Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12

Rendy masih menunggu dengan sabar, ponselnya bahkan masih menempel ditelinga nya. Sedangkan matanya masih menatap tajam ke arah tangga darurat tempat Kirana dan Kenan baru saja berpisah.

"Halo? Selamat siang," suara seorang pria paruh baya akhirnya menyahut dari seberang telepon. 

"Dengan Pak RT Kompleks Perumahan Asri di sini. Ada yang bisa dibantu?"

Rendy menegakkan tubuhnya, mengulas senyum miring yang penuh kemenangan. "Selamat siang, Pak. Saya Rendy, perwakilan tim pendataan siswa SMA Garuda. Saya mau melakukan verifikasi data domisili untuk dua siswa kami, Kenan dan Kirana. Menurut berkas, mereka terdaftar di alamat yang sama di Blok C No. 12. Apakah benar mereka tinggal di rumah yang sama?"

Hening sejenak di seberang telepon.

"Oh, soal Mas Kenan dan Mbak Kirana?" sahut Pak RT. "Betul, Mas. Mereka berdua tinggal di rumah itu. Tapi setahu saya—"

Srek!

Sebelum Pak RT menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan tegap merampas ponsel dari genggaman Rendy dengan gerakan yang amat cepat!

Rendy terperanjat hebat, membalikkan badan dengan kepalan tangan yang siap melayang. Namun, gerakannya terhenti seketika saat melihat sosok yang berdiri di depannya.

Kenan.

Ketua OSIS itu berdiri tenang dengan ponsel Rendy di tangannya. Wajahnya datar, namun tatapan sangat lah tajam. Tanpa memutus panggilan, Kenan mendekatkan ponsel itu ke telinganya sendiri.

"Selamat siang, Pak RT. Ini Kenan," ujar Kenan dengan suara sopan dan sangat terkontrol. "Maaf atas ketidaknyamanannya. Ada adik kelas yang sedang meminjam ponsel untuk kerjanya dan salah menghubungi nomor. Mengenai berkas pendataan rumah, Ibu saya sudah menyerahkan surat konfirmasi resmi ke kantor kelurahan minggu lalu. Terima kasih banyak, Pak."

"Oh, begitu... Iya Mas Kenan, tidak apa-apa. Berkas dari Ibu kamu sudah rapi kok," jawab Pak RT santai sebelum menutup panggilan.

Kenan mematikan layar ponsel tersebut, lalu menatap Rendy. Suasana di sudut lorong lapangan basket itu mendadak menjadi mencekam.

"Lo apa-apaan sih, Nan?!" bentak Rendy penuh amarah, mencoba merebut kembali ponselnya. 

"Balikin hp gue!"

Kenan tidak langsung menyerahkannya. Ia menimang ponsel itu di tangannya dengan gerakan lambat yang penuh intimidasi.

"Mencari tahu alamat rumah siswa lain tanpa izin resmi sekolah adalah pelanggaran privasi, Rendy," kata Kenan dingin, suaranya pelan namun menusuk. "Apalagi memakai nama tim pendataan sekolah. Gue bisa laporkan tindakan penyalahgunaan identitas ini ke Pembina OSIS detik ini juga."

Rendy tertawa hambar, mencoba menutupi rasa gugupnya. "Laporkan aja! Gue gak takut! Gue cuma mau membuktikan kalau ada hal busuk yang lo sembunyikan! Kenapa lo sama Kirana tinggal di rumah yang sama?! Kenapa lo posesif banget sama dia?!"

Kenan melangkah satu tindakan lebih dekat, membuat jarak di antara mereka lebih dekat hingga Rendy harus mendongak sedikit. Aura kepemimpinan Kenan yang menindas membuat atmosfer di sekitar mereka terasa makin berat.

