Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah yang membara
Layar tablet di atas meja kerja mahalnya menyala terang, memantulkan garis rahang Victor Thorne yang mengeras. Di seberang meja, Markuz berdiri tegak dengan gestur kaku, melaporkan setiap detail informasi intelijen kecil yang baru saja masuk ke sistem keamanan pribadi mereka. Suara rekaman audio dari kamera pengawas lantai utama sebuah pusat perbelanjaan elite di pusat Amsterdam mengalir pelan namun tajam memenuhi ruangan kedap suara itu.
"Nona Annelise tak sengaja bertemu Freya saat belanja di butik itu, Tuan," suara Markuz terdengar datar, namun menyembunyikan ketegangan. "Dan... kami mendapatkan seluruh transkrip percakapan mereka."
Victor tidak mengatakan apa-apa. Mata birunya yang dingin menatap lurus ke luar jendela kaca raksasa yang memperlihatkan lanskap kota Amsterdam di bawah senja yang kelabu. Namun kepalan tangannya di atas meja menunjukkan badai yang sedang bergolak di dalam dadanya.
Dari speaker kecil di meja tersebut, suara Annelise terdengar begitu angkuh, meluncur dengan nada merendahkan yang teramat sangat. Kata-kata itu mengiris udara ruang kerja Victor tanpa ampun. Annelise memuntahkan ejekan tentang status sosial Freya, menyebut gadis itu tidak lebih dari sekadar wanita bayaran rendahan yang memanfaatkan kemurahan hati seorang Victor Thorne, parasit sosial yang mengotori silsilah keluarga terpandang.
“Kau pikir Victor benar-benar mencintaimu, gadis bodoh? Kau hanya mainan murah yang disembunyikan di dalam sangkar hutan karena dia malu memamerkanmu di hadapan para petinggi sosialita kota ini.”
Rekaman itu berhenti. Hening mencekam langsung merayap di ruangan tersebut. Markuz bahkan tidak berani bernapas terlalu keras, tahu betul bahwa kemarahan Victor Thorne adalah jenis bencana yang tidak ingin disaksikan oleh siapapun.
"Markuz," suara Victor akhirnya keluar, rendah, dingin, dan bergetar karena amarah yang ditekan sedemikian rupa. "Pastikan sistem keamanan di sekitar penthouse diperketat sepuluh kali lipat. Dan cari tahu apa lagi pergerakan wanita beracun itu."
"Baik, Tuan," jawab Markuz cepat sebelum segera memutar langkah dan meninggalkan ruangan.
Victor menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Pikirannya langsung melompat pada Freya. Gadis itu pasti sangat terpukul. Ia tahu betul betapa rapuhnya harga diri Freya di balik ketegarannya merawat sang ibu dan adiknya.
Dan kini, Annelise telah melewati batas yang tidak bisa dimaafkan.
Sementara itu, di kediaman utama keluarga Thorne yang megah di kawasan perumahan elit pinggiran Amsterdam, sebuah ketukan halus pada pintu kayu mahoni menggema di ruang tamu utama. Nyonya Valen Thorne, wanita paruh baya dengan pesona bangsawan yang masih sangat terpancar, mendongak dari majalah mode yang sedang dibacanya.
"Nyonya, Nona Annelise datang berkunjung tanpa janji, tapi beliau mengatakan ada hal sangat penting yang harus dibicarakan langsung dengan Anda," ucap kepala pelayan dengan membungkuk hormat.
Dahi Valen sedikit berkerut, namun senyum ramah segera mengembang di bibirnya. "Annelise? Suruh dia masuk. Aku sudah lama tidak mendengar kabar gadis manis itu."
Bagi Valen, Annelise adalah menantu idaman yang telah dipersiapkan sejak lama untuk mendampingi Victor. Latar belakang keluarga bangsawan, keanggunan tingkat tinggi, serta lingkaran pergaulan yang sepadan membuat Valen tidak pernah melirik wanita lain untuk putranya.
Annelise melangkah masuk dengan balutan dress tweed rancangan desainer ternama, wajahnya dirias sempurna, namun ada kilatan penuh perhitungan di balik mata hijaunya yang tajam. Ia langsung menghambur untuk mencium pipi Valen dengan penuh kehangatan palsu.
