Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Bibit Keraguan
Beberapa hari setelah pertemuan tegang itu, suasana rumah keluarga Wijaya mulai kembali tenang meski ketegangan soal perusahaan masih menggantung di udara. Bapak sudah dipindahkan dari ICU ke ruang perawatan biasa, tandanya kondisinya terus membaik meski proses pemulihan masih panjang.
Kirana baru saja selesai membantu perawat memindahkan Bapak ke kursi roda untuk latihan berjalan singkat di koridor rumah sakit, ketika ponselnya berbunyi. Sebuah nomor tidak dikenal muncul di layar.
"Halo?" jawabnya ragu.
"Kirana Wijaya?" suara di seberang terdengar formal, seorang wanita muda. "Saya menelepon atas nama Ibu Ratna Wijaya. Beliau ingin mengundang Anda untuk bertemu secara pribadi, di luar konteks formal pertemuan perusahaan."
Kirana mengerutkan kening, curiga dengan maksud di balik undangan mendadak itu. "Boleh saya tahu untuk urusan apa?"
"Ibu Ratna hanya ingin bicara empat mata dengan Anda, sebagai sesama perempuan dalam keluarga ini," jawab suara itu. "Beliau bilang ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui, demi kebaikan Anda sendiri."
Rasa penasaran bercampur kewaspadaan membuat Kirana akhirnya menyetujui pertemuan itu, meski dengan syarat dilakukan di tempat umum. Mereka sepakat bertemu di sebuah kafe elegan di pusat kota, dua hari kemudian.
Ketika hari itu tiba, Kirana duduk gugup menunggu kedatangan Ratna, mempertanyakan keputusannya sendiri untuk datang tanpa memberi tahu Sari atau Denis terlebih dahulu. Ratna muncul tepat waktu, mengenakan busana elegan seperti biasa, senyumnya ramah namun tetap menyimpan kesan dingin yang sama seperti pertemuan sebelumnya.
"Terima kasih sudah bersedia datang," Ratna membuka percakapan setelah pesanan mereka datang. "Aku tahu ini mungkin terasa aneh, mengingat posisi kita yang berseberangan beberapa hari lalu."
"Apa yang ingin Anda bicarakan, Bu Ratna?" Kirana langsung ke inti, tidak ingin membuang waktu dengan basa-basi.
Ratna tersenyum tipis, menyesap tehnya perlahan sebelum menjawab. "Aku hanya khawatir padamu, Kirana. Sebagai seseorang yang sudah kenal keluarga ini jauh lebih lama darimu, aku merasa perlu memberimu perspektif yang mungkin belum kau pertimbangkan."
"Perspektif tentang apa?"
"Tentang Denis," jawab Ratna, matanya menajam meski suaranya tetap lembut. "Kau tahu, aku sudah mengenal ibu kandungnya sejak lama. Wanita yang cukup ambisius, kalau boleh jujur. Dan aku dengar, Denis mewarisi banyak sifat ibunya."
Kirana merasakan firasat tidak enak, tapi memilih untuk tetap mendengarkan.
"Aku hanya ingin kau berhati-hati," lanjut Ratna. "Denis muncul tepat saat ayahmu sekarat, tepat saat ada kesempatan besar untuk mengklaim bagian dari warisan keluarga ini. Bukankah itu waktu yang... mencurigakan?"
"Denis sudah lama menjenguk Bapak diam-diam, jauh sebelum beliau sakit," bantah Kirana, meski ada bagian kecil dalam dirinya yang mulai merasa ragu.
"Ah, tapi apa kau benar-benar tahu itu, atau hanya mendengar dari cerita Denis dan keluargamu sendiri?" Ratna bertanya dengan nada yang terdengar masuk akal, meski jelas dirancang untuk menanamkan keraguan. "Aku hanya ingin kau mempertimbangkan kemungkinan bahwa Denis punya agenda tersembunyi. Bagaimana kalau semua sikap baiknya selama ini hanya taktik untuk mendapatkan kepercayaanmu, sebelum akhirnya mengklaim bagian besar dari warisan ayahmu?"
Kirana merasakan dadanya bergejolak, campuran antara kemarahan pada Ratna karena berani menanamkan racun semacam ini, namun juga keraguan kecil yang mulai menggerogoti kepercayaannya pada Denis yang baru saja mulai tumbuh.
"Kenapa Anda memberitahuku ini?" tanya Kirana, mencoba menahan emosinya. "Apa untungnya bagi Anda?"
"Aku hanya peduli pada kalian, anak-anak Hartono yang sesungguhnya," Ratna menjawab dengan nada yang terdengar tulus, meski Kirana tidak sepenuhnya percaya. "Aku tidak ingin melihat warisan keluarga ini jatuh ke tangan orang luar yang mungkin tidak benar-benar peduli, hanya karena kalian terlalu naif untuk melihat kebenaran di baliknya."
