Indonesia
NovelToon NovelToon
Talakmu, Kebebasanku

Talakmu, Kebebasanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.

Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.

Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.

Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.

Mia terpuruk.

Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.

"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Mia menunggu beberapa detik. Namun, bukannya suara Edo yang terdengar, suara operator justru menyambut dari seberang.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silakan coba beberapa saat lagi."

Mia terdiam. Perlahan, ia menurunkan ponsel dari telinga. "Ya Allah..." desahnya berat. Ia menatap layar Nokia pink di tangannya. Nama Edo masih terpampang di sana. "Kenapa nomornya nggak aktif?" Mia mencoba menelepon sekali lagi. Barangkali tadi hanya gangguan jaringan. Namun, hasilnya tetap sama. Nomor yang dituju tidak aktif.

Mengembuskan napas panjang. Ada sedikit rasa kecewa yang menyelusup di dada Mia. Sebenarnya ia berharap Edo mengangkat telepon dan berkata akan segera menjemputnya.

Dulu, kalau Mia lembur sampai malam, Edo sering datang menjemput meskipun hanya menggunakan motor lamanya. Tapi sekarang semuanya terasa berbeda. "Sudahlah..." gumam Mia, berusaha mengusir pikiran buruk. "Mungkin ponselnya lagi mati." Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, kemudian memandang jalanan di depan kawasan pabrik. Beberapa tukang ojek masih terlihat mangkal di kejauhan.

Namun, tarif dari kawasan industri sampai rumah tentu tidak murah. Mia merogoh dompetnya. Ia menghitung uang yang tersisa. Tidak banyak. "Kalau langsung naik ojek dari sini, bisa-bisa uang bekalku habis sebelum gajian tiba." Ia terdiam sejenak. Akhirnya Mia mengambil keputusan. "Aku jalan dulu deh sampai keluar kawasan industri. Nanti kalau sudah agak dekat kontrakan, baru naik ojek." Mia menyampirkan tali tas ke bahunya dengan lebih kuat. Kemudian ia mulai berjalan. Langkahnya terasa berat.

Seharian bekerja di depan mesin jahit membuat kedua kakinya pegal. Telapak kakinya juga terasa panas karena sejak pagi memakai sepatu yang sama. Namun, Mia tetap berjalan.

Kawasan industri yang siang hari selalu ramai oleh kendaraan dan pekerja kini mulai lengang. Lampu-lampu dari beberapa pabrik masih menyala terang, tetapi sebagian jalan sudah jauh lebih sepi dibandingkan beberapa jam sebelumnya.

Mia berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang. Setiap kali terdengar suara motor dari kejauhan, ia sempat berharap itu Edo. Namun, setiap motor yang melewatinya selalu berlalu begitu saja. Mia tersenyum getir. "Kenapa sih aku masih berharap dia datang?" Ia menundukkan kepala.

Menghela napas panjang Mia. "Yang penting aku sampai rumah dengan selamat." Ia kembali mempercepat langkah. Beberapa menit kemudian, ia mulai melihat kawasan yang lebih ramai. Masih ada warung kecil yang buka, beberapa pedagang yang sedang membereskan dagangan, dan beberapa tukang ojek yang duduk di atas motor mereka.

Mia merasa sedikit lega. "Alhamdulillah..." Ia berhenti sebentar di pinggir jalan untuk mengatur napas. Bahunya terasa berat. Ia membuka tas dan mengambil botol air minum, lalu meneguk beberapa kali. "Capek banget..." Mia memijat tengkuknya sendiri, lalu menatap langit malam. "Ya Allah, semoga rumah tanggaku dan Edo langgeng sampai nanti." Setelah selesai berdoa dalam hati, Mia kembali berjalan.

Tidak lama kemudian, seorang tukang ojek yang sedang duduk di atas motornya memperhatikannya. "Neng, mau ngojek?" tanyanya.

Mia berhenti. Ia melirik tukang ojek itu, lalu bertanya hati-hati. "Pak, kalau naik ojek dari sini ke gang Haji Banu berapa ongkosnya?"

"Sepuluh ribu, Neng. Mau?"

"Iya, Pak. Mau."

"Ayo naik, Neng. Tapi maaf, saya nggak bawa helm."

"Iya, Pak. Tidak apa-apa." Mia akhirnya naik ke jok belakang. Tasnya dipeluk erat di depan dada.

Motor pun mulai melaju membelah jalanan malam yang semakin larut.

Mata Mia terpejam sesaat. "Semoga Edo baik-baik saja dan sudah ada di kontrakan..."

Sekitar dua puluh menit kemudian, motor yang ditumpangi Mia akhirnya berhenti di depan gang Haji Banu, tempat kontrakannya berada.

"Sudah sampai, Neng," ujar tukang ojek.

