Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf Yang Terlambat
Pagi di Galeri Teratai Hitam selalu punya dingin yang beda, dingin khas pegunungan yang bercampur samar bau dupa herbal. Di halaman belakang yang rimbun bambu kuning, keheningan pecah gara-gara suara pancuran air.
Chandra berdiri santai pakai kaus oblong dan celana pendek. Tangan kanannya memegang selang hijau, mengarahkan semprotan air ke tubuh Badot, yang cuma bisa pasrah diguyur layaknya ayam sayur.
"Diam sebentar, Dot. Sayap kirimu masih penuh lumpur bekas pamer terbang semalam," omel Chandra lalu tertawa kecil.
Badot melotot. Tubuh besarnya menggeliat risih. Begitu semprotan air mengenai matanya, makhluk itu langsung mengibaskan badan kuat-kuat.
Air bertekanan tinggi memuncrat ke mana-mana. Rambut Chandra acak-acakan seketika, kausnya basah kuyup. Ia terbatuk-batuk kecil sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Aduh, Badot! Pelan-pelan napa! Malah aku yang kamu siram!"
Di sudut halaman, Yueji duduk bersila di atas dipan jati ukir. Berbeda jauh dibanding suaminya yang kuyup, wanita itu tenang-tenang saja menyerap energi alam untuk memulihkan tenaga. Tapi bertolak belakang dari gaya meditasinya yang anggun, tangan kirinya malah asyik merogoh kantong keripik kentang BBQ, sementara matanya menempel di lembaran novel romance.
Mulutnya sesekali mengedumel mengomentari alur cerita sambil mengunyah keripik.
Tak lama, bunyi baki beradu terdengar dari teras dalam. Sisi keluar membawa nampan sarapan, melangkah menghampiri Yueji terlebih dahulu.
"Nyonya... mau kopi atau teh hangat pagi ini?" tanya Sisi pelan.
Yueji mendongak sejenak, meniup poni yang menutupi dahi. "Enggak usah, Si. Masih kenyang sama keripik ini," jawabnya malas. Ia melirik Chandra yang sibuk mengeringkan muka. "Tanya suamiku saja. Kasihan tuh habis basah-basahan."
"Baik, Nyonya."
Sisi berjalan ke pinggir teras lalu agak berteriak. "Tuan Chandra, mau kopi hangat?"
Chandra menyapu sisa air di dahinya lalu tersenyum. "Kopi hitam saja, Si. Gulanya sedikit, biar rasa pahitnya masih terasa."
"Siap, Tuan. Saya buatkan dulu," pamit Sisi lalu kembali ke dapur.
Halaman kembali sepi, cuma disisakan suara keran air. Ketenangan itu buyar saat Yueji mendadak meremas pinggiran bukunya sampai lecek. Wajah cantiknya menekuk kesal.
"Bikin emosi saja buku ini!" gerutunya keras.
Chandra yang baru mematikan keran sampai kaget. "Kenapa lagi, Sayang? Kok mendadak emosi?"
"Ini lho! Kenapa tokoh utamanya lemah banget?!" tunjuk Yueji ke lembaran novel dengan raut jengkel. "Sudah tahu suaminya bajingan dan suka kelayapan sama cewek lain, kok cuma bisa menangis di kamar? Kalau aku jadi dia, langsung tak gampar mukanya! Potong sekalian barangnya biar kapok!"
Chandra mendadak kaku. Tangannya yang memegang selang lemas begitu saja. Ia membayangkan kalimat 'potong barangnya' yang diucapkan istrinya dengan polos tapi horor.
Refleks, Chandra merapatkan paha sambil menggeser duduknya di atas rumput, mendadak ngilu sendiri.
"Sa-Sayang... kamu baca novel romance apa thriller sih? Seram amat..." bisik Chandra canggung.
Melihat suaminya ketakutan, muka galak Yueji mendadak luluh. Ia tersenyum manis lalu melambaikan tangan.
"Eh, Sayangku... enggak kok, aku cuma gemas sama ceritanya," katanya dengan nada manja. "Lagian jangan lama-lama main air. Nanti masuk angin. Kalau kamu sakit, siapa yang mau memeluk aku nanti malam?"
Chandra menghela napas lega sambil mengelus dada. "Iya, iya, ini sudah selesai."
Sementara itu, Badot, wujud jelmaan Garuda agung, sudah menggigil setengah mati. Bulunya basah kuyup menempel ke kulit. Karena tidak boleh bersuara manusia di depan orang biasa, ia mengirim transmisi telepati langsung ke kepala Yueji.
"Rubah manis... tolongin aku..." bisik suara gaib Garuda yang terdengar memelas. "Suruh suamimu pergi. Bisa mati berdiri aku kalau diguyur air dingin terus!"
Yueji sama sekali tidak tergerak. Ia cuma melirik dingin lalu membalas lewat telepati tak kalah pedas.
