Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
diluar dugaan
Bayu memang tak tahu bagaimana rumitnya situasi di dalam kantor pusat PT Golden. Toh, selama empat bulan terakhir ini dia hanya menghabiskan waktunya di rumah mewah, fokus menjaga kondisi fisik dan mengurus keperluan rumah tangga demi mendukung program kehamilan istrinya.
Biar saja urusan kubikel lantai tiga dan berkas revisi yang kemarin dipegang Rico berjalan apa adanya tanpa perlu dicampuri.
Hari Minggu biasanya menjadi jadwal libur mutlak bagi sebagian besar pekerja kantoran biasa. Namun bagi seorang pebisnis kelas atas sekaligus pemilik perusahaan raksasa, jadwal libur adalah hal yang mereka tentukan sendiri berdasarkan kebutuhan bisnis mereka. Demi memastikan proyek investasi barunya berjalan tanpa kendala, Mita memilih hari ini untuk turun langsung ke lapangan.
Siang itu, cuaca di luar kota tampak cukup terik. Mobil sedan mewah berwarna hitam metalik milik Mita perlahan melambat, hingga akhirnya berhenti tepat di depan area gerbang lokasi proyek pembangunan yang luas.
Mita dan Vani, sang sekretaris pribadi, pun turun dari kabin mobil yang sejuk. Mita tampak anggun namun tegas dengan pakaian kasual elitnya, sementara Vani sigap membawa papan klip berisi dokumen cetak biru proyek.
Di sana, beberapa kepala proyek dan pengawas lapangan yang mengenakan helm keselamatan sudah berdiri rapi menyambut kedatangan sang bos besar. Tanpa membuang waktu di bawah terik matahari, mereka pun mulai berjalan memutari area pondasi, membahas masalah batas lokasi, kendala material, dan estimasi waktu penyelesaian dengan sangat serius.
Namun... di saat yang bersamaan, sebuah takdir tersembunyi sedang bergerak di sekitar tempat itu.
Ada sebuah mobil sederhana yang baru saja melaju perlahan, keluar dari sebuah gang sempit yang terletak tepat di seberang jalan lokasi proyek pembangunan tersebut.
Pria yang berada di balik kemudi mobil itu tidak lain dan tidak bukan adalah Rico, yang kebetulan sedang berada di daerah luar kota tersebut untuk urusan pribadinya di hari libur.
Saat mobilnya hendak berbelok ke jalan utama, pandangan mata Rico tidak sengaja menangkap kerumunan orang di seberang jalan. Fokus matanya seketika terkunci pada sosok wanita yang berdiri di tengah-tengah para pekerja proyek.
"Ibu Mita...?" kata Rico dengan suara berbisik yang tercekat di tenggorokan.
Sepasang matanya langsung melotot sempurna setelah mengenali dengan sangat jelas sosok sang idola sekaligus direktur utamanya. Jantung Rico berdegup kencang berkejaran dengan adrenalin.
Dia benar-benar terkejut melihat bos besarnya yang biasa berdiam di ruangan mewah lantai teratas gedung PT Golden, siang ini justru berdiri di daerah luar kota yang berdebu.
"Hm... kebetulan yang luar biasa!" gumam Rico dengan seulas senyuman licik yang perlahan terukir di bibirnya.
Ambisi terlarangnya yang sempat teredam oleh teguran kantor seketika kembali berkobar dengan hebat.
"Jodoh emang enggak kemana," kata Rico di dalam hati yang makin bersemangat.
Rico segera memutar kemudinya, menepikan mobilnya di tempat yang agak tersembunyi tidak jauh dari area proyek. Dia merapikan penampilannya sejenak melalui spion tengah, bersiap untuk turun dan mencari celah demi menyapa Mita di luar jam kantor, sama sekali tidak menyadari bahwa keberanian nekatnya siang ini sedang berjalan mendekati ujung belati yang sangat tajam.
Setelah merapikan kerah kaus dan memastikan penampilannya sudah layak serta cukup rapi melalui cermin spion tengah, Rico menarik napas panjang untuk mengendalikan debaran jantungnya. Kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan.
Dia pun menjalankan mobilnya perlahan memotong jalan raya, lalu mengemudikannya masuk ke area depan proyek dan berhenti tepat di samping mobil sedan mewah milik Ibu Mita.
