Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPEMILIKAN TERLARANG DAN KEPULANGAN SANG TAIPAN
Dua jam berlalu terasa bagaikan rentang waktu yang berjalan sangat lambat.
Setelah menyelesaikan seluruh proses administrasi pembayaran dan penyerahan barang lelang bersama Pak Herman, aku melangkah keluar dari hotel bintang lima itu dengan sebuah kotak perhiasan eksklusif berwarna hitam berlogo The Tear of Serpent di dalam pelukanku.
Mobil Alphard hitam melaju membelah lengangnya jalanan Jakarta yang kian larut.
Di dalam interior mobil yang sunyi, jariku yang lentik tak henti-hentinya mengusap permukaan bahan beludru kotak perhiasan bernilai tiga puluh miliar rupiah itu.
Kalung platina dengan liontin batu blue sapphire 15 karat yang memukau ini kini resmi menjadi milikku—bukan karena pemberian seorang kekasih, melainkan sebuah hadiah provokatif dari ayah tiriku sendiri.
“Warna biru pekat dari batu safir itu... hanya cocok melingkar di leher mulus milikmu saat kamu mengenakan gaun hitam itu.”
Kata-kata Raymond di telepon tadi terus bergema berulang kali di dalam kepalaku bagaikan mantra yang menyihir.
Pria berkuasa itu secara terang-terangan mengabaikan Ibu, istrinya sendiri, dan melimpahkan kemewahan yang gila ini kepadaku.
Ada rasa puas yang luar biasa membakar dadaku—sebuah bukti bahwa rencanaku untuk menghancurkan rumah tangga Ibu berjalan sangat mulus.
Namun di sisi lain, ada sensasi bahaya yang kian nyata merayap di bawah kulitku.
Raymond bukan pria yang bisa dikendalikan dengan mudah.
Ketika seorang raja memberikan mahkotanya, ia akan menuntut seluruh jiwa orang yang menerimanya.
Mobil akhirnya melambat dan melewati pintu gerbang tinggi mansion yang terbuka lebar.
Suasana rumah megah itu tampak sangat sepi.
Hanya lampu-lampu taman dan pendar redup lampu gantung di teras utama yang menyala.
"Nona Clarissa, Tuan Raymond sudah tiba sekitar lima belas menit yang lalu menggunakan helikopter pribadi dari bandara dan saat ini beliau sudah berada di dalam," terang Pak Herman sambil membukakan pintu mobil untukku dengan sikap membungkuk yang penuh hormat.
"Terima kasih, Pak Herman," balasku pelan, merapikan lipatan gaun beludru hitamku yang berbelahan tinggi sebelum melangkah keluar dari mobil.
Dengan memeluk kotak perhiasan mahal itu rapat-rapat di dadaku, aku mengetuk lantai marmer teras luar menggunakan sepatu hak tinggiku.
Ketika aku mendorong pintu kayu berukir utama yang tebal, keheningan yang pekat dan beraroma hangat langsung menyambutku.
Ruang tengah tampak remang-remang, hanya diterangi oleh beberapa lampu dinding bernuansa keemasan.
Di dekat area ruang keluarga yang luas, sosok pria berpostur tegap menjulang sedang berdiri menyandar di tepi meja kayu mahoni.
Raymond masih mengenakan kemeja putihnya yang bagian lengannya sudah digulung rapi hingga ke siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang kokoh dan berurat.
Jas hitamnya tergeletak santai di atas sandaran sofa.
Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi wiski dengan es batu yang mulai mencair digenggamnya secara longgar.
Mata hazel-nya yang dingin, pekat, dan sarat akan keletihan usai penerbangan jarak jauh langsung mendongak begitu mendengar ketukan langkah kaki hak tinggiku.
Pandangannya langsung mengunci sosokku yang berdiri di ambang pintu dalam balutan gaun beludru hitam berpotongan strapless.
"Kamu sudah pulang," suara bass Raymond yang berat, parau, dan sangat dalam memecah sunyinya malam, memantul halus pada dinding-dinding kaca raksasa di ruang tengah.
