Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 LUKA ITU
Napas Maya tercekat.
"Anda yang membantunya?"
"Saya yang membukakan pintu untuknya. Malam itu, setelah dia menikam sang pengasuh, Bara berlari keluar. Dia dalam keadaan syok. Bersimbah darah. Tak tahu harus ke mana. Saya cengkeram lengannya, saya seret dia keluar lewat pintu belakang, lalu saya bilang, 'Lari. Jangan menoleh ke belakang. Lari.' Dan dia pun berlari."
"Dan Anda? Apa yang terjadi dengan Anda?"
"Saya tinggal. Saya bilang sayalah yang menemukan mayatnya. Bahwa saya tak tahu apa-apa. Mereka percaya, atau pura-pura percaya. Tak ada yang peduli pada anak-anak di panti itu. Kami tak terlihat."
Pak Herman menundukkan pandangannya.
"Saya tak pernah tahu apa yang terjadi pada Bara. Sampai suatu hari saya mulai melihatnya di berita. Sang mafioso. Lelaki yang ditakuti. Yang muncul entah dari mana dan menaklukkan segalanya. Dan saya berpikir: itu bocah yang dulu kubantu melarikan diri. Itu bocah yang membunuh demi membela dirinya sendiri. Lalu saya bertanya-tanya, apakah dia bangga pada saya. Atau justru membenci saya karena tak berbuat lebih banyak."
"Anda menyelamatkan nyawanya," ucap Maya. "Dia tak mungkin membenci Anda karena itu."
"Mungkin," sahut Pak Herman. "Tapi saya tidak datang untuk membicarakan masa lalu. Saya datang untuk memperingatkan kalian. Gustaf Wiryawan menghubungi saya. Dia menawarkan uang agar saya bersaksi memberatkan Bara. Agar saya mengatakan bahwa saya melihatnya membunuh dengan darah dingin, bahwa itu bukan pembelaan diri, bahwa dia seorang pembunuh sejak kecil."
Maya merasa darahnya membeku.
"Apakah Anda akan melakukannya?"
"Tidak," jawab Pak Herman, dengan ketegasan yang bertolak belakang dengan penampilannya yang rapuh. "Saya tidak akan melakukannya. Tapi saya ingin kalian tahu bahwa Wiryawan siap melakukan apa saja. Dia akan mengungkit masa lalu Bara. Dia akan mencari saksi-saksi palsu, bukti-bukti karangan, apa pun untuk menghancurkannya. Dan kalian harus bersiap."
"Mengapa Anda memperingatkan kami?" tanya Maya. "Apa untungnya bagi Anda?"
Pak Herman menatapnya. Sepasang matanya yang biru dan lelah itu berkilau oleh sesuatu yang tampak seperti air mata.
"Karena bocah itu berhak bahagia," ucapnya. "Setelah semua yang dilaluinya, setelah semua penderitaan yang ditanggungnya, dia berhak atas sebuah kehidupan. Dan Anda, Nyonya, Andalah kesempatan itu. Saya melihatnya di televisi, di konferensi pers itu. Cara dia memandang Anda. Saya belum pernah melihat Bara Prakoso menatap siapa pun seperti itu. Anda adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya. Dan saya tidak akan membiarkan Wiryawan merampasnya."
Maya tak tahu harus berkata apa. Ia bangkit, menghampiri Pak Herman, dan menggenggam kedua tangannya.
"Terima kasih," ucapnya. "Terima kasih karena dulu telah menyelamatkannya. Dan terima kasih karena kini ingin menyelamatkannya lagi."
Pak Herman mengangguk, tanpa melepaskan genggaman tangan Maya.
"Jagalah dia," katanya. "Dia tak pandai meminta pertolongan. Tapi dia membutuhkannya."
"Saya tahu," jawab Maya. "Dan saya akan melakukannya. Selamanya."
* * *
Bara tiba setengah jam kemudian.
Ketika ia masuk ke perpustakaan dan melihat Pak Herman, ia membeku di ambang pintu. Wajahnya, yang biasanya tak tertembus, berubah menjadi peta berbagai emosi yang saling bertentangan: keterkejutan, ketidakpercayaan, dan sesuatu yang menyerupai ketakutan.
