Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Makam Sang Pahlawan

Dampak dari Malam Puncak Bintang Surgawi menyapu ibu kota layaknya badai badai musim dingin yang datang lebih awal.

Hanya dalam waktu empat puluh delapan jam, struktur kekuasaan di Akademi Solaria bergeser secara brutal. Keluarga Vance yang dulunya ditakuti karena kekayaan mereka kini hancur lebur; aset mereka disita kekaisaran, dan Cedric Vance dikeluarkan dari akademi dengan tidak hormat. Pangeran Julian, yang biasanya menjadi pusat gravitasi pergaulan bangsawan, kini menutup diri di ruangannya dengan dalih 'fokus pada studi'.

Dan aku? Aku menjadi anomali yang paling ditakuti.

Saat aku berjalan menyusuri lorong sayap barat akademi menuju kelas Teori Sihir Kuno, para murid membelah diri layaknya Laut Merah. Tidak ada lagi bisik-bisik meremehkan. Tidak ada lagi tatapan jijik. Mata mereka selalu tertunduk ke lantai, dan napas mereka tertahan saat aku lewat. Rumor bahwa aku menyuruh Pangeran Julian memenjarakan sekutunya sendiri telah bermutasi menjadi berbagai versi yang semakin melebih-lebihkan kekejamanku.

"Kekuasaan yang didasari rasa takut memang sangat efisien, tapi rasanya sedikit sepi, bukan?" goda Nox yang melayang di sebelah kananku, duduk bersila di udara sambil memainkan ujung rambut peraknya. "Tidak ada lagi cecenguk bodoh yang bisa kau patahkan tulangnya untuk hiburan pagiku."

"Kedamaian adalah barang mewah di dunia ini, Nox. Aku sedang menikmatinya selagi bisa," balasku tanpa menggerakkan bibir, memproyeksikan suaraku melalui mana agar hanya bisa didengar olehnya.

Aku mengambil tempat duduk di barisan paling belakang kelas, dekat dengan jendela besar yang menghadap ke arah bangsal medis akademi. Kelas masih kosong. Dosen belum datang, dan murid-murid lain lebih memilih berdesakan di kursi depan daripada harus bernapas di radius sepuluh meter dariku.

Aku menopang dagu, memandang ke arah bangunan bangsal medis yang terbuat dari batu bata putih tersebut.

Mata Kausalitas: Aktif.

Dunia di sekelilingku kehilangan warnanya, berubah menjadi skema garis-garis energi dan data probabilitas. Namun, pemandangan di atas bangsal medis membuatku sedikit menyipitkan mata.

Langit di atas bangunan itu tidak normal. Awan-awan badai tak kasat mata berputar liar. Dari atas langit, ribuan benang emas bercahaya turun menembus atap bangsal medis, berpusat tepat di satu titik: kamar rawat inap Leon. Benang-benang takdir itu terlihat memaksakan diri, mengalirkan energi kehidupan dan keberuntungan yang begitu pekat hingga membuat ruang di sekitarnya terdistorsi.

"Dunia ini sedang panik," gumamku pelan, sebuah senyum sinis terbentuk di sudut bibirku.

Nox mengikuti arah pandanganku. Mata emasnya berkilat menyadari apa yang terjadi. "Wow. Hukum Kausalitas sedang melakukan intervensi paksa. Sang Protagonis yang tulang rusuknya kau remukkan itu... tubuhnya sedang direkonstruksi ulang oleh 'Sistem' dunia. Mereka memberikannya Pencerahan Ilahi."

Di dalam naskah novel yang asli, Leon memang ditakdirkan untuk mengalami Pencerahan Ilahi, tapi itu seharusnya terjadi dua tahun lagi, saat ia berada di ambang kematian melawan Raja Iblis. Namun karena pahlawan berambut merah itu dihancurkan mental dan fisiknya oleh karakter 'antagonis' di tahun pertama, sistem dunia meretas aturannya sendiri.

