GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Vault Master dan Rahasia lima Puluh Triliun Dolar
Di ujung lorong, berdiri sebuah kubah besi raksasa berdiameter tiga puluh meter. Kubah tersebut melayang anggun di atas kolam cairan nitrogen dingin yang memancarkan pendaran cahaya biru misterius.
Di tengah-tengah kubah, berdiri sebuah meja jahit kayu jati tua merek Singer yang di atasnya tertata rapi sebuah mesin jahit kuno berlapis emas murni, dikelilingi oleh ribuan kumparan benang tembaga yang terhubung ke jaringan server mekanis.
Inilah Vault Master lima puluh triliun dolar milik Mbah Tejo.
“Akhirnya…” desis Sersan Broto, matanya berkaca-kaca menatap meja jahit kuno tersebut. “Aset terbesar dalam sejarah peradaban manusia…”
Siska mendekati meja jahit emas itu, memindai aliran arus listrik mekanis di bawahnya. “Sistem ini siap menerima otentikasi akhir. Gala, letakkan pedal emas itu di bawah meja jahit, lalu injak pedalnya tiga kali untuk menyatukan seluruh enkripsi data.”
Gala melangkah maju dengan dada berdebar kencang. Di dalam ruangan es yang sunyi itu, hanya terdengar langkah kakinya yang menginjak lantai titanium. Ia memasang pedal emas itu ke engsel bawah meja jahit kuno peninggalan kakeknya.
Gala menatap Senja, yang mengangguk mantap berikan dukungan moril. Gala menarik napas dalam-dalam, lalu menginjak pedal emas itu:
CEKLOK… CEKLOK… CEKLOK!
BZZZZZZT!
Seketika, roda gila mesin jahit emas di atas meja berputar dengan kecepatan tinggi! Ribuan kumparan benang tembaga di sekeliling ruangan memancarkan arus listrik biru bercahaya terang.
Di atas meja jahit, sebuah proyektor hologram mekanis menyala, menyorotkan cahaya biru ke udara ruangan.
Sebuah grafik jaringan keuangan global raksasa muncul memenuhi udara kubah, memperlihatkan aliran dana lima puluh triliun dolar yang terbagi ke dalam ribuan anak perusahaan, bank Swiss, obligasi negara, hingga rekening rahasia The Board of Directors.
Namun, yang membuat semua orang di ruangan itu menahan napas adalah sosok hologram pria tua yang mendadak muncul berdiri di samping meja jahit tersebut.
Seorang pria tua berpeci, berkumis tebal melengkung, mengenakan kemeja batik kain santung luntur dan memegang meteran kain di lehernya.
Mbah Tejo Prasetyo.
Hologram Mbah Tejo tersenyum ramah, membetulkan pecinya, lalu berbicara dengan suara serak khas dialek Jawa Sleman yang sangat kental:
“Sugeng rawuh, Le… Gala.”
(Selamat datang, Cucuku… Gala.)
Gala membelalakkan mata, lututnya mendadak lemas. “Mbah… Mbah Tejo? Ini… ini rekaman hologram Mbah?”
Hologram Mbah Tejo terkekeh pelan dalam rekaman tersebut, menyulut pipa tembakaunya sebelum melanjutkan bicaranya:
“Yen kowe moco pesan iki, tegese kowe wis nggawa pedal mesin jahit kunoku tekan Puncak Matterhorn. Maaf ya, Le, Mbah nggawe kowe sengsara kejar-kejaran karo mafia antariksa lan Interpol.”
(Kalau kamu membaca pesan ini, artinya kamu sudah membawa pedal mesin jahit kunoku sampai Puncak Matterhorn. Maaf ya, Cucuku, Mbah membuatmu sengsara dikejar-kejar mafia antariksa dan Interpol.)
“Sebenare, uang lima puluh triliun dolar iki dudu milik Mbah, lan dudu milik Dewan Komisaris biadab iku. Uang iki adalah seluruh akumulasi dana bungas dan perampokan ekonomi sing dikumpulake dening para elit global selama seratus tahun terakhir.”
Pak Joko mendengung kaget dari belakang. “Apa?! Dana perampokan ekonomi global?!”
Hologram Mbah Tejo melanjutkan dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat serius:
“Mbah disuruh ngejahit jas berpenyadap kuantum kanggo para elit iku supaya Mbah bisa mencuri seluruh aset rahasia mereka secara perlahan. Dan hari ini, lewat sistem enkripsi mesin jahit iki, uang lima puluh triliun dolar iku wis resmi dialokasikan secara otomatis kanggo menghapus seluruh utang negara berkembang, utang rakyat kecil, lan utang cicilan motor Revo di seluruh dunia!”
BIP—BIP—BIP!
Layar hologram menampilkan Notifikasi Pemutihan Masal Global:
PROGRAM DANA SOSIAL MBAH TEJO: DIAKTIFKAN.
Total Utang Negara Terhapus: $30 Triliun.Total Pemutihan Utang UMKM & Rakyat Kecil: $20 Triliun.Status Utang Gala Prasetya: LUNAS TOTAL + BONUS KUITANSI BENSIN REVO SEBESAR RP 37.500.000 PAID IN FULL.Gala melotot sampai matanya nyaris keluar dari rongganya. “HAH?! Uang lima puluh triliun dolarnya… dibagi-bagikan gratis buat melunasi utang seluruh manusia di bumi?! Dan… uang bensin Revo gue cair tiga puluh tujuh juta rupiah?!”
