Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 Kecewa
Setelah mengantarkan oleh-oleh untuk adik ipar dan kedua mertuanya, Aisyah melanjutkan untuk pergi ke kediaman ibunya, saat mobil itu berhenti tepat di pekarangan rumah.
Aisyah dan Kaivan sama-sama keluar dari mobil dengan mengeratkan dahi disaat melihat ada mobil yang terparkir di samping mobil mereka.
"Ada apa Aisyah?" tanya Kaivan ketika melihat reaksi istrinya sedikit berlebihan.
"Oh tidak apa-apa. Kak, ini sepertinya bukan mobil Ayah," ucapnya ketika menyadari mobil tersebut.
"Mungkin ada tamu di rumah kamu," sahut Kaivan.
"Iya," sahut Aisya.
"Ayo kita masuk!" ajak Kaivan.
Aisyah menganggukkan kepala dan kemudian langsung masukin rumah bersama dengan suaminya.
"Assalamualaikum!" sapa Aisyah dan Kaivan secara bersamaan.
Tetapi Aisya tiba-tiba saja kaget melihat di ruang tamu ada Kamila, Dharma dan membuatnya kaget yaitu bundanya sedang menangis.
"Bunda!" Aisya kemudian langsung menghampiri Rahmah.
"Bunda kenapa?" tanya Aisyah panik yang membuat Rahma mengusap air matanya dengan cepat.
"Bunda tidak apa-apa Aisyah, bunda hanya kelilipan!" Rahma tidak menyangka jika putrinya pulang dan tidak ingin melihat dirinya harus menangis tetapi Aisyah sudah merasa ada yang tidak beres dan langsung menatap kedua orang yang di ruang tamu.
"Apa yang kalian lakukan kepada bundaku hah!" tanyanya dengan suara menekan menatap penuh kemarahan kepada kedua orang tersebut.
"Aisyah dengarkan Ayah dulu. Ini hanya salah paham dan...."
"Kalian berdua memang tidak ada lelahnya menyakiti Bunda. Berani sekali Ayah bahwa wanita ini, menginjakan kaki kotornya di rumah ini!" bentak Aisyah melampiaskan amarahnya kepada Kamila.
"Aisyah sudah cukup. Nak!" Rahma berdiri menahan putrinya agar mengendalikan emosi.
"Aisyah saya tahu bagaimana kamu membenci saya, tetapi sesungguhnya saya...."
"Jangan berbicara apapun dan mencari pembelaan di sini!" bentak Aisyah dengan suara menggelegar Kaivan mendekati istrinya dan juga berusaha untuk menenangkan.
"Aisyah cukup!" bentak Dharma.
"Kamu tidak tahu apa-apa dan jangan menyalahkan sembarangan!" tegas Dharma.
"Apalagi yang harus Aisyah ketahui hah! kalian tiba-tiba datang ke rumah ini dan membuat Bunda menangis. Kenapa Ayah begitu jahat sekali kepada Bunda, ingin memamerkan apa kepada Bunda, memamerkan keromantisan kalian, kenapa kalian berdua tidak pernah tahu diri, sudah berselingkuh berzina dan menikah untuk mensucikan hubungan kalian...."
"Aisyah...." Dharma tidak mampu mengendalikan dirinya mengangkat tangan menampar pipi Aisya.
PLAKKK!
Semua kaget dengan perbuatan Dharma dan Dharma menyesali perbuatan yang melihat tangannya, mungkin ini pertama kali dia melakukannya dan tangan itu benar-benar bergetar.
Aisyah juga tidak percaya jika sang ayah akan melakukan hal itu hanya karena membela seorang pelakor. Air mata Aisyah jatuh dengan wajahnya yang menoleh ke samping dan tangan itu masih berada di pipinya yang memerah.
"Mas!" Rahma menekan suaranya ah dia juga tidak percaya suaminya melakukan itu dan sementara kami menutup mulutnya menggunakan satu tangan.
"Aisyah...ayah..." Dharma benar-benar menyesal.
Aisyah marah, geram dan menegakkan posisi wajahnya menatap Kamila dengan penuh kebencian dan kemudian mendorong Kamila sampai Kamila terjatuh.
"Puas kamu menghancurkan keluargaku, sekarang tertawa dengan apa yang terjadi pada keluargaku hah!" tegas Aisyah.
"Aisyah saya...."
"Kamu pelakor dan seharusnya kamu tahu diri, keluar kamu dari sini!" Aisyah sampai bergetar berbicara menunjuk pintu keluar.
Tetapi Kamila mengeluarkan air mata, menatap bagaimana kedua bola mata itu menatapnya dengan penuh kebencian membuat hatinya terluka.
"Aku bilang keluar!" teriak Aisyah.
Kamila tetap ada tempatnya membuat Aisyah mengambil tindakan menarik Kamila dan menyeretnya.
"Aisyah!" bukan Dharma lagi yang mencegah tetapi Kaivan.
