Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.
Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.
Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.
Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.
Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan di Mansion Moretti
Aurora selalu menghabiskan waktunya di taman bunga di belakang mansion. Di mulai sejak pagi bersama Bibi Rosa yang telaten menunaikan pekerjaannya hingga menjelang sore.
Tapi keadaan langit di atas Mansion Salvadore tampak berubah menjadi kelabu. Padahal sejak pagi, langit masih begitu cerah.
Aurora telah meninggalkan taman bunga sebelum hujan benar-benar turun. Kini wanita bersurai hitam itu berdiri di dekat jendela ruang tamu, memandangi awan gelap yang menggantung rendah di atas taman bersama angin berembus cukup kencang hingga beberapa ranting pohon bergerak liar.
Langit sore mulai dipenuhi awan kelabu hingga akhirnya menumpahkan hujan. Rintik air jatuh di atas atap mansion berubah menjadi deras hingga suara gemuruhnya memenuhi hampir seluruh ruangan.
Berlindung di belakang jendela, Aurora memperhatikan keadaan taman bunga kesukaannya. Taman yang biasanya dipenuhi warna-warni bunga kini terlihat samar di balik tirai hujan. Jalan setapak menjadi sangat basah, dedaunan berjatuhan terkena air, sementara udara dingin perlahan menyusup melalui celah-celah jendela.
Aurora menghela napas. "Taman bunganya," lirihnya sedih sambil memeluk kedua lengannya.
Hujan selalu membuat suasana terasa lebih sunyi. Mengundang kembali ingatan pada kejadian pagi tadi. Tentang Aurora yang begitu gugup hanya karena berhadapan dengan Rozen di tangga. Aurora masih merasa malu jika mengingatnya.
Aurora mengembuskan napas kecil. Di luar, hujan tampak semakin deras. Ia menyentuhkan ujung jarinya pada kaca jendela yang terasa dingin. Membiarkan dirinya menikmati ketenangan sore itu. Hanya hujan, mansion yang sunyi, dan perasaan asing yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.
Nyaman.
Perasaan yang seharusnya tidak boleh terlalu dinikmati. Aurora tahu, semakin ia merasa nyaman, semakin sulit baginya untuk menerima fakta bahwa kehadirannya tidak pernah ditujukan untuk menjadi bagian dari kehidupan Rozen. Ia datang hanya untuk menggantikan seseorang. Dan orang itu adalah Isabella, saudari kembarnya.
...***...
Hampir saja Aurora berniat keluar dan suara Bibi Rosa lebih dulu terdengar dari belakang.
"Nona Aurora, jangan!”
Aurora menoleh terkejut seolah tertangkap basah setelah melakukan kesalahan.
"Bibi? Aku terkejut."
"Hujan terlalu deras. Biarkan taman itu diurus para pekerja,” jelas Bibi Rosa pada Aurora.
Aurora mengangguk tetapi matanya tertuju ke luar jendela.
"Aku khawatir beberapa bunga mungkin akan rusak."
Bibi Rosa tersenyum sangat memaklumi kekhawatiran majikannya yang berhati lembut tersebut.
"Jangan khawatir. Taman itu sudah dirawat bertahun-tahun."
Aurora akhirnya mengalah. Kekhawatirannya mungkin terdengar berlebihan. Tapi ketika melihat air hujan mulai menggenangi sebagian jalan setapak, Aurora justru teringat rumah kaca dan beberapa tanaman kecil yang baru saja ia rapikan bersama Bibi Rosa pagi tadi.
Akhirnya Aurora mengambil payung.
"Nona Aurora?”
"Aku hanya sebentar."
Bibi Rosa menghela napas. Sangat sulit menghentikan majikannya tersebut.
"Kalau Tuan Rozen tahu...,"
"Aku tidak akan lama." Ucapan Bibi Rosa dengan cepat disanggah. Aurora tersenyum sebelum berlari kecil menuju rumah kaca.