Aku menutup pintu utama perlahan, menguncinya, lalu melangkah anggun menghampirinya.
Belahan gaun hitamku yang tinggi berayun di setiap langkah, memperlihatkan kaki mulusku secara samar di balik kegelapan ruangan.
"Aku memenangkan penawarannya seperti yang kamu perintahkan, Raymond," ucapku halus, menghentikan langkahku tepat tiga jengkal di hadapan pria 35 tahun itu.
Aku mengangkat kotak perhiasan beludru hitam di tanganku, menyodorkannya ke arahnya.
"Ini... The Tear of Serpent."
Raymond tidak langsung meraih kotak perhiasan itu.
Manik mata hazel-nya justru bergulir perlahan menyusuri garis bahuku yang terbuka, menatapi leher jenjangku yang polos tanpa perhiasan, lalu menetap lama pada polesan lipstik merah anggur di bibirku.
Tatapannya begitu pekat, sarat akan intensitas kepemilikan yang bisa membuat wanita mana pun tertahan napasnya.
"Aku membelinya bukan untuk disimpan di dalam kotak, Clarissa," ujar Raymond dingin namun penuh penekanan yang tak terbantahkan.
Ia meletakkan gelas wiskinya ke atas meja mahoni di belakangnya, lalu mengulurkan tangannya yang besar untuk mengambil kotak itu dariku.
Dengan gerakan jemari yang tenang dan presisi, Raymond membuka penutup kotak beludru tersebut.
Pendar cahaya remang lampu dinding seketika menyambar permukaan batu blue sapphire 15 karat yang terikat rapi pada rantai platina.
Kilau birunya yang ajaib dan mahal terpancar memukau di antara kami berdua.
"Berbaliklah," perintah Raymond dengan suara bass-nya yang sangat rendah dan bergetar halus di udara.
Jantungku berdesir heboh di dalam rongga dada.
Aku bisa merasakan bulu-bulu halus di lenganku meremang seketika.
Namun, aku tidak menunjukkan rasa ragu sedikit pun.
Aku memutar tubuhku perlahan, memunggungi sosok tegap sang taipan tambang emas.
Aku mengangkat menyanggul rambut hitam bergelombangku yang menjuntai di leher belakang menggunakan satu tangan, mengekspos leher jenjang dan punggung atas milikku yang mulus tanpa halangan.
Langkah kaki Raymond bergeser rapat ke balik punggungku.
Hawa panas dari tubuh tegapnya langsung menjangkau kulit punggungku yang terbuka, beradu dengan aroma wangi parfum kayu mahal dan alkohol yang menguar kuat dari napasnya.
Perlahan, aku merasakan dinginnya rantai platina menempel di kulit leher depanku saat Raymond melingkarkan kalung mahakarya itu dari balik punggungku.
Ibu jari dan jari telunjuknya yang hangat dan berurat sempat menyentuh lembut kulit leher belakangku saat ia mengaitkan pengunci kalung tersebut—sebuah sentuhan singkat namun mengirimkan gelombang sengatan listrik liar yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh nadiku.
Setelah pengunci kalung terpasang sempurna, liontin batu blue sapphire yang dingin dan berat mendarat tepat di cekungan dadaku yang terbuka di batas atas gaun beludru hitam.
Raymond tidak langsung melangkah mundur.
Kedua tangan kokohnya perlahan mendarat dan bertengger santai di kedua sisi pinggang rampingku, menahanku tetap berada dalam kurungan tubuh tegapnya dari belakang.
Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, menempelkan garis rahangnya yang tegas tepat di dekat telingaku.
"Lihat dirimu," bisik Raymond dengan suara parau yang sangat rendah di dekat cuping telingaku, hembusan napas hangatnya menyapu lembut kulit pipiku.
Aku mendongak sedikit, menatap bayangan kami berdua di cermin raksasa yang terpajang di dinding ruang tengah.
