Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Romansa pedesaan / Cewek Gendut / Cerai / Tamat
Popularitas:125.8k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.

Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.

Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.

Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.

Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.

Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.

"Kita menikah!"

Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.

Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Target

Mireya menggeleng dengan cepat. "Kalau dia ditaruh di pinggir, dia bisa jatuh. Elden tidurnya gerak-gerak terus."

Mireya langsung mengajak Elden tidur di posisi tengah. "Elden di sini ya? Biar nggak jatuh."

Elden mengangguk dan langsung mengambil posisi di tengah. Elden memiringkan badannya. "Bu ... usap-usap kayak biasa dong."

Arven membesarkan mata melihat putranya sendiri memunggunginya. Saat Arven akan bersuara, Mireya memberi kode, membuat Arven langsung terdiam.

Mireya segera merebahkan badannya dan mengusap punggung Elden sesuai permintaan. Sementara Arven, akhirnya memutar badan menghadap ke sisi lain.

.

.

Mireya sudah berada di lahan sejak matahari belum terlalu tinggi. Kali ini mereka tidak berdua.

Elden sedang memainkan tanah dengan sekop kecilnya. Sementara Arven berdiri beberapa langkah dari mereka dengan kedua tangan terlipat di dada.

Mireya meliriknya. “Mas.”

“Hm?”

“Kenapa berdiri saja?”

“Aku sedang mengawasi.”

Mireya mengangkat alis. “Aku berkebun bukan untuk diawasi.”

Arven menurunkan kedua tangannya, melirik sekop yang tergeletak di dekat kakinya.

Kemudian menatap Mireya. “Ini?”

“Iya.”

Arven mengambilnya. “Sebentar saja.”

Mireya tersenyum. “Katanya kemarin janji.”

“Aku tidak bilang akan seharian.”

Mereka bertiga akhirnya mulai bekerja. Elden menggali lubang kecil. Mireya memasukkan bibit. Arven menutup tanah. Tampak sederhana, tapi solid dan efektif.

Namun beberapa pekerja yang lewat sempat memperhatikan pemandangan itu dengan diam-diam. Tidak ada yang berani berkomentar.

Bagi mereka, Tuan Arven yang biasanya hanya berdiri memberikan perintah kini benar-benar memegang sekop.

Bahkan sesekali Mireya menegurnya. “Jangan terlalu dalam.”

“Sudah. Kalian saja yang menanam.” Arven menyerahkan sekop kepada Mireya.

Namun belum sempat berbalik, suara Pak Can terdengar dari arah rumah.

“Tuan!”

Arven menoleh. Pak Can berjalan cepat menghampiri mereka. Wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya.

“Ada apa?”

“Dari kantor.” Pak Can menyerahkan sebuah map. “Baru saja dikirim.”

Arven menerima map tersebut. Ia membukanya.

Mireya yang berdiri tidak jauh dari sana memperhatikan perubahan raut wajah suaminya. “Ada masalah?”

Arven tidak langsung menjawab. Matanya membaca halaman pertama. Kemudian halaman kedua. Dahinya perlahan berkerut.

“Mas?”

Arven menutup map itu. “Tidak apa-apa.”

Mireya menatapnya. “Kalau tidak apa-apa, kenapa wajahmu begitu?”

“Ada urusan perusahaan.”

Mireya mengangguk. “Kalau memang penting, pergilah.”

Arven menatapnya. “Aku akan kembali.”

Mireya mengangguk. “Kami tunggu.”

Elden langsung mengangkat sekop. “Ayah harus kembali sebelum makan siang!”

Arven mengusap kepala putranya. “Ayah usahakan.”

Kemudian ia pergi bersama Pak Can.

Mireya memperhatikan mobil itu meninggalkan halaman. Entah kenapa, kali ini ada perasaan tidak enak yang muncul di dalam hatinya.

Namun ia segera menggeleng.

“Elden, ayo lanjut.”

.

.

.

Di dalam mobil, Arven membuka kembali map yang tadi diberikan Pak Can.

“Kenapa perusahaan meminta pertemuan mendadak?”

Pak Can menggeleng. “Saya juga belum tahu, Tuan.”

Arven membaca surat tersebut sekali lagi. Perusahaan yang selama ini menyewa sebagian lahan miliknya meminta peninjauan ulang terhadap kerja sama.

Alasannya sederhana. Hasil produksi dianggap tidak stabil. Arven mengerutkan kening.

“Tidak stabil?”

“Padahal laporan terakhir cukup baik.”

“Justru itu.”

Arven menutup map. “Cari semua laporan produksi tiga bulan terakhir.”

“Baik.”

“Dan cari tahu siapa yang mengajukan peninjauan ulang ini.”

Pak Can mengangguk. “Baik, Tuan.”

Kendaraan terus melaju, tak lama kemudian ponsel Arven berdering.

“Ya?”

Suara dari seberang terdengar tergesa-gesa. Arven mendengarkan tanpa menyela.

Semakin lama, wajahnya semakin dingin. “Apa kau yakin?”