"Sudah cukup! jangan melakukan hal seperti ini kepada orang yang lebih tua!" ucap Kaivan mencoba untuk menenangkan istrinya berdiri di hadapannya.
"Kakak juga membelanya?" Aisyah merasa kecewa pada saat Kaivan sedikit meninggikan suara kepadanya dan bahkan melindungi wanita yang ingin diusir, bagaimana wanita yang menghancurkan rumah tangga orang tuanya saat ini berlindung di balik tubuh tegap Kaivan.
"Aisyah bukan seperti itu," ucap Kaivan bingung harus menenangkan istrinya dengan cara seperti apa.
"Kakak tidak tahu apa yang Aisyah rasakan, Kakak bisa-bisanya melakukan hal yang sama," ucapnya dengan penuh kekecewaan.
"Aisyah kamu belum tahu apa yang terjadi sebenarnya, kamu memiliki pendidikan, kamu tahu sopan santun dengan memperlakukan seseorang seperti apa, apa pantas kamu seperti ini, berteriak kepada seorang wanita yang lebih tua dibandingkan kamu, wanita yang tak lain juga adalah ibu kamu yang harus kamu hormati..."
"Kak cukup...." Aisyah memotong pembicaraan Kaivan yang sudah jelas-jelas lebih berpihak kepada Kamila.
"Bisa ya Kakak bicara seperti itu, ini bukan urusan Kakak, kalau mau membelanya maka bela saja, tapi tidak perlu menggurui Aisyah, Aisyah tahu siapa yang pantas dihormati dan tidak!" ucapnya dengan tegas.
Kaivan memilih diam, semakin banyak berbicara dan maka istrinya akan semakin salah paham. Aisyah kembali membalikkan tubuh dan melihat ayahnya dengan enteng melayangkan tangan kepadanya.
"Hanya karena seorang wanita menghancurkan hati istri yang menemaniku, menghancurkan hati anak yang pernah membanggakanmu, aku tidak tahu apakah masih punya alasan menganggap mu sebagai seorang ayah. Bunda jika masih menyayangi Aisyah, maka berpisah lah darinya, agar dia tidak pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi dan memperlihatkan wajahnya di depan Aisyah!" ucap Aisyah dengan suara lirih benar-benar kecewa dan mati rasa kepada ayahnya.
Aisyah tidak mengatakan apa-apa lagi, mengusap air matanya dan kemudian langsung pergi dan menabrak bahu Kamila.
"Aisyah...." panggil Rahma.
"Saya akan mengejar Aisyah dan akan mencoba membuatnya mengerti dengan situasi ini," ucap Kaivan kemudian berlari menyusun istrinya.
"Sudah puas kalian," sahut Rahma.
"Mas sepertinya memang tidak ada lagi arti rumah tangga ini dilanjutkan, aku sudah tidak sanggup melihat Aisyah harus terus menderita, kamu atau aku yang mengajukan perceraian ke pengadilan dan kalian berdua jangan pernah mengganggu putriku lagi, jika kalian melakukan itu, maka aku mungkin akan mengambil tindakan yang tidak akan pernah kalian duga!" tegas Rahma penuh dengan penekanan karena sudah benar-benar lelah.
*****
"Aisyah dengarkan saya!" Kaivan mengejar istrinya keluar rumah yang mana Aisyah mempercepat langkahnya dan terus mengusap air matanya sampai akhirnya Kaivan berhasil menghentikannya dengan berdiri di ha Aisyah.
Tetapi Aisyah tetap tidak ingin melihat Kaivan, berusaha untuk pergi dan ditahan Kaivan memegang kedua bahu Aisyah.
"Aisyah kamu dengarkan saya dulu!" tegas Kaivan.
Aisyah menepis kedua bahu tersebut.
"Kakak tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Aisyah, tetapi seperti seseorang yang benar-benar tahu, Aisyah pikir Kakak akan berada di pihak Aisyah dan ternyata kalian semua sama saja," ucap Aisyah dengan terus berderai air mata mengungkapkan rasa kekecewaannya kepada suaminya.
"Aisyah tidak seperti itu, kamu dengarkan saya dulu, saya berbicara itu karena..."
"Kakak sebaiknya masuk, dan tenangkan wanita yang baru saja hatinya dihancurkan, karena saya telah mengatakan hal yang tidak tidak kepadanya, dia pasti membutuhkan seseorang, saya tidak ada artinya," ucap Aisyah dengan kemarahannya dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Kaivan.
"Aisyah, saya adalah suami kamu dan saya tidak mengizinkan kamu pergi!" Kaivan sempat menghentikan langkah Aisyah karena diberi peringatan.
Tetapi dia sudah terlalu sakit dan butuh istirahat, Aisyah tidak bisa hanya dia m dan akhirnya membuatnya tetap melanjutkan langkahnya.
Kaivan dipenuhi dengan sesal karena mungkin terlalu banyak ikut campur.
Bersambung....
suaminya loh ....pengantin baru looh