetak normal, namun logikaku terus menimbang kenyamanan sikap dewasa Revan.

Aku tertegun sejenak. Kalimat Revan yang melunak itu mendadak membuat dadaku berdesir tipis. Sikap dewasa, mapan, dan penuh perhatian yang ditunjukkan Revan terasa begitu aman dan nyaman, sangat cocok dengan semua kriteria logis yang dibisikkan Ibu kemarin pagi.

Kami menyelesaikan makan siang dengan obrolan yang mengalir santai sebelum kembali bertarung dengan rangkaian kabel di workshop hingga jam pulang kerja berbunyi.

Pukul tujuh malam lewat sedikit. Setelah membersihkan diri dan menyantap makan malam sederhana bersama Ibu, aku sudah duduk bersila menghadap meja kayu kecil di ruang tamu.

Tok! Tok! Tok!

Pintu depan diketuk dengan ritme ketukan yang sangat kukenali. Begitu kubuka, Maikel sudah berdiri di sana.

Namun, penampilannya malam ini sedikit berbeda. Rambutnya disisir rapi, kemeja flanelnya terancing sempurna, dan dia membawa sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua di tangannya.

"Selamat malam, Ibu Guru kesayangan Maikel," sapanya dengan senyuman tulus, tanpa ada cengiran jail yang berlebihan.

"Malam, Kel. Ayo masuk, langsung duduk," sahutku berusaha bersikap biasa, menekan debaran aneh yang mendadak muncul di dadaku.

Maikel mengambil posisi duduk di seberang meja. Alih-alih langsung membuka buku rumus fisika seperti malam sebelumnya, dia justru meletakkan kotak beludru biru tua itu tepat di tengah meja, menggesernya perlahan ke arahku.

Aku mengernyitkan dahi bingung.

"Ini apa, Maikel? Malam ini jadwal kita bahas gelombang, bukan bagi-bagi kado."

Maikel terkekeh pelan, menopang dagunya dengan kedua tangan sembari menatapku lekat-lekat.

"Buka aja dulu, Kak. Jangan galak-galak napa, ntar cepat tua loh."

Aku mendengus pelan, lalu meraih kotak beludru itu dan membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya, tidak ada perhiasan mahal. Hanya ada selembar kartu undangan tebal berlapis tinta emas dengan desain yang sangat elegan dan mewah. Di sana tertulis jelas: Maikel Sebastian Bach’s 19th Birthday Party.

Mataku membelalak pelan.

"Ulang tahun? Kamu... besok ulang tahun yang ke-19?"

"Iya, Kak. Besok malam acara pestanya," jawab Maikel, binar matanya mendadak berubah sangat penuh harapan dan bersungguh-sungguh.

"Gue sengaja dateng malam ini buat ngasih undangan ini langsung ke tangan lu. Lu... wajib dateng ya, Jem."

Jantungku berdesir aneh mendengar dia memanggil namaku langsung tanpa embel-embel 'Kak'. Aku menatap kartu mewah itu dengan batin yang berkecamuk.

"Tapi, Kel... ini pasti pesta besar keluarga kamu, kan? Orang-orang yang dateng pasti dari kalangan atas. Aku... aku rasanya enggak cocok dateng ke acara kayak gitu. Pakaianku juga enggak ada yang pantas."

"Gue enggak peduli soal pakaian atau kalangan atas, Jema!" potong Maikel cepat dengan nada suara yang mendadak berat dan posesif, mengunci tatapan mataku. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Ini pesta ulang tahun gue. Dan di hari penting gue besok, orang yang paling gue pengen ada di sana itu lu. Cuma lu."

Aku tertegun, lidahku mendadak kelu menghadapi keseriusan sorot matanya yang membakar. Rasa hangat dan senang yang teramat besar merayap perlahan di hatiku, membuatku gagal total untuk memasang wajah ketus.

"Besok malam jam tujuh tepat, gue bakal jemput lu langsung ke rumah ini pakai mobil gue. Lu tinggal duduk manis aja, oke?" tambah Maikel lagi, senyum jailnya yang jenaka perlahan kembali terbit di wajah tampannya.

"Enggak ada alasan menolak perintah dari cowok tertampan sejagat raya ini, Ibu Guru."

Wajahku seketika membara panas akibat salah tingkah yang luar biasa. Aku refleks meraih buku paket fisika tebal di dekatku.

"Maikel! Mulai lagi kan gila dan narsisnya! Cepat buka buku kamu, sekarang kita belajar!"

Maikel tertawa renyah, tawa bebasnya yang merdu memenuhi ruang tamu malam itu. Meskipun aku berpura-pura kesal dan mengomelinya sepanjang sesi latihan soal, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, ada rasa bahagia yang membuncah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!