"Rumah itu atas nama almarhum kakek gue, dan keluarga Kirana menyewa lantai satu untuk usaha serta tempat tinggal sementara karena orang tua kita bersahabat sejak kuliah," jawab Kenan lurus, mengatakan kebohongan yang sudah ia siapkan bersama ibunya jauh-jauh hari. "Surat perjanjian sewa dan dokumen legalitasnya ada di ruang tata usaha sekolah kalau lo memang sekepo itu."

Rendy melotot, lidahnya mendadak kaku. "S-sewa...?"

"Lo pikir ada apa?" Kenan menyunggingkan senyum tipis yang amat sinis. "Lo pikir kita kumpul kebo? Atau lo berharap ada skandal besar yang bisa lo pakai buat menjatuhkan gue dari posisi Ketua OSIS?"

Kenan menyerahkan kembali ponsel milik Rendy dengan menyentuh dada sang ketua tim basket itu kasar.

"Dengar baik-baik, Rendy," bisik Kenan dengan nada bernuansa ancaman mematikan. "Fokus ke pertandingan basket dan ujian lo. Jangan pernah sekali-kali usik Kirana lagi, atau gue pastikan beasiswa olahraga lo semester depan ditinjau ulang oleh pihak yayasan."

Tanpa menunggu balasan, Kenan membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan Rendy yang berdiri mematung dengan rahang mengetat keras dan wajah memerah padam oleh rasa malu dan kekalahan telak. “Sialan!, gue masih nggak percaya” Dengus nya merasa kesal sendiri.

Sementara itu, di dalam kelas XII IPA 2, Kirana baru saja menyelesaikan lembar jawaban ujian Kimia-nya tepat saat bel tanda berakhirnya ujian berbunyi nyaring.

"Waktu habis! Kumpulkan lembar jawaban ke depan!" seru Pak Bambang dari meja pengawas.

Kirana menghembuskan napas lega yang teramat panjang, menyerahkan kertas ujiannya lalu berjalan keluar kelas bersama Maya. Koridor sekolah masih ramai membicarakan nasib Clarissa yang baru saja dicopot dari jabatannya sebagai wakil OSIS.

"Gila ya, Kir! Gue masih gak nyangka si Clarissa senekat itu!" cerocos Maya sambil mengunyah keripik kentang di lorong. "Tapi beruntung banget si Ketos cerdas. Dia bisa mikir sampai ke rekaman CCTV segala!"

Kirana menyunggingkan senyum manis yang tertahan. "Iya... Kenan emang sigap banget kalau soal aturan."

"Tapi lo sadar gak sih?" Maya menghentikan langkahnya, menatap Kirana dengan pandangan selidik yang membuat Kirana mendadak tegang.

"Sadar... soal apa?" tanya Kirana sedikit gugup.

"Cara Kenan natap lo pas di ruang Kepala Sekolah tadi," Maya mendekatkan wajahnya, berbisik misterius. "Gue kan ngintip dari celah pintu. Pas Pak Bambang bentak lo, si Ketos tuh langsung berdiri di samping lo kayak pahlawan super. Terus pas di lorong tadi, dia usap air mata lo kan?!"

Pipi Kirana seketika merona merah padam. "E-eh! Itu... itu cuma refleks dia aja, May! Kan gue bilang, ibu kita saling kenal, jadi dia merasa punya tanggung jawab moral!"

"Tanggung jawab moral mata lo!" goda Maya sambil tertawa keras, menyenggol bahu Kirana. "Batu es begitu mana punya 'tanggung jawab moral' ke cewek lain! Ke cewek-cewek ekskul cheerleaders yang nangis aja dia cuek bebek! Gue curiga si Kenan tuh sebenarnya naksir berat sama lo, tapi gengsinya setinggi langit!"

"Sembarangan lo kalau ngomong!" sahut Kirana cepat-cepat menutupi degupan jantungnya yang maraton. "Udah ah, jangan ngomongin dia. Mending kita ke kantin, lapar nih!"