Pertemuan itu berakhir dengan Kirana pulang membawa pikiran yang kacau. Ia tahu Ratna punya agenda sendiri, tapi kata-kata itu entah bagaimana berhasil menanamkan bibit keraguan yang sulit ia abaikan begitu saja.
Malam itu, ketika Denis datang ke rumah sakit membawa makan malam untuk semua orang seperti kebiasaannya belakangan ini, Kirana mendapati dirinya memperhatikan setiap gerak-gerik Denis dengan cara yang berbeda—lebih waspada, lebih curiga.
"Kau kelihatan aneh hari ini," Denis berkata, memperhatikan sikap Kirana yang lebih dingin dari biasanya. "Ada masalah?"
"Tidak ada apa-apa," Kirana menjawab singkat, menghindari tatapan mata Denis.
Namun Denis, yang mulai mengenal Kirana cukup baik selama beberapa minggu terakhir, tidak sepenuhnya percaya. "Kirana, kalau ada sesuatu yang mengganggumu, aku ingin tahu. Kita sudah melalui banyak hal bersama sampai sejauh ini."
Kirana akhirnya menghela napas, memutuskan untuk jujur meski dengan hati-hati. "Aku bertemu Ratna hari ini. Dia bilang beberapa hal tentangmu yang membuatku... aku tidak tahu, bingung."
Ekspresi Denis berubah drastis, dari khawatir menjadi terluka. "Apa yang dia katakan?"
"Dia bilang kamu mungkin punya agenda tersembunyi. Bahwa kemunculanmu tepat saat Bapak sakit terlalu kebetulan untuk dianggap tulus."
Denis terdiam sejenak, rahangnya mengeras menahan emosi yang bercampur antara marah dan sakit hati. "Dan kau percaya itu?"
"Aku tidak bilang aku percaya," Kirana cepat menjawab, meski suaranya sendiri terdengar tidak sepenuhnya yakin. "Tapi... aku juga tidak bisa langsung mengabaikannya begitu saja. Aku baru mengenalmu beberapa minggu, Denis. Bagaimana aku bisa benar-benar yakin dengan niatmu?"
Kata-kata itu, meski jujur, jelas menyakiti Denis lebih dari yang Kirana duga. Pria itu berdiri diam sejenak, matanya menatap Kirana dengan campuran kekecewaan dan kesedihan yang mendalam.
"Aku kira kita sudah melewati fase saling curiga ini," ujarnya pelan, suaranya bergetar menahan emosi. "Aku kira, setelah semua yang kita lalui bersama—menunggu operasi Bapak, menghadapi Ratna bersama—kau sudah mulai percaya bahwa aku di sini bukan karena warisan atau uang, tapi karena aku benar-benar peduli."
"Denis, aku—"
"Tidak apa-apa," potong Denis, meski jelas tidak baik-baik saja. "Mungkin Ratna benar soal satu hal—aku memang orang luar di keluarga ini, tidak peduli seberapa keras aku berusaha membuktikan sebaliknya."
Ia berbalik dan pergi meninggalkan Kirana sendirian di lorong rumah sakit, perasaan bersalah langsung menghantam dirinya begitu menyadari betapa dalamnya luka yang baru saja ia timbulkan dengan keraguan yang, jauh di lubuk hatinya, ia tahu tidak sepenuhnya adil bagi Denis.
Kirana menyandarkan punggungnya ke dinding lorong, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ratna berhasil melakukan apa yang ia inginkan—menanamkan perpecahan di antara mereka, tepat saat mereka mulai membangun kepercayaan yang begitu rapuh namun berharga.
Ia berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai sepi, pikirannya berkecamuk antara penyesalan dan kemarahan pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia begitu mudah goyah hanya karena beberapa kalimat manis yang dibungkus kekhawatiran palsu? Ia yang selama ini bangga dengan keberaniannya menghadapi kebenaran pahit soal keluarganya sendiri, ternyata masih cukup rapuh untuk dimanipulasi oleh seseorang yang lebih berpengalaman dalam permainan licik semacam ini.
Kirana duduk di salah satu kursi tunggu, menatap ponselnya yang menampilkan foto lama—dirinya bersama Sari semasa kecil, sebelum segala kerumitan ini dimulai. Ia bertanya-tanya, seandainya keluarganya sejak awal memilih kejujuran dibanding kebohongan, apakah semua luka ini bisa dihindari. Namun ia juga menyadari, pertanyaan semacam itu tidak akan mengubah apa pun sekarang. Yang bisa ia lakukan hanyalah memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, dimulai dengan meminta maaf pada Denis sesegera mungkin, sebelum keraguan yang ditanamkan Ratna sempat mengakar lebih dalam.
---
*Bersambung ke Bab 18...*