Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 MEMINTA RESTU
🗓️🗓️🗓️🗓️🗓️🗓️🗓️
🕒🕒🕒🕒🕒🕒🕒
Bulan demi bulan pun terus berganti...
Membawa serta pergeseran musim yang mengubah rupa alam pedesaan.
Kemarau basah mulai beralih menuju musim penghujan seutuhnya.
Daun-daun jati di perbukitan mulai gugur, sementara hamparan sawah dan kebun kopi justru sedang menikmati puncak kesuburannya.
Empat bulan telah berlalu...
Sejak hari pertama Zaki menginjakkan kakinya kembali di rumah warisan kedua orang tuanya.
Empat bulan yang diisi dengan keringat di kebun kopi, canda tawa di pos ronda, dan yang paling berharga, cinta yang tumbuh semakin dalam dan mengakar kuat bersama Wiwi.
Hubungan mereka tak lagi sekadar saling mencuri pandang atau berbalas senyum di gubuk kebun. Keduanya telah menjadi rahasia umum yang di-amin-kan oleh seluruh warga desa; sepasang muda-mudi yang saling mengasihi dalam batas-batas kesopanan adat istiadat desa yang kental terjaga.
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Pagi itu, cuaca sedang sangat cerah. Langit membiru bersih tanpa sapuan awan mendung.
Namun, berbeda dengan rutinitas paginya di empat bulan terakhir, Zaki tidak mengeluarkan pakaian kasarnya. Ia tidak mengenakan kaus oblong pudar, tidak memakai sepatu boot karet, dan tidak pula mengalungkan sebilah sabit di pinggangnya.
Di depan cermin lemari tuanya, Zaki berdiri tegap.
Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna cokelat sogan dengan motif parang yang elegan—kemeja terbaik yang ia bawa dari Jakarta dan sengaja ia simpan dengan rapi.
Celana bahan kain hitam membalut kakinya, dipadukan dengan sepasang sepatu pantofel yang telah ia semir mengkilap semalam suntuk.
Rambutnya disisir sangat rapi menggunakan pomade, mempertegas garis rahangnya yang kini lebih tajam akibat susutnya lemak tubuh oleh kerja fisik.
Zaki menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan untuk mengusir rasa gugup yang memukul-mukul dinding dadanya sejak usai salat Subuh tadi.
Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia harus menghadapi presentasi proyek besar di depan direktur perusahaannya dulu di ibu kota Jakarta.
Hari ini, Zaki telah membulatkan tekadnya.
Ia akan melangkah menuju rumah Pak Doyo, bukan untuk memikul karung kopi atau membahas masalah pupuk urea, melainkan untuk melamar putri bungsunya.
IYA... ZAKI INGIN MELAMAR DEK WIWI.
Berbekal sebuah parsel buah-buahan segar yang ia beli di pasar kecamatan kemarin sore, Zaki melangkah keluar rumah.
Jarak antara rumahnya dan rumah Pak Doyo tidak terlalu jauh, hanya terhalang oleh beberapa petak pekarangan bambu. Sepanjang jalan, beberapa tetangga yang melihat penampilannya yang tak biasa itu melempar senyum penuh godaan, seolah sudah menebak ke mana arah tujuan pemuda tegap tersebut. Zaki hanya membalasnya dengan tawa salah tingkah dan anggukan hormat.
Sesampainya di pelataran rumah Pak Doyo yang berbentuk limasan sederhana dengan dinding separuh bata separuh anyaman bambu, Zaki menghentikan langkahnya. Ia menelan ludahnya sendiri.
Dari arah teras, terdengar suara kicauan burung perkutut dari dalam sangkar bambu, bersahutan dengan suara deheman khas Pak Doyo yang sedang duduk santai di bangku sambil menyesap kopi tubruk.
"Assalamu'alaikum... Pak Doyo..." sapa Zaki dengan suara yang sedikit bergetar, melangkah memasuki area teras.
Pak Doyo, yang saat itu sedang mengenakan kaus kutang putih dan sarung kotak-kotak, refleks mendongak.
Matanya membulat sempurna melihat penampilan Zaki yang begitu necis dan formal di pagi hari yang biasanya digunakan untuk berkubang tanah perkebunan kopi miliknya sendiri.
