Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Jebakan di Ujung Dermaga
Lampu sorot dari atap gudang membuat mata Cassandra menyipit kesakitan. Bau cat tua dan garam laut makin menusuk di dalam ruangan yang luas itu.
Sosok Rizal berdiri di atas balkon dengan kekehan meremehkan. Pakaian hitamnya yang kotor menegaskan bahwa ia memang bagian dari komplotan ini sejak awal.
"Rizal?!" jerit Cassandra, tak percaya pada penglihatannya. "Lu, lu beneran kerja sama sama orang-orang ini?!"
Rizal menertawakan ketidaktahuan Cassandra dengan suara nyaring yang bergema di seluruh dinding beton. "Lu pikir gue cuma budak gratisan Anggita, Cas? Gue ini yang megang jalur komunikasi rahasia buat pasar gelap Pak Baskoro di Bandung!"
Ia melangkah maju hingga ke tepi pembatas balkon, memutar-mutar remote detonator di jemarinya. Matanya menyala penuh dendam pada cewek yang dulu pernah membuatnya hancur.
"Waktu di atap sekolah kemarin, lu udah bikin gue malu di depan semua orang," ujar Rizal dengan intonasi tajam. "Sekarang, lu dan ibu lu yang bakal bayar semuanya!"
Cassandra melirik ke arah ibunya yang terikat di tengah ruangan. Mata ibunya berkaca-kaca, menggelengkan kepala memberi kode agar Cassandra segera melarikan diri dari tempat berbahaya itu.
Namun, Cassandra menolak untuk menyerah begitu saja. Jemari di balik saku jaketnya diam-diam menekan tombol perekam sinyal pada ponsel portabelnya.
"Mana Narendra?" tanya pria bertopeng yang berdiri di sebelah Rizal, suaranya berat dan terdengar sangat mengintimidasi. "Saya minta kalian berdua datang membawa flashdisk enkripsi itu!"
"Dia enggak ikut," bohong Cassandra dengan nada tenang yang dibuat-buat. "Gue datang sendirian buat nyelamatin ibu gue."
"Bohong!" bentak Rizal seraya menunjuk ke arah jendela samping gudang. "Narendra pasti ada di sekitar sini! Dia enggak mungkin membiarkan cewek kesayangannya jalan sendirian!"
Tiba-tiba, suara kepulan asap tebal dan ledakan kecil terdengar dari arah panel listrik utama di bawah balkon.
BZZZT!
Seluruh lampu sorot mendadak mati total dalam sekejap. Kegelapan pekat kembali menguasai interior gudang tua itu, memicu kepanikan dari Rizal dan pria bertopeng di atas sana.
"Apa-apaan ini?!" teriak Rizal panik di tengah kegelapan. "Siapa yang meretas sakelar utama?!"
Di dalam kegelapan itu, sebuah bayangan bergerak cepat menyambar tubuh Cassandra dari samping. Sebuah tangan hangat meremas jemarinya dengan lembut namun sigap.
"Waktunya lari, Cas," bisik Narendra tepat di samping telinganya.
Cassandra tersenyum lega di balik kegelapan. Narendra rupanya tidak hanya berhasil memancing para penjaga di luar, tetapi juga sempat menyusup ke ruang panel untuk memutus arus listrik gudang.
Dengan memanfaatkan kacamata night vision buatan yang dipakai Narendra, mereka berdua berlari mendekati posisi ibu Cassandra di tengah ruangan. Jemari Cassandra dengan lincah memotong tali tambang yang mengikat ibunya menggunakan pisau lipat kecil dari saku jaketnya.
"Ibu enggak apa-apa? Ayo kita keluar dari sini!"
"Cassandra... anakku," bisik ibunya terisak seraya memeluk Cassandra erat-erat.
"Narendra! Cassandra! Gue tahu kalian di bawah!" jerit suara Rizal dari atas balkon, disusul oleh suara desakan pelatuk senjata api dari pria bertopeng.
DOR! DOR!
Dua tembakan peluru menyambar lantai beton di dekat mereka, menciptakan percikan api kecil yang menerangi keremangan malam.
Narendra segera memasang badannya, mengarahkan Cassandra dan ibunya menuju pintu keluar darurat di bagian belakang gudang. "Cas, bawa ibu lu keluar dulu! Gue bakal tahan mereka dari panel kontrol!"
"Tapi luka bahu lu, Ren!" seru Cassandra khawatir.
"Gue bakal baik-baik aja!" balas Narendra mantap seraya memberikan ponsel pengontrol sinyal pada Cassandra. "Pintu belakang terkunci otomatis, pakai sinyal ponsel ini buat buka kunci digitalnya!"
Cassandra menerima ponsel itu dan segera menuntun ibunya berlari menuju pintu besi tebal di sudut belakang gudang. Jemarinya menari di atas layar untuk meretas kunci pintu digital tersebut.
KLIK!
Pintu besi terbuka lebar, memperlihatkan area dermaga terbuka yang langsung mengarah ke laut lepas. Cassandra bernapas lega dan membantu ibunya melangkah keluar dari gudang.
Namun, saat Cassandra hendak memutar tubuhnya kembali ke dalam untuk menjemput Narendra, sebuah sosok tinggi mendadak menghadang langkahnya tepat di ambang pintu.
Bukan Narendra yang berdiri di sana.
Melainkan pria bertopeng taktis, membawa senapan laras panjang yang kini terarah tepat ke kening Cassandra. Dan di belakang pria itu, tampak Narendra tersungkur di lantai dengan tangan terikat kabel baja tebal.
Pria bertopeng itu perlahan melepaskan penutup wajahnya, memperlihatkan raut wajah seorang pria yang sangat mereka kenal di SMA Garuda.
Itu adalah Pak Hermawan—guru penanggung jawab laboratorium komputer sekolah mereka sendiri.
Pak Hermawan menyunggingkan senyum dingin yang amat menyeramkan.
"Skenario yang sangat bagus, anak-anak. Tapi kalian lupa kalau gurulah yang mengajari kalian cara menggunakan komputer."