Suara rem mobil Rico yang tiba-tiba berhenti di area steril itu seketika memecah konsentrasi diskusi lapangan. Orang-orang yang berada di sana, mulai dari para kepala pengawas proyek hingga pekerja teknik, langsung mengarahkan pandangannya ke sana dengan dahi berkerut heran.
Mereka semua menatap kaca mobil yang gelap, seolah menebak-nebak di dalam hati siapa sosok penting atau rekan bisnis yang berada di dalam sana hingga berani memarkirkan kendaraan tepat di sebelah mobil sang pemilik perusahaan raksasa.
Di bawah tatapan puluhan mata penuh selidik tersebut, Rico pun membuka pintu mobilnya dengan gerakan yang tenang dan melangkah keluar.
"Rico...?" kata Vani, sang sekretaris pribadi Mita yang mengenali wajah staf baru divisi lantai tiga tersebut. Kedua alisnya bertaut heran.
"Kamu ngapain ada di luar kota siang-siang begini, apalagi sampai ke lokasi proyek?"
Rico menyunggingkan senyuman ramah yang tampak sangat natural, melangkah mendekat dengan gestur yang sangat sopan di hadapan kedua atasannya. "Hehe, maaf mengganggu waktunya, Bu Mita, Mbak Vani. Tadi saya tidak sengaja melihat kalian dari seberang jalan saat mau keluar. Dan untuk memastikan apakah benar ini kalian atau bukan, makanya saya memutuskan untuk putar balik dan langsung ke sini," kata Rico memberikan alasan yang sangat masuk akal demi menutupi obsesi liarnya.
"Owh..." Mita hanya bergumam pelan, wajah cantiknya tetap tenang dan berwibawa di balik kacamata hitamnya.
"Kamu sendiri aslinya dari mana?" tanya Vani menyelidik lebih lanjut.
"Hari ini kan jadwal libur kerja kantor, Mbak. Makanya saya memanfaatkan waktu untuk pulang kampung sebentar menengok rumah" jawab Rico sambil mengarahkan telunjuknya ke arah seberang jalan raya.
"Rumahku tepat berada di dalam gang sempit yang di seberang itu, Mbak."
Vani hanya mengangguk-angguk paham mendengar penjelasan logis dari karyawan barunya tersebut. Keberadaan Rico di tempat ini murni karena faktor geografis tempat tinggalnya, bukan karena tindakan menguntit yang mencurigakan.
Tak terasa di tengah obrolan singkat itu, pembahasan intens tentang rancangan proyek pertama pun akhirnya selesai. Para kepala pengawas proyek mulai membubarkan diri untuk kembali memimpin para pekerja lapangan di bawah terik matahari siang yang kian menyengat kulit.
Rasa lelah dan peluh yang membasahi pelipis membuat Ibu Mita dan Vani pun mau beristirahat sejenak untuk memulihkan energi sebelum melanjutkan perjalanan dinas mereka kembali ke ibu kota. Mereka berdua melirik ke arah sekitar, namun area luar kota yang gersang ini tidak menyediakan kafe atau restoran yang layak untuk standar kenyamanan seorang direktur utama.
Melihat celah besar tersebut, insting Rico langsung bergerak cepat. "Mengingat cuaca di luar sangat panas dan tidak ada tempat istirahat yang nyaman di sekitar sini, bagaimana kalau Ibu Mita dan Mbak Vani singgah saja dulu ke rumah saya di dalam gang?
Kebetulan rumah sedang sepi dan udaranya cukup sejuk untuk sekadar meluruskan kaki," tawar Rico dengan nada suara yang penuh ketulusan buatan.
Mita menatap ujung gang seberang jalan, lalu melirik jam tangan mahalnya. Rasa penat di tubuhnya setelah memutari pondasi proyek memang membutuhkan tempat berteduh sejenak.
Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun terhadap niat tersembunyi dari bawahannya yang tampak polos ini, Mita dan Vani pun mengiyakannya.
Mereka menyetujui ajakan tersebut, bersiap melangkah masuk ke dalam area yang dikuasai Rico, tanpa pernah menduga skenario gila apa yang sedang dirancang pria itu di dalam kepalanya sepanjang jalan menuju rumahnya yang sunyi.