"Wa'alaikumsalam! Lho, lho, lho... Mas Zaki? Kok rapi temen esuk-esuk? Arep tindak nang endi iki, Mas? Kok nganggo batik barang? Ono kondangan po piye?" (Wa'alaikumsalam! Lho, lho, lho... Mas Zaki? Kok rapi sekali pagi-pagi? Mau pergi ke mana ini, Mas? Kok pakai batik segala? Ada kondangan apa gimana?) cecar Pak Doyo bertubi-tubi, raut wajahnya menyiratkan kebingungan yang lucu.
Zaki tersenyum sungkan. Ia meletakkan parsel buahnya di atas meja kayu di depan Pak Doyo, lalu meraih tangan kanan pria paruh baya itu dan menciumnya dengan takzim.
"Nggak ada kondangan, Pak. Zaki memang sengaja rapi begini khusus buat datang nemuin Pak Doyo," jawab Zaki seraya duduk sopan di atas bangku lainnya, berhadapan langsung dengan bapak dari wanita yang ia cintai.
Pak Doyo mengerutkan keningnya. Ia melirik parsel buah berukuran besar di atas meja, lalu kembali menatap wajah tegang Zaki.
Insting kebapakannya perlahan mulai menangkap sinyal keseriusan yang memancar dari bahasa tubuh pemuda di hadapannya.
Pak Doyo memperbaiki letak duduknya, mematikan rokok klobot-nya di asbak tanah liat, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Wonten nopo, Mas Zaki? Kok sajake wigati banget. Babagan kebun po piye?" (Ada apa, Mas Zaki? Kok sepertinya penting sekali. Perkara kebun atau bagaimana?) tanya Pak Doyo, kali ini nada suaranya berubah menjadi lebih berat dan kebapakan.
Zaki menundukkan kepalanya sejenak, merapalkan doa singkat di dalam batinnya untuk memohon kelancaran lisan.
Saat ia kembali mengangkat wajahnya, sorot matanya tak lagi menyimpan keraguan. Ketegasan seorang laki-laki dewasa yang siap memikul tanggung jawab terpancar jelas.
"Pak Doyo," Zaki memulai, suaranya tenang namun bergema penuh keyakinan di teras yang sunyi itu.
"Sebelumnya, Zaki mau minta maaf kalau kedatangan Zaki pagi ini mengagetkan Bapak. Zaki ke sini bukan mau bahas soal kebun, bukan juga soal panen kopi."
Zaki memberi jeda, menatap lurus ke dalam sepasang mata renta yang telah banyak makan asam garam kehidupan tersebut.
"Zaki ini anak yatim piatu, Pak. Bapak dan Ibu Zaki sudah lama berpulang. Di dunia ini, Zaki cuma punya Pakde Mardi di Jakarta yang jauh, dan Pak Doyo di sini, yang sudah merawat peninggalan keluarga Zaki dengan sangat amanah. Bagi Zaki, Pak Doyo bukan cuma sahabat almarhum Bapak, tapi sudah Zaki anggap seperti orang tua kandung Zaki sendiri."
Pak Doyo terdiam mendengarkan. Dadanya mulai bergemuruh, matanya tak lepas dari wajah pemuda yang dulunya hanya bocah kecil kurus yang sering berlarian di kebunnya.
"Selama empat bulan Zaki pulang ke sini," lanjut Zaki, tenggorokannya terasa sedikit kering namun ia memaksakan diri berbicara tanpa putus, "Zaki menemukan banyak hal yang selama ini hilang dari hidup Zaki. Zaki menemukan ketenangan. Zaki menemukan kedamaian bertani. Dan... Zaki menemukan Dek Wiwi."
Mendengar nama putri bungsunya disebut, napas Pak Doyo sedikit tertahan.
"Zaki tahu, Zaki mungkin belum jadi orang yang mapan banget. Zaki cuma petani kopi biasa. Zaki nggak punya harta melimpah kayak orang-orang kota. Tapi Zaki punya niat yang sangat tulus, Pak."
Zaki merubah posisi duduknya menjadi bersimpuh di hadapan Pak Doyo. Ia menatap wajah keriput pria itu dengan memohon.
"Maksud kedatangan Zaki pagi ini... Zaki mau memohon restu dari Pak Doyo. Zaki mau meminta izin untuk menjaga, membimbing, dan menghalalkan Dek Wiwi untuk menjadi istri Zaki. Menjadi pendamping hidup Zaki untuk selamanya."
