Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan aku cari kamu!
Hari yang seharusnya menjadi sakral untuk Gala dan keluarganya, berubah kacau. Gala yang kesal memilih pergi dari tempat itu menuju kamar hotel yang sudah di pesan lengkap dengan perhelatan acara dan resepsi.
“Arif, bagaimana ini?”
Di sana, Restu masih meminta pertanggungjawaban Arif, selaku orang belakang yang kerap melindunginya dari segala hal yang berkaitan dengan hukum, sejak dulu.
“Salahkan putramu yang tidak bisa bermain cantik. Padahal, aku tidak pernah mengatakan kebobrokan Gala pada Fio.”
Sontak, Restu diam.
“Tapi, tetap saja. Fio juga salah. Seharusnya, kamu memastikan keponakanmu ada di sini sekarang. Terus, ini biaya pernikahan siapa yang mau nanggung? Berantakan semua. Berantakan!” anggi marah – marah.
Tiba – tiba, dadanya sesak. Belum lagi selentingan suara yang terdengar cukup nyaring dari para tamu yang bising.
Anggi terjatuh. Beruntung, suaminya sigap dan langsung menahan tubuhnya.
“Ma, kamu ga apa – apa?”
“D4d4 mama sakit, Pa. Kepala Mama juga pusing.”
Restu dan Anggi tidak kuasa lagi berada di sini.
“Kalian istirahat saja,” celetuk Arif yang langsung mendapat tatapan sinis dari Restu. “Iya lah, mending kami istirahat dari pada di sini. Melihatmu semakin pusing kepalaku.”
Arif diam. Dan, dalam kondisi genting seperti ini, Gio mendekat. Kakinya berjalan mendekati Restu dan Anggi yang belum pergi dan Arif yang masih berdiri di sini.
“Pemisi,” ucapnya sopan.
“Mister Gio. Saya minta maaf atas kegaduhan hari ini, saya …”
“Maaf.” Gio memotong ucapan Restu. “Saya tidak jadi menginvestasikan dana saya ke perusahaan tambang milik anda.”
“Apa?” Restu terkejut. “Tidak bisa, Mister. Kita sudah sepekat. Dokumen sedang dicatat. Semua proses hampir selesai. Minggu depan, kita ke Kalimantan. Bukan begitu, Arif?”
Arif mengangguk. “Birokrasi sudah saya lalui. Secara hukum, tambang kita legal.”
“Nah, dengar kan?” Restu kembali meyakinkan Gio.
Namun, Gio yang memang sebelumnya memiliki sendiri untuk bergabung dengan Arid dan Restu, memilih tetap pada keputusannya.
“Maaf, tapi saya tidak percaya dengan putra anda,” jawabnya. Gio tahu persis bahwa tambang yang akan mereka garap akan dipimpin oleh Gala.
“Putra anda saja sudah dengan mudah mengkhianati calon istinya. Bagaimana dengan saya?” tanyanya kemudian. “Bisa jadi, dikemudian hari dia juga akan mengkhianati saya.”
“Tidak.” Restu langsung menggeleng. “Itu tidak mungkin. Saya yang akan menjamin.”
Gio tersenyum senyum. Untuk menghilangkan ketegangan, Gio mengambil minum yang kebetulan berjejer di depannya. Ia menyesap sejenak, lalu diletakkan kembali gelasnya ke tempat.
“Hm … saya …”
Restu gelisah. Dia benar – benar memasang telinga untuk mendengar ucapan Gio.
“Mister, Kalau anda ingin wanita – wanita cantik di sini. Saya akan sediakan.” Tiba – tiba, Anggi bicara dan menawarkan sesuatu.
Gio bereaksi. Kepalanya menggeleng cepat. “Maaf, saya tidak butuh wanita. karena saya sudah memiliki wanita sendiri.”
Arif langsung menatap Gio. “Kau sudah punya pacar?”
“Tidak. Tapi istri.”
Arif terkejut. Namun, di kepalanya tidak terpikir sama sekali bahwa istri yang dimaksud Gio adalah Fio.
“Oooo.” Bibir Arif membulat.
Sedangkan, Restu dan Anggi saling menatap. Mereka gelisah karena Gio adalah investor terbesar.
“Saya akan meminta orang saya untuk menarik dana yang sudah masuk sebagian.” Kata Gio lagi.