Di dalam pantulan kaca itu, sosokku bergaun hitam yang memeluk erat kalung berlian biru tiga puluh miliar tampak begitu sempurna berada dalam cengkeraman lengan tegap seorang Raymond Perkasa yang berdiri berwibawa di belakangku.
Kami tampak seperti pasangan terlarang yang sangat serasi dan penuh dosa.
"Kalung ini... jauh lebih indah di lehermu daripada sekadar terpajang di etalase lelang," gumam Raymond lagi, jemarinya di pinggangku menekan sedikit lebih dalam, mempertegas keberadaannya.
"Bagaimana kalau Ibu melihatnya?" bisikku lirih, memberanikan diri menatap mata hazel-nya di pantulan cermin.
"Bagaimana kalau Ibu tahu kamu membelikan kalung termahal malam ini untukku, bukan untuk dia?"
Sudut bibir Raymond terangkat sangat tipis di pantulan cermin, menciptakan garis senyuman dingin yang penuh rahasia dan kekuasaan.
"Ibumu tidak perlu tahu apa yang tidak menjadi haknya, Clarissa," jawab Raymond datar tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di dalam suaranya.
"Di rumah ini, aku yang menentukan siapa yang berhak mendapatkan apa."
Pernyataan dingin itu bagaikan tamparan keras yang menegaskan posisi Ibu di mata pria ini.
Ibu hanyalah pajangan formalitas, sementara perhatian dan obsesi gelap Raymond kini telah berpindah sepenuhnya padaku.
Tiba-tiba, suara erangan pelan dan langkah sandal rumah yang terseret terdengar dari balik lorong lantai satu.
Ibu melangkah keluar dari area dapur bersih sambil memegang cangkir air minum, wajahnya tampak kusam dengan gaun tidur sutra yang longgar.
"Raymond...?
Kamu sudah pulang dari bandara?" suara Ibu terdengar agak serak, matanya yang masih sembap mengedip-kedip menembus keremangan ruang tengah.
Sebelum sosok Ibu benar-benar melangkah mendekat ke arah ruang tengah, Raymond dengan ketenangan gila dan refleks yang teramat cepat langsung melepaskan cengkeraman tangannya dari pinggangku.
Ia melangkah satu senti ke samping, mengambil gelas wiskinya kembali dari atas meja seolah-olah ia baru saja berdiri santai di sana sejak tadi.
Aku pun bergerak cepat merapikan gaun beludru hitamku, berbalik menghadap ke arah datangnya Ibu sambil berdiri dengan posisi yang memamerkan kalung batu blue sapphire yang kini melingkar indah di leherku.
Begitu Ibu melangkah masuk ke area terang ruang tengah dan matanya menangkap keberadaan kami berdua, langkah kakinya mendadak terhenti seketika.
Cangkir air minum di tangannya hampir saja terlepas ketika matanya yang melebar mengunci pada pendar cahaya biru yang menyilaukan dari liontin The Tear of Serpent di dadaku.
"Rissa...?
Kamu... gaun apa yang kamu pakai itu?" pekik Ibu dengan suara menahan gejolak terkejut dan kecurigaan yang membakar.
Matanya beralih cepat dari gaun beludru hitam mahal yang melekat di tubuhku, menuju kalung mahakarya yang berkilau di leherku, lalu bermuara pada sosok Raymond yang berdiri santai memegang gelas wiski.
"Dan perhiasan apa itu di lehermu?!
Kenapa kamu bisa berdandan seperti ini tengah malam bersama suamiku?!"
Atmosfer di dalam ruang tengah mansion itu seketika membeku bagaikan es.
Pertempuran terbuka yang kuselubungi dengan kebohongan manis selama ini, akhirnya mencapai titik ledaknya malam ini di hadapan kalung bernilai tiga puluh miliar rupiah.
Aku menyunggingkan senyuman paling manis dan paling dingin ke arah Ibu, siap melontarkan jawaban yang akan menghancurkan hatinya hingga tak berbekas.