"Bodo amat! Mau kamu masuk angin, mau kamu mati terkapar di sini pun aku enggak peduli. Lagian kamu kan burung sakti, disiram air begitu saja mengeluh!"
Garuda tertunduk lesu. Bulu kepalanya terkulai. Dalam hati ia menyumpah-nyumpah. Sialan sekali rubah betina satu ini. Tidak ada rasa kemanusiaan... eh, kehewanan!
Di halaman depan, sedan mewah hitam berhenti tepat di depan pagar utama. Dandi turun dengan wajah pucat. Jas mahalnya kelihatan kontras banget sama tubuhnya yang gemetaran.
Di belakangnya, empat pengawal bertubuh tegap melangkah ragu sambil menjinjing koper-koper hitam besar. Wajah mereka sama tegangnya, mirip rombongan yang mau dieksekusi mati.
Dandi melangkah ragu melewati gerbang. Di teras depan, ia berpapasan dengan Sisi yang baru mau kembali ke halaman belakang membawa cangkir kopi.
"Eh, Tuan Dandi?" sapa Sisi kaget melihat rombongan itu.
Dandi berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum sopan meski gemetaran. "Pagi, Sisi... Tuan Chandra ada?"
"Ada di belakang sama Nyonya Yueji," jawab Sisi polos. "Mau dipanggilkan?"
Dandi menyapu keringat dingin di dahinya. "I-iya, Sisi. Tolong panggilkan sebentar. Bilang aku mau bertemu."
Sisi mengangguk, meletakkan cangkir kopi di meja belakang. "Tuan Chandra, ini kopinya."
"Makasih ya, Si," sahut Chandra sambil mengeringkan tangan pakai handuk.
"Sama-sama, Tuan. Oh iya... di depan ada Tuan Dandi. Katanya mau bertemu Tuan."
Yueji menghempaskan novelnya ke meja hingga cangkir kopi bergetar hebat. Matanya mendadak menyalang tajam. Rasa santainya hilang total, langsung berganti raut benci luar biasa.
"Bocah tengik itu mau apa lagi ke sini?!" geramnya.
Tanpa menunggu Chandra merespons, Yueji melompat dari dipan dan melangkah cepat ke ruang depan, memicu angin kencang yang membuat dedaunan bambu berguguran.
Chandra cuma bisa melongo. Ia menoleh ke arah Badot yang berdiri lemas.
"Dot... tadi Sisi bilang siapa yang datang?" tanya Chandra polos.
Badot panik setengah mati. Dalam otak burungnya, ia bingung harus menjawab pakai telepati atau suara burung biasa. Karena takut kena imbas amukan Yueji, suara yang keluar dari tenggorokannya malah makin aneh.
"Eakkk... Eakkk... Eaaakkk..." celetuk Badot sambil menggelengkan kepala panik.
Chandra malah terkekeh, menepuk pelan kepala burungnya. "Hahaha! Kamu kenapa sih, Dot? Lucu banget suaramu pagi ini."
Sementara itu di ruang utama galeri, suasana sudah berubah mencekam.
Dandi tersungkur keras di marmer dingin. Dada kirinya tertekan ujung kaki Yueji. Meski kelihatannya ringan, injakan wanita itu membuat Dandi kehabisan napas sampai wajahnya mulai membiru.
"Mau apa lagi kamu datang ke sini, Bocah?!" gertak Yueji. Suaranya dingin menusuk.
"Akkkh... N-Nyonya! Salah paham! Tolong dengarkan dulu!" jerit Dandi memegangi kaki Yueji. "Kami... kami datang mau minta damai! Sungguh!"
Empat pengawal di belakangnya gemetaran. Dengan tangan tremor, mereka buru-buru meletakkan lima koper besar ke lantai dan membukanya lebar-lebar.
Tumpukan uang seratus ribuan tertata rapi memenuhi koper, lengkap dengan batangan emas dan perhiasan mewah.
"I-Ini Nyonya! Tuan Dandi membawa semua barang ini buat bukti minta maaf!" seru salah satu pengawal ketakutan. "Kami mohon ampun!"
Yueji melirik sekilas ke arah koper-koper itu. Bukannya luluh, tatapannya justru makin jijik.
"Uang? Harta?" dengus Yueji. "Kamu pikir kertas-kertas ini bisa bayar rasa jengkelku?! Kamu pikir bisa tebus nyawamu sendiri pakai ini?!"
Yueji mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, pusaran angin tajam berkumpul. Ruangan mendadak terasa makin pengap dan menyesakkan.
Dandi memejamkan mata rapat-rapat sambil menangis. "Nyonya! Ampun! Jangan!"
"Mati kamu!" geram Yueji, siap mengayunkan tangannya.
Namun sebelum sabetan itu mengenai leher Dandi, pintu utama galeri mendadak terhempas terbuka lebar ditabrak gelombang angin dari luar.
"Leluhur, jangaannn!!!"