Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Penthouse Megah Pradipta

Lift pribadi berlapis kaca tembus pandang meluncur cepat tanpa suara menembus puluhan lantai Pradipta Tower. Dari ketinggian ratusan meter, hamparan gemerlap lampu kota yang basah oleh sisa hujan terhampar luas bagaikan lautan permata. Rendy berdiri membelakangi pintu lift, menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menatap dingin pemandangan kota di bawah kakinya.

Ting.

Pintu lift terbuka lebar, menyapa mereka dengan kehangatan penthouse dua lantai yang memancarkan kemewahan mutlak. Lantai marmer Carrara putih berkilau memantulkan pendar lampu kristal gantung yang megah. Sejumlah pelayan pribadi berseragam rapi segera membungkuk sembilan puluh derajat di sepanjang lorong menyambut kedatangan sang penguasa tertinggi yang telah lama absen.

Rendy melangkah masuk tanpa menghentikan ketukan langkah kaki sepatu kulit mahalnya. Suasana megah dan dingin dari dunia konglomerat ini terasa amat kontras dengan rumah kontrakan sempit bermeja kayu lapuk yang selama tiga tahun terakhir mendefinisikan kesehariannya. Ada rasa asing yang sempat menyelinap di benaknya, namun dalam hitungan detik, naluri kepemimpinan dan kekuasaan mutlak di dalam dirinya mengambil alih kembali secara utuh.

"Tuan Presdir," Siska melangkah anggun di samping Rendy, membawa folder berkas tebal di lengannya. "Seluruh ruangan telah disterilkan dan disesuaikan dengan standar kenyamanan Anda. Apakah Anda ingin langsung meninjau laporan keuangan anak perusahaan malam ini?"

"Nanti," jawab Rendy datar seraya melepaskan kancing jas abu-abu gelapnya. "Siapkan kamar mandi."

"Baik, Tuan."

Di dalam kamar mandi utama penthouse yang berukuran seluas rumah kontrakan lamanya, uap air hangat membumbung halus, memenuhi udara dengan aroma terapi kayu cendana dan bergamot yang menenangkan. Sebuah bathtub pualam berukuran besar di sudut ruangan telah terisi penuh oleh air hangat yang berbusa lembut.

Rendy melangkah masuk setelah melepaskan kemeja sutra dan celana kainnya. Tubuhnya yang atletis, tegap dengan pahatan otot dada dan perut yang sempurna, tenggelam perlahan ke dalam rendaman air hangat. Ia memejamkan mata, menyandarkan kepalanya pada bantalan kulit lembut di tepi bathtub. Sakit nyut-nyutan akibat lebam di tubuhnya dan rasa lelah di dadanya perlahan terbilas oleh kehangatan air yang memanjakan tubuhnya.

Pintu kaca buram tergeser pelan tanpa menimbulkan suara. Siska melangkah masuk membawa selembar jubah mandi sutra tebal berwarna hitam yang tersusun rapi di atas nampan kayu.

Siska telah melepaskan jas kantornya, menyisakan kemeja tanpa lengan berbahan sutra tipis yang melekat pas mencetak siluet tubuhnya yang indah. Rambut hitam panjangnya disanggul tinggi secara acak, menyisakan beberapa helai yang menjuntai di leher mulusnya.

Dengan langkah yang teratur, Siska mendekati tepi bathtub. Ia berlutut secara sopan di atas lantai marmer yang hangat, meletakkan nampan jubah mandi di sampingnya.

"Izinkan saya membantu merelaksasi otot bahu Anda, Tuan," tutur Siska halus. Suaranya bergema lembut di antara uap air yang hangat.

Tanpa menunggu penolakan, Siska mengulurkan kedua tangannya. Jemari lentiknya yang wangi dan dilapisi minyak aromaterapi hangat mendarat perlahan di atas bahu kekar Rendy yang menyembul dari balik busa putih.

Sentuhan pertama jemari Siska terasa amat halus namun bertenaga. Dengan pijatan yang terukur profesional, Siska meremas pelan otot bahu dan leher Rendy yang tegang akibat beban konflik beruntun sepanjang hari. Usapan jemari Siska yang hangat bergerak meliuk, menyusuri ketegangan di pangkal leher, lalu turun mengelus lembut otot dada atas Rendy yang kokoh di bawah sapuan air hangat.

Aroma manis parfum mawar yang menguar dari tubuh Siska berbaur dengan uap hangat, menciptakan atmosfer yang amat memikat di dalam kamar mandi mewah tersebut. Lirikan mata Siska yang memancarkan kekaguman dan gairah yang tertahan tersaji jelas saat ia menundukkan wajahnya, tepat beberapa senti dari telinga Rendy. Napas hangatnya yang terengah halus mengusap kulit leher sang Presdir.

