"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Zidan Yang Tak Bisa Tegas
"Baik, Kak." jawab Yanti pasrah.
Ternyata Lina baru saja memerintahkan adiknya untuk bersiap melayani para tamu undangan yang sudah mulai berdatangan memadati kediaman mereka.
Rumah megah milik Ratih itu tampak sangat mewah dengan dekorasi anggun bernilai fantastis, khusus dirancang untuk menyambut jajaran tamu dari kalangan atas.
Di sana, Yanti tidak hanya ditugaskan menyajikan minuman, tetapi juga diharuskan mengenakan pakaian pelayan khusus untuk acara tersebut atas perintah Lina.
Sebenarnya, di rumah Ratih ada dua orang pelayan tetap yang biasa membantu. Pada hari-hari biasa, para pelayan bebas mengenakan pakaian santai yang mereka bawa sendiri.
Namun, khusus pada hari besar dan megah seperti malam ini, mereka diwajibkan memakai seragam pelayan khusus yang telah disiapkan oleh keluarga besar Ratih.
Dan, Ratih sebagai orang tua dari tiga bersaudara itu, justru membiarkan saja keputusan putri sulungnya yang semena-mena pada putri nomor duanya, Yanti.
Ratih seolah mendukung Lina yang dengan sengaja menyuruh Yanti—adik kandungnya sendiri—untuk mengenakan baju pelayan. Padahal, pakaian itu sangat tidak pantas dikenakan oleh seorang anggota keluarga.
Namun, Yanti yang saat ini benar-benar terdesak dan sangat membutuhkan uang memilih untuk tidak mempermasalahkannya.
Dia tahu kalau kakak kandungnya itu sengaja menghina dan merendahkan martabatnya.
Tapi Yanti tak peduli. Fokus utamanya saat ini cuma satu: mendapatkan uang demi menyambung hidup.
Kembali ke kediaman keluarga Zidan.
Zidan berdiri terpaku di ambang pintu, pandangannya terkunci, terpesona pada sosok Humaira yang baru saja melangkah keluar.
Gaun hitam elegan yang ia berikan siang tadi melekat dengan sangat sempurna di tubuh istrinya.
Ada sedikit ganjalan yang menangkap perhatian Zidan—perut Humaira tampak sedikit membuncit seiring usia kandungannya yang kini memasuki dua bulan lebih.
Beruntung, gaun pilihan Zidan memiliki potongan A-line dengan siluet empire waist yang jatuh longgar dari bawah dada. Alhasil, lengkungan kecil di perut itu tersamarkan dengan amat sangat halus, hampir tak terlihat oleh mata biasa.
Zidan tak bisa memungkiri betapa anggun istrinya malam ini. Humaira memang bukan tipe wanita yang hobi bersolek tebal seperti gadis-gadis pada umumnya.
Hari-harinya selalu dihabiskan dengan bergelut di rumah sakit, fokus bekerja hingga hampir tak pernah punya waktu khusus untuk memanjakan diri.
Namun justru di situlah letak pesonanya; kecantikan alami wanita itu tetap memancar kuat tanpa perlu bersusah payah.
Malam ini, paras ayu itu dibingkai dengan tatanan rambut gaya low sleek bun—sanggul modern yang ditata rendah di tengkuk, menyisakan beberapa helai poni lembut yang membingkai pipinya.
Terlihat sangat simpel, bersih, namun memancarkan aura anggun dan berkelas tanpa kesan berlebihan apalagi norak.
Cantik! Satu kata itu dalam pandangan Zidan.
Di lantai bawah, rombongan keluarga sudah menanti.
Elisa, sang bunda, juga tampil anggun dan siap berangkat. Tampak pula Siska, yang hadir didampingi suaminya. Untuk acara malam ini, Siska memilih sengaja menitipkan anak-anak mereka di rumah bersama pengasuh agar bisa menikmati pesta dengan tenang.
Langkah kaki Zidan dan Humaira yang terdengar menuruni tangga seketika mengalihkan perhatian orang-orang di ruang tamu, siap mengawali perjalanan mereka menuju kediaman Ratih.
Suami Siska sempat terpesona beberapa saat, menatap lekat ke arah Humaira yang baru saja turun.
Siska yang menyadari arah tatapan suaminya langsung marah.
"Kamu apaan sih, Mas?" dengus Siska sembari menyiku lengan suaminya cukup keras.
Pria itu buru-buru mengalihkan pandangannya dan berdeham canggung saat menyadari sang istri mulai merajuk.
Begitu Humaira dan Zidan tiba di hadapan mereka, mata Siska meneliti dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tak bersahabat.
