Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
"Ada apa, Tan? Saya nggak ada hubungan dengan kematian Sherin." Joana tiba-tiba berkata ketus. Sesaat begitu mereka hanya berdua.
"Dengan kamu bicara seperti itu, kamu justru sedang memberi informasi ke tante yang sebaliknya." jawab Nismara menatap tajam.
Wajah Joana memerah.
"Iya, kan? Kamu pasti tahu banyak tentang Sherin, atau jangan-jangan..,...." Nismara sengaja tidak meneruskan perkataannya. Dia tidak boleh gegabah memberitahu siapapun tentang informasi dari si peduli kamu.
Joana menjadi gelisah.
"Joana, Tante cuma mau tanya, karena setahutan ke kamu sangat akrab dengan Sherin.,.."
"Kami nggak seakrab yang tante pikirkan." Potong Joana dengan berani.
Nismara menghela nafas. Dia jadi merasa sedang bicara dengan Sherin, karena beginilah tiap kali Nismara mengajak putrinya bicara. Tidak pernah mau mendengar dan suka menyela omongan. Benar - benar tidak sopan.
Tapi Nismara harus bisa menahan diri. Dia memerlukan informasi dari Joana. Terlebih sekarang ini mereka ada di sekolah, Nismara tidak punya kuasa apa-apa. Berbeda dengan kemarin sore ketika memaksa Syarifah.
"Okey, Tante akan to the point aja." Kata Nismara sambil memandang lekat ke arah gadis muda di depannya. Dia ingin tahu apa reaksi yang akan diberikan Joana atas pertanyaannya ini. "Apa yang kamu tahu tentang Majafas?"
Joana terhenyak.
Nismara menyungging senyum. "Jangan bohong lagi, ekspresi wajahmu tidak bisa menipu. Kamu pasti tahu sekali tentang Majafas kan?"
"Aku tidak tahu apa-apa." Tiba-tiba Joana berdiri dan gadis cantik itu segera berlari keluar. Nismara tidak sempat mencegahnya.
"Jo, tunggu!"
Tapi gadis itu tetap berlari menuju tangga.
Nismara sejenak kebingungan. Apakah harus mengejar atau tidak? Tiba-tiba teleponnya berbunyi. Ada nama Samudra di sana.
"Huh, kenapa selalu mengganggu di waktu yang kurang tepat?!" kata Nismara geram, dia lalu mematikan teleponnya.
Akhirnya Nismara memutuskan meninggalkan sekolah, rasanya percuma saja mengejar Joana.
Saat keluar dari lobby sekolah, Nismara melihat Syarifah Tengah masuk dengan berjalan kaki, bersama dua orang temannya. Dan Syarifah pun membuang muka saat mereka berpapasan.
Tiba-tiba telinga Nismara mendengar bisik-bisik dari arah Syarifah dan temannya itu.
"Itu Nyokap nya Sherin kan?"
"Sherin yang mana?"
"Sherin l*nte."
Nismara refleks menghentikan langkah. Ketika dia menoleh, tiga gadis muda itu segera berlaris sambil sesekali menoleh. Nismara bahkan masih bisa mendengar tawa jekikikan yang bernada mengejek, tapi sepertinya bukan dari bibir Syarifah.
"Syarifah!" Teriak Nismara, tapi mereka sudah keburu hilang di dalam gedung bersamaan dengan bel sekolah yang berbunyi.
***
Sesampainya di kantor, Nismara segera menceritakan yang terjadi pada Miranti.
"Hah?" Miranti melengking tak percaya, "Maksud syarifa apa ngomong kayak gitu?"
"Kayaknya bukan suara Syarifah deh, tapi dua orang temannya. Seperti nya Syarifah sudah takut melihat aku, jadi dia diam saja."
"Ooh." Sahut Miranti sambil mengangguk.
Nismara memijat-mijit pelipisnya sendiri. "Mir, tiga bulan terakhir kan kamu yang sering mendampingi Sherin kalau ada masalah di sekolah, mungkin pernah dengar gosip atau semacamnya tentang Sherin. Nggak mungkin juga teman-teman Syarifah sampai hati bilang gitu kalau nggak ada penyebabnya."
Miranti menghela nafas. "Aku ke sekolah sharin kan ketemu gurunya, Nis. Tapi bisa jadi itu cuma ejekan saja, kamu tahulah remaja sekarang seperti apa. Kalau ngomong suka nggak pakai otak, asal njeplak "
"Masa ejekan sampai segitunya? Kasar banget." Nismara terus memijit pelipisnya. Tiba-tiba air matanya menggenang memenuhi kelopak matanya. "Jangan - jangan Sherin kebablasan dalam bergaul, Kamu ingat kan foto-foto seksi dari email itu, lalu baju lingerie.,.... astaga, Sherin, apakah kamu dibunuh karena masalah percintaan? Masalah laki-laki?"
