Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 34
Meriya terdiam di kamarnya, menikmati lembutnya skincare yang kini di pakai di wajah dan kulit tubuhnya.
Kemudian ada senyuman di wajahnya, sudah tidak sabar esok hari ingin melihat wajah Alensky tentang kejadian yang menimpa temannya, Murni.
"Oh, kenapa aku bahagia sekali malam ini" ucapnya sambil kemudian tertawa.
Pintu terbuka dan Meriya segera diam, lalu menatap seseorang dari dalam pantulan kaca riasnya.
"Mommy?"
Wanita yang memakai kimono itu segera mendekati anak perempuannya, lalu duduk di sampingnya.
"Kau tau Murni tidak kembali ke rumah ini?" Tanya sang Mommy.
"Apa?, kapan?" Tanya nya, terkejut aka kabar yang diberikan.
"Sore tadi, ada seorang laki-laki yang memaksa masuk dan mengambil semua baju murni dalam lemari, tak ada yang tersisa, dia juga mengatakan kalau Murni tidak akan tinggal disini lagi"
"Dan mommy membiarkan saja?" Tanya Meriya.
"Tentu saja tidak, dia harus membayar mahal jika keluar dari rumah ini, ganti rugi"
"Lalu apa yang akan mommy lakukan?"
"Aku ingin kau menemui nya di kampus, katakan jangan lupa hutang-hutangnya belum lunas padaku, jangan sampai dia lupa kalau ibunya sudah berhutang banyak, aku tidak mau rugi"
"Tentu saja" Meriya tertawa senang.
Membuat urusan dengan Murni yang selalu kalah dan ketakutan sangat menyenangkan bagi Meriya, dia merasa begitu tinggi di mata manusia lain, dan itu membuatnya begitu senang.
"Satu lagi, soal Kematian Pelayan itu, jika siapapun bertanya padamu, jawab saja tidak tau, biar Mommy yang mengurus nya sampai tuntas Meriya"
Ada anggukan, tapi ada juga sorot mata yang tajam, menembus manik mata wanita yang di panggil Mommy oleh Meriya .
"Kenapa menatap mommy seperti itu, ada yang mau kamu tanya kan?"
Meriya hanya mengangkat kedua bahunya singkat, lalu kemudian memejamkan mata sambil bersuara.
"Kematian wanita itu, Momy ikut andil di dalamnya?" Tanya Meriya sangat pelan sekali.
Tak ada jawaban pasti, hanya senyuman tipis dan cukup tegas keluar dari mulut wanita itu, "Aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti salah satu anggota keluarga Mawardi, dan apa yang dilakukan mereka berdua, kamu pikir sendiri, bukankah kamu juga selama ini melaporkan sepak terjangnya yang membuatmu jengkel setengah mati, dan aku sudah memadamkan api yang bisa membakar mu itu"
"Ya Tuhan, Mommy benar-benar bisa di andalkan" sahut Meriya sekali sekali.
*
*
Semilir angin malam, Alensky merasakan hawa dingin menerpa wajahnya, rupanya ada jendela yang sepertinya sengaja tidak di tutup.
Kesadarannya mulai pulih, perlahan bangun dan duduk, kedua tangannya mengusap wajah perlahan dan Alensky baru tersadar jika sedang tidak berada di dalam Apartemennya sendiri.
"Ini dimana?" Ucapnya lirih, memindai semua sudut kamar dengan cat tembok di dominasi warna biru pekat dan muda, nampak sekali ini adalah selera laki-laki.
"Apartemen Tranaka" Ucapnya pelan, Alensky berusaha mengingat satu persatu kejadian sore tadi, dan jam tangan yang ada di tangannya menunjuk kan pukul sepuluh malam.
Beberapa foto yang terpajang menunjukkan wajah tampannya, Ada perasaan lega karena yang diperkirakan memang benar, rupanya Tranaka membawanya ke Apartemen.
Tak lama, pintu terbuka perlahan.
"Alen, sudah bangun?" Siapa lagi kalau bukan pemilik apartemen mewah ini, dan di kedua tangannya ada makanan dan minuman yang siap di sajikan.
"Terimakasih" ucap Alensky lalu kemudian duduk di Sofa yang ada dalam kamar.
Tranaka ikut bergabung di sana, memastikan Alensky baik-baik saja.
"Seharian belum makan, aku masak sendiri, cobalah" ucapnya.
Alensky mengangguk, lalu melihat piring yang sudah penuh dengan makanan lengkap dengan lauk dan sayurnya, dan ada senyuman tipis sebelum dia mulai memakannya.
