Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Penyalahgunaan Kekuasaan
"Sil, kamu sakit?" Rekannya mengirimkan Silvana pesan.
"Iya, aku lagi gak enak badan." Jawab Silvana.
Silvana sengaja izin untuk bekerja hari ini. Selain ia enggan bertemu dengan Dokter Wira, ia juga masih ingin menenangkan diri karena kejadian semalam masih membuatnya shock.
Denting ponsel yang menandakan pesan masuk, kembali terdengar. Silvana segera melihat pesan yang masuk ke ponselnya.
"Kamu udah tau, kalau kamu di tugaskan menjadi Dokter relawan di Wilayah Konflik yang ada di Negara kita?" Tanya rekannya lagi.
Silvana terperangah, ia kembali membaca pesan yang dikirimkan oleh rekannya itu dengan perlahan. Tak hanya sekali, Silvana membaca pesan itu berkali-kali.
"Sil!" Rekannya itu kembali mengirim pesan karena Silvana tak kunjung membalas pesannya. Ia juga mengirimkan foto yang berisi daftar penugasan Dokter Relawan di beberapa wilayah.
"Wah! Hahahahaha!" Silvana tertawa nyaring setelah melihat namanya ada di daftar tersebut.
"Dasar Wiranata gila! Dokter sialan!" Umpatnya dengan kesal.
Tentu saja ia merasa kesal, pasalnya bukan hal mudah untuknya mendapatkan reputasi bagus di Rumah Sakit hingga memiliki banyak pasien seperti sekarang ini.
Namun, atasannya yang berengsek itu justru menghancurkan semua usahanya selama ini. Dengan mudahnya pria angkuh itu menghancurkan semua mimpinya dalam semalam.
Dering pada ponsel Silvana kembali mengalihkan perhatiannya. Ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya kemudian mengangkat panggilan itu dengan enggan.
"Apa kamu sudah melihat pengumuman pagi ini, Sayang?" Suara Wira yang terdengar menjijikkan, seolah sedang meledeknya.
"Aku akan menghapuskan penugasan itu, kalau kamu mau menghabiskan malam denganku, malam ini dan menjadi istriku." Imbuh Wira kemudian.
"Cih! Jangan harap aku terima tawaranmu itu, Wiranata! Lebih baik aku keluar dari Rumah Sakit milik keluargamu itu." Jawab Silvana dengan jengah.
"Memangnya ada Rumah Sakit yang mau menerimamu lagi, kalau aku bilang jika Dokter Silvana ini melakukan hal yang melanggar kode etik? Kamu tau kan, Sayang, siapa aku?" Kekeh Wira yang mengancam Silvana.
Silvana sungguh merasa muak dengan Dokter Wira yang selalu melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Sikapnya itu benar-benar menjijikkan.
"Jadi, bagaimana Sisil, Sayang? Kamu mau tetap berada di sisiku, atau bertugas di Wilayah Konflik yang mungkin akan membuatmu mati di sana." Tanya Wira.
"Lebih baik aku mati di sana dari pada menghabiskan malam dengan pria menjijikkan seperti anda, Dokter Wiranata yang terhormat." Jawab Silvana dengan tegas.
"Baiklah! Nikmati saja penyesalan dan ketakutanmu disana!" Ujar Wira yang kemudian menyudahi panggilan telfonnya.
Silvana meremas ponsel di tangannya setelah panggilan telfon itu terputus. Dadanya bergemuruh karena menahan emosi yang sedari tadi ia pendam.
"Awas saja kamu, Wira! Aku pasti akan kembali dengan selamat dan membuatmu menjilat lagi ucapanmu! Aku akan membuatmu lengser dari jabatanmu setelah aku kembali, nanti." Ujar Silvana dengan penuh dendam.
Selama tujuh hari lamanya Silvana melakukan persiapan sebelum berangkat ke lokasi baru tempatnya bertugas.
Silvana mengurus semua peralihan pasiennya pada salah satu rekan sejawatnya di Rumah Sakit. Sehari sebelum berangkat, Silvana memutuskan untuk mengunjungi Ayahnya yang sudah lama menjadi orang tua tunggal, untuk berpamitan. Ayahnya itu tinggal di Kota berbeda dengan Silvana.
"Kenapa kamu terima, Sil? Wilayah itu sangat berbahaya. Memangnya kamu gak pernah menonton berita? Banyak orang yang menjadi korban karena kebrutalan kelompok pemberontak itu." Ujar Ayah Hadi, Ayah Silvana yang tentu mengkhawatirkan putrinya.