"Kamu ngapain sih, Humaira, dandani diri kayak gitu? Emang mau goda siapa?" Ketus Siska.
Humaira melihat penampilannya sendiri. "Emang kenapa dengan penampilanku, Mbak Siska? Aku merasa biasa saja," jawab Humaira.
Siska tak bisa menjawab ucapan itu dan hanya mendengus semakin kesal.
Faktanya, apa yang dikatakan Humaira memang benar. Penampilan Humaira malam ini terkesan sangat bersahaja.
Gaun hitam dengan sedikit riasan tipis itu kalah jauh jika dibandingkan dengan gaya busana Siska yang tampak begitu mencolok, mewahnya berlebihan, dan dipenuhi perhiasan yang memancarkan mata.
"Ayah tidak ikut, Bunda?" tanya Zidan memandang ke arah Elisa.
"Tidak. Ayahmu bilang lelah dan ingin istirahat saja di rumah," jawab Elisa.
Zidan hanya mengangguk. Ayahnya memang sangat jarang menghadiri acara sosial atau pesta mewah semenjak pensiun dari operasional harian rumah sakit.
Rendra lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, atau kalaupun keluar, ia hanya pergi ke luar kota untuk memantau perkembangan cabang-cabang rumah sakit milik keluarga.
"Ya sudah, kalau tidak ada hal lain lagi, kita langsung berangkat saja sekarang supaya tidak terlambat," sela Elisa merapikan selendangnya.
"Iya, Bu, ayo," sahut Siska menyetujui.
Mereka berjalan keluar menuju area parkir. Siska dan suaminya langsung melangkah ke mobil mereka sendiri. Elisa memilih untuk ikut menumpang di mobil putrinya.
Humaira mendekati mobil Zidan dan baru saja hendak membuka pintu di samping kemudi.
Namun, suara Zidan yang sudah bersiap duduk di balik setir mendadak menghentikan gerakannya.
"Sebelum ke rumah Oma, kita mampir ke apartemen Melodi dulu," ujar Zidan saat ingin menghidupkan injin.
Mendengar penuturan itu, tangan Humaira terhenti di udara. Ia batal membuka pintu depan.
Ia hanya mengangguk, menarik kembali tangannya dan bergeser melangkah ke pintu belakang.
Posisi kursi di samping kemudi itu sudah ada pemiliknya. Humaira tidak ingin jadi bulan-bulanan tantenya lagi kalau wanita itu melihatnya duduk disebelah Zidan.
"Kenapa kamu duduk di belakang?" tanya Zidan heran sembari menoleh ke kursi penumpang di belakangnya.
"Bukannya tadi Dokter bilang kita mau ke apartemen Tante Melodi dulu? Berarti Tante Melodi mau dijemput, kan?"
Ia merapikan gaunnya sedikit sebelum melanjutkan ucapannya "Saya duduk di sini saja, supaya nanti Tante Melodi bisa duduk di samping Dokter. Saya tidak ingin dianggap jadi pengganggu."
Zidan terdiam. Sindiran halus tapi begitu menohok dari Humaira membuatnya dipenuhi rasa bersalah.
Ia hanya bisa menarik nafas. Memutar kunci kontak, dan meluncurkan mobilnya membelah kegelapan malam menuju apartemen Melodi.
Sunyi.
Tak ada suara sepanjang perjalanan mereka menuju apartemen. Hanya Zidan yang sesekali mencuri pandang melalui kaca spion, memperhatikan Humaira yang terus terdiam menatap keluar jendela.
Humaira terlihat bak patung hidup—cantik, alami, namun tak bergerak sama sekali. Pandangannya kosong, mencerminkan betapa menumpuknya beban hidup yang menyiksa jiwanya.
Bahkan saat mobil akhirnya berhenti tepat di area lobi apartemen Melodi, Humaira tetap dalam posisi yang sama, bergeming tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Tak lama kemudian, pintu depan mobil dibuka dari luar.
"Sayang, aku nungguin kamu lama banget, loh," rengek Melodi yang langsung masuk dan duduk di kursi sebelah kemudi.
Senyum bahagia menghiasi wajahnya, memamerkan penampilan elegannya yang serba mencolok.
Tanpa ragu, Melodi langsung condong hendak menyosor untuk mencium pipi Zidan.
Namun cepat, Zidan memundurkan kepalanya sedikit ke belakang, menghindari sentuhan itu.
"Jangan seperti itu..." bisik Zidan terlihat gerah memelankan suara.