"Bagaimana?"
Tanya Tranaka setelah siapan pertama dipastikan sudah masuk ke dalam perutnya.
"Hem, enak" ucap Alensky.
Tranaka tersenyum, lalu berjalan mendekati tempat tidur untuk membereskannya.
Sementara Alensky melanjutkan makannya sambil melihat apa yang dilakukan oleh Tranaka, cukup cekatan dan cepat saat merapikan tempat tidur nya, lumayan sebagai laki-laki yang mandiri.
"Apa yang terjadi dengan ku?" Tanya Alen setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Kamu tidak ingat?" Tanya Tranaka yang kini duduk di tepian tempat tidur dan menghadap ke arah Alensky.
"Tidak, aku hanya ingat ingin memberi pelajaran pada keluarga Meriya, dan saat aku berjalan hampir mendekati mereka tiba-tiba saja_hilang, tapi samar-samar aku mendengar teriakan seseorang memanggil namaku, tapi aku tidak tau siapa"
Tranaka lalu berdiri dan mendekati, duduk tepat di depannya dengan jarak yang hanya beberapa Centi saja.
"Kak Sera, menyusul mu tepat saat kau akan menerjang keramaian di pemakaman"
"Kak Sera?" Tanya Alensky.
"Hem, aku tidak tau bagaimana kak Sera tiba-tiba saja muncul disana, tapi aku bersyukur karena aku pun tidak bisa menghalangi mu, kamu seperti ada di luar kendali Alen"
Tidak ada jawaban apapun dari Alensky, hanya terdiam dan meminum coklat hangatnya.
"Maaf, aku sudah merepotkan mu" Alensky lalu berdiri.
"Mau ke mana?" Tranaka seketika memegang tangan Alensky.
"Aku baik-baik saja, dan sebaiknya aku kembali ke apartemen"
"Lihat koper itu" Tranaka menunjukkan koper merah marun yang sudah tergeletak di dekat ruang ganti yang ada di dalam kamar.
Kaget dengan apa yang di lihatnya, kemudian Alensky berjalan mendekati untuk memastikannya.
"Kenapa koperku ada disini?"
"Kak Sera yang mengambil dan mengisinya dengan perlengkapan mu, lalu menyuruh seseorang mengirimkan ke sini, dia menitip pesan jika Oma juga yang menyuruh mu untuk sementara tinggal di sini"
"Apa?!"
Alensky terkejut, lalu duduk di pinggiran kasur sambil memijit pelipisnya.
"Ada apa?, kamu pusing?" Tanya Tranaka.
"Aku pusing karena mereka berdua, kak Sera dan Oma" sahut Alensky.
Tranaka tersenyum, lalu kemudian berjalan mendekati Alensky, mengacak rambutnya dan memberikan handuk yang sebelumnya sudah disiapkan di atas meja.
"Mandilah, setelah itu istirahat lagi disini, aku akan tidur di kamar lain" ucap Tranaka lalu pergi membuka pintu penghubung balkon yang ada di kamarnya.
Alensky hanya menghela nafasnya, lalu menyeret koper miliknya dan membuka untuk mengambil baju ganti, cukup lengkap juga, heran sekali dengan kakak sepupunya satu itu, paling pintar untuk mengusirnya dari apartemennya sendiri.
Sementara Tranaka melakukan sambungan langsung melewati ponselnya.
"Alen baik-baik saja Oma"
"Oh syukurlah, aku percaya kan dia padamu Boy, jaga dia"
"Baik Oma, tapi_"
"Ada apa?" Tanya Oma.
"Bolehkan saya bertanya pada Oma?"
"Soal apa?"
"Emm, ada sesuatu yang aneh terjadi sore tadi Oma, kak Sera tiba-tiba saja datang dan mengeluarkan cahaya putih dari tangannya, lalu Alen seketika jatuh tak sadarkan diri"
"Apa Alen tidak menceritakan apapun padamu?" Tanya Oma.
"Tidak Oma"
"Hem, kalau begitu tanyakan saja hal itu padanya, dia tau segalanya"
"Baik Oma"
Tranaka menjawab salam dari Oma sebelum sambungan di putuskan, dan rasa penasarannya masih belum padam hingga nanti Alensky bisa memberikan jawaban.
Yuk kasih VOTE VOTE VOTE VOTE
biar Author lebih semangat lagi nulisnya.
jgn ada yg meninggalkan ya thor
lanjut...