"Sisil tau, Yah. Tapi, ini sudah menjadi tugas Sisil sebagai Dokter. Ayah jangan hanya melihat konfliknya saja, Ayah juga harus melihat sisi lain yang terdampak dari konflik itu." Kata Silvana.
"Banyak anak yang menjadi korban karena tak dapat pelayanan kesehatan yang baik. Banyak Ibu hamil dan balita yang meninggal karena komplikasi juga wabah disana. Sebagai Dokter, sudah menjadi tugas Sisil untuk menyelamatkan nyawa orang-orang disana, Yah. Mereka juga sama dengan kita, nyawa mereka pun sama berharganya dengan kita." Imbuh Silvana yang berusaha memberikan pengertian pada Ayahnya .
Ayah Silvana hanya bisa menghela nafas berat. Jika sudah seperti ini, Ia tak bisa lagi menahan keinginan putrinya yang keras kepala itu.
"Padahal kalau kamu berhenti bekerja pun, Ayah bisa mencukupi semua kebutuhanmu. Kenapa kamu harus repot-repot bekerja di tempat yang jauh seperti itu." Ujar Ayah Hadi.
Keluarga Silvana bukanlah keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang pengusaha terkenal di Kota mereka yang memiliki banyak kenalan Pejabat dimana-mana.
Namun, Silvana tak pernah mau memanfaatkan 'keistimewaan' yang dimiliki oleh Ayahnya. Sejak sekolah, Sisil selalu mendapatkan beasiswa karena prestasinya.
Hingga saat ia masuk ke Jurusan Kedokteran di salah satu kampus terkenal di Pulau mereka itu, Silvana kembali mendapat beasiswa prestasi dan lulus dengan predikat cumlaude.
Menjadi bungsu dan satu-satunya anak perempuan yang dimiliki keluarganya, tak lantas membuat Silvana manja. Ia justru membuktikan jika ia bisa menyetarakan diri dengan Kakak-kakaknya yang juga memiliki jabatan tinggi di Pemerintahan.
"Sil! Apa kamu sudah gila? Kamu mau bunuh diri disana?" Tanya Dion, Kakak pertama Silvana.
"Kakak jangan aneh-aneh deh. Aku kesana mau membantu, bukan mau bunuh diri." Jawab Silvana sambil terkekeh.
"Tapi disana kan berbahaya, Dek. Apa lagi kamu sendiri di sana." Kata Mbak Tinar, Kakak Iparnya yang juga tampak khawatir.
"Aku kan tinggal di Pangkalan Militer, Mbak. Aku bekerja di Klinik milik TNI AD disana, keamananku pasti akan terjamin." Jawab Silvana yang berusaha menenangkan.
Meski sebenarnya ia merasa sedikit risau, namun ia berusaha menutupi kerisauannya sembari bermain dengan keponakannya yang masih berusia dua bulan.
"Kak Harsa dan Mbak Lia sudah tau?" Tanya Kak Dion.
"Udah, Kak. Aku udah telfon Kak Harsa dan Mbak Lia. Tadinya mau ketemu, tapi ternyata mereka batal pulang hari ini. Mereka baru pulang lusa." Jawab Silvana.
"Fatih?" Tanya Kak Dion.
"Aku udah kirim pesan ke Kak Fatih. Kalau ada signal, pasti dia bakal telfon aku." Jawab Silvana. Kakaknya yang merupakan anggota TNI AL itu, sedang sibuk dengan kegiatan pelatihan menggunakan Kapal Selam.
Dion menghela nafas. Sama seperti Ayahnya, tentu ia merasa keberatan melepas adik perempuan satu-satunya itu untuk bertugas di wilayah konflik yang tentu berada jauh dari mereka.
Namun, Silvana tetap kukuh dengan keinginannya. Meski berbahaya, namun Silvana benar-benar ingin datang kesana setelah mengetahui data kesehatan yang sangat menyedihkan di wilayah itu.
Tak hanya datang dengan tangan kosong, Silvana akan berangkat dengan di bekali peralatan medis yang sangat penting oleh Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Selain itu, ia juga akan membawa beberapa bantuan makanan pokok pemberian dari Ayah dan Kakak-kakaknya untuk di bagikan ke Masyarakat di sana.
gemes sama mereka berdua, pengen nyubit bibirnya si miko 😅