Tapi tentu saja Humaira masih bisa mendengar dengan jelas. Namun, ia tidak peduli. Apapun yang ingin mereka berdua lakukan, sama sekali tak ada hubungan dengan dirinya.
Zidan memang suaminya, akan tetapi itu hanya sah di atas kertas. Sejak awal, Humaira tak pernah berharap sedikit pun dari pria itu.
Melodi yang mendengar ucapan Zidan refleks memutar tubuhnya menoleh ke belakang, barulah ia menyadari keberadaan Humaira yang duduk tenang di kursi penumpang.
Lagi-lagi menolakku hanya karena wanita ini. Seistimewa apa sih dia sampai kamu bisa luluh padanya? batin Melodi geram.
Hatinya terbakar cemburu melihat Humaira duduk di sana, akan tetapi ia berusaha keras menahan diri.
Malam ini adalah acara penting keluarganya dan Melodi tidak ingin merusak suasana atau menunjukkan sisi jahatnya di hadapan Zidan.
"Humaira... siapa yang memberimu gaun itu?" tanya Melodi.
Humaira menoleh tenang ke arah wanita yang berstatus sebagai tantenya itu.
"Ini gaun Ibu dulu," sahutnya singkat.
"Yanti?" tanya Melodi memastikan.
"Iya, Tante."
Humaira sengaja berbohong. Tahu, jika ia jujur mengaku bahwa gaun hitam elegan itu pemberian Zidan, Melodi pasti akan langsung ngamuk dan meledak di dalam mobil saat itu juga.
"Oh... aku pikir ibumu sudah tidak punya barang berharga lagi." Ujarnya terdengar seperti sindiran.
Humaira tak bicara lagi. Ia kembali mengalihkan pandangannya, memilih menatap deretan lampu jalanan di balik jendela mobil.
Zidan hanya diam di balik kemudi. Saat tadi ia mendengar Humaira beralasan bahwa gaun itu pemberian ibunya, dia tahu itu cara agar Melodi tidak membuat ulah.
Rasa bersalah kembali menghinggapi Zidan, melihat bagaimana Humaira terus mengalah demi menjaga kedamaian.
Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikan Zidan akhirnya memasuki pekarangan kediaman Ratih yang luas.
Di sana, deretan mobil mewah sudah terparkir rapi, menandakan ramainya para tamu undangan yang telah hadir.
Entah mengapa, pesta yang diadakan Ratih kali ini jauh lebih megah dan dihadiri oleh lautan manusia dari kalangan elit.
Zidan mematikan mesin mobilnya dan langsung turun, disusul oleh Melodi di sisi kemudi.
Sesaat kemudian, Humaira membuka pintu belakang dan melangkah keluar dengan gerakan yang lambat. Dari raut wajahnya terlihat jelas betapa ia enggan berada di tempat itu. Jika bukan karena paksaan sang oma, ia tidak akan pernah sudi menginjakkan kaki di pesta penuh kepalsuan itu.
Begitu menginjakkan kaki di halaman, Melodi dengan sigap melangkah menghampiri Zidan dan langsung menggelayut manja, memeluk erat lengan kiri pria itu.
Zidan sedikit terkejut dengan tindakan impulsif Melodi. Ada rasa tidak nyaman. Terutama mengingat acara ini dihadiri oleh banyak kolega penting dan relasi bisnis.
Status resminya adalah suami Humaira, bukan Melodi. Namun, wanita itu justru terang-terangan menempelinya di tempat umum.
Humaira sendiri Hanya berdiri diam di sisi kanannya, menjaga jarak dan mengambil posisi sedikit di belakang, membiarkan pemandangan canggung itu tersaji di depan matanya tanpa sedikit pun terusik.
"Melodi," bisik Zidan. "Jangan seperti ini. Nanti ada gosip skandal tentang kita."
Melodi langsung cemberut, bahkan semakin menempel ketat di lengan Zidan.
"Kalau ada skandal juga tidak apa-apa. Lagipula sebentar lagi kita kan akan menikah," sungut Melodi kekeh.
"Apa yang kau khawatirkan, tidak ada yang tahu kalau tempo hari aku digantikan sama Humaira. Hanya segelintir orang saja yang tahu, jadi apa yang kamu takutkan, Sayang?" lanjut Melodi.
Zidan yang tak pernah bisa tegas dan selalu kalah melawan keras kepalanya Melodi, mau tidak mau hanya bisa pasrah. Ia hanya menghela napas lalu menoleh ke belakang.
"Ayo masuk," ajak Zidan pada Humaira.
Humaira mengangguk dan melangkah melintasi ambang pintu, berjalan tenang beberapa langkah di belakang mereka berdua.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