"Bibi Valen, maafkan aku datang mendadak seperti ini. Aku benar-benar tidak enak badan jika harus menyimpan rahasia ini sendirian, terutama dari Bibi yang sudah kuanggap seperti ibu sendiri," ucap Annelise dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar penuh kepedulian yang dibuat-buat.
Valen menepuk punggung tangan Annelise dengan lembut, mempersilakannya duduk di sofa velvet hijau zamrud. "Ada apa, sayang? Wajahmu terlihat begitu cemas. Ceritakan pada Bibi, siapa yang berani membuatmu sedih?"
Annelise menarik napas dalam-dalam, memainkan jemarinya di atas cangkir porselen hangat yang baru saja disajikan pelayan, sebelum melancarkan serangan pertamanya. "Ini tentang Victor, Bibi. Aku sangat mengkhawatirkannya. Belakangan ini dia bersikap aneh, tertutup, dan sering menghilang dari kantor maupun acara keluarga."
Valen mengangguk pelan. "Ya, aku juga menyadari perubahan itu. Aku pikir dia hanya sibuk dengan ekspansi bisnis terbarunya."
"Tidak, Bibi... Bukan itu," Annelise menggelengkan kepalanya dramatis, lalu membuka tas tangan mewahnya. Ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dan beberapa cetakan foto resolusi tinggi, lalu meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Valen. "Victor sedang disihir oleh seorang gadis murahan."
Valen tertegun. Alisnya bertaut tajam. "Gadis apa maksudmu?"
"Namanya Freya Zivanka," lanjut Annelise dengan nada sinis yang mulai lolos dari kendalinya. "Gadis miskin, mahasiswi biasa yang tidak punya apa-apa. Victor menyembunyikannya di sebuah penthouse tersembunyi di pinggir hutan kota. Bibi lihat foto-foto ini? Victor membiayai seluruh kehidupan keluarganya, membelikannya barang-barang mewah, sementara gadis itu hanya mengeruk harta Victor demi kepentingan keluarganya sendiri."
Guntur di Ruang Keluarga Thorne
Valen terdiam kaku. Matanya menatap nanar foto-foto yang memperlihatkan Freya keluar dari mobil Victor, lalu foto sudut luar penthouse mewah yang selama ini dirahasiakan rapat-rapat oleh putranya. Darah Valen mendadak mendidih. Sebagai matriark keluarga Thorne yang sangat menjunjung tinggi kehormatan, martabat, dan garis keturunan murni, berita ini adalah sebuah tamparan keras di muka publik.
"Wanita jalang..." desis Valen, suaranya bergetar hebat karena amarah yang meluap-luap. "Beraninya seorang gadis rendahan mempermainkan putraku dan menginjak-injak nama besar keluarga Thorne!"
Annelise dalam hati tersenyum penuh kemenangan. Ia melihat kemarahan di mata Valen membara persis seperti yang ia harapkan. Racun yang ia sebarkan bekerja dengan sangat sempurna.
"Aku tidak tega melihat Bibi dan keluarga besar menanggung malu jika skandal ini sampai bocor ke media sosial atau majalah bisnis," ujar Annelise pura-pura iba. "Victor sudah dibutakan oleh nafsu semata. Hanya Bibi yang bisa menyadarkannya."
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Valen menyambar ponsel berlapis emas di atas meja konsol. Jari-jarinya yang memakai cincin berlian besar dengan cepat menekan satu nomor cepat yang sudah ia hafal di luar kepala. Nada dering sambung berbunyi nyaring di tengah kesunyian ruang tamu tersebut.
Di seberang sana, panggilan itu terhubung.
"Victor!" suara Valen langsung meledak begitu sambungan diterima, nyaris berupa bentakan penuh kemurkaan. "Pulang ke rumah utama sekarang juga! Jangan beri aku alasan apapun atau aku sendiri yang akan mengerahkan seluruh orang untuk menyeretmu keluar dari sarang pelacurmu itu!"
Klik.
Sambungan diputus secara sepihak dengan kasar.
Victor yang masih berada di ruang kerjanya menatap layar ponsel yang kini gelap dengan rahang mengeras. Ia tahu persis apa pemicunya. Informasi dari Markuz dan kunjungan Annelise ke rumah utama terjadi dalam rentang waktu yang terlalu dekat.
