Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Dua Cogan
BAB 33
Di Antara Dua Cogan
Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya bahwa suatu hari ia akan berjalan ditemani dua kakak beradik yang sama-sama cuek dan dingin, yang kebetulan merupakan tetangga sebelah rumahnya.
Lebih parahnya lagi, baik Daffa maupun Dirga sama-sama seperti kutub. Yang satu utara dan yang satu selatan. Keduanya sama-sama dingin, tetapi memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan sikap. Jika Daffa lebih banyak diam dan bertindak sesuka hatinya, Dirga justru terlihat lebih santai, tetapi sulit ditebak.
Dinda yang berjalan di antara mereka pun merasa canggung dan kikuk. Apalagi sejak memasuki mall, beberapa pasang mata terus memperhatikan mereka. Dua laki-laki dengan penampilan menarik berjalan mengapit seorang gadis tentu saja cukup mengundang perhatian.
"Jadi beli apa, Cil?" tanya Daffa.
Dinda menoleh.
"Pengen boneka. Boleh, Bang?"
Tanpa menunggu jawaban Daffa, Dinda langsung berbelok dan masuk ke sebuah store yang dipenuhi berbagai macam boneka.
Daffa menghela napas pelan, lalu menyusul. Dirga pun ikut masuk tanpa banyak bicara.
Sesampainya di dalam, Dirga berhenti di salah satu rak dan memperhatikan beberapa boneka yang ada di hadapannya. Sesekali tangannya menyentuh boneka berbentuk beruang, kemudian mengembalikannya ke tempat semula. Sementara Daffa, terus mengikuti Dinda yang berjalan dari satu rak ke rak lainnya.
Dinda terlihat begitu antusias. Matanya berbinar setiap kali menemukan boneka yang menurutnya lucu.
"Yang ini lucu..." gumamnya sambil mengambil sebuah boneka kelinci.
Daffa melirik sekilas. Namun hanya diam memperhatikan.
"Yang ini juga lucu." Gumam Dinda lagi pada sebuah boneka Pororo. "Eh, ini juga." Lagi, pada sebuah boneka bebek. "Ih, Gemesin... Tapi kayak nggak asing."
Dinda melirik ke arah Daffa. Tepat di saat Daffa juga meliriknya setelah mendengar ucapan gadis itu. Boneka harimau kecil bertopi yang sedang di pegang Dinda membuat alis pemuda itu berkerut. Namun begitu ia sadar maksud ucapan Dinda, sebuah boneka beruang besar berwarna coklat berjalan mendekati mereka.
"Ya Tuhan! Kaget!"
Dinda memegang dadanya yang berdebar tak beraturan. Rupanya boneka itu bukan berjalan sendiri, melainkan di bawa Dirga yang berada di belakangnya.
"Abang nemu ini dimana?" tanya Dinda antusias.
"Disana." Jawab Dirga dengan lirikan matanya.
Tanpa menunggu lagi, Dinda segera berlari kecil menuju tempat yang dimaksud, lalu mengambil boneka beruang besar yang berwarna sedikit merah muda. Dengan senyum lebar ia memeluk boneka tersebut dan berjalan mendekati Daffa.
"Aku mau ini."
"Ini bonusnya." Ujar Dirga mengarah pada boneka beruang coklat yang ia bawa.
Daffa menghela napas berat. Mau tidak mau ia menuju ke kasir dan membayar dua boneka itu.
"Totalnya satu juta empat ratus ribu."
Habis tabungan gue.
Daffa memberikan kartu Atmnya dan melakukan transaksi pembayaran. Kemudian melirik Dinda yang menyambutnya dengan senyum lebarnya.
***
"Harus banget ya gue yang pegang?"
Protes Daffa bergumam ketika mereka berjalan hendak menuju kafe untuk bersantai sekaligus makan siang.
Ucapannya itu hanya mendapat lirikan dari Dirga yang juga kebagian membawa boneka beruang coklat pilihannya.
"Masa harus aku? Kan berat." Jawab Dinda.
Akhir Daffa bisa bernapas lega begitu duduk di kafe. Dinda pun memesan apa saja sesuai keinginannya begitu Dirga menyuruhnya. Dan Daffa, hanya bisa melihat dengan pasrah.