Benang-benang emas itu memompa pengetahuan kuno, peningkatan kapasitas mana, dan resistensi fisik langsung ke dalam otak dan otot Leon. Dunia ini menolak membiarkan pahlawan utamanya mati tenggelam dalam keputusasaan.

"Biarkan saja," aku menonaktifkan Mata Kausalitas, kembali melihat dunia dengan warna normalnya. "Bunga yang ditanam paksa menggunakan pupuk kimia tidak akan pernah sekuat bunga liar yang bertahan dari badai badai musim dingin. Jika Sistem ingin memberinya senjata baru, mari kita lihat apakah dia tahu cara menggunakannya."

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang pelan namun tegas terdengar memasuki kelas.

Aroma lavender yang khas menyapa penciumanku sebelum aku menoleh. Cecilia von Arnault berjalan lurus ke arah mejaku. Ia tidak lagi mengenakan penyangga lengan. Sihir penyembuh tingkat tinggi pasti telah merampungkan pekerjaannya. Rambut platina miliknya diikat rapi, dan seragam birunya kembali terlihat tanpa cela.

Seluruh murid di kelas menahan napas. Ketua Komite Kedisiplinan menghampiri Tuan Muda Iblis. Mereka mengira akan ada pertumpahan darah babak kedua.

Namun, alih-alih menghunuskan pedang, Cecilia menarik kursi tepat di sebelahku dan duduk.

"Selamat pagi, Arthur," sapanya dengan nada datar, meski aku bisa melihat sedikit ketegangan di ujung jarinya.

"Ketua Arnault," balasku santai, menoleh ke arahnya. "Keberanian yang luar biasa. Duduk di sebelahku saat ini sama saja dengan mendeklarasikan dirimu sebagai musuh publik dari faksi Pangeran Julian."

Cecilia menatap lurus ke depan, tidak memedulikan tatapan horor dari murid-murid lain.

"Faksi Pangeran Julian sedang sibuk menyelamatkan diri mereka sendiri setelah kau menghancurkan pendanaan rahasia mereka di pelabuhan dan memenjarakan Baron Vance," bisik Cecilia sangat pelan, memastikan tidak ada yang bisa mendengar percakapan ini selain kami berdua. "Kau merusak keseimbangan politik akademi dalam satu malam, Arthur."

"Aku hanya menyingkirkan debu di atas meja," jawabku ringan. "Lalu, untuk apa Ketua OSIS kita yang terhormat ini mengambil risiko duduk di sebelah debu yang lain?"

Cecilia mengambil sebuah buku tebal dari tasnya, membukanya di atas meja. Di antara halaman buku itu, terselip sebuah perkamen gulung berukuran kecil yang disegel dengan lilin biru. Ia menggeser perkamen itu ke arahku di balik bayangan buku.

"Ini adalah salinan proposal rahasia yang diajukan Pangeran Julian kepada Kepala Akademi pagi ini," bisik Cecilia, matanya tetap berpura-pura membaca buku. "Dia meminta izin untuk membuka segel Makam Suci Pahlawan Pertama untuk Ekspedisi Musim Dingin bulan depan."

Gerakan jariku terhenti. Makam Suci Pahlawan Pertama.

Dalam ingatanku tentang novel 'Crown of Ash', Makam Suci adalah dungeon tingkat legendaris yang tersegel di bawah fondasi ibu kota. Di sanalah tersimpan artefak-artefak suci peninggalan era kuno, termasuk Aegis of the Sun—perisai cahaya yang bisa memantulkan semua jenis kutukan dan sihir kegelapan.

"Alasan Julian?" tanyaku pelan, jariku dengan cepat menyelipkan perkamen itu ke dalam lengan jasku.

"Dia menggunakan insiden munculnya Chimera di labirin Tartarus sebagai alasan," lanjut Cecilia, nada suaranya mengeras karena tidak suka dengan intrik politik tersebut. "Julian berdalih bahwa akademi tidak lagi aman, dan para murid unggulan—terutama Leon—membutuhkan senjata suci dari Makam itu untuk melindungi diri mereka dari ancaman 'Penyihir Hitam' yang merajalela."