Annelise benar-benar telah membuka perang terbuka, dan Victor tidak akan tinggal diam membiarkan wanita itu menyentuh Freya barang sedikit pun.
Malam semakin larut, namun ketegangan di Amsterdam terasa semakin pekat. Di dalam penthouse tersembunyinya, Freya duduk termenung di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah pepohonan pinus gelap di luar sana. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun tidak sedingin perasaan di dalam dadanya.
Kejadian di butik tadi siang bersama Annelise masih berputar jelas di kepalanya. Kata-kata hinaan itu, tatapan merendahkan itu, berhasil menyisakan luka perih di hatinya. Freya sadar siapa dirinya. Ia hanyalah gadis miskin yang terikat kontrak demi pengobatan sang ibu dan biaya kuliah adiknya. Ia tidak memiliki hak apapun untuk berdiri sejajar di samping pria sekelas Victor Thorne.
“Apakah aku memang hanya beban baginya?” gumam Freya pelan, air mata hangat tanpa sadar menetes membasahi pipinya.
Ia memeluk kedua lututnya di atas sofa empuk, merasa terjebak di antara rasa terima kasih yang mendalam pada Victor dan kenyataan pahit bahwa dunia mereka terlampau jauh untuk disatukan. Kontrak itu awalnya dibuat sebagai transaksi penyelamatan, namun seiring berjalannya waktu, hati Freya berkhianat. Ia mulai mencintai pria dingin itu—sebuah kebodohan terbesar dalam hidupnya.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah memecah kesunyian malam di halaman bawah penthouse. Lampu sorot mobil memantul terang menembus kaca jendela. Jantung Freya berdegup kencang bukan karena ketakutan biasa, melainkan karena ia mengenali suara mesin mobil itu.
Itu mobil Victor.
Pintu utama terbuka dengan cepat. Sosok tinggi berjas hitam dengan dasi yang sedikit longgar melangkah masuk ke dalam ruangan. Wajah Victor tampak tegang, napasnya sedikit memburu, namun sorot mata birunya langsung tertuju pada sosok Freya yang duduk meringkuk di sudut sofa.
Victor tidak membuang waktu. Ia berjalan cepat, langsung berlutut di hadapan Freya, lalu menggenggam kedua tangan gadis itu yang terasa dingin.
"Victor..." cicit Freya dengan suara serak, kaget melihat kedatangan pria itu di tengah malam dalam kondisi emosi yang tampak jelas.
"Kau mendengarkan omong kosong wanita itu, hm?" ucap Victor lembut namun tegas, menatap tepat ke dalam mata manik cokelat Freya. "Markuz sudah melaporkan semuanya kepadaku. Dan aku juga baru saja mendapat telepon penuh amarah dari mami."
Freya menunduk, menarik tangannya pelan. "Apa yang dikatakan Annelise benar, Victor... Aku tidak pantas berada di sini. Aku hanya akan menghancurkan kariermu, keluargamu, dan masa depanmu."
Victor meraih dagu Freya, mengangkat wajah gadis itu agar kembali menatapnya. Tatapan Victor penuh dengan ketulusan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia luar.
"Dengarkan aku baik-baik, Freya Zivanka," bisik Victor penuh penekanan, suaranya dalam dan menghanyutkan. "Aku tidak peduli dengan apa kata Annelise. Aku tidak peduli dengan amarah mami atau status sosial keluarga Thorne. Satu-satunya hal yang penting di dunia ini sekarang adalah keberadaanmu di sisiku."
Freya terpaku, air matanya semakin deras mengalir mendengar pengakuan jujur dari pria yang selama ini dianggapnya sebagai penguasa yang tak tersentuh.
"Mami mungkin sedang marah besar sekarang," lanjut Victor, berdiri perlahan sambil menarik Freya ke dalam dekapan hangat dadanya. "Dia memintaku pulang untuk menjelaskan semuanya. Tapi ketahuilah, tidak ada satupun di dunia ini, bahkan keluargaku sendiri, yang bisa merebutmu dariku. Kita akan menghadapi badai ini bersama-sama."