Kirana berjalan cepat mendahului Maya untuk menghindari interogasi lebih lanjut. Namun di dalam hatinya, ia membayangkan ucapan Maya tadi. “Naksir berat? Halah, dia kan udah ngaku sendiri di mobil kemarin kalau dia gak bisa kehilangan gue…” batin Kirana, membuat senyuman geli muncul di bibirnya.

Di ruang OSIS, suasana sangat hening. Kenan duduk di kursi kerjanya, memandangi berkas ujian di atas meja. Tak berapa lama, pintu ruangan terbuka dan Kenan mendongak.

Rendy melangkah masuk sendirian. Sikapnya tidak lagi agresif seperti di lapangan basket tadi, melainkan dingin dan terkontrol. Ia menutup pintu rapat-rapat.

"Ada apa lagi?" tanya Kenan datar tanpa menghentikan pulpennya.

Rendy berjalan mendekati meja Kenan, menyandarkan kedua tangannya di tepi meja kayu tersebut.

"Gue udah dengar alibi sewa rumah lo," kata Rendy pelan. "Rapi banget. Gue akui lo pinter menyusun cerita biar gak ada celah di mata guru-guru atau sekolah."

Kenan menatap Rendy lurus-lurus. "Itu fakta, bukan alibi."

Rendy menyunggingkan senyum tipis yang penuh tantangan. "Gue gak peduli surat sewa itu asli atau palsu, Kenan. Tapi yang gue tahu pasti... cara lo menatap Kirana bukan cara seorang 'anak pemilik rumah' menatap 'penyewa lantai satu'."

Kenan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada. "Terus?"

"Gue gak akan cari tahu rahasia rumah lo lagi," ujar Rendy, membuat Kenan agak mengernyit. "Tapi gue gak akan menyerah gitu aja soal Kirana."

"Maksud lo?"

"Ujian Akhir Semester tinggal empat hari lagi," Rendy menegakkan tubuhnya. "Setelah UAS selesai, sekolah bakal mengadakan Class meeting dan Pensi. Gue bakal nyatakan perasaan gue ke Kirana secara resmi di depan seluruh sekolah saat penutupan Pensi."

Jantung Kenan berdesir, namun raut wajahnya tetap terkunci rapat tanpa ekspresi.

"Lo gak punya hak melarang gue," lanjut Rendy mantap. "Kalau Kirana terima gue, itu artinya perasaan lo yang 'posesif' itu cuma bertepuk sebelah tangan. Tapi kalau Kirana nolak gue... gue bakal mundur dan gak akan ganggu kalian berdua lagi. Gimana?"

Kenan menatap Rendy cukup lama. Ruangan itu dipenuhi oleh ketegangan tak kasat mata antara dua cowok paling berpengaruh di SMA Garuda.

Kenan menghembuskan napas perlahan, lalu berdiri dari kursinya. Ia menatap Rendy dengan ketenangan yang mematikan.

"Hemm… coba saja," balas Kenan singkat dan dingin. "Tapi siap-siap aja buat kecewa."

Rendy tersenyum sinis, membalikkan badan lalu melangkah keluar dari ruang OSIS.

Begitu pintu tertutup, Kenan mengepalkan tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. “Menyatakan perasaan di depan seluruh sekolah?” batin Kenan kesal. Rasa cemburu yang baru saja reda kini kembali menyala perlahan.

Hari-hari ujian berikutnya berjalan lancar. Tanpa gangguan Clarissa yang sedang menjalani skors di rumah, suasana ujian menjadi jauh lebih kondusif. Kirana mampu mengerjakan soal-soal Bahasa Inggris, Fisika, dan Ekonomi dengan sangat baik berkat bimbingan ketat Kenan setiap malam.

...

Jumat sore, bel panjang berbunyi menandakan berakhirnya seluruh rangkaian Ujian Akhir Semester. Sorak-sorai lega terdengar dari seluruh penjuru kelas. Para murid berhamburan keluar membawa kebahagiaan menyambut liburan yang sudah di depan mata.