Mia segera turun, membayar ongkos sesuai kesepakatan, lalu tersenyum sopan. "Terima kasih, Pak."

"Iya, Neng. Hati-hati."

Mia mengangguk. Setelah tukang ojek pergi, ia berdiri sebentar di mulut gang sambil memijat kedua kakinya yang terasa pegal. "Alhamdulillah, akhirnya sampai juga." Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Ia menarik napas panjang, kemudian berjalan masuk ke gang.

Suasana di sekitar kontrakan cukup sepi. Beberapa rumah masih menyalakan lampu teras, sementara sebagian lainnya sudah gelap. Sesekali terdengar suara televisi dari dalam rumah warga.

Mia berjalan sampai akhirnya berhenti di depan area kontrakannya yang membentuk huruf U. Ia membuka gerbang menggunakan kunci yang diberikan pemilik kontrakan, lalu mengunci gerbang itu lagi.

Langkahnya terhenti sesaat di depan garasi khusus kendaraan penghuni kontrakan. Matanya berpendar mencari motor suaminya, "Lho, kok motor Edo nggak ada?" gumamnya. "Masa sih dia belum pulang? Pergi ke mana dia?" Pertanyaan itu menguar begitu saja tanpa mendapatkan jawaban.

Mia melanjutkan langkah menuju pintu kontrakannya, memasukan kunci dan memutar gagang pintu.

Ketika pintu terbuka, pemandangan yang menyambut gelap gulita. Mia meraba dinding di sebelah pintu dan menyalakan lampu. Cahaya langsung memenuhi ruangan kontrakan yang sederhana itu.

Kakinya segera melangkah ke kamar setelah melepas sepatu. Mia meletakkan tasnya di meja dekat kasur. Mengambil ponselnya dan menekan lagi nomor Edo, tapi tetap tidak aktif seperti tadi. "Bodo amatlah." Mia menyerah, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Saking capek dan ngantuknya, ia pun terlelap tanpa mengganti pakaian.

Baru beberapa menit Mia terbang ke alam mimpi, telinganya menangkap deru knalpot motor Ninja. Mata Mia terbuka seketika, ia spontan melirik ke arah pintu kamar yang hanya ditutup gorden. "Itu pasti Edo." Ia bangkit dan berlari menuju pintu depan.

Belum sempat Mia membuka pintu, gedoran dari luar terdengar memekakan keheningan malam. Mia buru-buru memutar kunci dan Edo benar-benar berdiri di depannya dengan mata merah. "Kamu habis dari mana, Do? Kok jam segini baru pulang?" tanya Mia sambil bergeser, memberikan jalan pada Edo.

"Udah deh! Nggak usah banyak tanya!" semprot Edo. "Aku capek! Mau tidur!" Lelaki itu berjalan dan masuk ke kamar.

"Huh!" Mia hanya mampu mengembuskan napas kasar sambil menggelengkan kepala, mengunci pintu lagi. Ia mengikuti Edo masuk ke kamar. "Kamu udah makan belum?" tanya Mia kepada Edo yang sedang melucuti semua pakaian di depan lemari plastik.

"Udah." Lelaki itu menjawab singkat. Tangannya membuka lemari dan mengambil kaus serta kolor, memakainya. "Aku mau tidur. Jadi, nggak usah ngajak ngobrol lagi." Edo menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menarik selimut.

"Iya." Mia berjalan ke dekat lemari, memunguti pakaian Edo dan membawanya ke kamar mandi. Tangannya hendak memasukkan kemeja kerja berwarna abu muda itu ke dalam ember cucian ketika matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di bagian kerah. Ia mengernyit. Ada noda kemerahan yang samar di sana.

Mia menarik kemeja itu lebih dekat ke wajahnya. Dengan ujung jari, ia menyentuh noda tersebut. "Ini apa?" Ia memperhatikan beberapa detik. Warna merah muda kemerahan itu membuat dadanya mendadak terasa tidak nyaman.

Mia mengusapnya sekali lagi. "Ini kok kayak bekas lipstik?" Tangannya seketika berhenti. Mia terdiam cukup lama. Matanya mendadak memanas. "Edo..." Nama itu keluar begitu saja dari bibir Mia. Ia menatap kemeja itu dengan tatapan tak percaya. "Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu, Mia. Tenang." Ia menggeleng pelan.

Namun, saat ia hendak meletakkan kemeja itu, matanya kembali menangkap sesuatu. Sehelai rambut panjang berwarna hitam tersangkut di bagian bahu. Mia menarik rambut tersebut perlahan. Wajahnya seketika berubah. "Ini rambut siapa?" Rambut di tangannya jauh lebih panjang dari rambutnya sendiri. Mia menggenggamnya erat. Prasangka buruk datang menghantam. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Belum sempat pikirannya menemukan jawaban, aroma asing kembali tercium dari kemeja tersebut. Wangi parfum perempuan. Lembut, manis, dan cukup kuat untuk membuat aroma itu masih tertinggal di kain.