Ia terdaim, tetapi kepalanya sedikit menggeleng. “Jangan lakukan apa pun sebelum aku datang.”

Panggilan berakhir.

Pak Can melirik dari kursi depan. “Ada apa, Tuan?”

Arven tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju ke jalan di depan. “Beberapa pekerja baru saja menerima kabar.”

“Kabar apa?”

“Mereka diminta menandatangani surat pengunduran diri.”

Pak Can terkejut. “Siapa yang meminta?”

Arven menggeleng. “Belum diketahui.”

Tangannya mengepal di atas map. Masih masalah di wilayah timur. Berawal dari keterlambatan pembayaran. Peninjauan ulang kerja sama perusahaan. Dan sekarang para pekerja mulai diminta meninggalkan lahan.

Semua terjadi hampir bersamaan. Arven menyipitkan mata.

“Kita harus segera mencari biang keroknya.”

.

.

.

Sementara itu, di sebuah ruangan kantor yang berbeda, Daryanto sedang duduk bersama seseorang.

Sebuah dokumen terletak di atas meja.bPria di hadapannya membaca halaman terakhir.

“Kalau surat ini benar-benar beredar, para pekerja pasti akan panik.”

Daryanto tersenyum tipis. “Memang itu tujuannya.”

“Lalu setelah itu?”

Daryanto bersandar. “Setelah Arven mulai kehilangan kendali atas lahannya…”

Ia berhenti sejenak. Kemudian mengambil ponselnya. Sebuah pesan baru saja masuk. Daryanto membacanya.

Wajahnya berubah. “Apa?”

Pria di depannya menatapnya. “Ada masalah?”

Daryanto memperlihatkan layar ponselnya. Sebuah pesan singkat tertulis di sana.

[ Jangan ganggu perkebunannya dulu. Target utama kita bukan Arven. ]

Daryanto mengerutkan kening. “Kalau bukan Arven, lalu siapa?”

Pesan berikutnya masuk. Daryanto membacanya perlahan.

[ Istrinya. ]

Tangannya berhenti bergerak.

"Apa hubungan semua ini dengan istrinya?"

*bersambung*

1
Yulvita Darnel
waw... masa dari 50% turun bebas menjadi 35% ada-ada saja mireya.
Dewi Habibah
bagus ceritanya
SoVay: terima kasih kk 🍅🍅🙏
total 1 replies
Yulvita Darnel
gara-gara kelaparan akhirnya lolos jadi kandidat ibu tiri, bagus juga tuh taktik.
Yulvita Darnel
ada-ada aja Thor masa iya ada pekerjaan jadi ibu tiri, boleh daftar nggak 🤣🤣🤣🤣
SoVay: tapi lowongan sudah teriso 🤣
total 1 replies
Wati Anja
semoga mireya dan keluarga barunya bahagia
Yulya Muzwar
cerita yang menarik.
SoVay: makasih kak 🍅🍅
total 1 replies
Esther
Terima kasih untuk ceritanya thor👍👍.
Ditunggu cerita selanjutnya
SoVay: yuk kakakku, mampir cerita baru aku
total 1 replies
@Tie
kq arven diem aja gk belain mireya
Sri Widiyarti
terbaik buat author bagus ceritanya 🥰
SoVay: terima kasih kakakku 🍅🍅🍅
total 1 replies
Sri Widiyarti
akhirnya selesai juga banyak pelajaran yang kita petik dari novel ini makasih banyak author semangat trus berkarya...
Yumna Attaya
bagus, ringan , mudah di ikuti
SoVay: terima kasih kakakku 🍅🍅🍅
total 1 replies
mimief
wahhhh...
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
SoVay: udah mayan banyak nih kak episodenya 🤣
total 7 replies
mimief
wah...mang kita harus belajar Ama mireya ya ngadepin segala sesuatu nya pake kepala dingin
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
SoVay: biar kincep sendiri 🤣🤣
total 1 replies
Esther
Yang mandul Syahzan, yang dituduh Mireya.
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
SoVay: terima kasih kakakku udah menemani sampai ke cerita ini. 🍅🍅🍅🍅
total 1 replies
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya...
Aidil Kenzie Zie
ibunya bakalan syok kalo tau Mireya hamil dan ternyata yang mandul adalah anaknya sendiri 🤭🤭🤭
SoVay: ayuk kakakku, mampir cerita terbaru aku yuuukk
total 2 replies
Ummee
brarti syahzan tau dirinya mandul...
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
SoVay: terimakasih Ummmiii...🍅🍅🍅
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
bukannya mereka membagikan tomat dekat rumah tor 🤔🤔🤔trus naik mobil mau pulang kemana 🤔🤔🤔
SoVay: di jalan raya kak, jadi kan ada jalan masuk juga. emang gak terlalu jauh, tapi memilih naik mobil. itu haluku 🤣
total 1 replies
Ummee
ternyata syahzan mandul, pantas 5 thn menikah dgn mireya, mireya gk hamil²
mimief
ya ampun
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!