Di dalam rumah minimalis dua lantai, malam harinya dipenuhi oleh atmosfer yang sangat santai dan hangat.

Kirana tiduran terlentang di atas karpet bulu ruang tengah sambil memainkan ponselnya, sementara Kenan duduk di sofa sambil menonton tayangan berita di televisi. Tidak ada lagi tumpukan buku Kimia atau lembar rumus yang bikin pusing.

"Ahhh! Bebas juga akhirnya!" seru Kirana gembira sambil merenggangkan kedua tangannya. "Gak perlu ngelihat rumus kalkulus lagi buat dua minggu kedepan!"

Kenan melirik ke bawah, tersenyum kecil melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil bebas dari kandang.

"Jangan senang dulu," tegur Kenan. "Nilai murni baru keluar hari Selasa. Kalau nilai lo ada yang di bawah KKM, liburan lo bakal habis buat remedial bareng gue."

Kirana duduk mendadak, merengut kesal pada Kenan. "Ihh! Ngeselin banget sih lo! Paling enggak puji gue dulu napa! Gue kan udah berusaha keras seminggu ini!"

Kenan mengalihkan pandangannya dari televisi, menatap Kirana yang duduk di bawahnya. Perlahan, Kenan turun dari sofa dan ikut duduk bersila di atas karpet, tepat di hadapan Kirana.

"Oke," ujar Kenan lembut. Tangannya terangkat, mengusap kepala Kirana dengan penuh kehangatan. "Kerja bagus, Kirana. Gue bangga sama lo."

Pujian yang tulus dan sangat langka itu membuat jantung Kirana berdegup kencang secara mendadak. Pipinya memanas. Tatapan mata Kenan yang teramat dalam dan penuh rasa sayang membuat Kirana tak sanggup berpaling.

"K-Kenan..." bisik Kirana lirih.

"Kenapa?"

"Soal Rendy..." Kirana memberanikan diri untuk bertanya "Dia apa aja sama lo?"

Kenan menghentikan usapan tangannya di rambut Kirana. Raut wajahnya berubah sedikit lebih serius, namun tetap lembut.

"Dia nantang gue," aku Kenan jujur.

"nantang gimana?"

"Dia bilang... dia mau nembak lo di depan seluruh sekolah pas penutupan Pensi minggu depan," jawab Kenan lurus.

Kirana membelalakkan mata kaget setengah mati. "H-HAH?! Nembak gue di depan umum. Wahh gila juga tuh cowok ya?!"

"Gue gak akan membiarkan itu terjadi," pangkas Kenan cepat, memegang kedua bahu Kirana. Tatapan matanya terlihat tegas. 

"Tapi gue butuh kepastian dari lo, Kirana." Kirana menelan ludah, menatap suami nya itu. "Kepastian apa?"

Kenan mendekatkan wajahnya, menatap manik mata Kirana dengan kejujuran yang sangat pekat.

"Kalau Rendy benar-benar nembak lo di Pensi... apa jawaban lo?" tanya Kenan, suaranya terdengar begitu menuntut di balik sikap tegasnya. "Apa lo punya rasa sama dia”

Pertanyaan jujur itu menggantung di udara malam yang dingin. Kirana menatap wajah Kenan, melihat kecemasan mendalam di balik manik mata hitam yang biasanya sedingin es itu. Kirana tersenyum perlahan, memegang tangan Kenan yang ada di bahunya.

"Pertanyaan bodoh," bisik Kirana lembut sambil mendekatkan dahinya ke dahi Kenan. "Di hati gue cuma ada suami Es Batu gue yang suka cemburu ini. Nggak ada tempat buat orang lain."

Kenan tersenyum, senyuman tulus paling tampan yang pernah Kirana lihat seumur hidupnya. Kenan menarik Kirana ke dalam pelukannya yang hangat dan erat, menyembunyikan senyum bahagianya di balik bahu sang istri.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!