"Tubuh Anda amat tegang, Tuan," bisik Siska dengan nada merdu yang sarat akan godaan terselubung. "Biarkan saya membantu menghilangkan seluruh rasa lelah dan penderitaan yang Anda tanggung selama ini."

Jemari Siska mengusap lembut bekas memar di bahu kiri Rendy dengan kelembutan yang memanjakan. Kehangatan fisik dan perhatian yang ditawarkan sekretaris jelita itu begitu nyata, sebuah godaan manis yang bisa menyesatkan pria mana pun.

Namun Rendy tetap memejamkan mata. Raut wajah tegapnya sama sekali tak tergerak oleh godaan fisik di depannya. Pikiran dan hatinya telah membeku, membentengi dirinya dari segala bentuk manipulasi gairah yang dangkal.

"Cukup, Siska," ujar Rendy dengan suara berat yang bernada perintah mutlak.

Jemari Siska terhenti seketika di atas bahu kekar Rendy. Ia menarik tangannya kembali secara perlahan, membungkukkan badan seraya menahan gejolak kecewa di dadanya. "Maafkan saya, Tuan Presdir."

Rendy bangkit dari bathtub, membiarkan air hangat menetes dari tubuh tegapnya. Ia meraih jubah mandi sutra hitam yang disodorkan Siska, mengenakannya dengan satu sentakan cepat, lalu mengikat tali pinggangnya rapat-raptat sebelum melangkah keluar menuju ruang tengah.

Ruang tengah penthouse yang luas itu kini nampak sunyi. Rendy melangkah mendekati sofa kulit hitam raksasa yang menghadap ke arah layar televisi plasma berukuran raksasa yang tertempel di dinding marmer.

Asisten Bagas yang sudah menunggu di dekat meja kerja segera menyerahkan segelas wine merah berumur puluhan tahun ke tangan sang Presdir. Rendy menerima gelas kristal itu, memutar cairan merah pekat di dalamnya secara perlahan sebelum menyesapnya sedikit.

"Bagaimana situasi pergerakan pasar malam ini, Bagas?" tanya Rendy seraya mendudukkan tubuhnya secara anggun di sofa.

"Semuanya berjalan sesuai instruksi Anda, Tuan," jawab Bagas dengan nada penuh penghormatan. "Pencairan dana seratus miliar untuk ekspansi ekosistem bisnis Pradipta telah efektif berjalan sejak sepuluh menit lalu. Dan seperti yang Anda perintahkan, kami telah menarik seluruh penjamin finansial untuk entitas bisnis yang terafiliasi dengan keluarga Ibu Rosma."

Rendy mengangguk dingin. "Lalu bagaimana dengan Hendra?"

"Hendra telah menerima panggilan darurat dari dewan direksi induk perusahaannya. Seluruh aset dan rekening pribadinya telah masuk dalam pengawasan auditor internal atas dugaan penyalahgunaan wewenang. Dalam hitungan jam, kekayaannya yang selama ini dibanggakannya akan habis tak bersisa."

Rendy mengangkat gelas kristalnya ke udara, menatap pantulan cahaya lampu gantung di dalam cairan merah tersebut. Rasa manis wine mahal itu memanjakan lidahnya, namun rasa pahit dari pengkhianatan dan keabaian yang diterimanya tadi malam masih menyisakan jejak di dalam sanubarinya.

Tiba-tiba, layar televisi plasma raksasa yang terhubung langsung dengan saluran berita bisnis nasional menyala secara otomatis, menampilkan siaran kilat beritasecara live.

Seorang pembawa berita wanita bertelan blazer rapi muncul di layar dengan raut wajah serius, membacakan laporan darurat dari bursa efek utama kota:

“Berita utama malam ini: Sebuah kejutan besar menghantam sektor e-commerce dan industri manufaktur lokal. Perusahaan pemasok utama milik keluarga pengusaha ternama, Hendra Wijaya, dilaporkan mengalami pembekuan aset secara mendadak akibat penarikan modal secara massal oleh investor utama Pradipta Group. Pembekuan ini memicu efek domino yang mengancam kebangkrutan total seluruh lini bisnis pendukung, termasuk puluhan usaha ritel dan kelontong yang bernaung di bawah naungan keluarga Rosma Wijaya...”

Layar televisi menampilkan grafik saham yang anjlok drastis ke angka merah, disusul potongan gambar suasana panik di depan kantor pusat perusahaan Hendra yang dikerumuni awak media.

Rendy menyandarkan punggungnya di sofa, menyesap wine merahnya untuk terakhir kali, sementara sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang mematikan di bawah temaram lampu penthouse.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!