"Tenang, Nis. Jangan bebani pikiranmu dengan praduga yang kejauhan."
"Tapi aku yakin Joana tau sesuatu, Mir. Aku akan berusaha ketemu dia lagi. Kamu coba cari tahu di mana rumah si Joana itu ya! Nanti sore kita berdua ke sana."
"Okey." Sahut Miranti pelan.
"Oh, iya, Mir, aku sudah cek kartu yang ini." Kata Nismara sambil mengeluarkan dua kartu yang kemarin mereka temukan di tas yang diserahkan Syarifah. "Yang Mahkota ini, bukan hotel tempat Sherin melompat, tapi ini adalah tempat Gym. Yang kartu bertuliskan Majafas ini masih teka-teki."
"Oh. Si peduli kamu sampai saat ini belum juga balas pesanmu?"
Nismara menggeleng. "Menurut mu, mungkin nggak sih, kalau ternyata si peduli kamu itu ternyata gadis yang pegang HP Sherin? Yang waktu itu sempat telepon aku.,..... masuk akal kan? Mungkin dia udah ketangkap sama laki-laki yang ngejar dia, jadi dia nggak kasih info lagi ke aku. Bisa juga hp-nya rusak, jatuh atau gimana."
Miranti hanya mampu mengangguk-angguk. Membenarkan semua analisa sahabat sekaligus bosnya itu. Sedang Nismara masih terus memijiti pelipisnya. Dia sudah setengah putus asa, tapi makin lama dia malah makin penasaran. Apalagi dengan kata-kata teman Syarifah tadi. Kalau Sherin adalah l**nte! Astaga!
Tok- Tok - Tok.
"Nis, boleh ganggu sebentar?" tiba-tiba Benjamin muncul di ruangannya.
"Silahkan, Om, kami juga lagi ngobrol saja." jawab Nismara.
"Kamu kenapa? Kalau belum sehat Jangan dipaksa kerja dulu dong. Kan ada Miranti dan tim kamu yang hebat. Jangan siksa dirimu sendiri, Nis! Semua pasti butuh waktu." Kata Benjamin sok tahu, saat melihat Nismara memijiti pelipisnya sendiri dengan wajah lesu.
Nismara tersenyum. "Aku nggak apa-apa Om."
"Dasar gadis bandel, dari dulu selalu saja susah disuruh istirahat, maunya kerjaaa terus." Benjamin terkekeh.
Benjamin adalah salah satu orang yang paham sekali kehidupan Nismara. Dia mengenal Nismara sedari perempuan cantik ini masih berseragam putih abu-abu. Benjamin memang pengacara yang telah dipercaya memegang perusahaan papa Nismara sedari dulu. Makanya dia ingin menyerahkan berkas perceraian itu dari tangannya sendiri, meskipun sebenarnya bisa saja dia mengutus salah satu stafnya.
"Ini aku bawa berkas perceraian kamu dan Gerald, sudah sah ya." ucap Benjamin. "Yang kudengar, Gerald juga langsung terbang ke London pagi tadi. Mungkin ada baiknya juga kamu segera menikah dengan Sam, membangun keluarga, bersenang-senang menikmati hidup."
Nismara tertawa. "Nggak lah, Om. Aku baru kenal laki-laki itu dalam hitungan hari. Miranti aja dulu."
Kini giliran Miranti yang tertawa. "Aku baru janda setahun, Nis. Lagi ula belum ada laki-laki yang mendekati aku. Kamu kan secara kenyataan sudah janda sejak umur 15 tahun, hanya saja sah secara negara baru hari ini hehehe."
"Bener juga ya " Timpal Nismara. Dan mereka bertiga tertawa bersamaan.
"Nis!" Benjamin terbelalak dan terkaget sambil menunjuk dua kartu di meja Nismara.
Miranti dan Nismara berpandangan. "Om tahu tentang kartu ini?"
Benjamin menelan salivanya. "Jangan bilang itu punya Sherin?!"
Miranti dan Nismara melongo.
"Kok Om Ben tahu ini punya Sherin?" Nismara berseru. Sebagian hatinya gembira karena merasa teka-teki Majafas segera terbuka tapi melihat ekspresi kekagetan Benjamin membuat dirinya sedikit ngeri.
"Oh, Tuhan....." Tubuh Benjamin terhuyung.
"Om." Miranti sigap memegangi Benjamin. Kemudian memapah pria berumur itu menuju ke sofa.
Nismara bergegas menyambar kartu itu dan buru-buru menjajari Benjamin.
"Jadi Om Ben tahu apa itu Majafas?"
Benjamin mengangguk lemah. "Tapi ini sama sekali bukan kabar yang baik. Bahkan bisa jadi, sangat buruk."
Nismara tercekat.