Mia spontan menjauhkan kemeja dari tubuhnya. Matanya membesar. "Noda lipstik, helaian rambut panjang dan wangi parfum asing," lirihnya. "Apa mungkin Edo habis bertemu dengan perempuan lain?"

1
Talnis Marsy
Edo..tipe Laki" Gaya elit ekonomi SULIT.... wkwkwkwk
Talnis Marsy
edo tipe laki" Gaya elit ekonomi SULIT....wkwkwk
Dartihuti
Astafurullah...gila di tempat gk pantas rumah terbengkalai?moga ada yg lihat biar nyaho lgsg di nikahkan...
Nice1808
kapan kapok mu do🤣moga ketauan org kampung dan diarak keliling kampung, atau kena penyakit kelamin🤣🤣🤣
Ma Em
Edo dan Ohang sama sama manusia laknat itu kelakuan nya minus , Edo pede banget kamu Mia mau balikan sama kamu , jgn harap Mia akan mau rujuk dgn Edo lelaki lain saja sdh lama menunggu Mia jadi janda .
Dartihuti
Duuuh ...anak durhakim👹sok"an pingin👊orang kampung sok bilang kampung diih...ma ortu gk ada dikit segan atau malu adanya malah berlagak...PD amat mikir Mia ingin balik pimpi kali lo...malah udah ada yg nunggu lbh dr lo MOKONDO
Dartihuti: Ikut eredi kita ingin👊😡👹Authour pinter mancing emosi ...💪😍
total 2 replies
EmakKece
Othoooor, aku pengen bejek2 si Ohang ini! hiiiih ... pokoknya 👊🏻👊🏻👊🏻
Ama Apr: Haha tonjok aja smpai giginya rontok, Teh🤣
total 1 replies
EmakKece
oow dasar anak tak tau diuntung! ga punya adab. klo aku jd orangtuanya udah kulempar itu telur ke mukanya 😡
Ama Apr: Betul kk🤣
total 1 replies
merry
selingkuh dgn ank sekolah tu bela msh sekolh dh tay jdi pelakor moga viral biar malu gk bs sekolh dan di DO dr sekolah y,,, trs biar bela tau klo yg dia jdiin selingkuhan tu ternyta cwo makondo
Ama Apr: lanjut kk
total 1 replies
Ma Em
Mia pokok nya kamu jgn mau lagi ditipu si Edo , semoga Mia makin sukses setelah berpisah dgn benalu dan uang Mia bertambah banyak karena sdh tdk ada yg porotin lagi .
Ama Apr: Aamiiin🫰
total 1 replies
Dartihuti
Sok kaya sok kereeen...eeeee gak tahunya kereee...😁😁😁pusing gk ....pusing gak...kapok lo...makan tu gantengmu🤭
Ama Apr: Wkwkwk
total 1 replies
✨Kayla Rane✨
baru nyadar kan 🤭😆
Ama Apr: Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sangat berharga🤣🤣
total 1 replies
Nice1808
mia lagi mia lagi🤭menyesalkan skrg kau edo gk bisa byar cicilan motor, tmpt tinggal pun numpang di rumah ohang🤣🤣
Ama Apr: mampooos kau 🤣
total 1 replies
merry
laki bajingann 😆😆😆😆blm kena batu nya tu
Ama Apr: santai, pelan2 tp menyakitkan🤣
total 1 replies
Ma Em
Lebih baik Edo tdk datang kerumah Mia daripada nanti bikin ribut lbh baik dititip saja sama orang , semoga Mia cepat dapat pengganti Edo lelaki yg baik bertanggung jawab serta cinta dan sayang pada Mia tdk menyakiti Mia .
Ama Apr: Aamiin🫰
total 1 replies
nunik rahyuni
iliiiih laki kodel apa ksmu tu doooo....
cemen nya amit amit.
nag kya itu ja g da nyali tp menganiaya bisa ae tu..
dasar banci cocok nya pakai rok aja
untung udah cere ...klo blm bisa hbis rontok tulang gigi dan rambut mu mia😅😅😅
Ama Apr: Iya, tinggal sm pengecut sukanya dlaman cangcut🤭
total 1 replies
Thewie
orgtua Dajjal kau bah setan keparat
Ama Apr: 😉😉😉😉😉
total 5 replies
Thewie
ya Allah kapanlah si Edo penjahat kelamin itu kena karma
Thewie
jangan mau kau di tiduri Mia. suami kau penjahat kelamin. takutnya ketularan penyakit pula kau
Ama Apr: Semoga sj tdk
total 1 replies
Asphia fia
mokondo pengecut gk ada akhlak
Ama Apr: mokondo kan emang bgt
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!