Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily yang telah melahirkan bocah laki-laki yang pintar tak mengingat Leon. Akankah keduanya dapat kembali bersatu lagi untuk merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Diharapkan tidak menabung bab. Terima kasih 🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Mendengar nama itu sejenak jantung Leon berhenti. Nama yang selalu dirindukannya. Nama itu yang selalu membuatnya tak dapat tidur dengan nyenyak. Nama yang selalu muncul di pikiran dan hatinya.
"Paman!" Zayn melambaikan tangan kanannya di depan wajah Leon.
Dengan cepat Leon membuyarkan lamunannya. Senyum kerinduan terukir di bibirnya.
"Ayo jelaskan!" desak Zayn.
"Baiklah!" ucap Leon.
"Beberapa tahun lalu aku pernah menikah dan di tahun yang sama aku kehilangan istriku serta calon anakku. Namanya juga persis seperti nama ibumu!" kata Leon menatap Zayn.
"Apa mungkin Paman adalah ayahku?" tanya Zayn memandangi wajah Leon secara seksama.
Leon malah tertawa rendah.
"Ibu tak pernah menunjukkan foto ayahku," kata Zayn.
"Apa aku boleh bertemu dengan ibumu?" tanya Leon.
"Boleh saja. Ayo!" jawab Zayn dengan semangat. Ia berdiri lalu memegang tangan Leon dan menariknya.
Leon pun mengikuti langkah Zayn menuju toko roti.
Zayn masuk ke toko dan berteriak memanggil, "Ibu, lagi di mana?"
Seorang karyawan wanita menghampirinya, "Zayn, ibumu lagi ke luar mengantarkan pesanan. Kamu dari mana dan dia kenapa bersama kamu?" ia memandangi heran Leon dari atas hingga bawah.
"Oh, kalau begitu bilang saja kepada ibu, aku lagi bermain bersama ayahku!" kata Zayn.
Leon mendelikkan matanya, ia tak menyangka Zayn malah menganggapnya sebagai ayahnya. Padahal, dirinya saja belum bertemu dengan ibunya Zayn.
"Ayah?" karyawan wanita itu tampak kebingungan.
"Ayo, Yah!" Zayn menarik tangan Leon keluar dari toko.
Di luar toko, Leon melepaskan genggamannya Zayn. Ia kemudian bertanya, "Kenapa kau bilang kalau aku adalah ayahmu?"
"Cerita Paman itu hampir sama dengan cerita ibuku. Jadi, besar kemungkinan Paman adalah ayahku!" jawab Zayn penuh keyakinan.
"Memangnya ibumu cerita apa saja?" tanya Leon.
"Ibu bilang sangat membenci ayah!" jawab Zayn jujur.
"Mungkin kau salah orang. Emily ku tidak pernah membenciku!" kata Leon.
Zayn pun diam, ia menundukkan kepalanya.
Leon setengah berlutut, ia memegang kedua lengan Zayn kemudian berkata, "Paman tau, kau pasti menginginkan seorang ayah. Jika memang ibumu bukan Emily yang ku cari, aku tetap mau menjadi temanmu dan kau boleh menganggap aku sebagai ayahmu!"
Zayn mengangkat kepalanya dengan mata berbinar, "Benar, Paman?"
Leon mengangguk pelan.
Zayn memeluk Leon, "Terima kasih, Paman!"
"Sekarang, ayo kita pergi main!" ajak Leon.
Sejam berlalu..
Puas bermain di taman, Leon dan Zayn lantas pergi ke kedai es krim. Keduanya duduk bersebelahan menikmati es krim dan mengobrol.
"Kenapa ibumu tidak mencarimu?" tanya Leon heran sedari tadi tak ada satupun yang menemui mereka.
"Mungkin ibu masih sibuk, dia percaya kalau aku pasti pulang!" jawab Zayn santai.
"Tapi, kau 'kan pergi bersama orang lain. Orang tuamu tidak mengenal aku," kata Leon.
"Di toko ada kamera pengawas, mereka melihatnya dari sana. Kalau aku tidak kembali, pasti mereka akan melapor ke polisi!" ucap Zayn yang begitu menikmati es krim coklat miliknya.
Leon lalu berpikir dan berharap Emily melihat kamera pengawasnya.
"Kenapa Paman datang ke sini?" tanya Zayn mendongakkan wajahnya menatap sekilas pria disampingnya.
"Mencari pekerjaan dan melupakan kesedihan," jawab Leon.
"Apa sekarang Paman masih sedih?" tanya Zayn lagi.
"Sedikit," jawab Leon tersenyum tipis.
"Jangan bersedih lagi, ada aku di sini!" Zayn menepuk pelan punggung Zayn sembari menunjukkan senyum khasnya.
Leon tertawa melihat sikap yang ditunjukkan Zayn yang begitu manis.
"Ayo kita pulang!" Zayn lantas berdiri.
"Apa ibumu tidak marah kalau aku membawamu tanpa seijinnya?" tanya Leon.
"Tenang saja, aku pasti membela Paman!" jawab Zayn dengan bangganya.
Keduanya pun kembali ke toko roti dengan berjalan kaki sejauh 1 kilometer.
Belum sampai depan pintu, seorang wanita dengan raut wajah cemas berlari menghampiri Zayn dan memeluknya.
"Emily!" lirih Leon.