“Tidak, Mister. Jangan!” Restu mencoba menahan.
Namun, ini memang skenario Gio. Dia pamit dengan sopan, lalu meninggalkan para orang tua ini usai membungkukkan sebagian tubuhnya sebagai tanda hormat.
“Mister Gio.”
“Mister.”
Restu dan Anggi terus memanggil nama itu. Bahkan, Arif juga.
“Gio.”
Gio menoleh. Mata Arif dan Gio bertemu. Di sana, Arif mencoba mencari kebenaran. Ilmu kejujuran yang sudah dia tekuni lama, harusnya berhasil pada Gio. Tapi, nyatanya tidak.
“Siapa istrimu?”
“Dari Itali?” tanya Arif lagi.
Dengan tenang, Gio mengangguk. “Ya, kami bertemu di Bali.”
Usai, menjawab pertanyaan itu, Gio pergi. Dari belakang, Arif terus menatap Gio. Untuk hal ini, Gio memang tidak berbohong. Gio pernah bertemu dengan Fiona di Bali. Itu fakta. Sudah beristri, itu juga fakta. Hanya saja, tidak ada orang yang tahu wajah dan bentuk sosok istri Giorgio Abraham.
***
Plak
Gala mendapat tamparan keras dari ayahnya.
“Dasar kurang ajar!”
“Anak tidak tahu diuntung!”
“Sudah Papa bilang, jangan main – main lagi dengan LC itu. nanti ketahuan. Benar kan?”
Sepanjang hari, Gala dimarahi kedua orang tuanya hari ini. Bahkan, telinga Gala sudah panas rasanya. Hingga menjelang malam dan pesta yang bubar karena tidak ada mempelai wanita, Gala masih dimarahi kedua orang tuanya.
“Dasar laki – laki bod0h! Harusnya apa yag kamu lakukan, jangan sampai ketahuan orang.” Anggi ikut – ikutan. Dia ikut menasehati putranya dengan nasehat yang salah tentunya.
“Seharusnya, kamu tahan sebentar, Gala. Satu bulan tidak usah bertemu Vania. Supaya kamu ga ketahuan. Hanya satu bulan, sampai Fio benar – benar menjadi istrimu. Baru, setelah itu kamu bebas dan Mama bisa menyalahkan Fiona saat kamu selingkuh. Simple kan?”
Kemudian, Anggi bicara lagi.
“Kenapa kamu tidak tahan sih, Nak!”
Meski salah, sebagai seorang ibu yang begitu menyayangi putranya yang hanya satu, Gala di atas awan. Sejak dulu, sang ibu selalu menjadi tameng untuk tidak disalahkan. Sang ayah juga sama, Restu kerap membantu memudahkan jika Gala tersandung kasus hukum.
Plak
Restu kembali menampar pipi Gala. “Memang kamu, tidak bisa diandalkan.”
“Kamu tahu? Karena kejadian ini, Gio si mafia asal Italia itu menarik lagi dananya dari kita. Akh! Aaa …”
Tangan Restu sudah kembali di udara dan siap menampar pipi Gala lagi. tapi, kali ini tangan Gala menahan.
“Cukup, Pa. Cukup jadikan Gala sebagai boneka. Lagi pula, Gala tidak suka Fiona. Dia perempuan paling kaku yang pernah Gala kenal.”
“Bukannya kamu yang bilang kalau Fiona menyukaimu sejak SMA dan kamu juga suka, tapi kenapa dia meninggalkanmu seperti ini?” tanya Anggi menambahkan.
Gala diam. Dia tidak dapat berakata – kata. Sejujurnya, Gala memang menyukai Fiona. Parasnya yang cantik, tegas, dan mandiri, serta dekat selama setahun ini, tidak mungkin tidak ada hati yang tertinggal untuk perempuan itu.
Gala mengepalkan tangan.
“Brengs3k!” teriaknya dalam hati. “Akan aku cari kamu, Fiona!”
untung fio ga jdi tuh....eh jgn2 tuh bunda ny fio lagi...
ayah anak sama bejatnya...
Alhamdulillah up...
kan secara dia udah lama gak ketemu mama nya
ih tanggung trs sih k? fio ktm sm ibunya
ketemu sama bunda nih ..
lnjut kk...aq ampe.ngebut baca saking ketnglan bnyak😁