“Luar biasa…” desis Senja, air mata haru menetes di pipinya. “Ayahku dan Mbah Tejo… tidak pernah berniat menguasai dunia. Mereka ingin membebaskan dunia dari perbudakan utang!”
Namun, sebelum euforia haru itu memuncak, suara tepuk tangan dingin yang menggema dari balik pintu gerbang kubah memecah suasana.
CLAP… CLAP… CLAP…
“Sebuah skenario philantropi yang sangat menyentuh hati, Sersan Broto,” suara wanita anggun bernada kejam bergaung keras.
Dari dalam uap nitrogen dingin, melangkah masuk Baroness Karlotta bersama dua puluh pasukan khusus The Board of Directors bersenjata lengkap. Namun, kali ini Baroness tidak melangkah di depan.
Ia berdiri di samping sesosok pria berjas eksekutif mahal berambut putih rapi yang melangkah keluar dari balik bayangan. Pria tua itu memegang tongkat pualam perak, menatap Gala dan Sersan Broto dengan senyuman miring yang mengerikan.
Sersan Broto membeku di tempat. Wajah tegas sang sersan mendadak berubah menjadi pucat pasi.
“Kau…” desis Sersan Broto dengan suara bergetar. “Tidak mungkin… Kau seharusnya sudah tewas dalam perang dingin era 1980!”
Pria tua berambut putih itu tersenyum tenang, menyesap cerutu mahalnya.
“Halo, Broto. Halo, Siska. Dan selamat berkenalan, Gala Prasetya,” sapa pria tua itu dengan suara bariton yang sangat berwibawa. “Saya adalah Pemimpin Tertinggi The Board of Directors… dan saya adalah saudara kembar dari Mbah Tejo Prasetyo.”
BOOOOM!
Sebuah plot twist dahsyat kembali menghantam saraf kewarasan Gala hingga pria itu jatuh terduduk di lantai kubah es.
“S-Saudara kembar Mbah Tejo?!” jerit Gala histeris, menunjuk pria tua berambut putih itu dengan jari bergetar. “Jadi… Mbah Tejo punya kembaran yang jadi bos mafia nomor satu di dunia?!”
Pria tua itu—Mbah Danu Prasetyo—kekeh pelan, melangkah mendekati meja jahit emas Mbah Tejo.
“Tejo selalu menjadi si idialis bodoh yang ingin menyelamatkan rakyat kecil,” ujar Mbah Danu dingin. “Dia pikir dengan membagikan lima puluh triliun dolar ini ke seluruh dunia, tatanan ekonomi akan selamat? Bodoh! Tanpa utang dan perbudakan sistematis, orang-orang tidak akan mau bekerja lagi!”
Mbah Danu mengarahkan tongkat peraknya tepat ke arah meja jahit emas.
“Karlotta, matikan pemutihan utang itu dan alihkan seluruh dana lima puluh triliun dolar ke rekening eksekutif saya di Zurich sekarang juga!” perintah Mbah Danu tajam.
Baroness Karlotta melangkah maju membawa terminal peretas militer, bersiap menimpa enkripsi Mbah Tejo.
Senja, Siska, Vanya, dan Sersan Broto langsung mencabut senjata mereka, namun dua puluh moncong senapan mesin pasukan The Board of Directors sudah terkunci rapat ke dada mereka masing-masing.
“Jangan bergerak!” bentak salah satu pengawal elit.
Suasana di dalam kubah es Matterhorn berada di titik kritis paling mematikan dalam sejarah. Uang lima puluh triliun dolar yang seharusnya menyelamatkan dunia dari krisis ekonomi kini berada di ujung tanduk kuku mafia paling kuat di galaksi.
Gala, yang masih terduduk di lantai dekat pedal mesin jahit emas, menatap Mbah Danu dengan mata yang perlahan-lahan memancarkan amarah seorang cucu Sleman yang tak sudi warisan kakeknya diinjak-injak.
Gala meraba saku jaket tebalnya, menemukan sebuah alat kecil yang sejak tadi tersembunyi di balik dompet kulitnya: kunci kontak serep motor Honda Revo edisi 2012.
Gala melirik Siska dan Senja, memberikan kode mata rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka bertiga.
“Mbah Danu…” panggil Gala dengan suara pelan namun mantap.
Mbah Danu menoleh menatap cucu keponakannya itu dengan pandangan meremehkan. “Apa, jurnalis bodoh? Mau memohon ampun?”
Gala perlahan-lahan berdiri, memegang kunci kontak Revo di tangan kanannya, lalu tersenyum menyeringai paling menyebalkan di muka bumi.
“Mbah Tejo pernah bilang sama saya…” kata Gala pelan, “…kalau ada orang jahat yang mau merusak mesin jahitnya… Mbah cuma perlu mengonsletkan sakelar arus bawah tanah pakai kunci motor Revo!”
KLEK!
Gala menancapkan kunci kontak Revo itu langsung ke dalam colokan arus utama di balik meja jahit emas, lalu memutarnya ke posisi ON!
CTARRRRRRRRRR—BOOOOOOMMMMM!
Arus listrik bertegangan jutaan volt dari reaktor nitrogen dingin menyambar langsung ke seluruh jaringan lantai titanium kubah es!
Seketika, seluruh senjata otomatis dan peralatan elektronik milik pasukan The Board of Directors meledak mengalami arus pendek massal!
“BERLINDUNG!” teriak Senja sambil menerjang menerkam dua pengawal terdepan!
Pertempuran pamungkas di puncak Matterhorn pun meletus dahsyat di antara letupan bunga api listrik dan serpihan es yang membeku!