Keheningan seketika menyergap teras tersebut. Suara burung perkutut di dalam sangkar bahkan seolah berhenti berkicau, memberikan ruang bagi kata-kata Zaki untuk meresap ke dalam dinding-dinding rumah limasan itu.
Pak Doyo mematung. Matanya melebar, menatap Zaki tak percaya.
Wajah pria paruh baya itu berubah merah, otot rahangnya mengetat menahan gejolak emosi yang meledak di dalam dadanya. Beberapa detik berlalu tanpa ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya. Udara terasa sangat tegang, membuat keringat dingin mulai sebesar biji jagung mengalir di pelipis Zaki.
Lalu, perlahan-lahan... mata Pak Doyo mulai berkaca-kaca. Genangan air mata itu tak mampu dibendung, tumpah membasahi pipinya yang dihiasi kerutan dalam.
Dengan tangan yang gemetar, Pak Doyo meraih kedua pundak Zaki, menarik pemuda gagah itu untuk kembali duduk sejajar dengannya, lalu merengkuhnya ke dalam sebuah pelukan yang luar biasa erat. Pelukan seorang bapak yang tak kuasa menahan haru.
"Ya Allah, Gusti Pangeran... Alhamdulillah... Alhamdulillah, Le..." (Ya Allah, Tuhan... Alhamdulillah... Alhamdulillah, Nak...) isak Pak Doyo pecah di bahu Zaki. Tangisannya terdengar begitu lega, bahagia, dan penuh rasa syukur.
Zaki membalas pelukan itu tak kalah eratnya, membiarkan air matanya sendiri ikut menetes membasahi kemeja batiknya.
Beban raksasa yang sedari tadi menekan dadanya lenyap seketika, menguap ke udara.
Pak Doyo melepaskan pelukannya, mengusap wajahnya yang basah kuyup oleh air mata dengan ujung sarung. Ia menatap Zaki dengan senyuman yang paling tulus dan paling bangga yang pernah dilihat Zaki seumur hidupnya.
"Le... Wiwi kuwi anaku wedok sing paling tak tresnani. Dheweke polos, durung ngerti kejemé donya. Wiwit kowe kerep bareng karo dheweke nang kebun, Bapak wis ngrasakake nek ono sing bedo nang sorot matane anaku. Dheweke bahagia banget nek ono kowe, Le," (Nak... Wiwi itu anak perempuanku yang paling aku sayangi. Dia polos, belum mengerti kejamnya dunia. Sejak kamu sering bersama dia di kebun, Bapak sudah merasakan kalau ada yang berbeda di sorot mata anakku. Dia bahagia sekali kalau ada kamu, Nak).
Pak Doyo menepuk-nepuk pundak Zaki dengan mantap.
"Bapak ora butuh mantu sing sugih bondho, Le. Bapak mung butuh mantu sing genah agamane, sing sregep nyambut gawe, lan sing tulus ngajeni anaku. Lan kabeh kuwi, Bapak wis ndelok ono nang dirimu. Bapakmu nang alam barzah mesthi bangga banget saiki, Le." (Bapak tidak butuh menantu yang kaya harta, Nak. Bapak cuma butuh menantu yang jelas agamanya, yang rajin bekerja, dan yang tulus menghargai anakku. Dan semua itu, Bapak sudah melihat ada di dalam dirimu. Bapakmu di alam barzah pasti bangga sekali sekarang, Nak.)
Zaki terisak pelan, menunduk dalam-dalam menyembunyikan tangis bahagianya.
"Bismillah, Le. Kanthi rido Gusti Allah, Bapak ngrestui niat suci-mu. Bapak masrahake Wiwi marang kowe. Jaganen dheweke, tuntunen dheweke dadi istri sing solihah," (Bismillah, Nak. Dengan rida Allah, Bapak merestui niat sucimu. Bapak menyerahkan Wiwi kepadamu. Jaga dia, tuntun dia jadi istri yang salihah) pungkas Pak Doyo, memberikan restu absolut yang tak bisa diganggu gugat lagi.
Pagi itu, di bawah cerahnya langit kaki bukit, Zaki telah mengamankan satu tiket menuju kebahagiaan paripurna.
Restu dari seorang bapak telah ia kantongi.
Kini, ia hanya tinggal menanti pergantian hari untuk mengucapkan ikrar sucinya secara langsung kepada sang pemilik hati...
Dek Wiwi.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya