Status adik angkat tak pernah membuatku aman dari mereka."
Bertransmigrasi ke tubuh figuran yang diangkat anak oleh keluarga Sterling, Ceira berniat kabur dari alur novel. Namun, jiwa barunya yang tangguh justru memicu obsesi gelap Kaiser dan King Sterling.
Satu tubuh adik angkat, dua raga kembar, dan empat jiwa penguasa yang terobsesi mengunci hidupnya. Lari bukanlah opsi saat jerat liar mereka sudah mengunci mati.
"Mampukah dia lolos dari jerat liar mereka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penjemputan di Pelabuhan Lama
Desir angin laut malam berhembus kencang, membawa serta bau amis air garam, karat besi tua, dan lembapnya udara dermaga yang mulai ditinggalkan oleh para buruh kargo legal. Kawasan pelabuhan lama di ujung barat distrik industri kota tampak begitu sunyi, diterangi hanya oleh kerlip lampu sorot kuning pudar dari menara pengawas yang berderit setiap kali diterpa terpaan angin malam. Di balik tumpukan kontainer pelayaran yang berkarat dan tersusun acak, beberapa sosok bayangan berpakaian serba hitam bergerak tanpa suara, mengawasi setiap jengkal area pertemuan rahasia yang telah disadap oleh jaringan intelijen keluarga Sterling sejak sore tadi.
Di dalam sebuah gudang tua bernomor 42 yang beratap separuh bocor, suasana terasa jauh lebih tegang dari apa pun yang bisa dibayangkan oleh orang biasa. Sebuah meja kayu lapuk di tengah ruangan diterangi oleh sebatang lilin tunggal yang nyaris padam, memantulkan bayangan panjang yang menari-nari di atas dinding semen yang dipenuhi lumut. Dua orang pria berjas rapi berdiri tegak dengan peluh dingin membasahi pelipis mereka, sementara di hadapan mereka, seorang utusan khusus dari keluarga Moretti—pria berbadan gempal dengan bekas luka melintang di pipi kiri—tengah mengetuk-ngetukan jari di atas permukaan meja dengan tidak sabar.
"Di mana orang suruhan Marco? Mengapa mereka belum juga datang?" desis pria berbekas luka itu dengan suara parau yang sarat akan kecemasan mendalam. "Jika sampai faksi utama mengetahui pertemuan malam ini, kepala kita bertiga akan dipenggal sebelum matahari terbit di ufuk timur."
Pria di sampingnya baru saja hendak membuka mulut untuk membalas ketika suara deru mesin mobil sedan hitam yang melaju tanpa lampu utama mendadak memecah keheningan di luar gudang. Suara decitan ban yang mengerem mendadak di atas permukaan kerikil basah terdengar begitu tajam, disusul oleh keheningan total yang terasa jauh lebih mematikan dari suara bising sebelumnya. Pintu besi gudang tua itu berderit terbuka perlahan, didorong oleh embusan angin malam yang membawa hawa dingin menusuk tulang.
“Ah, lihatlah tikus-tikus ketakutan itu berkumpul di sarang busuk mereka, Ceira,” batin Scarlett berbisik tajam di dalam kesadaran mereka, manik mata mereka memantulkan pemandangan dari kamera pengintai tersembunyi yang terpasang di sudut ruangan gudang. “Mereka berpikir sedang merencanakan kudeta besar untuk merebut kekuasaan, padahal mereka sebenarnya sedang berjalan sukarela ke dalam kandang singa kelaparan. Biarkan aku yang meremukkan tulang rusuk mereka malam ini.”
Ceira, yang duduk di ruang pantau markas utama bersama Kaiser, King, dan Zero melalui layar monitor digital resolusi tinggi, hanya tersenyum tipis menanggapi antusiasme liar dari alter egonya. Ia mengenakan jubah hitam berkerah tinggi, jemarinya memutar-mutar cangkir berisi kopi pahit tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Di sisi ruangan, Zero sudah mengenakan sarung tangan taktis kulitnya, manik mata merah pekatnya menyala tajam penuh antisipasi haus darah.
"Mereka sudah masuk perangkap, Ma Cherie," ucap Zero dengan suara bariton yang terdengar begitu bersemangat, jemarinya meraih senapan serbu berperedam yang tersandar di dinding. "Izinkan aku bergerak sekarang untuk menjemput utusan istimewa itu hidup-hidup sesuai perintahmu."
"Bergeraklah sekarang, Zero," titah Ceira dengan suara dingin yang memegang otoritas mutlak atas seluruh pasukan. "Pastikan kau tidak membunuh utusan itu sebelum dia sempat menceritakan seluruh detail rencana pengkhianatan Marco Moretti kepada kita. Kita butuh bukti rekaman suara yang bersih."
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Zero membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang pantau, diikuti oleh satu peleton pasukan bayangan elit Sterling yang bergerak senyap bagaikan bayangan malam.
Kembali ke gudang tua nomor 42, suasana mendadak berubah drastis ketika lampu sorot dari beberapa kendaraan taktis lapis baja tiba-tiba menyorot tajam menembus jendela kaca gudang yang pecah, menyilaukan mata ketiga pria utusan Moretti yang tengah bersiap. Suara benturan sepatu bot berat berirama serentak terdengar mengitari bangunan tua tersebut, mengunci seluruh jalur keluar tanpa celah sedikit pun.
"Sial! Kita dikepung! Siapa di luar sana?!" teriakan panik meluncur dari mulut utusan berbekas luka saat ia refleks merogoh pistol di balik jasnya.
Sebelum jari pria itu sempat menyentuh senjata api miliknya, dinding kayu di sisi kiri gudang hancur berkeping-keping akibat hantaman benda keras dari luar. Sesosok bayangan tinggi bertubuh atletis melompat masuk dengan gerakan akrobatik yang sempurna, mendarat tepat di tengah ruangan dengan hantaman angin yang membuat lilin di atas meja padam seketika. Dalam kegelapan yang mendadak pekat itu, kilau cahaya merah dari manik mata Zero menjadi pemandangan terakhir yang sangat mengerikan bagi para pengkhianat tersebut.
"Selamat malam, para tikus kecil," suara Zero mengalun rendah, dingin, dan mematikan di dalam kegelapan gudang. "Keluarga Sterling mengirim salam hangat untuk kalian semua."
Pertempuran singkat yang tidak seimbang itu berlangsung kurang dari sepuluh detik. Tidak ada suara tembakan senjata api yang memekakkan telinga; yang terdengar hanya bunyi hantaman benda tumpul, erangan kesakitan tertahan, dan suara tulang yang patah secara bergantian. Pasukan bayangan Sterling bergerak sangat rapi, melumpuhkan dua pengawal Moretti dalam sekejap mata tanpa memberikan kesempatan bagi mereka untuk melawan sedikit pun.
Utusan berbekas luka berusaha merangkak mundur ketakutan ke sudut ruangan dengan wajah bersimbah darah segar, namun sebuah sepatu bot berbalut baja mendadak menginjak kuat dada utusan tersebut, memaku tubuhnya ke lantai semen yang dingin. Utusan itu mendongak dengan napas terengah-engah, menatap ngeri ke arah Zero yang kini berdiri tegak di atas dadanya sambil mengarahkan moncong pistol tepat di antara kedua mata pria malang itu.
Zero menunduk sedikit, menyunggingkan senyuman miring yang memperlihatkan taring halusnya di balik temaram cahaya lampu luar. "Jangan bergerak, atau kepalamu akan terbelah detik ini juga," bisik Zero tajam. "Kau akan ikut denganku ke Kediaman Grand Sterling. Ratu kita ingin mendengar sendiri bagaimana tuermu, Marco Moretti, berencana menggali kuburnya sendiri."
Utusan itu hanya bisa mengangguk pasrah dengan air mata ketakutan bercampur darah mengalir deras di pipinya, menyadari bahwa hidupnya kini sepenuhnya berada di bawah belas kasihan penguasa kegelapan dunia bawah.
Di ruang pantau utama, Ceira menyaksikan detik-detik penangkapan bersih tersebut tanpa ekspresi berlebihan. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan di atas meja marmer, lalu menoleh ke arah Kaiser dan King yang berdiri di sisi kiri dan kanannya dengan tatapan penuh pemujaan.
"Pion pertama telah kita tangkap, suamiku," ucap Ceira dengan suara yang tenang namun penuh kemenangan mutlak. "Sekarang, mari kita siapkan panggung utama untuk menyambut kejatuhan keluarga Moretti sepenuhnya."
aku tunggu👍👍👍👍
semangat......
gak jdi tuker tempat ma kamu ah..atutt 🤣🤣🤣🤣 jiwa halu ku meronta 😩😩
aahhh...gak sabar up lgi..👏👏👏