"Setelah ini, mau jadi ibu RT?"
"Uhuk... Uhuk.. Uhuk!"
Dinda seketika tersedak makanannya mendengar pertanyaan itu.
"Abang tahu?" Tanya Dinda mengarah kepada Dirga.
"Karena itu, Abang pulang." Jawab Dirga, santai.
Dinda terlihat kehilangan semangat dan bersandar pada kursinya.
"Abang nggak bisa bantuin ngomong gitu, biar batal aja?"
Ucapan Dinda mendapat lirikan tajam dari Daffa.
"Bukannya kita udah sepakat ya, Cil?"
Dinda menoleh pada Daffa. "Kan berharap aja kalau ada pilihan lain, Bang." Bibir Dinda mengerucut.
"Setelah nikah, masih bisa kuliah. Baiknya satu kampus saja sama Daffa."
Saran Dirga yang mendapat sambutan senyum tipis dari Daffa.
"Lebih baik begitu."
Dinda hanya pasrah mendengarkan. Memang sesuatu yang mustahil untuk membatalkan rencana yang telah di setujui oleh dua pihak keluarga.
Tidak ada percakapan lagi setelahnya. Mereka hanya menghabiskan makan siang mereka.
"Ih, lihat deh! Lucu banget. Ada dua cowok ganteng sama boneka beruang, gede banget!
"Mana?"
"Itu, di pojokan sana!"
"Ih, bener. Ganteng-ganteng cowoknya. Enak banget di apit dua cowok ganteng."
"Tapi yang si cewek itu, kira-kira siapanya ya?"
"Salah satu adik si cogan kali, atau sepupu?"
"Coba lu tanyain?"
"Ih, malu gue. Lu aja gih?"
"Hehehe, sama. Gue juga malu ih."
Suara rendah dua gadis yang duduk di kafe yang sama terdengar di telinga Dinda, Daffa dan Dirga. Dinda menoleh, namun baik Daffa dan Dirga keduanya sama-sama mengabaikan seolah tidak mendengar apa-apa.
"Tuh, masih nggak nolak perjodohan? Calon suami kamu bakal di gebet sama gadis-gadis itu."
"Ih, apaan sih Bang?"
Sontak ucapan Dirga membuat Dinda kesal, namun juga malu dan canggung. Sedangkan Daffa, hanya tersenyum dalam diamnya.
"Dah ah, yok pulang."
Dinda segera menghabiskan minumanya lalu beranjak berdiri dan meninggalkan kedua kakak berdiri itu membawakan bonekanya.
Baik Dirga maupun Daffa segera menyusul Dinda. Dalam wajah datarnya, Daffa sedikit malu di perhatikan orang-orang sekitar melihat mereka membawa boneka. Sedangkan Dirga tetap cuek, dan tenang seperti biasa.
"Makasih, buat dukungannya." Ucap Daffa tiba-tiba kepada Dirga saat mereka berjalan beriringan di belakang Dinda.
Dirga mendekatkan dirinya dan berbicara setengah berbisik ditelingan adiknya.
"Cinta pertama, jangan sampai lepas."
Dirga kembali ke posisi dan tersenyum tipis ketika Daffa menoleh padanya dengan wajah sedikit terkejut, lalu berubah canggung.
"Duh, ketahuan ya selama ini." Ucap Daffa tertunduk malu-malu dengan gaya coolnya.
"Ngapain sih, lama banget jalannya kayak kura-kura?!" Sewot Dinda menoleh ke belakang, yang berada cukup jauh di depan mereka.
"Berat, Cil." Jawab Daffa asal sambil tersenyum tipis.
Dinda acuh, lalu kembali melangkah ke depan.
"Tapi bakalan harus ekstra sabar kayaknya." Ucap Dirga kembali pada obrolan mereka.
"Tapi gemensin, Bang. Kadang lucu juga, pengen di gigit." Jawab Daffa.
Keduanya terkekeh bersama.
"Ngeri banget ya, kalau udah jatuh cinta. Bisa gigit orang."
"Ssstt..., jangan keras-keras Bang, ntar tu bocil denger."
*
*
*
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
eh tapi daffa kan belum kerja dan berpenghasilan yakan