Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.
Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.
Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.
Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Teriakan Daniel menggema di seluruh halaman pesta, membuat seluruh tamu yang tadinya berbisik pelan kini mulai berbicara lebih keras, saling melempar pandangan penuh kecurigaan.
"Sihir pemikat? Serius?" seorang tamu berbisik ke temannya, meski nada suaranya lebih terdengar penasaran daripada mengejek.
"Tapi masuk akal juga sih. Gimana caranya perusahaan bisa sebesar itu cuma dalam satu bulan?" tamu lain menyahut, ikut bergabung dalam gosip yang mulai menyebar cepat.
Bisik-bisik itu menyebar bagai api, dari satu kelompok tamu ke kelompok lainnya, hingga sebagian besar halaman pesta dipenuhi obrolan penuh spekulasi tentang kesuksesan Renata yang tiba-tiba.
'Itu gak salah juga,' Alex membatin, menahan senyum tipis yang hampir muncul di wajahnya sendiri.
Alex melangkah maju, melepaskan rangkulannya dari Mina sejenak, berdiri tegak menghadap kerumunan yang mulai riuh.
"Kukira di sini isinya para jenius, pembisnis hebat," Alex berkata lantang, suaranya cukup keras untuk didengar sebagian besar tamu di dekatnya. "Ternyata isinya cuma orang-orang yang kebetulan lahir dari orang tua kaya. Zaman sekarang, masih ada yang percaya sihir itu benar-benar ada?"
Ruangan mendadak hening. Beberapa tamu terlihat tersinggung, tapi tidak sedikit pula yang menahan tawa kecil, menyadari kebenaran pahit di balik sindiran itu.
Daniel yang berdiri tidak jauh dari sana, wajahnya memerah menahan malu, terutama ketika beberapa tamu di sekitarnya mulai berbisik dengan nada mengejek.
"Bukannya dia yang dulu ngambil alih perusahaan keluarganya lewat cara licik?" salah satu tamu berbisik pelan, cukup keras untuk didengar Daniel.
"Katanya sih gitu. Sekarang malah teriak-teriak soal sihir di depan umum," tamu lain menyahut, tertawa kecil.
Seorang tamu lain, seorang pria tua berjas abu-abu yang dikenal sebagai pemilik salah satu bank swasta terbesar, ikut menimpali sambil menyesap kopinya. "Kalau memang secemas itu sama saingan baru, harusnya diam-diam benahi perusahaan sendiri. Bukan teriak-teriak soal sihir di depan orang penting begini."
Beberapa tamu di sekitarnya tertawa setuju, membuat wajah Daniel semakin merah, rahangnya mengeras, tapi dia tidak berani membalas lebih jauh di tengah kerumunan yang mulai memandangnya dengan tatapan meremehkan.
Di tengah suasana yang mulai tegang itu, suara ketukan mikrofon terdengar tiga kali dari panggung, menarik kembali perhatian seluruh tamu.
"Hadirin sekalian," Pak Handoko berkata, suaranya tegas namun tetap ramah. "Saya paham keterkejutan kalian malam ini. Tapi saya ingin menegaskan sesuatu."
Seluruh halaman kembali hening, menunggu kelanjutan kata-kata pemimpin Keluarga Nusantara itu.
"Alex adalah pemuda yang sangat bertalenta," Pak Handoko melanjutkan, matanya menatap Alex dengan bangga. "Saya sudah menyelidiki latar belakangnya sendiri sebelum mengizinkan putri saya mengambil keputusan ini. Kalian tidak perlu ragu, apalagi mencurigai hal-hal yang tidak masuk akal seperti sihir."
Tepuk tangan mulai terdengar dari beberapa sudut, awalnya ragu-ragu, tapi kemudian menyebar semakin riuh ke seluruh halaman pesta.
Alex membungkuk sopan ke arah panggung, menerima pengakuan itu dengan tenang, meski di dalam hatinya dia menyimpan kepuasan tersendiri melihat wajah Daniel yang semakin kusut oleh rasa malu.
Mina berdiri di samping Alex, tersenyum kecil melihat reaksi ayahnya yang begitu percaya diri membelanya di depan seluruh tamu penting malam itu.
"Makasih udah selamatkan aku kemarin," Mina berbisik pelan.
"Hanya kebetulan," Alex menjawab, senyum tipis muncul di wajahnya.
Mina tertawa kecil mendengar jawaban itu, menggeleng pelan sambil kembali menatap kerumunan yang perlahan kembali larut dalam suasana pesta.
Musik kembali dimainkan, para tamu kembali berbincang ringan sambil menikmati hidangan, dan pesta berlanjut hingga larut malam, meninggalkan gosip soal sihir yang perlahan tenggelam di antara obrolan-obrolan ringan lainnya, sementara nama Alex justru semakin melekat kuat di ingatan setiap tamu yang hadir malam itu.
Di sudut lain halaman, Reina berdiri sendirian dekat meja hidangan, memperhatikan Alex dan Mina yang masih berbincang dekat panggung. Bima mendekat, menyerahkan segelas minuman ringan padanya.
"Kau baik-baik aja?" Bima bertanya pelan, memperhatikan raut wajah Reina yang tidak sepenuhnya bisa dia baca.
"Baik, Pak Bima," Reina menjawab, tersenyum kecil, meski senyum itu tidak sepenuhnya mencapai matanya. "Ini yang terbaik buat perusahaan."
Bima tidak berkata apa-apa lagi, hanya menepuk pelan bahu Reina sebelum ikut kembali larut dalam keramaian pesta yang masih berlangsung hingga jauh malam.