Pout for Me, Little Mouse.
Fraülein Keylana Reinhardt, Putri Raja perbankan Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.
Setelah bertunangan, mereka tinggal bersama di Berlin, Tidak ada satu hari pun tanpa pertikaian. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal.
Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan satu Perasaan yang dianggap tidak penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xyBubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencurian Siang Hari
Di Gruber Penthouse, Leon duduk bersandar sambil menyilangkan kaki di sofa ruang tamunya sambil memandangi sebuah kotak kado dengan isi tak ramah dia atas meja kopi. Dia memegang Wisky di tangannya.
Di dalam kotak kado berpita yang terbuka itu, terdapat sebuah boneka singa dengan kepala yang putus – Dari Julian tentunya, walau tidak ada keterangan.
Singa yang berarti Leon dan kepala putus adalah peringatan darinya setelah ia mengetahui Leon barusaja mengganggu Lana. Leon tertawa gelap dengan suara yang menggetarkan, dia mengusap wajahnya dengan geli dan penuh ironi. Dalam benaknya, ini terasa semakin menarik. Keylana sulit, Julian juga sulit dan Leon.
Leon bukan anak kecil yang bisa diberitahu tidak.
...----------------...
Sementara itu, Masih Charlottenburg. Lana dan Brooklyn berjalan ke tempat parkir mobil mereka melewati rumah-rumah hangat penduduk. Pemandangan taman-tamannya asri ditumbuhi bunga dan pohon.
Mereka berceloteh tentang cara negosiasi dan efek dari cara yang Lana gunakan tadinya. Langkah Lana seketika terhenti ketika Brooklyn tiba-tiba berhenti sambil menghadang dengan lengannya.
"Klien biasanya—"
"Ada apa? Ada dokumen yang ketinggalan?"
Lana mengangkat alisnya dengan bingung, menoleh pada Brooklyn, Dia menunjuk sebuah pohon plum di pekarangan orang dengan mata berbinar.
"Lihat itu."
Lana mendongak ke arah sebuah pohon plum yang ditunjuk oleh Brooklyn di dekat pagar.
"Pohon? Ya, itu pohon plum."
"Bukan sekadar pohon plum, Lana! Itu Zwetschgen! Lihat warna ungu keemasannya. Pasti sangat manis, berair, lezat..."
"Bagus. Nanti kita beli di supermarket." Lana mengabaikannya dan kembali berjalan. "Ayo jalan, kakiku pegal karena sepatu ini."
Brooklyn bergegas mengejarnya dan menariknya dengan wajah kecewa, menahan lengannya.
"Supermarket? Buah supermarket itu impor dari jauh, Lana! Tidak ada jiwanya!" Dia kembali menoleh dan menunjuk pohon itu. "Buah yang ini segar, organik, dan dipetik langsung dari tangkainya!"
"Benar, dan masalahnya tangkai itu ada di dalam pekarangan orang Jerman yang galak! Ayo pergi sebelum—"
"Panjat, Lana."
Katanya tiba-tiba sambil berbinar dengan semangat menunjuk pohon itu.
"Apa?!Kamu gila ya?! Kau menyuruhku memanjat hanya untuk mencuri buah senilai dua Euro?!"
"Bukan mencuri! Ini... retribusi alam. Lagipula, dahannya menjulang ke luar jalan umum, jadi secara filosofis, buah ini milik publik!"
Brooklyn bersikeras sambil terus menarik-narik tangan Lana.
"Secara hukum Berlin, itu milik Herr Schmidt atau siapapun pemilik rumah ini! Kenapa tidak kamu saja yang memanjat?!"
Katanya sambil melirik Nama pemilik rumah di keramik pagar. Brooklyn tetap bersikeras.
"Kau lebih tinggi dariku, Lana! Dan aku pernah melihat kau memanjat untuk mengambil Shuttlecock yang tersangkut di ranting pohon. jadi, kau lebih ahli diriku dalam memanjat!"
"Jangan konyol! Kau hanya lebih pendek satu setengah inci dariku."
Brooklyn mengerang dengan dramatis memegangi perutnya.
"Lana... Kau membawaku ke Charlottenburg tanpa makanan apapun kecuali permen. bukankah kau bertanggungjawab untuk perutku yang lapar dan minat ku yang langka ini!"
"Argh! Mengapa aku pernah setuju berteman denganmu?! Pegang ini! Kalau lecet sedikit saja, Kau akan ku jadikan kompos!"
Lana melepas ransel-nya dengan gusar dan melemparkan langsung ke wajah Brooklyn hingga menutupinya.
"Yeay!"
Dia mengintip ke kiri dan ke kanan seperti mata-mata amatir yang sangat tidak berpengalaman, lalu mulai memanjat ke atas pagar dan menapaki dahan pohon dengan gerakan canggung dan konyol sembari menggerutu saat mulai naik ke dahan yang lebih tinggi.
"Kalau polisi datang... Aku akan bilang kamu yang mengancamku dengan tasku!"