Di saat yang bersamaan, dari lantai atas, Rozen keluar dari ruang kerja dengan langkah kaki menuju tangga.
Sebuah pergerakan dengan sebuah payung di tangan berhasil menculik fokus Rozen seutuhnya. Ia melihat seseorang hendak melewati taman belakang dan menurut perkiraannya arah itu menuju rumah kaca ibunya.
Langkah kaki Rozen seketika terhenti begitu sebuah nama muncul di benaknya.
"Aurora." Rozen jelas mengernyit. Wanita itu seharusnya tidak berada di luar di tengah hujan deras seperti ini.
Rozen segera turun dan tersentak kecil begitu sampai di ruang depan. Rozen menemukan Aurora sudah kembali memasuki mansion dalam keadaan basah, dalam keadaan rambut panjangnya yang sedikit lembap serta ujung gaunnya terkena percikan air.
Rozen memperhatikan penampilan istrinya yang berantakan itu dari kepala hingga kaki.
"Apa yang kau lakukan?"
Aurora mendongak, menatap suaminya yang tinggi.
"Aku hanya melihat rumah kaca."
"Saat hujan deras?" selidik Rozen tidak mengerti dengan jalan pikiran Aurora.
"Begitulah," ucap Aurora kikuk.
"Masih ada hari esok, Aurora."
Nada suara Rozen terdengar datar membuat Aurora menundukkan kepalanya dengan spontan.
"Maaf," sesal Aurora bersungguh-sungguh.
Rozen menghela napas bukan karena marah tapi karena bingung dengan sikap Aurora yang menurut Rozen sulit di mengerti.
Menyadari tubuh istrinya basah terkena hujan, Rozen mengambil handuk dari tangan pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka, kemudian menyerahkannya kepada Aurora.
"Keringkan rambutmu."
Sungguh, Aurora tidak menduganya. Ia menatap handuk tersebut kemudian menatap Rozen secara bergantian.
"Untukku?"
Rozen mengangkat satu alisnya. "Menurutmu siapa lagi yang basah di sini selain dirimu?”
Aurora tertawa kecil setelah menyadari pertanyaannya memang terdengar aneh. Tapi bukan itu masalahnya. Aurora hanya bingung, kenapa Rozen harus repot-repot melakukan itu?
Sudahlah. Aurora tidak perlu menanyakan alasannya.
"Terima kasih."
Aurora menerima handuk itu, mengusap lembut ke permukaan rambutnya yang sedikit basah.
Rozen hendak pergi setelah Aurora menerima handuk pemberiannya, tetapi langkahnya kembali terhenti. "Jangan pergi ke taman sendirian jika cuaca seperti ini."
Aurora mengangguk. "Baiklah."
Rozen dengan bibir terkatup rapat menatap Aurora beberapa detik sebelum pergi. Di posisinya berdiri, Aurora memperhatikan punggung suaminya yang semakin menjauh menuju dapur.
Senyum kecil muncul di wajah Aurora. Kali ini bukan karena salah tingkah, melainkan karena menyadari satu hal tentang suaminya.
Rozen mungkin tidak pernah mengatakan sesuatu yang manis. Tapi perhatian kecilnya selalu muncul dalam bentuk yang tidak terduga. Perhatian yang menghadirkan tanda tanya besar mengenai perasaan suaminya yang sesungguhnya. Aurora tidak ingin besar kepala karena semakin sering menerima perhatian kecil dari suaminya. Tapi Aurora juga tidak mungkin bisa menahan debaran di dadanya terus menerus.
Aurora memang paham bahwa semua hal yang dilakukan suaminya bukan karena rasa sayang yang mulai tumbuh, tapi sebagai seorang perempuan, perhatian kecil seperti itu dapat menumbuhkan rasa nyaman yang berlebihan.
Aurora sudah menepis perasaannya. Tetapi setiap hari berada di dekat Rozen dan menerima perhatian-perhatian kecil itu adalah hal yang mulai sulit untuk Aurora kendalikan.