"Pak Herman?" ucapnya, dengan suara yang nyaris tak ia kenali. "Apakah itu Anda?"
Pria tua itu berdiri. Ia menatap Bara dengan mata berkaca-kaca.
"Halo, Bara. Sudah lama sekali."
Bara tak bergerak. Ia bagai sebuah patung, seolah melangkah mendekat akan mematahkan sihir itu.
"Bagaimana Anda menemukan saya?"
"Saya selalu tahu di mana kamu berada," jawab Pak Herman. "Saya mengikuti beritamu. Di koran-koran. Saya melihat bagaimana kamu tumbuh, bagaimana kamu menjadi berkuasa, bagaimana kamu menjelma menjadi lelaki seperti hari ini. Saya tak pernah berani mendekat. Saya pikir kamu tak ingin tahu apa pun tentang masa lalu itu."
"Lalu mengapa sekarang?"
"Karena Wiryawan menghubungi saya. Dia menawarkan uang agar saya berbohong tentang dirimu. Agar saya bilang perkara sang pengasuh itu bukan pembelaan diri. Untuk menenggelamkanmu."
Rahang Bara mengeras.
"Dan apa jawaban Anda padanya?"
"Saya bilang tidak," jawab Pak Herman. "Dan saya datang untuk memperingatkanmu. Wiryawan akan membalik setiap batu. Dia akan mencari semua orang yang pernah tinggal di panti itu. Sebagian akan bicara karena takut. Sebagian lagi karena uang. Kamu harus bersiap."
Bara melangkah maju. Lalu satu langkah lagi. Ia menutup jarak yang memisahkannya dari Pak Herman dan menatap langsung ke matanya.
"Mengapa Anda melakukan ini?" tanyanya. "Mengapa Anda mempertaruhkan nyawa demi saya? Wiryawan bisa mencelakai Anda."
Pak Herman tersenyum. Senyum yang sendu, penuh kerut, namun tulus.
"Karena malam itu, ketika saya membukakan pintu untukmu, saya membuat sebuah janji dalam hati. Saya berjanji bahwa jika kamu selamat, saya akan berbuat apa pun agar kamu tak perlu melewati hal seperti itu lagi. Selama tiga puluh tahun saya tak mampu menepatinya. Tapi sekarang saya bisa. Dan saya akan melakukannya."
Bara memandangnya lama sekali. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia memeluk pria tua itu.
Itu pelukan yang canggung, kaku, pelukan dua lelaki yang tak terbiasa dengan kelembutan. Namun pelukan itu bertahan lama. Dan ketika mereka melepaskan diri, kedua mata mereka basah.
"Tinggallah," ucap Bara. "Di sini. Di mansion ini. Wiryawan tak akan menemukan Anda."
"Tidak bisa," jawab Pak Herman. "Saya punya kehidupan. Seorang istri. Seorang anak. Kalau saya menghilang, Wiryawan akan curiga. Tapi saya akan memberimu semua yang saya tahu. Nama-nama anak lain yang dulu tinggal di panti itu. Orang-orang yang akan dihubungi Wiryawan. Dan kamu bisa menemui mereka lebih dulu."
Bara mengangguk.
"Berikan saya nama-namanya."
Pak Herman mengeluarkan selembar kertas terlipat dari saku dalam jasnya. Ia menyodorkannya kepada Bara.
"Ini semuanya. Yang saya ingat. Sebagian sudah meninggal. Sebagian lagi menghilang. Tapi mereka yang tersisa... mereka yang tersisa bisa menolongmu. Atau menenggelamkanmu. Tergantung siapa yang lebih dulu kamu temui."
Bara mengambil kertas itu. Ia menyimpannya di saku jasnya, dekat dengan jantungnya.
"Terima kasih, Pak Herman. Saya tak tahu bagaimana harus membalas Anda."
"Kamu sudah membalasnya," jawab Pak Herman. "Dengan tetap hidup. Hanya itu yang saya butuhkan."