Penampilan itu sangat konyol, Lana memanjat ke dahan untuk mencapai ranting dimana buah matang menunggu di petik. Pakaian mahalnya tergores dengan beberapa daun menempel pada rambut hitamnya. Rok pendeknya terbuka di udara, Untungnya tidak ada pria yang melihat di sekitar sana.
Brooklyn mengamati dan memperhatikan gerakannya di atas pohon sambil makan permen.
"Agak ke kiri, Lana! Yang ungu pekat! Awas ada lebah!"
"Diam, Brooklyn!"
Lana berbisik keras. Brooklyn berceloteh di bawah sambil menengadah untuk menerima lemparan buah plum dari atas dengan gaya memandu yang sok tau. Lana menjangkau buah plum yang berwarna paling pekat. Dia berjinjit canggung di satu dahan, satu tangannya hampir menggapai buah plum yang paling besar.
"Sedikit lagi... jariku... sudah menyentuhnya—"
Lana Terengah-engah dengan gigi bertaut. Tiba-tiba, suara batuk berat dan berwibawa terdengar dari balik semak-semak dalam pekarangan rumah. Seorang pria tua berubuh tinggi —Herr Schmidt—muncul memegang pipa tembakau dan gunting tanaman
"Guten Tag. Apakah buah di dahan saya?"
Suaranya berat dan dingin khas orang Jerman. Lana membeku seketika dalam posisi memanjat yang sangat konyol. Brooklyn tersentak dan menoleh menyembunyikan dua buah plum di belakang punggungnya dengan senyum lebar yang dipaksa.
Lana yang masih di atas pohon berbisik pelan tanpa menoleh.
"Brooklyn... katakan kalau itu suara burung gagak."
"Bukan. Itu pemilik rumah. Dan dia memegang gunting raksasa."
Bisiknya Panik juga. Lana perlahan menoleh ke bawah, tersenyum dengan sangat amat canggung.
"G-Guten Tag, Herr... Kami... kami sedang melakukan uji gravitasi untuk tugas kuliah sains!"
Brooklyn dengan sangat cepat menyambar sambil mengangguk Panik.
"Betul! Kami mahasiswa UH! Kami sedang meneliti dampak sudut kemiringan dahan plum terhadap kualitas fotosintesis di wilayah Charlottenburg!"
Herr Schmidt meniup asap tembakau dengan mata menyipit, melipat tangan di dada.
"Sains? Lalu kenapa temanmu memegang dahanku seperti ingin memetiknya, bukan mengukurnya?"
Dia memicingkan mata ke arah Brooklyn yang sedang menyembunyikan buah plum. Lana tergagap, masih tergantung di atas dahan.
"Ini... ini teknik pengukuran tactile! Sangat modern! Tapi sepertinya teori kami salah. Permukaan pagar Anda sangat... tidak kooperatif dengan—"
KREKK
Dahan yang dipijak Lana akan patah. Saat hendak jatuh, tangan Lana refleks mencengkeram dahan plum dengan sangat kuat. Dahan yang sarat dengan buah plum matang itu patah dan ikut terbawa saat Lana jatuh menimpa Brooklyn. Mereka berdua terjerembap ke trotoar.
"Ahhh!"
Terjadi hening beberapa detik. Lana duduk di trotoar sambil memegang dahan pohon plum sepanjang satu meter yang patah di tangannya. Herr Schmidt melotot tak percaya dari balik pagar.
"MEIN GOTT! Kamu merusak pohonku?! Hati-hati ya, kalian! Aku akan panggil polisi!"
Dia berteriak, Mata Brooklyn membelalak menatap dahan di tangan Lana.
"Lana! Kamu merampok seluruh dahannya?!"
Lana menatap dahan di tangannya dengan panik setengah mati, matanya liar melihat Herr Schmidt mulai berjalan menuju pintu pagar
"SAYA... SAYA TIDAK SENGAJA, PAK! INI REFLEKS!"
Brooklyn menyambar barang-barang mereka di tanah dan berdiri.
"JANGAN DIPIKIRKAN! LARI, LANA, LARI!"
Lana langsung bangkit berdiri dengan sepatu kets yang miring, dan berlari sekencang-kencangnya sambil mendekap dahan plum raksasa itu seperti memeluk piala. Brooklyn menyusul di sampingnya sambil membawa tas mereka.
Herr Schmidt membuka pintu pagar, berteriak dengan suara menggelegar dari kejauhan sambil mengacungkan gunting tanaman.
"Halt! Berhenti kalian, pencuri plum!"
Lana berlari dengan gaya kaku dan konyol karena membawa dahan pohon. Seorang putri konglomerat Munich mencuri di rumah warga.
"Brooklyn! Kenapa aku masih memegang dahan ini?!"
Katanya masih memeluk dahan itu sambil berlari. Brooklyn lari sambil tertawa keras dan panik.
"Jangan dibuang! Ada lima belas plum disitu! Perjuangan kita tidak boleh sia-sia!"
To Be Continued....