Aurora mulai ragu pada dirinya sendiri. Apakah Aurora sanggup menekan perasaannya di masa depan jika Rozen terus memperlihatkan perhatiannya secara terang-terangan seperti ini.
...***...
Suasana mansion menjadi jauh lebih sunyi dibandingkan sore tadi. Tersisa suara hujan yang masih terdengar samar dari balik jendela.
Malam telah larut. Aurora berada di kamarnya dengan langkah menuju meja rias lalu duduk di depan cermin.
Rambut panjangnya sedikit bergelombang terurai di bahu. Tangannya meraih sisir kemudian mulai menyisir helaian rambut panjangnya perlahan. Gerakannya gemulai tetapi pikiran wanita bertubuh mungil itu sama sekali tidak berada di sana.
Bayangan Rozen kembali muncul di kepala Aurora lengkap dengan cara pria itu memperhatikannya. Cara mengingatkan agar tidak keluar sendirian saat hujan. Bahkan cara memberikan handuk untuk mengeringkan rambut panjangnya.
Aurora menghentikan gerakan tangannya saat menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
"Kenapa akhir-akhir ini dia begitu perhatian?"
Pertanyaan itu keluar dalam bisikan. Aurora tersenyum kecil, tetapi senyum tersebut perlahan memudar. Semakin ia memikirkannya, semakin Aurora menyadari sesuatu, bahwa Rozen mungkin memperhatikannya namun belum tentu karena cinta.
Aurora menundukkan kepalanya, kembali membayangkan bagaimana pernikahan mereka dimulai. Bagaimana seharusnya Rozen menikahi Isabella.
Bukan Aurora.
Aurora menggigit bibir bawahnya ketika kedua matanya mulai terasa panas. Ia tidak ingin menangis. Ia hanyalah wanita yang datang beberapa jam sebelum pernikahan dan mengenakan gaun yang seharusnya dipakai kakaknya. Aurora hanyalah seorang pengantin pengganti, tidak lebih.
Aurora tidak ingin terlalu berharap. Tidak ingin menganggap setiap perhatian Rozen sebagai tanda bahwa perasaan pria itu mulai berubah. Jika suatu hari Isabella kembali, posisinya akan kembali dipertanyakan.
Aurora kembali menatap bayangannya di cermin. Lalu angan-angan lancang tercipta di benaknya. Bagaimana rasanya jika Rozen benar-benar mulai menyayanginya.
Aurora segera menggeleng. "Hentikan, Aurora! Jangan terlalu lancang!" bisiknya pelan dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
"Dia menikahimu bukan karena cinta."
Kamar luas itu semakin terasa sunyi. Aurora menarik napas panjang lalu memandang keluar jendela.
Di luar sana hujan masih turun. Hari itu Aurora menyadari bahwa perhatian Rozen mungkin jauh lebih berbahaya daripada sikap dinginnya.
Karena sikap dingin tidak pernah membuat Aurora berharap. Sedangkan perhatian kecil itu perlahan membuatnya lupa bahwa sejak awal dirinya hanyalah pengganti.
...***...
Pada malam yang sama, di bawah siraman hujan yang sama, Rozen berdiri di balkon ruang kerjanya. Kepala keluarga Salvadore itu memandang pada hujan yang masih turun dengan deras.
Tatapannya tertuju ke taman yang basah. Yang membawa pikirannya kembali pada Aurora yang berdiri dengan rambut basah dan wajah gugup sore tadi.
Rozen mengerutkan kening. Seharusnya tidak perlu memikirkan wanita itu. Tapi di saat bersamaan, Rozen juga kebingungan. Semakin mencoba mengabaikan istrinya, semakin sering wajah wanita itu muncul di kepalanya.
Rozen menjadi gundah. Perasaan apa yang sebenarnya sedang dirasakannya ini.
...***...