Aku terkekeh pelan. "Langkah yang sangat klise, tapi cerdas. Dia tidak bisa melawanku secara langsung karena aku memegang Buku Kas-nya, jadi dia mencoba memberikan Leon artefak pamungkas yang menjadi kelemahan alamiku."

Cecilia akhirnya menoleh, menatap mataku dengan raut wajah serius.

"Makam Suci dilindungi oleh sihir Cahaya absolut, Arthur. Elemen kegelapanmu yang luar biasa itu... tidak akan berfungsi di sana. Malah, udara di dalam makam itu akan membakar inti sihirmu dari dalam. Jika Julian berhasil memasukkan Leon ke sana, dan Leon mendapatkan Perisai Matahari... tidak peduli sekeras apa tulangmu, kau akan hangus."

Gadis ini benar-benar datang untuk memberiku peringatan. Loyalitasnya telah sepenuhnya bergeser setelah insiden di Tartarus. Ia melihat kemunafikan di balik keadilan Julian, dan memilih untuk bertaruh pada anomali yang menyelamatkan nyawanya.

"Terima kasih atas informasinya, Cecilia," ucapku tulus, menggunakan nama depannya untuk pertama kali.

Sedikit rona merah samar muncul di pipi gadis itu, namun ia segera menutupinya dengan berdeham pelan. "A-Aku hanya tidak ingin berhutang budi pada orang mati. Pastikan kau menyiapkan rencana untuk menggagalkan pembukaan makam itu. Komite Kedisiplinan akan mencoba menahan persetujuan proposalnya selama mungkin."

"Tidak perlu."

Cecilia mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

Aku menyandarkan punggungku ke kursi, tersenyum dengan raut wajah santai yang membuat Cecilia merinding.

"Biarkan Julian membuka pintu Makam Suci itu," bisikku, mataku berkilat memancarkan pendaran ungu redup. "Biarkan sang Pangeran menyiapkan karpet merah, dan biarkan Sistem dunia ini mengantarkan sang Pahlawan ke depan pintu hartanya."

Aku mengetukkan jariku di atas meja. Di kehidupanku yang dulu, jika sebuah server memiliki pengamanan tingkat dewa, kau tidak repot-repot membobolnya dari luar. Kau membiarkan pemiliknya membuka pintunya sendiri, lalu kau menyusup masuk di punggung mereka dan mengambil alih seluruh database-nya.

"Makam Suci tidak pernah menerima tamu berelemen kegelapan selama ribuan tahun," kataku dengan senyum Predator. "Kurasa sudah saatnya tempat itu mendapatkan sedikit renovasi interior."

Cecilia menelan ludah, menatapku seolah aku sudah gila, namun ia tidak membantah. Ia hanya mengangguk pelan, kembali fokus pada bukunya tepat saat dosen Teori Sihir Kuno melangkah masuk ke dalam kelas.

Nox tertawa terbahak-bahak di udara, melayang berputar-putar di atasku.

"Mencuri harta karun suci dari Makam Pahlawan Pertama? Oh, Arthur, kau benar-benar tahu cara membuat para Dewa di dunia ini menangis darah! Aku tidak sabar menunggu musim dingin tiba!"

Aku menatap ke luar jendela. Awan mendung mulai menutupi langit Solaria. Sang Protagonis sedang dipersenjatai oleh Langit, dan sang Pangeran sedang menyiapkan panggung eksekusi yang baru.

1
ZAHRANI
upnya lama banget,padahal cuman buat 1 novel doang😮‍💨
Nappzz: di usahakan up secepatnya ya ka🙏🏻
total 1 replies
ZAHRANI
5 bab lah thor😭
Nappzz: segera ditunggu ya ka
total 1 replies
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!